
Bryan berkunjung ke kantornya. Dia kembali meminta jawaban
kepada Kapten Bay soal alasan dirinya turun pangkat dari detektif jadi
pengawal. Alih-alih mendapat jawaban, dia diusir lagi oleh Kapten. Atasan Bryan
itu masih saja bungkam soal pengawalan terhadap Lassy. Ketika Bryan hendak
meninggalkan kantor, Luo memanggilnya. Mereka diharuskan menghadap Kapten Bay
lagi.
“Mereka mengirim uang agar kepolisian membuat perlindungan
khusus untuk Lassy. Dana yang mereka kirim itu sifatnya memaksa untuk diterima.
Maka dari itu, pemerintah kita tidak bisa menolak.”
Karena Keluarga besar Liem masih percaya dengan
cerita-cerita lama, mereka mengira kejadian yang menimpa Lassy kerena kutukan
keluarga. Lassy harusnya memulai bisnis di luar negeri. Karena wanita itu
berkeras, makanya dia celaka. Untuk saat ini pihak kepolisian tidak berani
mengatakan kebenarannya pada keluarga besar Liem. Kebetulan pemerintah juga
melarangnya.
“Dana itu dikirimkan ke rekening kepolisian. Pengelola
keuangan mengirimkan semua uang itu ke departemen kita. Jadi, tugas wajib kita
adalah menjaga Lassy, menemukan penabrak, dan memenjarakannya.”
“Jadi soal penarikan itu ...?” Luo cepat mengambil
kesimpulan.
“Ya. Aku menarik beberapa anggota Tim yang menyelidiki kasus
obat-obatan terlarang untuk mengusut kasus ini. Ada tim baru yang ditugaskan
untuk menangani penyelundupan narkoba itu,” terang Kapten. “Kasus ini jalannya
lambat karena kalian tidak kompak. Aku sudah menyusun ulang tugas-tugas untuk
kalian. Besok pagi, aku minta kalian berkumpul lagi di sini!”
Luo dan Bryan sudah dipersilakan keluar. Harusnya mereka
meninggalkan ruangan Kapten Bay detik itu juga, tapi mereka masih berdiri di
tempatnya. Kapten Bay yang sudah kembali mengerjakan tugasnya, terpaksa
mendongak ke arah keduanya.
“Kapten, aku tidak percaya kau melakukan ini pada kami.”
“Aku juga tidak percaya, Brey!” balas Kapten Bay. “Kau kira
enak berada di posisiku? Aku terjebak tugas dari atasan. Tiba-tiba diserahi
uang, diberi perintah yang mengharuskan kita tidak boleh gagal dalam tugas.”
Kapten Bay mendesah lemah. Bryan dan Luo diam, memberi waktu
bagi atasannya untuk menjelaskan.
“Semalam pimpinan pusat meneleponku. Beliau menyampaikan
pesan dari utusan Presiden agar aku mengerahkan anak buahku untuk menjaga dan
mengusut kasus yang menimpa Lassy. Beliau juga mengatakan bahwa kita harus
membujuk Lassy agar tetap tinggal di sini!”
“Apa alasan utusan Presiden memerintahkan begitu?”
“Karena Lassy itu aset negara.” Kapten Bay terdiam sejenak,
kemudian meralatnya. “Keluarga Liem itu aset negara. Keluarga mereka menyumbang
15% pendapatan negara di sektor pariwisata. Kalau Lassy tak tinggal lagi di
sini, pemerintah khawatir mereka akan mencabut semua usahanya dari sini dan
memindahkannya ke negara lain.”
“Cuma karena itu? Bukankah masih banyak orang kaya lain di
negara kita?”
“Masalahnya tak sesimple yang kau pikirkan. 15% pemasukan
dari mereka bisa memberi makan seluruh penduduk di negara ini selama setahun.
Kalau kalian bisa menemukan orang lain yang mau mengganti pendapatan sebanyak
itu, tidak masalah kita meninggalkan tugas ini.”
Kalau begitu Lassy dan keluarganya memang sangat kaya. Bryan
dan Luo merasa kecil di hadapan nama Liem. Namun, tidakkah perlakuan seperti
ini bisa disebut mendewakan keluarga besar Liem?
“Utusan Presiden juga menyuruh kita merahasiakan pada
keluarga Lassy kalau tabrakan itu adalah sebuah usaha pembunuhan.”
“Kalau mereka kaya, cepat atau lambat mereka pasti akan
tahu.”
Kapten Bay menggeleng. “Tidak. Keluarga Liem dan pemerintah
sepakat menyerahkan kasus ini pada kita. Hanya dari kitalah mereka akan
menerima informasi tentang kasusnya Lassy.” Meski begitu Kapten Bay sangsi
dengan kata-katanya sendiri. Karena memang keluarga Liem itu kaya, punya
reputasi besar di luar sana, bisa jadi mereka menyewa informan.
Kapten Bay serba salah. Timnya mendapat banyak uang dari
keluarga besar Liem untuk ongkos melindungi Lassy, menangkap pelaku tabrakan,
lalu membujuk Lassy untuk pindah keluar negeri. Masalahnya, pemerintah juga
membuat permintaannya sendiri. Melindungi Lassy, menangkap penjahatnya, tapi
juga harus membujuk Lassy agar tetap tinggal. Melindungi dan menangkap
penjahatnya sudah pasti akan mereka lakukan. Bagian membujuk untuk meninggalkan
atau membujuk untuk tetap tinggal itulah yang membuat Kapten Bay bingung.
“Pokoknya kalian harus ada di sini lagi besok pagi!”
perintah Kapten Bay, sudah tidak bisa menjelaskan lebih panjang lagi. Beliau
pusing harus menuruti yang mana? Menuruti atasan adalah tugasnya, tapi
membohongi keluarga besar Liem juga penuh resiko. “Kalian boleh pergi
sekarang!”
“Kapten, boleh tugasku digantikan orang lain? Aku tidak
cocok dengan tugas menjagai orang.”
“Akan kucarikan orang lain nanti. Kau bisa membantu di
lapangan.”
Bryan berterima kasih dua kali karena sangat senang.
Terbebas dari tugas menjagai Lassy, kemudian bertugas lagi di lapangan. “Tiga
hari lagi Lassy akan rawat jalan di rumahnya,”
Kapten Bay mengerutkan alisnya. Sudah
boleh pulangkah? pikir Kapten Bay.
“Dia tak suka rumah sakit. Dia juga bilang tak akan ada
orang yang bisa mencegahnya kembali ke rumah.” Saat Kapten mengangguk paham,
Bryan menambahkan. “Sepupunya juga akan datang seminggu lagi untuk mengecek
keadaannya.”
“Pasti dia akan membujuk Lassy untuk meninggalkan negara
ini. Kalau begitu kau jagai Lassy. Ini jadi tugas khususmu, buat Lassy tetap
tinggal di sini apa pun caranya!”
“Kapten!” protes Bryan.
“Lakukan saja. Aku akan memberimu bonus khusus!”
“Aku tidak butuh bonus, aku hanya butuh aksi lapangan.”
“Aku bisa menggantikannya,” Luo mengajukan diri dengan
ikhlas, tapi ekspresi mukanya mengandung maksud terselubung.
Bryan setuju kalau Luo mau menggantikan tempatnya, tapi
Kapten Bay menolak keras.
“Tidak tidak tidak! Aku tahu perangaimu yang tidak bisa
ditebak saat menghadapi orang. Aku tak mau ambil resiko kau meninggalkan Lassy
demi berkencan dengan wanita-wanita yang kau temui di jalanan!”
terang-terangan.
“Brey, kau yang paling bagus dalam melindungi orang. Ini
tugasmu!” keputusannya mutlak. “Sedikit saja kalian mangkir dari tugas
masing-masing, kuturunkan pangkat kalian jadi polisi pengatur jalan. Paham!”
Keduanya mengangguk serempak.
Jadi polisi pengatur jalan itu buruk sekali. Bagi polisi
yang mengikuti pelatihan khusus detektif seperti mereka, tugas mengatur jalan membuat
mereka takut.
“Keluar dari sini sekarang!” usir Kapten Bay yang membuat
keduanya buru-buru meninggalkan tempat.
***
Ketiga mobil sport Martha ditemukan di gudang pembuangan
mobil bekas. Mobil itu masih utuh, tak tersentuh. Sedangkan dua mobil yang diduga
untuk melakukan percobaan pembunuhan tak ada di situ. Martha dan beberapa anak
buahnya ditemukan dalam keadaan sekarat di gudang itu. Tidak banyak luka di
tubuh Martha, tapi kepalanya bocor. Pelakunya lebih dari dua orang kalau
melihat jejak sepatu dengan macam-macam model sol ada di tempat kejadian.
Penyidik sedang mengurusi tempat itu, sedangkan Martha dan anak buahnya sudah
dilarikan ke rumah sakit.
“Randy punya riwayat percintaan yang panjang.” Luo
menyerahkan berkas berisi foto dan segala keterangan soal Randy Loren. “Dia
pria yang menjadi pemicu pertengkaran Martha dengan Lassy. Memang tipe
penggoda.” Bryan dan Luo memperhatikan foto-foto Randy yang salah satunya
diambil di sebuah bar. “Dia punya banyak uang dari hasil kencannya dengan
wanita-wanita kaya.”
“Sepertinya aku pernah melihatnya.”
“Ya. Kita pernah melihatnya di bar yang sama dengan foto
ini.”
Detektif bisa berada di mana saja, termasuk di bar. Mereka
sering masuk tempat seperti itu demi sebuah penyelidikan. Bryan dan Luo sering
ke sana, sebagian karena tugas, sebagian lagi untuk sekedar minum-minum.
“Bagaimana menurutmu?”
“Pria seperti ini susah dikorek keterangannya.”
Luo membenarkan. Walau diancam atau dipukuli, dia tak akan
memberikan keterangan. Lelaki penggoda hanya bisa ditaklukkan dengan uang.
Sayangnya tidak ada anggaran untuk menyuap mulut lelaki itu.
“Aku tahu kau pasti sudah menyiapkan cara.”
Luo mengangguk.
“Bergeraklah cepat!”
“Pasti!” Luo menjanjikan. “Sementara kau menemui Lassy, aku
akan mengecek keadaan Martha. Siapa tahu arwahnya yang sedang jalan-jalan sudah
kembali ke tubuhnya,” candanya. “Ngomong-ngomong, kau tak akan
menjelek-jelekanku di hadapan Lassy, kan?”
“Apa untungnya kalau aku menjelek-jelekanmu di hadapannya?”
“Aku naksir dia,” kata Luo blak-blakan. “Aku akan mulai
mendekatinya selama kasus ini berlangsung, kemudian memintanya jadi kekasihku
setelah semuanya selesai. Kalau pamorku jelek di hadapannya, dia akan menolakku
mentah-mentah.”
Bryan mengerutkan kening. “Kau yakin?”
“Sangat yakin!” katanya dengan senyum cerah di bibirnya.
“Untuk saat ini, aku serahkan dia di bawah lindunganmu. Setelah kasus ini
selesai, aku akan ambil alih.”
Luo menepuk lengan temannya itu dengan tumpukan berkas
sebagai tanda terima kasih, kemudian berjalan pergi.
Bryan maklum dengan Luo. Partner-nya
itu suka semua jenis wanita, kecuali anak-anak dan nenek-nenek tentunya. Tidak
heran dia menyukai Lassy. Luo tipe perayu yang gigih. Wanita yang tadinya benci
pun lama-lama akan jadi suka padanya. Dia adalah lelaki yang tak mempan
ditolak. Hanya wanita yang terlalu hebat saja yang mampu menyingkirkannya.
Bryan masuk lagi ke ruang rawat Lassy. Lagi-lagi dia melihat
wanita itu tertidur. Kali ini perban di kepalanya sudah dilepas, menyisakan
kapas putih yang menempel di pelipisnya. Selain itu tak ada luka lain di
wajahnya. Entah, bagaimana bisa dengan kecelakaan sebegitu parah, badannya
penuh luka, kakinya hampir patah, tapi cuma ada luka kecil di pelipis. Agaknya
Lassy menyempatkan diri melindungi wajah supaya muka cantiknya tak menyentuh
aspal jalanan.
Lassy cantik, begitu kata Luo. Bryan juga berpikir demikian.
Dia memang sudah punya Ren, kekasihnya itu juga cantik, tapi kecantikan Lassy
dan Ren berbeda. Ren lucu dan manis sampai Bryan rela memanjat dinding
malam-malam demi bisa tidur dengannya. Rela terlambat pergi ke kantor karena
ingin berlama-lama memeluknya. Kalau Lassy itu cantik yang benar-benar cantik.
Cantiknya wanita dewasa. Tantangannya berat untuk bisa mendapatkan Lassy. Bryan
dan Luo suka tantangan, tapi kalau ditantang untuk mendapatkan hati wanita itu,
dia yakin Luo tak bisa, apalagi dirinya.
Bryan mendekat ke ranjang Lassy. Mengangkat tangan dan
menggerakkannya di depan muka wanita itu, siapa tahu hanya pura-pura tidur.
Bryan berdehem dua kali, wanita itu masih tak merespon. Terakhir, dia
memberanikan diri menyentuh lengan Lassy, menepuknya agar terganggu tidurnya
lalu terbangun. Lassy bergeming, tidur seperti orang mati.
“Kau tak bangun, jangan salahkan aku kalau kau kucium!”
Bryan menundukkan wajah dan menempelkan bibirnya ke bibir
Lassy. Satu kali, lalu mengangkat wajahnya dengan cepat. Karena Lassy tak
bangun juga, dia menambahkan satu ciuman lagi. Setelah itu beralih ke sofa dan
duduk di sana. Cukuplah untuk saat ini. Anggap saja itu upah dari Lassy karena
telah merepotkannya dua hari ini.
“Bryan,” sapa Andrew yang tiba-tiba masuk ruang rawat.
Untung acara curi ciuman sudah selesai. “Kau baru datang?
“Ya.”
“Baguslah. Aku harus segera pulang. Ada acara makan malam
dengan klien setelah ini.” Dia meletakkan bungkusan berisi makanan di meja
depan Bryan. “Titipan Lassy. Dia bilang tak mau makan malam dengan makanan
rumah sakit, makanya aku membelikannya lagi.”
“Ya, nanti kuberikan padanya.”
“Aku membeli banyak, cukup untuk kalian berdua.” Bryan
berterima kasih. Lumayan, dia bisa dapat makan malam gratis. “Baiklah, aku
pergi sekarang. Aku sudah telat!”
Andrew segera menghampiri Lassy. Melihat Lassy sepertinya
nyaman dengan tidurnya, Andrew tak tega membangunkannya untuk berpamitan. Dia
hanya mengecup dahi Lassy, lalu meninggalkan ruang rawat.
Aksi curi ciuman juga.