Mr. Detective

Mr. Detective
Curi Ciuman



Bryan berkunjung ke kantornya. Dia kembali meminta jawaban


kepada Kapten Bay soal alasan dirinya turun pangkat dari detektif jadi


pengawal. Alih-alih mendapat jawaban, dia diusir lagi oleh Kapten. Atasan Bryan


itu masih saja bungkam soal pengawalan terhadap Lassy. Ketika Bryan hendak


meninggalkan kantor, Luo memanggilnya. Mereka diharuskan menghadap Kapten Bay


lagi.


“Mereka mengirim uang agar kepolisian membuat perlindungan


khusus untuk Lassy. Dana yang mereka kirim itu sifatnya memaksa untuk diterima.


Maka dari itu, pemerintah kita tidak bisa menolak.”


Karena Keluarga besar Liem masih percaya dengan


cerita-cerita lama, mereka mengira kejadian yang menimpa Lassy kerena kutukan


keluarga. Lassy harusnya memulai bisnis di luar negeri. Karena wanita itu


berkeras, makanya dia celaka. Untuk saat ini pihak kepolisian tidak berani


mengatakan kebenarannya pada keluarga besar Liem. Kebetulan pemerintah juga


melarangnya.


“Dana itu dikirimkan ke rekening kepolisian. Pengelola


keuangan mengirimkan semua uang itu ke departemen kita. Jadi, tugas wajib kita


adalah menjaga Lassy, menemukan penabrak, dan memenjarakannya.”


“Jadi soal penarikan itu ...?” Luo cepat mengambil


kesimpulan.


“Ya. Aku menarik beberapa anggota Tim yang menyelidiki kasus


obat-obatan terlarang untuk mengusut kasus ini. Ada tim baru yang ditugaskan


untuk menangani penyelundupan narkoba itu,” terang Kapten. “Kasus ini jalannya


lambat karena kalian tidak kompak. Aku sudah menyusun ulang tugas-tugas untuk


kalian. Besok pagi, aku minta kalian berkumpul lagi di sini!”


Luo dan Bryan sudah dipersilakan keluar. Harusnya mereka


meninggalkan ruangan Kapten Bay detik itu juga, tapi mereka masih berdiri di


tempatnya. Kapten Bay yang sudah kembali mengerjakan tugasnya, terpaksa


mendongak ke arah keduanya.


“Kapten, aku tidak percaya kau melakukan ini pada kami.”


“Aku juga tidak percaya, Brey!” balas Kapten Bay. “Kau kira


enak berada di posisiku? Aku terjebak tugas dari atasan. Tiba-tiba diserahi


uang, diberi perintah yang mengharuskan kita tidak boleh gagal dalam tugas.”


Kapten Bay mendesah lemah. Bryan dan Luo diam, memberi waktu


bagi atasannya untuk menjelaskan.


“Semalam pimpinan pusat meneleponku. Beliau menyampaikan


pesan dari utusan Presiden agar aku mengerahkan anak buahku untuk menjaga dan


mengusut kasus yang menimpa Lassy. Beliau juga mengatakan bahwa kita harus


membujuk Lassy agar tetap tinggal di sini!”


“Apa alasan utusan Presiden memerintahkan begitu?”


“Karena Lassy itu aset negara.” Kapten Bay terdiam sejenak,


kemudian meralatnya. “Keluarga Liem itu aset negara. Keluarga mereka menyumbang


15% pendapatan negara di sektor pariwisata. Kalau Lassy tak tinggal lagi di


sini, pemerintah khawatir mereka akan mencabut semua usahanya dari sini dan


memindahkannya ke negara lain.”


“Cuma karena itu? Bukankah masih banyak orang kaya lain di


negara kita?”


“Masalahnya tak sesimple yang kau pikirkan. 15% pemasukan


dari mereka bisa memberi makan seluruh penduduk di negara ini selama setahun.


Kalau kalian bisa menemukan orang lain yang mau mengganti pendapatan sebanyak


itu, tidak masalah kita meninggalkan tugas ini.”


Kalau begitu Lassy dan keluarganya memang sangat kaya. Bryan


dan Luo merasa kecil di hadapan nama Liem. Namun, tidakkah perlakuan seperti


ini bisa disebut mendewakan keluarga besar Liem?


“Utusan Presiden juga menyuruh kita merahasiakan pada


keluarga Lassy kalau tabrakan itu adalah sebuah usaha pembunuhan.”


“Kalau mereka kaya, cepat atau lambat mereka pasti akan


tahu.”


Kapten Bay menggeleng. “Tidak. Keluarga Liem dan pemerintah


sepakat menyerahkan kasus ini pada kita. Hanya dari kitalah mereka akan


menerima informasi tentang kasusnya Lassy.” Meski begitu Kapten Bay sangsi


dengan kata-katanya sendiri. Karena memang keluarga Liem itu kaya, punya


reputasi besar di luar sana, bisa jadi mereka menyewa informan.


Kapten Bay serba salah. Timnya mendapat banyak uang dari


keluarga besar Liem untuk ongkos melindungi Lassy, menangkap pelaku tabrakan,


lalu membujuk Lassy untuk pindah keluar negeri. Masalahnya, pemerintah juga


membuat permintaannya sendiri. Melindungi Lassy, menangkap penjahatnya, tapi


juga harus membujuk Lassy agar tetap tinggal. Melindungi dan menangkap


penjahatnya sudah pasti akan mereka lakukan. Bagian membujuk untuk meninggalkan


atau membujuk untuk tetap tinggal itulah yang membuat Kapten Bay bingung.


“Pokoknya kalian harus ada di sini lagi besok pagi!”


perintah Kapten Bay, sudah tidak bisa menjelaskan lebih panjang lagi. Beliau


pusing harus menuruti yang mana? Menuruti atasan adalah tugasnya, tapi


membohongi keluarga besar Liem juga penuh resiko. “Kalian boleh pergi


sekarang!”


“Kapten, boleh tugasku digantikan orang lain? Aku tidak


cocok dengan tugas menjagai orang.”


“Akan kucarikan orang lain nanti. Kau bisa membantu di


lapangan.”


Bryan berterima kasih dua kali karena sangat senang.


Terbebas dari tugas menjagai Lassy, kemudian bertugas lagi di lapangan. “Tiga


hari lagi Lassy akan rawat jalan di rumahnya,”


Kapten Bay mengerutkan alisnya.  Sudah


boleh pulangkah? pikir Kapten Bay.


“Dia tak suka rumah sakit. Dia juga bilang tak akan ada


orang yang bisa mencegahnya kembali ke rumah.” Saat Kapten mengangguk paham,


Bryan menambahkan. “Sepupunya juga akan datang seminggu lagi untuk mengecek


keadaannya.”


“Pasti dia akan membujuk Lassy untuk meninggalkan negara


ini. Kalau begitu kau jagai Lassy. Ini jadi tugas khususmu, buat Lassy tetap


tinggal di sini apa pun caranya!”


“Kapten!” protes Bryan.


“Lakukan saja. Aku akan memberimu bonus khusus!”


“Aku tidak butuh bonus, aku hanya butuh aksi lapangan.”


“Aku bisa menggantikannya,” Luo mengajukan diri dengan


ikhlas, tapi ekspresi mukanya mengandung maksud terselubung.


Bryan setuju kalau Luo mau menggantikan tempatnya, tapi


Kapten Bay menolak keras.


“Tidak tidak tidak! Aku tahu perangaimu yang tidak bisa


ditebak saat menghadapi orang. Aku tak mau ambil resiko kau meninggalkan Lassy


demi berkencan dengan wanita-wanita yang kau temui di jalanan!”


terang-terangan.


“Brey, kau yang paling bagus dalam melindungi orang. Ini


tugasmu!” keputusannya mutlak. “Sedikit saja kalian mangkir dari tugas


masing-masing, kuturunkan pangkat kalian jadi polisi pengatur jalan. Paham!”


Keduanya mengangguk serempak.


Jadi polisi pengatur jalan itu buruk sekali. Bagi polisi


yang mengikuti pelatihan khusus detektif seperti mereka, tugas mengatur jalan membuat


mereka takut.


“Keluar dari sini sekarang!” usir Kapten Bay yang membuat


keduanya buru-buru meninggalkan tempat.


***


Ketiga mobil sport Martha ditemukan di gudang pembuangan


mobil bekas. Mobil itu masih utuh, tak tersentuh. Sedangkan dua mobil yang diduga


untuk melakukan percobaan pembunuhan tak ada di situ. Martha dan beberapa anak


buahnya ditemukan dalam keadaan sekarat di gudang itu. Tidak banyak luka di


tubuh Martha, tapi kepalanya bocor. Pelakunya lebih dari dua orang kalau


melihat jejak sepatu dengan macam-macam model sol ada di tempat kejadian.


Penyidik sedang mengurusi tempat itu, sedangkan Martha dan anak buahnya sudah


dilarikan ke rumah sakit.


“Randy punya riwayat percintaan yang panjang.” Luo


menyerahkan berkas berisi foto dan segala keterangan soal Randy Loren. “Dia


pria yang menjadi pemicu pertengkaran Martha dengan Lassy. Memang tipe


penggoda.” Bryan dan Luo memperhatikan foto-foto Randy yang salah satunya


diambil di sebuah bar. “Dia punya banyak uang dari hasil kencannya dengan


wanita-wanita kaya.”


“Sepertinya aku pernah melihatnya.”


“Ya. Kita pernah melihatnya di bar yang sama dengan foto


ini.”


Detektif bisa berada di mana saja, termasuk di bar. Mereka


sering masuk tempat seperti itu demi sebuah penyelidikan. Bryan dan Luo sering


ke sana, sebagian karena tugas, sebagian lagi untuk sekedar minum-minum.


“Bagaimana menurutmu?”


“Pria seperti ini susah dikorek keterangannya.”


Luo membenarkan. Walau diancam atau dipukuli, dia tak akan


memberikan keterangan. Lelaki penggoda hanya bisa ditaklukkan dengan uang.


Sayangnya tidak ada anggaran untuk menyuap mulut lelaki itu.


“Aku tahu kau pasti sudah menyiapkan cara.”


Luo mengangguk.


“Bergeraklah cepat!”


“Pasti!” Luo menjanjikan. “Sementara kau menemui Lassy, aku


akan mengecek keadaan Martha. Siapa tahu arwahnya yang sedang jalan-jalan sudah


kembali ke tubuhnya,” candanya. “Ngomong-ngomong, kau tak akan


menjelek-jelekanku di hadapan Lassy, kan?”


“Apa untungnya kalau aku menjelek-jelekanmu di hadapannya?”


“Aku naksir dia,” kata Luo blak-blakan. “Aku akan mulai


mendekatinya selama kasus ini berlangsung, kemudian memintanya jadi kekasihku


setelah semuanya selesai. Kalau pamorku jelek di hadapannya, dia akan menolakku


mentah-mentah.”


Bryan mengerutkan kening. “Kau yakin?”


“Sangat yakin!” katanya dengan senyum cerah di bibirnya.


“Untuk saat ini, aku serahkan dia di bawah lindunganmu. Setelah kasus ini


selesai, aku akan ambil alih.”


Luo menepuk lengan temannya itu dengan tumpukan berkas


sebagai tanda terima kasih, kemudian berjalan pergi.


Bryan maklum dengan Luo. Partner-nya


itu suka semua jenis wanita, kecuali anak-anak dan nenek-nenek tentunya. Tidak


heran dia menyukai Lassy. Luo tipe perayu yang gigih. Wanita yang tadinya benci


pun lama-lama akan jadi suka padanya. Dia adalah lelaki yang tak mempan


ditolak. Hanya wanita yang terlalu hebat saja yang mampu menyingkirkannya.


Bryan masuk lagi ke ruang rawat Lassy. Lagi-lagi dia melihat


wanita itu tertidur. Kali ini perban di kepalanya sudah dilepas, menyisakan


kapas putih yang menempel di pelipisnya. Selain itu tak ada luka lain di


wajahnya. Entah, bagaimana bisa dengan kecelakaan sebegitu parah, badannya


penuh luka, kakinya hampir patah, tapi cuma ada luka kecil di pelipis. Agaknya


Lassy menyempatkan diri melindungi wajah supaya muka cantiknya tak menyentuh


aspal jalanan.


Lassy cantik, begitu kata Luo. Bryan juga berpikir demikian.


Dia memang sudah punya Ren, kekasihnya itu juga cantik, tapi kecantikan Lassy


dan Ren berbeda. Ren lucu dan manis sampai Bryan rela memanjat dinding


malam-malam demi bisa tidur dengannya. Rela terlambat pergi ke kantor karena


ingin berlama-lama memeluknya. Kalau Lassy itu cantik yang benar-benar cantik.


Cantiknya wanita dewasa. Tantangannya berat untuk bisa mendapatkan Lassy. Bryan


dan Luo suka tantangan, tapi kalau ditantang untuk mendapatkan hati wanita itu,


dia yakin Luo tak bisa, apalagi dirinya.


Bryan mendekat ke ranjang Lassy. Mengangkat tangan dan


menggerakkannya di depan muka wanita itu, siapa tahu hanya pura-pura tidur.


Bryan berdehem dua kali, wanita itu masih tak merespon. Terakhir, dia


memberanikan diri menyentuh lengan Lassy, menepuknya agar terganggu tidurnya


lalu terbangun. Lassy bergeming, tidur seperti orang mati.


“Kau tak bangun, jangan salahkan aku kalau kau kucium!”


Bryan menundukkan wajah dan menempelkan bibirnya ke bibir


Lassy. Satu kali, lalu mengangkat wajahnya dengan cepat. Karena Lassy tak


bangun juga, dia menambahkan satu ciuman lagi. Setelah itu beralih ke sofa dan


duduk di sana. Cukuplah untuk saat ini. Anggap saja itu upah dari Lassy karena


telah merepotkannya dua hari ini.


“Bryan,” sapa Andrew yang tiba-tiba masuk ruang rawat.


Untung acara curi ciuman sudah selesai. “Kau baru datang?


“Ya.”


“Baguslah. Aku harus segera pulang. Ada acara makan malam


dengan klien setelah ini.” Dia meletakkan bungkusan berisi makanan di meja


depan Bryan. “Titipan Lassy. Dia bilang tak mau makan malam dengan makanan


rumah sakit, makanya aku membelikannya lagi.”


“Ya, nanti kuberikan padanya.”


“Aku membeli banyak, cukup untuk kalian berdua.” Bryan


berterima kasih. Lumayan, dia bisa dapat makan malam gratis. “Baiklah, aku


pergi sekarang. Aku sudah telat!”


Andrew segera menghampiri Lassy. Melihat Lassy sepertinya


nyaman dengan tidurnya, Andrew tak tega membangunkannya untuk berpamitan. Dia


hanya mengecup dahi Lassy, lalu meninggalkan ruang rawat.


Aksi curi ciuman juga.