
Setelah bantuan
datang, berandalan itu dimasukkan mobil untuk di bawa ke kantor. Bryan
istirahat sebentar, duduk di depan salah satu rumah warga yang kelihatan sepi
dalamnya. Polisi dari kantor pusat yang sudah selesai dengan tugasnya pun mendatangi Bryan.
“Detektif Bryan ...”
“Ya ... Kau tadi bilang mau bicara denganku. Ada apa?”
“Nona Liem sudah ketemu.”
“Hah?” Bryan melonjak membuat Si polisi kaget. “Kenapa kau tak bilang dari tadi?”
“Tadi Anda meminta saya membantu menangkap beradalan itu,” dalih Si polisi.
Bryan mendecih.
“Mana kutahu kalau kau mau mengatakan keberadaan Lassy.
Harusnya kau paham, Lassy prioritas utama
bagiku!” pekiknya. “Di mana dia sekarang? Bagaimana keadaannya?”
“Nona Liem baik.
Tadi siang menghubungi kantor polisi. Dia bilang sedang berada di ...”
Seingatnya pesan
yang dititipkan atasannya untuk disampaikan pada Bryan tadi tidak membahas
keberadaan Lassy, tapi selentingan yang dia
dengar, Lassy Liem sedang liburan. Berada di
sebuah resort dekat pantai, entah di mana itu.
“Kenapa tidak
mengecek ponsel, siapa tahu Nona Liem menelepon Anda!”
Lassy membuat Bryan takut. Kenapa pula kalau
keadaannya baik-baik saja tidak langsung meneleponnya, tapi malah menelepon
kantor polisi? Harusnya sebagai kekasih, Bryan jadi orang nomor satu yang tahu
keberadaan Lassy. Namun, karena Lassy dalam masalah penculikan, memang tepat kalau Lassy menghubungi polisi.
“Kau bawa mobil?”
tanyanya sambil merogoh saku celana untuk memeriksa ponselya. Ponsel dalam
keadaan senyap. Ada beberapa panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Mungkin itu Lassy, menelepon dengan nomor
lain. Bryan mendial balik nomor itu, kemudian meletakkannya di telinga.
“Bawa. Mobil patroli,” jawab Si polisi.
“Antar aku ke stasiun terdekat!” Teleponnya tersambung dengan pusat pelayanan hotel. Bryan
minta operator menyambungkan ke kamar Lassy. “Las, kau ada di mana?” Bryan khawatir.
Sejak kemarin tidak bertemu kekasihnya, takut pujaan hatinya itu kenapa-napa.
“Ha, liburan?”
Pembicaraan Bryan
dan Lassy melebar sampai di satu titik Bryan
memutus sambungan dan mengantongi kembali ponselnya.
“Aku tidak jadi ke
stasiun. Kalau kau mau ke kantor, aku ikut ke sana saja.”
***
Si bos dan anak
buahnya ditangkap dan dimintai keterangan di kantor polisi. Mereka dituduh
melakukan penculikan terhadap Lassy, tapi
semuanya membantah. Dua bodyguard yang wajahnya terekam CCTV, sedang menggiring Lassy dalam mobil itu juga tidak mengaku kalau dia melakukan penculikan terhadap Lassy. Mereka bilang diminta Lassy secara langsung untuk mengurus kepindahannya ke rumah lama.
Karena Si bos dan Lassy punya hubungan bisnis
yang baik, Si bos pernah menawarkan jasa untuk membantu Lassy. Kali inilah Lassy menagih
janji itu, minta bantuan untuk pindahan dari rumah Bryan ke rumah lamanya.
Lassy menelepon kantor polisi, mengamini apa yang
dikatakan Si bos dan anak buahnya. Dia mengaku orang-orang itu disuruhnya untuk
menata barang di rumahnya, sementara Lassy sekarang sedang berlibur. Memang terdengar meyakinkan, tapi para detektif tidak
percaya. Mendengar dan melihat keterangan dan gerak gerik bodyguard Si bos, mereka tahu kalau ada kong kalikong di antara Lassy dan mereka. Pasti Lassy melindungi mereka.
Masalah di kantor
selesai, Bryan meminta cuti pada Kapten Bay untuk menemani Lassy. Luo juga, tahu kalau Lassy sedang liburan, dia buru-buru mengikuti langkah Bryan untuk minta cuti. Dia
beralasan menemani Bryan untuk menemui Lassy,
tapi ajuan cutinya ditolak setelah Bryan memohon secara kasat mata pada Kapten
Bay agar Luo tak diberi cuti.
Selain menolak, Kapten
Bay juga langsung menyerahkan sebuah kasus pada Luo yang letaknya berseberangan
dengan tempat Lassy liburan sekarang ini.
Kapten tahu betul kalau Lassy hanya butuh
Bryan. Tidak boleh ada pengganggu. Kesejahteraan Lassy adalah tanggung jawab kepolisian, maka dari itu, tugas itu lebih
baik dilimpahkan pada Bryan.
“Las ...”
Lassy asyik mengunyah makan malamnya. Makanan
terenak kedua setelah menu makan siang tadi. Terang saja, dia kelaparan hebat
setelah tak makan dari siang kemarin. Dia jadi tahu bagaimana rasanya jadi
orang-orang di luar sana yang tidak cukup makan. Patut bersyukur kalau sekarang
dia bisa melahap makanan enak lagi. Lassy mengulurkan sesendok berisi makanan pada Bryan, tapi kekasihnya itu menolak.
Memilih menyeruput kopi yang baru diantarkan pelayan hotel padanya.
“Las ... kau baik-baik saja, kan?”
“Apa aku terlihat
tidak baik-baik saja?” tanyanya balik.
“Kau diculik, pasti
tidak baik-baik saja.”
Dia meletakkan
sendoknya setelah suapannya masuk mulut. “Aku tidak diculik, Brey. Kau tidak
dengar penjelasanku dari tadi, ya?” tanyanya masih dengan mulut penuh,
mengunyah-ngunyah makanan dengan santai. “Kita berencana liburan, kau lupa ?”
Tapi tidak di sini.
Tempo hari Lassy membicarakan pedesaan, tempat terpencil yang
masih asri, masih natural dan belum banyak didatangi orang. Sedangkan tempat
ini sangat lain. Lassy memilih pantai,
menginap di resort yang ramainya minta ampun. Mana mendekati akhir pekan pula.
sudah bicara denganmu soal keposesifanku. Aku butuh waktu berdua denganmu agar
aku bisa minta maaf.” Lassy berhenti makan,
manarik gelas air dan meneguk isinya sedikit, lalu dikembalikan ke tempat
semula. “Aku minta maaf, Brey. Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap, ingin
kau hanya untuk diriku sendiri tanpa orang lain boleh menyentuhmu. Aku
pencemburu.”
Tangan Bryan
terulur, meminta Lassy mengulurkan tangannya
juga agar bisa diraih olehnya. Setelah tangan mereka saling bertaut, Bryan
meremat jemari Lassy.
“Aku juga minta
maaf. Aku tak pernah peka dengan perasaanmu.” Bryan jadi teringat perkataan Dr.
Wren waktu itu. Para Detektif adalah orang-orang yang tidak terlalu peka dengan
perasaan, ternyata Dr. Wren benar. “Kalau aku tahu semua ini gara-gara aku, tak
mungkin kubiarkan kau menyakiti dirimu sendiri.”
Bryan mencium jemari Lassy sebelum kekasihnya itu melepaskan diri. Lassy berdiri, mengajak Bryan keluar untuk
menikmati udara pantai. Bahkan saat Bryan berdalih ingin menghabiskan kopinya, Lassy langsung meraih gelas kopi milik Bryan dan
menuang isinya ke wastafel terdekat. Mau tak mau, Bryan ikut dengan Lassy sekarang.
.
.
.
Pantainya ramai.
Bryan dan Lassy dapat tempat yang jauh dari
bibir pantai. Hanya duduk sebelah-sebelahan tanpa bisa berbuat apa-apa. Banyak
pasangan yang mesra-mesraan di sini, mereka tidak tertarik untuk melakukannya
juga.
“Ngomong-ngomong
soal penculikan itu ...”
“Brey, daripada kau
membicarakan soal penculikan yang tidak pernah terjadi, lebih baik bicarakan
yang lain saja!” Lassy mendengus kesal. Berapa
kali dia harus mengulang soal tidak terjadinya penculikan terhadap dirinya itu?
“Berapa lama Kapten Bay memberimu cuti?”
“Senin ini aku sudah
kembali kerja.”
“Ck!”
Lassy sebal. Ini hari Jumat, kalau Senin besok
Bryan sudah harus masuk kerja, berarti kekasihnya itu hanya diberi tiga hari.
Sebenarnya Sabtu-Minggu adalah hari libur umum, tapi tidak berlaku untuk para
detektif. Mereka bisa masuk kerja kapan saja, tapi tidak bisa libur kerja kapan
saja. Benar-benar merepotkan punya kekasih seorang detektif.
“Kapten Bay kenapa
pelit. Harusnya kau minta cuti lebih lama. Senin besok aku sudah pindah ke
rumahku, Brey. Kau tak mau menemaniku di sana?”
“Diberi waktu tiga
hari itu sudah lama. Aku tidak pernah libur lebih dari sehari. Itu pun hari
Minggu.”
“Jangan bilang kau
tak pernah ambil cuti sebelumnya?”
“Pernah.” Tapi Bryan
lupa kapan dia pernah mengambil cuti.
Lassy langsung senewen melihat kekasihnya bilang
pernah, tapi ekspresinya tidak meyakinkan. Lalu waktu yang selama ini banyak
dihabiskan dengannya itu apa? Tugas sebagai bodyguard?
Kalau memang Bryan tak pernah ambil cuti, bagaimana hubungan mereka kedepannya?
Kapan mereka bisa bertemu dengan leluasa kalau Bryan sudah aktif secara penuh
di kepolisian?
“Lalu waktu buatku?”
tanya Lassy agak malas untuk mengetahui jawabannya.
“Saat aku tak sedang
bertugas.” Perkataannya tak disukai Lassy,
maka dari itu Bryan meralatnya. “Jangan khawatir, aku tetap akan pulang setiap
malam. 5-6 hari sekali aku akan tidur di rumahmu,” kata Bryan sambil
melingkarkan lengannya ke pingang Lassy.
Lassy tahu Bryan berusaha menyenangkannya.
Seumpama bisa, Lassy sudah menyuruh Bryan
untuk mundur dari kepolisian. Dia akan merekrutnya di perusahaan agar mereka
bisa bertemu setiap hari. Punya waktu berduaan sepanjang yang Lassy mau. Namun, Bryan pernah bilang kalau jadi
polisi adalah cita-citanya dari dulu, Lassy tak bisa mencegah Bryan. Toh, Bryan yang jadi detektif polisi lebih keren daripada
jadi pekerja kantoran. Makin ekstrim, Lassy makin suka.
“Las ....”
Lassy menoleh kilat pada Bryan.
“Penculik-penculik
itu mengancammu ya, sampai kau tak mau mengatakan yang sebenarnya pada polisi?”
“Brey!” Mood Lassy memburuk. “Kau menanyakannya berulang-ulang,
sudah tak percaya padaku, ya?”
“Bukan begitu ...,”
Mata detektif tak
akan mudah dibohongi. Bryan tak akan melakukan apa pun, dia hanya ingin tahu
alasan Lassy melindungi penculik-penculik itu.
Soalnya seluruh temannya di kantor penasaran, dia dimintai tolong untuk
mengorek alasan Lassy melindungi penculik-penculik itu.
“Maksudku di sini
terlalu ramai. Bagaimana kalau kita mencari tempat sepi?”