
“Aku bertemu temanku
saat perjalanan pulang. Karena dia tidak ada kendaraan, aku menawarinya
tumpangan,” terang Bryan yang sedang menyetir sambil bicara di telepon dengan Lassy.
“Tidak jauh. Rumahnya satu arah dengan kantormu. Setelah dia turun, aku
langsung ke kantormu. Tidak lebih dari lima belas menit.”
Bryan menoleh ke
samping, mantan kekasih kecilnya duduk di sana. Membalas dengan senyum kaku
meski Bryan tersenyum padanya dengan tulus. Yah, memang sangat kebetulan Bryan
bertemu dengannya. Niatnya hanya lewat jalur yang dia lewati sekarang agar
lebih cepat sampai ke kantor Lassy, tapi siapa sangka dia menemukan Ren yang
baru pulang dari kampusnya. Dia bersama beberapa teman sedang menunggu bus di
halte. Saat itulah Bryan berinisiatif memberi tumpangan, sekaligus ingin tahu
kabar mantan kekasihnya itu setelah berpisah dengannya.
Awalnya berjalanan
dengan mulus. Mereka tidak canggung meski berpisah beberapa bulan. Ren
menceritakan kesehariannya masih dengan semangat, serasa mereka masih punya
hubungan yang sama seperti dulu. Bryan juga masih senang bicara dengan mantan
kekasihnya itu. Sampai detik di mana keduanya sama-sama merasa masih saling
menyayangi, Lassy menghancurkan tahap lanjut yang akan mereka bangun. Lassy
menelepon mengatakan bahwa dirinya punya perasaan tidak enak. Dia hanya
memastikan keadaan Bryan. Yang berarti tanda bahaya untuk Bryan. Dia tak bisa
kembali dengan Ren, bahkan walau hanya untuk berteman.
“Teman lama. Luo saja
kenal dengannya.” Bryan menambahkan. “Aku sudah sampai rumahnya. Kututup dulu
teleponnya!”
Setelah mendapat
persetujuan dari Lassy, Bryan menutup teleponnya. Kembali mengantongi ponsel
itu, kemudian fokus menyetir.
“Sepertinya dia khawatir
sekali. Kekasihmu, ya?” tanya Ren sambil memainkan jemarinya di atas pangkuan.
“Iya, baru beberapa
minggu ini.” Bryan menjawab sambil tersenyum kecut.
Ren membalas senyum
dengan tak kalah kecutnya.
Gara-gara telepon
dari Lassy, suasana yang tadinya biasa saja mendadak jadi canggung. Ada sekitar
tiga kilo lagi perjalanan menuju rumah Ren, jadi tidak enak kalau diam-diaman. Bryan
berinisiatif mengawali pembicaraan lagi, setidaknya Ren tidak murung seperti
sekarang ini.
“Kau sudah mulai
ujian? Kupikir ini akhir tahun ajaran.”
“Iya. Aku berniat
mengebut pelajaranku, mengambil semester pendek agar kuliahku cepat selesai.” Bryan
hanya mengangguk, padahal Ren ingin Bryan tahu alasan dia ingin segera
menamatkan kuliahnya. Namun karena terlanjur bicara, dia harus menjelaskannya
tanpa diminta. “Aku ingin segera lulus. Ingin mencari pekerjaan agar bisa
tinggal sendirian.”
Bryan agak kaget
bagian ini. Orang tua Ren tak mungkin setuju. “Kenapa kau ingin tinggal
sendirian?”
“Biar aku tak
dikekang lagi oleh Ayah dan Ibuku.”
Mengingat hubungan
mereka dulu tak disetujui orang tua Ren, Bryan paham maksud mantan kekasihnya
itu untuk tinggal sendiri. Namun Bryan juga paham kalau ketidaksetujuan orang
tua Ren beralasan. Perbedaan umur mereka salah satunya. Juga karena pekerjaan Bryan
yang memiliki banyak resiko terhadap orang-orang terdekat.
“Tapi sekarang kau
sudah punya kekasih baru, Brey.”
Bryan mengernyit,
benar tebakannya kalau Ren melakukan itu untuknya. Namun setelah mengingat
bahwa Lassy adalah kekasihnya saat ini, sekarang atau nanti dia sudah tidak
bisa kembali pada Ren. Lassy jauh lebih baik dalam segala hal dibanding Ren.
Kedewasaannya, kepintarannya, kekayaannya, bahkan resiko pertengkaran dengan Lassy
lebih membuat Bryan tertantang. Mereka punya Chemistry. Dan yang paling penting
Lassy punya kekuasaan yang kemungkinan kalau marah Ren bisa dilibasnya sampai
habis. Bryan tahu betul soal itu, termasuk yang menjadikannya was was sedari
kemarin. Lassy meledakkan rumah dengan motif yang tidak jelas, berarti Lassy
juga bisa menghancurkan orang dengan motif yang sama tidak jelasnya.
Di luar dari itu
semua, Bryan mencintai Lassy. Resiko menjadi kekasih wanita superior seperti Lassy
mau tak mau harus Bryan ambil.
“Ren, kurasa orang
tuamu memisahkan kita bukan tanpa alasan. Umur dan pekerjaanku alasan yang
tidak bisa dianggap sepele.”
Ren mengangguk. “Aku
tidak masalah kalau harus terus mengalami kemalangan karenamu.”
“Tapi orangtuamu akan
sangat mempermasalahkannya.” Bryan memutar setirnya, membelok di tikungan
terakhir perumahan tempat Ren tinggal. “Semua polisi disumpah untuk lebih
mengutamakan keselamatan orang lain dibanding siapa pun. Kalau bersamamu, aku
tak bisa lebih mementingkanmu dari orang lain. Orang tuamu pasti tahu itu,
makanya mereka tidak setuju dengan hubungan kita.” Bryan berhenti selang dua
rumah. Tentu saja agar tidak ketahuan oleh orang tua Ren.
“Aku pasti bisa
menjaga diri sendiri, Brey.”
“Orang tuamu tak akan
berpikir seperti itu.”
“Lalu apa orang tua
kekasih barumu menyetujui hubungan kalian?”
“Aku belum pernah
bertemu mereka.”
“Apa kekasih barumu
bisa melindungi diri lebih baik dariku?” Dia mengajukan pertanyaan baru setelah
jawaban pertama Bryan tak memuaskan.
Bryan mengangguk. Lassy
memang hanya bisa sedikit membela diri kalau lawannya pakai otot. Kalau pakai
otak, siapa pun pasti bisa dihancurkannya dengan mudah.
“Kau menyukainya,
Bryan mengangguk
lagi.
“Sebesar apa cintamu
padanya dibanding cintamu padaku saat kita masih pacaran dulu?”
“Ren, jangan suruh aku
membandingan kalian berdua!” Bryan menarik tangan Ren. Mengelusnya untuk
menenangkan. “Kalian punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi cinta
tidak bisa diukur.”
“Aku tidak rela kau
mencintai orang lain, Brey!” Ren menarik tangannya. Agaknya benci dengan apa
yang dikatakan Bryan barusan. “Terima kasih telah mengantarku pulang.” Dia melepas
sabuk pengaman, kemudian keluar.
“Ren!”
“Kau pergi saja,
kekasihmu menunggu, kan?”
“Ren, aku akan
mentraktirmu makan lain kali!”
“Tidak usah!”
Meski Bryan beberapa
kali mengalami penolakan, tapi dia tidak pernah sakit hati. Sekarang melihat
Ren yang ditolaknya, Bryan yang sakit hati. Tidak tega melihat mantan kekasih
kecilnya itu bersikap ketus karena dia lebih memilih Lassy daripada Ren. Tapi
mau bagaimana lagi, cintanya sudah berpindah. Janjinya juga sudah dibuat untuk
setia dengan Lassy. Hanya mantan kekasih rasanya tak bisa membuatnya melanggar
apa yang sudah disepakatinya dengan Lassy.
.
.
.
Di gedung kantor Lassy.
Walaupun Bryan masih terpengaruh perkataan Tax kemarin,
tidak membuatnya melupakan prosesi temu kangen dengan Lassy. Bryan masih memberikan
ciuman dan pelukan hangat meski Lassy tak mau berlama-lama dalam pelukannya.
Lassy segera menyerahkan kertas yang isinya daftar
tempat-tempat romantis pemberian Tax waktu itu. Kalau Bryan yang memegang
kertas itu pasti sudah lecek atau hilang entah ke mana. Tapi Lassy mengurusnya
dengan baik. Bahkan ketika Lassy menunjuk nomor terakhir di daftar itu, Bryan
masih bisa membacanya dengan jelas.
“Tempat ini jauh dari keramaian.”
“Di luar kota.”
Bryan membenarkan.
“Aku sudah mengeceknya. Walau tidak semewah tempat-tempat di
sini, masih cukup bagus untuk di kunjungi.”
“Kau mau kita ke sana sekarang? Ini di pinggiran kota. Tidak
cukup waktu untuk berangkat, bersenang-senang, lalu pulang lagi dalam sehari.
Setidaknya kita butuh menginap.”
“Kalau begitu kita menginap.”
Kembali lagi menjadi Lassy yang permintaannya terkesan
seenaknya. Bryan memang sudah terbiasa, tapi masih tak habis pikir kenapa
sedikit pun Lassy tidak berubah. Setidaknya mempertimbangkan bahwa dia bukanlah
orang yang bisa bepergian semaunya. Ada orang-orang yang mengincar nyawanya di
luar sana. Selain itu, masalah perusahaan yang berkasnya baru-baru ini
dilimpahkan ke kepolisian sudah mulai diselidiki, Lassy harus berada di tempat
kalau polisi ingin memintainya keterangan.
“Kudengar besok penyidik akan datang ke kantormu untuk
mengurusi masalah kecurangan itu. Harusnya kau berada di kantor.”
“Itu alasanku menyelesaikan pekerjaan lebih cepat hari ini.
Aku mau kau membawaku ke kantor polisi.” Lassy memasang sabuk pengaman,
kemudian menyamankan diri di dudukan mobil. “Aku mau memberi keterangan pada
penyidik sekarang juga, setelah itu minta izin untuk pergi ke tempat itu.”
“Memangnya ada sistem seperti itu di kepolisian?”
“Kau yang lebih tahu soal hukum.” Lassy melambaikan
tangannya agar Bryan menjalankan mobil. Dia ingin keluar dari area perkantoran
secepat mungkin. “Walaupun tidak boleh, kalau aku yang minta kurasa mereka akan
mengizinkan.”
“Masalahnya bukan hanya boleh tidaknya kau meninggalkan kota
saat kepolisian menyelidiki kecurangan di kantormu, tapi aku juga sudah kembali
aktif di kepolisian. Hari ini ada kasus yang diserahkan padaku. Kasus
pencemaran nama baik, kekerasan, dan pelecehan seksual anak seorang pejabat.
Mint yang jadi partner-ku, pasti akan
marah kalau aku meninggalkan tugas.”
“Lalu kenapa kalau kau sudah menangani kasus lagi? Kau bisa
ambil cuti beberapa hari, dan wanita yang barusan kau sebut sebagai partner-mu pasti bisa melakukan
penyelidikan sementara waktu.”
“Las, sebagai aparat negara kita sudah disumpah untuk mengesampingkan
kepentingan pribadi.” Bryan menyebutkan sumpah kepolisian, mencoba membuktikan
bahwa dirinya polisi yang bertanggung jawab. “Dan sebagai partner, aku tidak bisa melimpahkan kasus pada Mint seorang.” Bryan
malah mematikan mesin mobilnya, membuat Lassy mendecih sambil menyilangkan
tangan di dada. “Lagipula kau masih dalam bahaya. Ingat surat kaleng itu, kan?”
Lassy memalingkan mukanya keluar mobil. “Kan, ada kau yang
melindungiku.” Namun, dia menambahkan, “Kecuali kau memang mulai bosan dekat
denganku!”
“Kau ini bicara apa?”
“Tidak bicara apa-apa. Feeling-ku bilang begitu.”
“Feeling-mu pasti salah.”
“Oh ya? Tahu dari mana feeling-ku salah?”
“Aku tidak akan pernah bosan denganmu.”
Lassy mendiamkannya sejenak.
“Las ... Lassy ….”
“Tidak usah bahas ini lagi. Kalau kau memang tak mau pergi
denganku ke tempat itu, ya tidak usah pergi. Antar aku pulang dan kau bisa
kembali pada partner-mu itu!” kata
Lassy ketus.
“Kau terdengar seperti sedang cemburu.” Bryan mencoba
menggoda, tapi Lassy tidak menanggapi. Jadi, dia segera menyalakan mesin
mobilnya. “Aku tak bisa ambil cuti, tapi kita bisa pergi ke sana akhir pekan
nanti.” Walau Lassy masih tidak mau menghadapkan muka padanya, Bryan yakin
Lassy sedang mempertimbangkan perkataannya barusan.
Sementara itu Bryan memilih menjalankan mobil, meninggalkan
pelataran gedung kantor dalam diam.