Mr. Detective

Mr. Detective
Adegan Romantis



Adegan romantis antara Bryan dan Lassy hanya ada saat mereka


sedang bercinta. Maksudnya ketika mereka sama-sama telanjang di atas ranjang,


bukan bercinta ala remaja yang jalan berdua lalu memadu kasih. Dalam hubungan


Lassy dan Bryan, memadu kasih atau istilahnya pacaran adalah hal kekanakan.


Mereka bukan remaja labil yang cintanya harus diekspresikan dengan saling


menggenggam tangan kemudian menyanjung kekasihnya menggunakan kalimat cinta.


Bryan lebih suka langsung menyentuh Lassy lalu memulai percintaan mereka,


sedangkan Lassy ikut apa kata Bryan.


Seperti kencan tadi sore yang berlangsung hambar. Tempat dan


suasana romantis, makan malam enak tapi hubungan keduanya biasa saja. Tidak ada


kalimat romantis, pegangan tangan atau ciuman dan pelukan, yang ada keduanya


malah saling bercerita masalah di kantor masing-masing. Soal penyusup di kantor


Lassy, juga kasus surat kaleng yang dibesar-besarkan di kantor kepolisian.


Sehabis makan malam, Bryan merasa bosan berada di tempat


itu, dia mengajak Lassy pulang padahal Lassy sendiri masih betah. Daripada tak


menuruti Bryan lalu jadi bertengkar, Lassy ikut saja. Sampai di rumah baru tahu


alasan Bryan mengajaknya pulang, karena lelaki itu benar-benar ingin bercinta


“Ambilkan air untukku!” perintah Lassy setelah merebahkan


punggungnya di kasur.


Mereka baru menyelesaikan ronde ketiga, Lassy kelelahan tapi


Bryan terlihat biasa saja.


“Aku mau buat kopi, kau mau kopi juga?”


“Tidak. Aku mau air.”


“Tunggu sebentar. Kau jangan tidur!”


“Hmmm.”


Bryan beranjak dari tempat tidur, memakai celana pendeknya


kemudian keluar dari kamar. Ketika Bryan masuk dapur, kebetulan pembantu Lassy


sedang membuat kopi untuk penjaga rumah dan sopir mereka.


“Pak Bryan,” sapa pembantu itu. Meski sempat terkejut


melihat kekasih majikannya bertelanjang dada, dia masih menyapa dengan ramah.


“Ada yang bisa saya bantu?”


“Buatkan aku kopi hitam dan segelas air untuk Lassy.”


Pembantu itu mengangguk, meninggalkan kopi yang telah dia


buat untuk membuat kopi baru.


Bryan mundur beberapa langkah. Dia cukup tahu diri kalau


badannya bau hal-hal yang tabu. Tidak mau pembantu Lassy mencium baunya,


kemudian berprasangka buruk, meski sebenarnya Bryan dan Lassy telah melakukan


hal yang benar-benar buruk. Dia bersandar pada lemari es setinggi dirinya yang


diletakkan dekat sekali dengan pintu masuk dapur. Memandangi pembantu yang


sedang mengambil cangkir, menyendok satu demi satu kopi bubuk dan gula pasir, lalu


memasukkannya dalam cangkir itu.


“Menurutmu, bagaimana dengan rumahku ini?” tanya Bryan


selagi pembantu itu mengerjakan tugasnya. Sedang menunggu air mendidih yang


dipanaskan dengan ketel listrik. Suara ketel itu agak begitu berisik, membuat


pembantu Lassy tidak begitu mendengar pertanyaan itu. Bryan kemudian membuat


pertanyaan lainnya. “Apa kau suka rumahku?” dengan suara yang lebih keras.


“Suka,” jawabnya singkat. Terutama karena rumah Bryan jauh


lebih kecil daripada rumah keluarga Liem. “Pekerjaan kami jadi lebih sedikit,”


jawab pembantu itu tanpa menoleh sedikit pun. Memandangi tubuh setengah


telanjang Bryan sama saja tidak menghormati majikannya, jadi dia menaruh respek


dengan menjaga pandangannya. “Kami merasa tidak enak bekerja sedikit, sedang


gajinya tetap.”


Kemarin mereka baru mendapat gaji bulanan dari Lassy. Gaji


mereka tidak hanya tetap, malah dapat uang tambahan yang disebut Lassy sebagai


uang kompensasi. Karena kejadian demi kejadian telah menimpa Lassy dan


pembantu-pembantunya, tapi mereka tetap setia bekerja padanya, Lassy


berinisiatif memberi uang lebih.


“Lassy tak akan mempermasalahkan hal itu. Asal kalian mau


terus bekerja untuknya, dia pasti senang.”


Pembantu itu mengangguk-angguk.


“Setelah renovasi rumah Lassy selesai, kalian pasti diboyong


lagi ke sana.”


Selama bekerja dengan Lassy, pembantunya belum pernah


melihat majikannya jatuh cinta sampai sejauh ini. Para pembantu mengetahui


Lassy suka tinggal dengan Bryan. Kalau rumahnya sendiri sudah selesai


direnovasi apa Lassy akan kembali ke sana?


“Pak, apakah Anda akan ikut tinggal di sana?”


Bryan menanggapi dengan gelengan lemah.


“Tapi Nona Lassy sepertinya tak akan pergi tanpa Pak Bryan


ikut serta.”


“Aku tak bisa tinggalkan rumah ini.” Bryan mengedarkan


pandangan ke sekitar. Rumahnya yang bahkan jarang ditinggalinya. Hasil dari


kerja keras selama dia bekerja dari detektif pemerintah. “Mungkin sekali dua


kali aku akan menginap di sana."


“Oooh.”


Bryan terdengar sangat yakin mengatakannya, entah bagaimana


kalau Lassy mendengar pernyataan itu. Pasti sedih. Pembantunya jadi prihatin.


Kebetulan ketel listrik sudah selesai memanaskan air.


Indikatornya berubah otomatis ke posisi mati. Pembantu Lassy segera mengambil


ketel itu dan menuangkan airnya ke cangkir. Setelah air dituang, lalu tinggal


mengaduknya.


“Saya menaruh satu sendok teh gula. Mau saya tambahkan, Pak?”


“Tidak, itu cukup. Akan kubawa ke kamar sekarang!” Bryan


membawa cangkir kopi di tangan kanannya dan segelas air di tangan Kiri. “Oh ya,


besok aku akan berangkat pagi-pagi sekali dan akan pulang larut. Bilang pada


Jack untuk mengantar jemput Lassy ke kantor.” Setelah diangguki pembantu, Bryan


meninggalkan dapur.


Memikirkan tentang kepindahan Lassy, pembantu tadi ada


benarnya. Ketika renovasi rumah selesai, Lassy pasti memboyong pembantunya


kembali ke sana, tentunya itu memisahkan Bryan dengan Lassy. Bryan sudah


Setelah mereka jadi kekasih, apa masih bisa tinggal sendiri-sendiri lagi? Kalau


dari statement mereka yang mengatakan


keduanya bukan remaja lagi, seharusnya tinggal sendiri-sendiri bukanlah hal


serius, apalagi tadi Bryan mengatakan bahwa dia bisa sekali dua kali menemui


Lassy di rumahnya. Namun, Bryan merasa tak rela kalau terpisah jarak antaranya


dan Lassy.


Bryan meletakkan kopinya di meja, sedangkan air putihnya


langsung disodorkan pada Lassy.


“Las, kalau rumahmu sudah selesai direnovasi, kau akan bawa


semua pembantumu kembali ke sana?”


Lassy mengangguk sebelum mencondongkan gelas air ke


mulutnya. Dia meneguk air itu banyak-banyak, lalu meletakkan gelas dengan


separuh air sisanya di meja juga.


“Kau punya banyak pembantu, bagaimana kalau kau tinggalkan


satu di sini?”


“Jadi kau lebih suka pembantuku yang tinggal di sini, bukan


aku?”


“Sebenarnya aku suka kau yang tinggal di sini, tapi


mengingat kau tak bisa memasak dan membersihkan rumah, kurasa percuma memilihmu.


Lagipula untuk apa kau punya rumah besar kalau tak kau tinggali?”


Bryan menelusup di belakang tubuh Lassy, melingkarkan kedua


tangannya ke perut wanitanya itu dan memurukkan kepala di lehernya. Badannya


mulai dingin, efek telanjang kemudian pergi ke dapur tadi. Dengan menempel pada


Lassy, badannya akan menyerap panas dari kekasihnya itu. Setidaknya begitu


pemikiran Bryan.


“Kalau aku tinggal di sini, kita bisa sewa pembantu untuk


bersih-bersih dan memasak.” Namun, Lassy segera menambahkan, “Tapi benar juga,


untuk apa aku tinggal di sini kalau punya rumah besar dibiarkan kosong?


Bagaimana kalau kau yang tinggal di rumahku?”


Bryan jarang ada di rumah. Kalau ada kasus penting bisa


sampai berhari-hari tak pulang ke rumah. Meski rumah ini tak memiliki kenangan


khusus, tapi di sinilah Bryan menghabiskan hari-hari membosankan kalau tak ada


pekerjaan. Rumah ini sudah punya keistimewaan di hati Bryan.


“Aku sendiri jarang pulang ke rumah, bagaimana mungkin aku


tinggal di rumahmu.” Bryan mengendus dan menggosok leher Lassy dengan


hidungnya. “Meski begitu aku akan sering mengunjungimu dan menginap


sekali-kali,” lalu mengecupi leher itu.


Setelah adegan mengecup leher, Bryan tak kuasa menahan


hasrat untuk tidak meneruskan ke kecupan-kecupan lain. Hampir seluruh leher dan


bahu Lassy mendapat kecupan darinya, tapi berakhir setelah Lassy memalingkan


muka, lalu mempertemukan bibir-bibir mereka. Menciptakan bukan hanya kecupan


ringan, tapi lumatan dan hisapan-hisapan kecil. Sedikit lebih lama, tapi


akhirnya bibir-bibir mereka berpisah. Kembali ke keadaan semula.


Mengingat Sandy dan Cassy sudah tahu hubungan Bryan dan


Lassy, tentu keluarga Lassy yang ada di luar negeri juga tahu hubungan mereka.


Bryan jadi ingin tahu, bagaimana pendapat orang-orang kaya itu tentang hubungan


anak mereka dengannya? Dia menanyakan hal itu pada Lassy.


“Kau takut hubungan kita ditentang keluargaku, ya?”


Bryan menggeleng mantap. Dia optimis kalau keluarga Lassy


tak akan bisa berbuat apa pun kalau hati anaknya sudah dia dapatkan. Bukankah


memisahkan orang yang saling jatuh cinta, sama dengan menyakiti anak mereka


sendiri?


“Kalau hubungan kita benar-benar ditentang keluargamu, kamu


mau berjuang untuk tetap bersamaku, tidak?” Bryan tersenyum kecil sambil


mengendus rambut di belakang rambut Lassy. “Kalau menurutku kau tak akan


mungkin bisa hidup tanpa aku!’


Suara Bryan keluar berbarengan dengan napas-napas hangat


menerpa telinga Lassy. Lassy merasakan geli yang tak tertahankan sampai harus


bergidik sekali, tapi dia suka dengan sensasi itu.


“Enak saja!” protesnya. “Bagaimana bisa kau berpikir aku tak


bisa hidup tanpamu?” katanya congkak. Sayangnya dia memang tidak bisa hidup


tanpa Bryan. Mereka baru saja jadi kekasih, sedang sangat dalam perasaannya


untuk Bryan. Kalau berpisah, Lassy bisa gila mendadak. “Tapi kau tidak perlu


khawatir, keluargaku tidak pernah peduli urusan percintaan anak-anak mereka.


Asal aku hidup aman, sehat, dan bahagia, itu lebih dari cukup bagi mereka.


Masalah kau bisa menghidupiku atau tidak, tidak jadi masalah. Keluargaku kaya,


kalau kau tak bisa menghidupiku, merekalah yang akan menghidupi kita berdua.”


Ok, kalimat tadi penuh dengan penghinaan. Tapi ya ... dari


awal Lassy memang sudah sombong. Mau bagaimana lagi? Bryan menerima Lassy,


berarti harus menerima sifat itu juga. Dia hanya perlu mengabaikan setiap


kalimat Lassy kalau wanita itu sedang menyombongkan diri.


“Kalau keluargamu ... ?” Lassy tidak meneruskannya. Bryan


jarang membicarakan keluarganya dan Lassy juga jarang menanyakannya. Kali ini


Lassy ingin tahu banyak.


“Kalau kau ... mereka tidak akan menolak.”


“Sudah kuduga!”


Setelah mengeluarkan segala kesombongannya, Lassy pasrah


menyandarkan punggungnya di dada Bryan. Menyamankan posisi dan mendesahkan


napasnya panjang sekali. Tidak perlu yang muluk-muluk, hanya itu kebahagiaan


yang diinginkan Lassy sekarang ini.


“Orang tuamu tidak tinggal di kota ini, kan?” tanyanya


sambil memejamkan mata dengan nyaman. “Mereka di mana sekarang?”


“Di kota Gamma.” Tidak jauh, hanya perlu menyeberangi lautan


atau naik pesawat selama dua jam dari kota Delta, kota tempat mereka tinggal


sekarang ini. “Kenapa? Kau mau kuajak ke sana?”


“Huh?” Lassy buru-buru membuka matanya, menoleh pada Bryan.


“Menemui calon mertua ....”


“Aku belum siap!” tolak Lassy.


Bryan juga belum siap. Pertanyaan tadi hanya candaan.