
Adegan romantis antara Bryan dan Lassy hanya ada saat mereka
sedang bercinta. Maksudnya ketika mereka sama-sama telanjang di atas ranjang,
bukan bercinta ala remaja yang jalan berdua lalu memadu kasih. Dalam hubungan
Lassy dan Bryan, memadu kasih atau istilahnya pacaran adalah hal kekanakan.
Mereka bukan remaja labil yang cintanya harus diekspresikan dengan saling
menggenggam tangan kemudian menyanjung kekasihnya menggunakan kalimat cinta.
Bryan lebih suka langsung menyentuh Lassy lalu memulai percintaan mereka,
sedangkan Lassy ikut apa kata Bryan.
Seperti kencan tadi sore yang berlangsung hambar. Tempat dan
suasana romantis, makan malam enak tapi hubungan keduanya biasa saja. Tidak ada
kalimat romantis, pegangan tangan atau ciuman dan pelukan, yang ada keduanya
malah saling bercerita masalah di kantor masing-masing. Soal penyusup di kantor
Lassy, juga kasus surat kaleng yang dibesar-besarkan di kantor kepolisian.
Sehabis makan malam, Bryan merasa bosan berada di tempat
itu, dia mengajak Lassy pulang padahal Lassy sendiri masih betah. Daripada tak
menuruti Bryan lalu jadi bertengkar, Lassy ikut saja. Sampai di rumah baru tahu
alasan Bryan mengajaknya pulang, karena lelaki itu benar-benar ingin bercinta
“Ambilkan air untukku!” perintah Lassy setelah merebahkan
punggungnya di kasur.
Mereka baru menyelesaikan ronde ketiga, Lassy kelelahan tapi
Bryan terlihat biasa saja.
“Aku mau buat kopi, kau mau kopi juga?”
“Tidak. Aku mau air.”
“Tunggu sebentar. Kau jangan tidur!”
“Hmmm.”
Bryan beranjak dari tempat tidur, memakai celana pendeknya
kemudian keluar dari kamar. Ketika Bryan masuk dapur, kebetulan pembantu Lassy
sedang membuat kopi untuk penjaga rumah dan sopir mereka.
“Pak Bryan,” sapa pembantu itu. Meski sempat terkejut
melihat kekasih majikannya bertelanjang dada, dia masih menyapa dengan ramah.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Buatkan aku kopi hitam dan segelas air untuk Lassy.”
Pembantu itu mengangguk, meninggalkan kopi yang telah dia
buat untuk membuat kopi baru.
Bryan mundur beberapa langkah. Dia cukup tahu diri kalau
badannya bau hal-hal yang tabu. Tidak mau pembantu Lassy mencium baunya,
kemudian berprasangka buruk, meski sebenarnya Bryan dan Lassy telah melakukan
hal yang benar-benar buruk. Dia bersandar pada lemari es setinggi dirinya yang
diletakkan dekat sekali dengan pintu masuk dapur. Memandangi pembantu yang
sedang mengambil cangkir, menyendok satu demi satu kopi bubuk dan gula pasir, lalu
memasukkannya dalam cangkir itu.
“Menurutmu, bagaimana dengan rumahku ini?” tanya Bryan
selagi pembantu itu mengerjakan tugasnya. Sedang menunggu air mendidih yang
dipanaskan dengan ketel listrik. Suara ketel itu agak begitu berisik, membuat
pembantu Lassy tidak begitu mendengar pertanyaan itu. Bryan kemudian membuat
pertanyaan lainnya. “Apa kau suka rumahku?” dengan suara yang lebih keras.
“Suka,” jawabnya singkat. Terutama karena rumah Bryan jauh
lebih kecil daripada rumah keluarga Liem. “Pekerjaan kami jadi lebih sedikit,”
jawab pembantu itu tanpa menoleh sedikit pun. Memandangi tubuh setengah
telanjang Bryan sama saja tidak menghormati majikannya, jadi dia menaruh respek
dengan menjaga pandangannya. “Kami merasa tidak enak bekerja sedikit, sedang
gajinya tetap.”
Kemarin mereka baru mendapat gaji bulanan dari Lassy. Gaji
mereka tidak hanya tetap, malah dapat uang tambahan yang disebut Lassy sebagai
uang kompensasi. Karena kejadian demi kejadian telah menimpa Lassy dan
pembantu-pembantunya, tapi mereka tetap setia bekerja padanya, Lassy
berinisiatif memberi uang lebih.
“Lassy tak akan mempermasalahkan hal itu. Asal kalian mau
terus bekerja untuknya, dia pasti senang.”
Pembantu itu mengangguk-angguk.
“Setelah renovasi rumah Lassy selesai, kalian pasti diboyong
lagi ke sana.”
Selama bekerja dengan Lassy, pembantunya belum pernah
melihat majikannya jatuh cinta sampai sejauh ini. Para pembantu mengetahui
Lassy suka tinggal dengan Bryan. Kalau rumahnya sendiri sudah selesai
direnovasi apa Lassy akan kembali ke sana?
“Pak, apakah Anda akan ikut tinggal di sana?”
Bryan menanggapi dengan gelengan lemah.
“Tapi Nona Lassy sepertinya tak akan pergi tanpa Pak Bryan
ikut serta.”
“Aku tak bisa tinggalkan rumah ini.” Bryan mengedarkan
pandangan ke sekitar. Rumahnya yang bahkan jarang ditinggalinya. Hasil dari
kerja keras selama dia bekerja dari detektif pemerintah. “Mungkin sekali dua
kali aku akan menginap di sana."
“Oooh.”
Bryan terdengar sangat yakin mengatakannya, entah bagaimana
kalau Lassy mendengar pernyataan itu. Pasti sedih. Pembantunya jadi prihatin.
Kebetulan ketel listrik sudah selesai memanaskan air.
Indikatornya berubah otomatis ke posisi mati. Pembantu Lassy segera mengambil
ketel itu dan menuangkan airnya ke cangkir. Setelah air dituang, lalu tinggal
mengaduknya.
“Saya menaruh satu sendok teh gula. Mau saya tambahkan, Pak?”
“Tidak, itu cukup. Akan kubawa ke kamar sekarang!” Bryan
membawa cangkir kopi di tangan kanannya dan segelas air di tangan Kiri. “Oh ya,
besok aku akan berangkat pagi-pagi sekali dan akan pulang larut. Bilang pada
Jack untuk mengantar jemput Lassy ke kantor.” Setelah diangguki pembantu, Bryan
meninggalkan dapur.
Memikirkan tentang kepindahan Lassy, pembantu tadi ada
benarnya. Ketika renovasi rumah selesai, Lassy pasti memboyong pembantunya
kembali ke sana, tentunya itu memisahkan Bryan dengan Lassy. Bryan sudah
Setelah mereka jadi kekasih, apa masih bisa tinggal sendiri-sendiri lagi? Kalau
dari statement mereka yang mengatakan
keduanya bukan remaja lagi, seharusnya tinggal sendiri-sendiri bukanlah hal
serius, apalagi tadi Bryan mengatakan bahwa dia bisa sekali dua kali menemui
Lassy di rumahnya. Namun, Bryan merasa tak rela kalau terpisah jarak antaranya
dan Lassy.
Bryan meletakkan kopinya di meja, sedangkan air putihnya
langsung disodorkan pada Lassy.
“Las, kalau rumahmu sudah selesai direnovasi, kau akan bawa
semua pembantumu kembali ke sana?”
Lassy mengangguk sebelum mencondongkan gelas air ke
mulutnya. Dia meneguk air itu banyak-banyak, lalu meletakkan gelas dengan
separuh air sisanya di meja juga.
“Kau punya banyak pembantu, bagaimana kalau kau tinggalkan
satu di sini?”
“Jadi kau lebih suka pembantuku yang tinggal di sini, bukan
aku?”
“Sebenarnya aku suka kau yang tinggal di sini, tapi
mengingat kau tak bisa memasak dan membersihkan rumah, kurasa percuma memilihmu.
Lagipula untuk apa kau punya rumah besar kalau tak kau tinggali?”
Bryan menelusup di belakang tubuh Lassy, melingkarkan kedua
tangannya ke perut wanitanya itu dan memurukkan kepala di lehernya. Badannya
mulai dingin, efek telanjang kemudian pergi ke dapur tadi. Dengan menempel pada
Lassy, badannya akan menyerap panas dari kekasihnya itu. Setidaknya begitu
pemikiran Bryan.
“Kalau aku tinggal di sini, kita bisa sewa pembantu untuk
bersih-bersih dan memasak.” Namun, Lassy segera menambahkan, “Tapi benar juga,
untuk apa aku tinggal di sini kalau punya rumah besar dibiarkan kosong?
Bagaimana kalau kau yang tinggal di rumahku?”
Bryan jarang ada di rumah. Kalau ada kasus penting bisa
sampai berhari-hari tak pulang ke rumah. Meski rumah ini tak memiliki kenangan
khusus, tapi di sinilah Bryan menghabiskan hari-hari membosankan kalau tak ada
pekerjaan. Rumah ini sudah punya keistimewaan di hati Bryan.
“Aku sendiri jarang pulang ke rumah, bagaimana mungkin aku
tinggal di rumahmu.” Bryan mengendus dan menggosok leher Lassy dengan
hidungnya. “Meski begitu aku akan sering mengunjungimu dan menginap
sekali-kali,” lalu mengecupi leher itu.
Setelah adegan mengecup leher, Bryan tak kuasa menahan
hasrat untuk tidak meneruskan ke kecupan-kecupan lain. Hampir seluruh leher dan
bahu Lassy mendapat kecupan darinya, tapi berakhir setelah Lassy memalingkan
muka, lalu mempertemukan bibir-bibir mereka. Menciptakan bukan hanya kecupan
ringan, tapi lumatan dan hisapan-hisapan kecil. Sedikit lebih lama, tapi
akhirnya bibir-bibir mereka berpisah. Kembali ke keadaan semula.
Mengingat Sandy dan Cassy sudah tahu hubungan Bryan dan
Lassy, tentu keluarga Lassy yang ada di luar negeri juga tahu hubungan mereka.
Bryan jadi ingin tahu, bagaimana pendapat orang-orang kaya itu tentang hubungan
anak mereka dengannya? Dia menanyakan hal itu pada Lassy.
“Kau takut hubungan kita ditentang keluargaku, ya?”
Bryan menggeleng mantap. Dia optimis kalau keluarga Lassy
tak akan bisa berbuat apa pun kalau hati anaknya sudah dia dapatkan. Bukankah
memisahkan orang yang saling jatuh cinta, sama dengan menyakiti anak mereka
sendiri?
“Kalau hubungan kita benar-benar ditentang keluargamu, kamu
mau berjuang untuk tetap bersamaku, tidak?” Bryan tersenyum kecil sambil
mengendus rambut di belakang rambut Lassy. “Kalau menurutku kau tak akan
mungkin bisa hidup tanpa aku!’
Suara Bryan keluar berbarengan dengan napas-napas hangat
menerpa telinga Lassy. Lassy merasakan geli yang tak tertahankan sampai harus
bergidik sekali, tapi dia suka dengan sensasi itu.
“Enak saja!” protesnya. “Bagaimana bisa kau berpikir aku tak
bisa hidup tanpamu?” katanya congkak. Sayangnya dia memang tidak bisa hidup
tanpa Bryan. Mereka baru saja jadi kekasih, sedang sangat dalam perasaannya
untuk Bryan. Kalau berpisah, Lassy bisa gila mendadak. “Tapi kau tidak perlu
khawatir, keluargaku tidak pernah peduli urusan percintaan anak-anak mereka.
Asal aku hidup aman, sehat, dan bahagia, itu lebih dari cukup bagi mereka.
Masalah kau bisa menghidupiku atau tidak, tidak jadi masalah. Keluargaku kaya,
kalau kau tak bisa menghidupiku, merekalah yang akan menghidupi kita berdua.”
Ok, kalimat tadi penuh dengan penghinaan. Tapi ya ... dari
awal Lassy memang sudah sombong. Mau bagaimana lagi? Bryan menerima Lassy,
berarti harus menerima sifat itu juga. Dia hanya perlu mengabaikan setiap
kalimat Lassy kalau wanita itu sedang menyombongkan diri.
“Kalau keluargamu ... ?” Lassy tidak meneruskannya. Bryan
jarang membicarakan keluarganya dan Lassy juga jarang menanyakannya. Kali ini
Lassy ingin tahu banyak.
“Kalau kau ... mereka tidak akan menolak.”
“Sudah kuduga!”
Setelah mengeluarkan segala kesombongannya, Lassy pasrah
menyandarkan punggungnya di dada Bryan. Menyamankan posisi dan mendesahkan
napasnya panjang sekali. Tidak perlu yang muluk-muluk, hanya itu kebahagiaan
yang diinginkan Lassy sekarang ini.
“Orang tuamu tidak tinggal di kota ini, kan?” tanyanya
sambil memejamkan mata dengan nyaman. “Mereka di mana sekarang?”
“Di kota Gamma.” Tidak jauh, hanya perlu menyeberangi lautan
atau naik pesawat selama dua jam dari kota Delta, kota tempat mereka tinggal
sekarang ini. “Kenapa? Kau mau kuajak ke sana?”
“Huh?” Lassy buru-buru membuka matanya, menoleh pada Bryan.
“Menemui calon mertua ....”
“Aku belum siap!” tolak Lassy.
Bryan juga belum siap. Pertanyaan tadi hanya candaan.