Mr. Detective

Mr. Detective
Musuh Dalam Perusahaan



Andrew tergesa-gesa memasuki ruangan Lassy. Mukanya tampak


tak senang, padahal ini hari pertama Lassy kembali bekerja. Biasanya kalau melihat


Lassy, Andrew selalu ceria dan enak untuk diajak bicara. Kali ini, lelaki itu


terkesan tak sabaran, apalagi saat mengulurkan berkas pada Lassy. Seperti


hendak melemparkannya langsung ke muka Lassy.


“Mister Ma belum menerima uang darimu. Sekretarisnya


menelepon lebih dari sepuluh kali dalam seminggu ini. Mister Ma sendiri


menghubungiku dan Daniela empat kali. Dia ingin bicara langsung denganmu?”


“Mister Ma?” Lassy bingung. Nampaknya baru pertama kali dia


dengar nama barusan. "Mister Ma yang mana?”


“Mister Ma, pemilik perusahaan clothing dari kota Gamma. Kau menginvestasikan uang pada


perusahaannya tanpa bilang pada kami. Memang uang yang kau gunakan adalah


milikmu, tapi setidaknya kau beritahu kami kalau ujung-ujungnya ada masalah


seperti ini.”


Lassy tak paham soal investasi itu. Bukan tak pernah


berinvestasi, tapi dia memang tidak berinvestasi di industri clothing.


“Aku punya banyak pekerjaan, Las. Kalau kau punya kendala


investasi, seharusnya bisa diselesaikan sekretarismu.”


Lassy masih tak menjawab. Dia berusaha mengingat siapa Mister


Ma yang dimaksud Andrew.


“Coba kau lihat salinan kontrak kerjamu dan perusahaan itu!”


Lassy mengambil map yang baru saja diberikan Andrew padanya.


Membaca sekilas poin-poin penting, kemudian mendengus setelah sampai pada


nominal uang yang ada di kertas itu. Perusahaan pakaian murah. Dia ingat nama


perusahaan ini pernah tersandung kasus penjiplakan baju, tas, dan aksesori dari


perusahaan ternama. Dengan nilai kehormatannya yang tinggi, tidak mungkin Lassy


melakukan hal konyol seperti ini. Perusahaan clothing brand terkenal pun Lassy akan pikir-pikir dulu untuk


investasi, kenapa pula dia menandatangani persetujuan dengan perusahaan


seperti ini?


“And, kau sudah membacanya?”


“Tentu. Dan aku tak habis pikir kenapa kau menandatangani


perjanjian itu?” kata Andrew sambil menggeleng prihatin. “Itu tidak seperti kau


yang selalu mengutamakan kejelasan status perusahaan sebelum memutuskan


berinvestasi di sana.”


Daniela menerobos masuk diikuti sekretaris Lassy. “Las, kau


harus membaca semua map ini sebelum menjelaskannya.” Sekretaris Lassy


menyerahkan sekitar 10 map ke hadapan Bos-nya. “Sulami menemukan semua berkas


ini di tumpukan berkas lain yang akan dia serahkan padamu!”


Sekretaris Lassy itu memberi sedikit penjelasan. “Ini


janggal, Bos. Sebelum saya kirim ke perusahaan yang tertera di alamat, saya


memeriksanya kembali seperti yang Anda perintahkan waktu itu. Lima perjanjian


yang Anda tanda tangani ini bermasalah. Beberapa saya ingat, tapi yang lain


tidak. Map-map itu tidak datang melalui saya.”


Sulami menyarankan Lassy membaca satu perjanjian yang paling


banyak terdapat kejanggalan. Lassy melakukannya. Dengan cepat membaca apa yang


disodorkan sekretarisnya itu padanya.


“Perusahaan ini pernah mengadakan perjanjian dengan Anda.


Dulu Anda melepas jutaan dolar untuk mendanai mereka, itu jauh sebelum Anda


menyuruh saya meneliti ulang berkas yang sudah Anda tanda tangani.”


“Aku ingat perusahaan ini, tapi dulu pengajuan dananya bukan


untuk pengembangan perusahaan, tapi untuk acara amal atau sebangsa itu.” Lassy


membaca berkas dari perusahaan yang sama, tapi pengajuan kali ini secara blak-blakan mengatakan untuk pendanaan perusahaan pribadi. “Apa ada yang mengubah


isinya?”


Sulami menggeleng bersamaan dengan Daniela. “Kita ditipu,


Bos!”


“Itulah kenapa uang perusahaan kita menghilang banyak,”


terang Daniela. “Sulami menemukan lima berkas baru dengan kedok penipuan yang


sama. Menemukan empat berkas yang sudah kau tanda tangani, tapi uang dari


perusahaan tak bisa cair. Semua yang tak bisa cair itu setelah Cassy menukar


aset kalian. Aku tak tahu Cassy itu sebenarnya baik atau buruk, tapi karena


pertukaran itu, uang perusahaan yang akan hilang jadi tertahan.”


Lassy mulai menyadari kesalahannya ketika waktu itu Sulami


mengingatkannya tentang satu berkas penting yang diperlakukan Lassy dengan acuh


tak acuh. Sekretarisnya itu menyuruhnya meneliti ulang apa pun yang akan


ditandatanganinya. Hasilnya, selain dia menemukan banyak berkas janggal


bertumpuk di mejanya, dia juga menemukan kebocoran uang di perusahaan.


Berkas-berkas itu agaknya tidak melewati Sulami dulu, tapi diletakkan dan


diambil langsung dari meja kerjanya. Karena sebelum keracunan obat dan jadi


sedikit jenius, Lassy sangat teledor di banyak hal, dia tidak mau kebocoran itu


terus berlanjut. Makanya, dia meminta bantuan Cassy untuk menukarkan aset


mereka.


 Dia tidak bisa


sembarangan mencurigai orang di perusahaannya. Penyelidikan dengan memasukkan


beberapa ahli yang menyamar jadi pegawai jadi satu-satunya jalan untuk mengusut


kasus ini. Sulami adalah satu-satunya orang dalam yang terlibat dengan rencana


Lassy. Makanya setiap berkas yang masuk dan keluar, diperiksa ulang olehnya.


“Jadi, Mister Ma itu penipu?” tanya Andrew masih belum move on dengan masalah investasi yang


dia bawa.


“Mungkin itu masalah lain, And,” terangnya. “Supaya


perjanjian kerja ini terlihat nyata, orang yang melakukannya mengadakan


kerjasama dengan satu perusahaan yang nyata juga.”


“Pelakunya pasti orang dalam. Tapi itu bukan aku, Las!”


sangkal Andrew berusaha membela diri pada sesuatu yang tak dituduhkan padanya.


“Lassy tidak menuduhmu!” bentak Daniela. “Aku akan lapor


polisi, sekarang!”


“Tunggu dulu!” cegah Lassy. “Kalau kau lapor sekarang,


mereka akan menghilangkan jejak.”


“Mereka? Maksudmu banyak orang?”


“Sepertinya begitu karena di awal-awal dulu pekerjaan mereka


rapi, tapi makin ke sini makin buruk. Kau lihat perjanjian dengan Mister Ma


ini? Apa mungkin aku sudi investasi di perusahaan pakaian murah? Dalam kurun


waktu kurang dari enam bulan mereka sudah membuat ulah lagi sampai sepuluh


perjanjian. Itu tandanya mereka tidak sabaran. Ada beberapa orang bodoh


bergabung di tim mereka.”


“Kau benar. Kita selidiki sendiri secepatnya, temukan bukti


lalu laporkan mereka.”


“Karena uangnya tak mengalir ke rekening mereka, bisa jadi


mereka tahu kalau kita sudah mengetahui sepak terjangnya. Sebaiknya kita


selidiki lebih cepat sebelum mereka menghilangkan bukti!” usul Sulami.


“Setuju!” jawab Andrew paling awal. Dia tak bisa menerima


kenyataan bahwa dalam perusahaannya ada penyusup, menggerogoti uang pula. “Kita


harus mulai dari mana dulu?”


***


Lassy tak meninggalkan kantor sebelum Bryan datang


menjemputnya. Dia meneleponnya sejak satu setengah jam yang lalu, tapi Bryan


hanya mengatakan sedang berada di jalan. Kalau tahu Bryan akan datang


terlambat, Lassy tak akan sudi menunggunya di lobi kantor seperti sekarang.


“Bos, Anda sudah keluar lebih dari sejam yang lalu, kenapa


masih di sini?”


Sulami sudah membawa sebagian barang kantornya. Berniat


pulang, sama seperti yang lainnya. Niatnya itu tersendat karena melihat Lassy


masih berdiri di lobi kantor. Menjadi pemandangan yang sangat tidak biasa.


“Menunggu seseorang.” Lassy tak acuh menanggapi


sekretarisnya.


“Nona Dani dan Tuan Andrew kelihatannya sudah pulang.”


“Bukan mereka, tapi Bryan,” jawab Lassy ketus. Terbawa


suasana jengkel karena terlalu lama menunggu. Dia tidak biasa diperlakukan


seperti ini, orang lainlah yang biasanya menunggu.


Sulami belum pernah mendengar nama Bryan disebut Bos-nya


sebelum ini. Dari jajaran pembisnis yang pernah bekerja sama dengan perusahaan


mereka, agaknya nama itu belum pernah masuk pendengaran Sulami. Mungkinkah


Lassy punya rekan bisnis baru? Atau Bryan adalah kerabat Lassy? Kalau


menyangkut keluarga Lassy, Sulami memang tidak tahu banyak. Pasalnya selain


mengetahui kalau kerabat Bos-nya ada di luar negeri, mereka juga tidak pernah


berkunjung ke kantor kalau datang ke kota ini.


Lassy melirik sekretarisnya yang masih berdiri di tempatnya


“Kenapa kau masih di sini?”


“Kupikir Anda butuh teman menunggu.”


“Tidak perlu. Segera pulang sana!” usir Lassy galak.


Sulami mengangguk, berpamitan, kemudian segera mengambil


langkah menjauhi Bos-nya.


Menghadapi Bos-nya jadi lebih sulit. Setelah kecelakaan itu,


mereka tak bertemu dalam waktu yang lama. Semua pekerjaan dibicarakan lewat


telepon. Hari ini Lassy kembali ke kantor, namun Sulami mendapatinya berubah


drastis. Lebih ke arah yang tak bisa ditebak. Dalam sehari saja dia melihat


Lassy berubah mood, berubah ekspresi


berkali-kali.


Lassy yang selalu serius saat membahas sebuah pekerjaan,


sempat melamun tepat di depan Sulami. Sulami juga menangkap ekspresi galau


Bos-nya itu saat memandangi ponselnya sendiri. Kemudian jadi kaget dan panik


saat Sulami meminta perhatiannya, seperti maling tertangkap basah.


Ketika Lassy mendapat panggilan, dia tersenyum senang


setelah melihat nama si penelepon, mengangkat panggilan itu dengan suara ceria,


bicara sambil tersenyum-senyum, terakhir marah-marah dan menutup teleponnya


dengan kasar. Mungkin karena kecelakaan, teror, dan masalah musuh dalam


perusahaan membuat kepribadian Bos-nya jadi kacau.


Bryan berpapasan dengan Sulami. Karena tak kenal, mereka


hanya saling melewati. Sulami sempat melihat pistol di balik jas Bryan. Sulami


curiga, menghentikan langkahnya sebentar untuk mengamati ke mana perginya orang


barusan.


“Kau terlambat hampir dua jam, Brey!” bentak Lassy setelah


Bryan berada di hadapannya.


Oh, itu yang namanya Bryan, lelaki berpistol, badan besar,


muka sangar itu kenalan Bos-nya. Merasa Bryan tidak marah dibentak Bos-nya,


Sulami yakin kalau Bryan sebangsa penjaga pribadi. Kalau memang begitu, aman


meninggalkan Lassy sekarang.


“Sudah kubilang aku datang dari tempat yang jauh. Aku ikut


patroli bersama Chang.” Lassy mendecih pada penjelasannya. Dia mengabaikan


beberapa pasang mata yang meliriknya. “Ayo pulang!”


Meski sebenarnya ingin menggerutu, Lassy tak melakukannya.


Dia ingat tempatnya tidak tepat untuk merajuk di hadapan Bryan. “Kita makan


malam dulu!” katanya, kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan lobi.


“Makan malam sekarang?” tanya Bryan sambil mengekor. “Ini


masih sore.”


“Aku mau kencan hari ini, terserah kau mau membawaku ke mana


asal kencan yang kemarin terbayarkan.”


“Aku masih menyimpan list tempat romantis yang kau minta


dari Tax. Kita ke salah satu tempat itu atau ke tempat yang kemarin tak jadi


kita datangi, bagaimana?”


“Yang kemarin saja. Aku ingin makan di sana!”


“Ok!” Bryan menyusul Lassy, berjalan sejajar dengan


kekasihnya itu. “Ngomong-ngomong satpam perusahaanmu marah saat aku memarkir


mobil depan kantor. Sudah kubilang kalau aku detektif polisi, tapi dia tak


percaya. Kubilang aku menjemputmu, dia juga tak percaya. Baru setelah bilang


aku kekasihmu, satpam itu tak marah lagi. Dia cuma menyuruhku menepikan mobil


kemudian mempersilakanku masuk kemari.”


Lassy mengerutkan dahi tak suka. “Kau bilang aku kekasihmu?”


Bryan mengangguk “Selain Daniela, di sini tak ada orang tahu kalau aku punya


kekasih.”


“Kau tak mau orang lain tahu hubungan kita?”


“Tidak juga. Mereka hanya tahu aku punya hubungan dengan


Randy, bukan dengan orang lain. Apalagi itu kau, detektif jelek yang ditugaskan


melindungiku. Kalau ada orang yang tahu pasti mengira aku diguna-guna olehmu.”


Bryan nyengir lebar. “Kita cinta lokasi,” katanya pendek.


Saat keduanya keluar pintu lobi, hendak menghampiri mobil.


Mereka bertemu dengan Sulami lagi. Sulami sedang berdiri dekat pos, baru saja


bicara dengan satpam di situ.


“Kenapa kau juga belum pergi?”


“Saya segera pergi, Bos. Menunggu teman,” jawab Sulami


mengkopi jawaban Lassy tadi. “Ngomong-ngomong Bos, benar ini kekasih Anda?”


tanyanya hati-hati. Sulami pasti dengar pernyataan barusan dari satpam kantor.


“Ya. Dia yang kutunggu dari tadi.” Beralih pada Bryan.


“Brey, ini Sulami, sekretarisku.”


Sulami dan Bryan saling menyapa, tanpa salaman. Bryan


mengenalkan diri sebagai polisi agar Sulami dan satpam di perusahaan Lassy


tidak salah mengenali pekerjaannya.


“Kita pergi duluan!” pamit Lassy sambil menyeret Bryan


menuju mobil mereka.


Setelah keduanya masuk ke mobil, mobil dijalankan sampai


keluar area kantor, Sulami dan satpam kantor bisa bernafas lega.


“Kukira dia bodyguard Si Bos,” kata Sulami lega karena kalimat itu tak terucap di depan Bos-nya.


“Menurutmu bagaimana hubungan mereka itu?”


Satpam menggeleng. “Mungkin Nona Lassy sudah bosan dengan


lelaki bernama Randy itu.”


“Mungkin juga.” Sulami sependapat.


“Lebih baik begitu. Daripada merebutkan satu orang, lebih


baik memilih yang lain. Satu untuk diri sendiri.”


Sulami mengangguk, masih sependapat dengan satpam itu.