Mr. Detective

Mr. Detective
Sentuhan Cinta



Setelah bantuan


datang, berandalan itu dimasukkan mobil untuk di bawa ke kantor. Bryan


istirahat sebentar, duduk di depan salah satu rumah warga yang kelihatan sepi


dalamnya. Polisi dari kantor pusat yang sudah selesai dengan tugasnya pun mendatangi Bryan.


“Detektif Bryan ...”


“Ya ... Kau tadi bilang mau bicara denganku. Ada apa?”


“Nona Liem sudah ketemu.”


“Hah?” Bryan melonjak membuat Si polisi kaget. “Kenapa kau tak bilang dari tadi?”


“Tadi Anda meminta saya membantu menangkap beradalan itu,” dalih Si polisi.


Bryan mendecih.


“Mana kutahu kalau kau mau mengatakan keberadaan Lassy.


Harusnya kau paham, Lassy prioritas utama


bagiku!” pekiknya. “Di mana dia sekarang? Bagaimana keadaannya?”


“Nona Liem baik.


Tadi siang menghubungi kantor polisi. Dia bilang sedang berada di ...”


Seingatnya pesan


yang dititipkan atasannya untuk disampaikan pada Bryan tadi tidak membahas


keberadaan Lassy, tapi selentingan yang dia


dengar, Lassy Liem sedang liburan. Berada di


sebuah resort dekat pantai, entah di mana itu.


“Kenapa tidak


mengecek ponsel, siapa tahu Nona Liem menelepon Anda!”


Lassy membuat Bryan takut. Kenapa pula kalau


keadaannya baik-baik saja tidak langsung meneleponnya, tapi malah menelepon


kantor polisi? Harusnya sebagai kekasih, Bryan jadi orang nomor satu yang tahu


keberadaan Lassy. Namun, karena Lassy dalam masalah penculikan, memang tepat kalau Lassy menghubungi polisi.


“Kau bawa mobil?”


tanyanya sambil merogoh saku celana untuk memeriksa ponselya. Ponsel dalam


keadaan senyap. Ada beberapa panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.


Mungkin itu Lassy, menelepon dengan nomor


lain. Bryan mendial balik nomor itu, kemudian meletakkannya di telinga.


“Bawa. Mobil patroli,” jawab Si polisi.


“Antar aku ke stasiun terdekat!” Teleponnya tersambung dengan pusat pelayanan hotel. Bryan


minta operator menyambungkan ke kamar Lassy. “Las, kau ada di mana?” Bryan khawatir.


Sejak kemarin tidak bertemu kekasihnya, takut pujaan hatinya itu kenapa-napa.


“Ha, liburan?”


Pembicaraan Bryan


dan Lassy melebar sampai di satu titik Bryan


memutus sambungan dan mengantongi kembali ponselnya.


“Aku tidak jadi ke


stasiun. Kalau kau mau ke kantor, aku ikut ke sana saja.”


***


Si bos dan anak


buahnya ditangkap dan dimintai keterangan di kantor polisi. Mereka dituduh


melakukan penculikan terhadap Lassy, tapi


semuanya membantah. Dua bodyguard yang wajahnya terekam CCTV, sedang menggiring Lassy dalam mobil itu juga tidak mengaku kalau dia melakukan penculikan terhadap Lassy. Mereka bilang diminta Lassy secara langsung untuk mengurus kepindahannya ke rumah lama.


Karena Si bos dan Lassy punya hubungan bisnis


yang baik, Si bos pernah menawarkan jasa untuk membantu Lassy. Kali inilah Lassy menagih


janji itu, minta bantuan untuk pindahan dari rumah Bryan ke rumah lamanya.


Lassy menelepon kantor polisi, mengamini apa yang


dikatakan Si bos dan anak buahnya. Dia mengaku orang-orang itu disuruhnya untuk


menata barang di rumahnya, sementara Lassy sekarang sedang berlibur. Memang terdengar meyakinkan, tapi para detektif tidak


percaya. Mendengar dan melihat keterangan dan gerak gerik bodyguard Si bos, mereka tahu kalau ada kong kalikong di antara Lassy dan mereka. Pasti Lassy melindungi mereka.


Masalah di kantor


selesai, Bryan meminta cuti pada Kapten Bay untuk menemani Lassy. Luo juga, tahu kalau Lassy sedang liburan, dia buru-buru mengikuti langkah Bryan untuk minta cuti. Dia


beralasan menemani Bryan untuk menemui Lassy,


tapi ajuan cutinya ditolak setelah Bryan memohon secara kasat mata pada Kapten


Bay agar Luo tak diberi cuti.


Selain menolak, Kapten


Bay juga langsung menyerahkan sebuah kasus pada Luo yang letaknya berseberangan


dengan tempat Lassy liburan sekarang ini.


Kapten tahu betul kalau Lassy hanya butuh


Bryan. Tidak boleh ada pengganggu. Kesejahteraan Lassy adalah tanggung jawab kepolisian, maka dari itu, tugas itu lebih


baik dilimpahkan pada Bryan.


“Las ...”


Lassy asyik mengunyah makan malamnya. Makanan


terenak kedua setelah menu makan siang tadi. Terang saja, dia kelaparan hebat


setelah tak makan dari siang kemarin. Dia jadi tahu bagaimana rasanya jadi


orang-orang di luar sana yang tidak cukup makan. Patut bersyukur kalau sekarang


dia bisa melahap makanan enak lagi. Lassy mengulurkan sesendok berisi makanan pada Bryan, tapi kekasihnya itu menolak.


Memilih menyeruput kopi yang baru diantarkan pelayan hotel padanya.


“Las ... kau baik-baik saja, kan?”


“Apa aku terlihat


tidak baik-baik saja?” tanyanya balik.


“Kau diculik, pasti


tidak baik-baik saja.”


Dia meletakkan


sendoknya setelah suapannya masuk mulut. “Aku tidak diculik, Brey. Kau tidak


dengar penjelasanku dari tadi, ya?” tanyanya masih dengan mulut penuh,


mengunyah-ngunyah makanan dengan santai. “Kita berencana liburan, kau lupa ?”


Tapi tidak di sini.


Tempo hari Lassy membicarakan pedesaan, tempat terpencil yang


masih asri, masih natural dan belum banyak didatangi orang. Sedangkan tempat


ini sangat lain. Lassy memilih pantai,


menginap di resort yang ramainya minta ampun. Mana mendekati akhir pekan pula.


sudah bicara denganmu soal keposesifanku. Aku butuh waktu berdua denganmu agar


aku bisa minta maaf.” Lassy berhenti makan,


manarik gelas air dan meneguk isinya sedikit, lalu dikembalikan ke tempat


semula. “Aku minta maaf, Brey. Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap, ingin


kau hanya untuk diriku sendiri tanpa orang lain boleh menyentuhmu. Aku


pencemburu.”


Tangan Bryan


terulur, meminta Lassy mengulurkan tangannya


juga agar bisa diraih olehnya. Setelah tangan mereka saling bertaut, Bryan


meremat jemari Lassy.


“Aku juga minta


maaf. Aku tak pernah peka dengan perasaanmu.” Bryan jadi teringat perkataan Dr.


Wren waktu itu. Para Detektif adalah orang-orang yang tidak terlalu peka dengan


perasaan, ternyata Dr. Wren benar. “Kalau aku tahu semua ini gara-gara aku, tak


mungkin kubiarkan kau menyakiti dirimu sendiri.”


Bryan mencium jemari Lassy sebelum kekasihnya itu melepaskan diri. Lassy berdiri, mengajak Bryan keluar untuk


menikmati udara pantai. Bahkan saat Bryan berdalih ingin menghabiskan kopinya, Lassy langsung meraih gelas kopi milik Bryan dan


menuang isinya ke wastafel terdekat. Mau tak mau, Bryan ikut dengan Lassy sekarang.


.


.


.


Pantainya ramai.


Bryan dan Lassy dapat tempat yang jauh dari


bibir pantai. Hanya duduk sebelah-sebelahan tanpa bisa berbuat apa-apa. Banyak


pasangan yang mesra-mesraan di sini, mereka tidak tertarik untuk melakukannya


juga.


“Ngomong-ngomong


soal penculikan itu ...”


“Brey, daripada kau


membicarakan soal penculikan yang tidak pernah terjadi, lebih baik bicarakan


yang lain saja!” Lassy mendengus kesal. Berapa


kali dia harus mengulang soal tidak terjadinya penculikan terhadap dirinya itu?


“Berapa lama Kapten Bay memberimu cuti?”


“Senin ini aku sudah


kembali kerja.”


“Ck!”


Lassy sebal. Ini hari Jumat, kalau Senin besok


Bryan sudah harus masuk kerja, berarti kekasihnya itu hanya diberi tiga hari.


Sebenarnya Sabtu-Minggu adalah hari libur umum, tapi tidak berlaku untuk para


detektif. Mereka bisa masuk kerja kapan saja, tapi tidak bisa libur kerja kapan


saja. Benar-benar merepotkan punya kekasih seorang detektif.


“Kapten Bay kenapa


pelit. Harusnya kau minta cuti lebih lama. Senin besok aku sudah pindah ke


rumahku, Brey. Kau tak mau menemaniku di sana?”


“Diberi waktu tiga


hari itu sudah lama. Aku tidak pernah libur lebih dari sehari. Itu pun hari


Minggu.”


“Jangan bilang kau


tak pernah ambil cuti sebelumnya?”


“Pernah.” Tapi Bryan


lupa kapan dia pernah mengambil cuti.


Lassy langsung senewen melihat kekasihnya bilang


pernah, tapi ekspresinya tidak meyakinkan. Lalu waktu yang selama ini banyak


dihabiskan dengannya itu apa? Tugas sebagai bodyguard?


Kalau memang Bryan tak pernah ambil cuti, bagaimana hubungan mereka kedepannya?


Kapan mereka bisa bertemu dengan leluasa kalau Bryan sudah aktif secara penuh


di kepolisian?


“Lalu waktu buatku?”


tanya Lassy agak malas untuk mengetahui jawabannya.


“Saat aku tak sedang


bertugas.” Perkataannya tak disukai Lassy,


maka dari itu Bryan meralatnya. “Jangan khawatir, aku tetap akan pulang setiap


malam. 5-6 hari sekali aku akan tidur di rumahmu,” kata Bryan sambil


melingkarkan lengannya ke pingang Lassy.


Lassy tahu Bryan berusaha menyenangkannya.


Seumpama bisa, Lassy sudah menyuruh Bryan


untuk mundur dari kepolisian. Dia akan merekrutnya di perusahaan agar mereka


bisa bertemu setiap hari. Punya waktu berduaan sepanjang yang Lassy mau. Namun, Bryan pernah bilang kalau jadi


polisi adalah cita-citanya dari dulu, Lassy tak bisa mencegah Bryan. Toh, Bryan yang jadi detektif polisi lebih keren daripada


jadi pekerja kantoran. Makin ekstrim, Lassy makin suka.


“Las ....”


Lassy menoleh kilat pada Bryan.


“Penculik-penculik


itu mengancammu ya, sampai kau tak mau mengatakan yang sebenarnya pada polisi?”


“Brey!” Mood Lassy memburuk. “Kau menanyakannya berulang-ulang,


sudah tak percaya padaku, ya?”


“Bukan begitu ...,”


Mata detektif tak


akan mudah dibohongi. Bryan tak akan melakukan apa pun, dia hanya ingin tahu


alasan Lassy melindungi penculik-penculik itu.


Soalnya seluruh temannya di kantor penasaran, dia dimintai tolong untuk


mengorek alasan Lassy melindungi penculik-penculik itu.


“Maksudku di sini


terlalu ramai. Bagaimana kalau kita mencari tempat sepi?”