Mr. Detective

Mr. Detective
Pacaran Betulan



Lassy hampir termakan omongan Bryan. Bryan ingin benar-benar


pacaran dengannya, itu manis menurut Lassy, tapi dia mengingkarinya. Bryan bukan


tipe orang yang romantis, meski apa yang dikatakannya tadi sedikit banyak


membuat Lassy senang. Sesuatu yang manis akan berakhir pahit, makanya Lassy


menolak Bryan. Bisa jadi Bryan memang menginginkan harta lebih banyak dari satu


juta dolar. Bisa juga Bryan dompleng popularitas darinya, secara dia dapat


perhatian khusus dari pemerintah.


Setelah pintu kamar mandi ditutup, penyesalan itu baru


datang. Bagaimana kalau Bryan serius? Bagaimana kalau detektif itu memang mulai


menyukainya?


Kalau menengok hari-hari kemarin, di mana dia ingin punya


kekasih, tapi tak pernah kesampaian, sedih sekali. Bukan Lassy jual mahal atau


pilih-pilih, itu karena dia belum menemukan orang yang cocok. Dan ketika hari


itu dia terbaring di rumah sakit dengan luka di sekujur tubuh dan kaki yang


patah, orang itu datang. Berwujud seorang detektif kaku berparas biasa saja.


Lassy jatuh cinta, tapi belum yakin. Dengan mengajak Bryan pacaran kontrak


senilai satu juta dolar, Lassy ingin meyakinkan hatinya. Dia tidak peduli kalau


awalnya Bryan tak menyukainya, dia juga tak peduli kalau Bryan sudah punya


kekasih, yang dia peduli saat itu harus jadi kekasih Bryan.


Keberuntungan hampir semua berpihak padanya. Nilainya yang


tinggi di mata pemerintah, kekayaan, dan kecantikannya sudah pasti mudah


menggaet Bryan ke pelukannya. Lassy rela menyerahkan tubuhnya pada Bryan hanya


karena kedatangan Sandy yang mendadak membuatnya cemburu. Takut Bryan tertarik


dengan sepupunya itu, takut Bryan cuma minat pada uang yang ditawarkannya juga.


Jadi, dia harus tawarkan sesuatu yang lain. Bermodal percaya pada Bryan, dia


menyerahkan dirinya.


Barusan Bryan membuka peluang cinta selebar-lebarnya, tapi


otak jenius Lassy malah memikirkan kemungkinan lain. Kemungkinan Bryan


memanfaatkan uangnyalah, popularitasnyalah, lalu apa lagi? Ujung-ujungnya dia


menyesal punya otak jenius dan mulut tak bisa di rem.


Masih duduk dengan posisi yang sama, Lassy memandang pintu


kamar mandi. Dia sudah putuskan, saat Bryan keluar dari kamar mandi, dia akan


mengajaknya bicara masalah yang tadi. Tentu saja untuk menerimanya jadi kekasih sungguhan.


“Sedang apa kau?” tanya Bryan yang nyatanya sudah keluar


dari kamar mandi tanpa disadari Lassy.


Lassy mengerjapkan matanya berkali-kali. Matanya memandang,


tapi tidak benar-benar memandang. Dia melamun. “Ha?”


“Sedang apa kau bengong begitu?”


“Tidak ada.”


Bryan tidak membahasnya lagi. Dia pindah ke lemarinya,


mengambil pakaian lalu mengenakannya. Bryan menggunakan celana jins hitam dan


kaos warna putih, memakai ikat pinggang, menyisir rambut dengan rapi,


menambahkan jel dan berakhir menyemprotkan minyak wangi ke bajunya.


“Kau mau ke mana?” Lassy cemas, pasalnya Bryan tidak


terlihat akan berangkat tidur dengan dandanan itu. “Kau mau keluar?"


“Ya,” jawabnya sambil menyisipkan dompet ke saku belakang


celana. “Aku akan menemui Chang dan Tax, mungkin mereka butuh bantuan. Kau


tidur saja, akan kusuruh Jack berjaga di luar kamar. Kalau ada apa-apa cepat


telepon aku.”


“Apa teman-temanmu sedang mengusut kasus baru?”


Bryan ragu menjawab, tapi dia tetap mengangguk.


“Kau tidak seperti ingin membantu memecahkan kasus.


Penampilan dan gayamu seperti orang mau ke Bar.”


Hampir tepat, Bryan memang akan keluar menemui Chang dan Tax


yang tadi sore katanya akan berpesta di café karaoke. Bryan sendiri menolak


untuk ikut, tapi karena barusan mood-nya


dibuat buruk oleh Lassy, dia memutuskan datang ke sana. Keadaan Lassy sudah


sangat baik, ada Jack, penjaga rumah, dan dua pembantu Lassy di rumah ini,


kalau Bryan meninggalkannya sekali lagi sepertinya tidak akan jadi masalah.


“Bukan ke Bar, aku menemui mereka di tempat lain.”


“Kau pulang jam berapa?”


Bryan mau protes, untuk apa Lassy tahu kapan dia akan


pulang? Namun urung ketika sadar tugasnya menjagai Lassy masih belum habis saat


ini. Lassy berhak tahu ke mana dan kapan dia akan kembali, karena Bryan masih


terikat kontrak, juga terikat pekerjaan dengannya.


“Aku akan pulang pagi. Kau mau titip sesuatu?”


Lassy ingin bicara, tidak ingin lainnya. Tapi, ya sudahlah,


mungkin Bryan butuh waktu berkumpul dengan teman-temannya. Siapa tahu kalau


hari ini dia mengatakan menerima Bryan jadi kekasih betulan, Bryan tak percaya


lalu menyangka Lassy mempermainkannya, semuanya akan gagal begitu saja. Masih


ada hari esok. Lassy bisa bersabar. Kesabaran selalu berbuah manis, seperti


yang selalu dipraktekkan dalam pekerjaannnya.


“Tidak.”


“Kau ingin bicara sesuatu?”


“Tidak juga.”


“Besok saja.”


“Kau yakin?”


Jadi, sebenarnya siapa yang tidak rela di sini? Lassy tak


rela Bryan keluar rumah dan sepertinya Bryan sendiri tak rela keluar sebelum


mendengar sesuatu dari Lassy.


Bryan angkat tangan setelah Lassy menggeleng mantap. Dia


memutuskan bergegas, memakai kaos kaki, sepatu kets, dan juga meraih jaket


dalam lemarinya. Bryan sempatkan menghampiri Lassy, mengecup pucuk kepalanya,


lalu melenggang tanpa meninggalkan kalimat lagi.


Nyatanya keluar dari kamar, dia tidak segera pergi. Bryan


memutuskan ke dapur, mengambil minum dan membawanya ke ruang tamu. Dia duduk di


sana setelah meletakkan air putihnya di meja. Memikirkan hal barusan, mood buruk yang menjadikannya berbohong, meninggalkan Lassy lagi demi kepentingannya sendiri. Seharusnya dia menahan


diri, harus berbuat baik pada Lassy sebelum mereka bebar-benar berpisah.


Tanpa meminum airnya, dia memutuskan kembai ke kamar. Menemui Lassy.


“Ada yang terlupa?” tanya Lassy yang tadinya sudah


memejamkan mata. Dia terganggu dengan suara Bryan membuka pintu dengan kasar.


“Kunci mobil?”


“Tidak.” Bryan melepas dan melempar jaketnya ke sofa


bertumpuk dengan jasnya. Dia juga melepas sepatu dan kaos kakinya di tempat


yang sama. “Kupikir Chang dan Tax sedang ada tugas dan butuh bantuan, ternyata


mereka pergi karaoke. Barusan mereka menelepon. Aku urungkan niat untuk


datang.” Dia berpindah ke lemari, mengeluarkan kaos oblong dan celana


pendeknya. Bryan berganti pakaian saat itu juga. “Lebih baik tidur daripada


diolok-olok mereka karena tak bisa menyanyi.”


“Kau tak bisa menyanyi?”


Lassy menggeser tubuhnya, memberi ruang untuk Bryan tidur di


sampingnya.


“Bisa, sekedar lagu kebangsaan. Tadi kau mau mengatakan


sesuatu padaku, berhubung aku tak jadi pergi, katakan saja sekarang.” Bryan


menjatuhkan diri di sebelah Lassy. Mendesah lega setelah punggungnya bertemu


dengan empuknya kasur, kemudian memberi atensi pada Lassy. “Memang kau mau


bicara apa?”


“Soal kekasihmu. Kau sudah memberikan uang itu padanya?”


Bryan menggeleng. “Aku putus dengannya sebelum sempat


memberikan uang itu. Cek-nya masih ada di laci kalau kau mau mengambilnya lagi.”


Lassy menaikkan sebelah alisnya. Kalau itu benar, dia tidak


perlu repot-repot menyuruh Bryan memutuskan kekasihnya. Kalau Bryan bohong,


bagaimanapun caranya, Lassy akan buat mereka putus.


“Kau baru mengembalikan satu juta dolar, kalau kuminta uang


itu juga, kau mau dapat apa? Ambil saja!”


“Tidak, tidak. Nanti kukembalikan padamu.”


“Aku tidak mau, berikan saja pada orang lain.”


“Kau memang kaya, tapi jangan buang-buang uang.”


“Setiap kali aku mengeluarkan uang, aku akan dapat


berkali-kali lipat,” kata Lassy, masih sombong seperti biasanya. “Berikan saja pada orang lain!”


Bryan meliriknya prihatin. Prihatin karena telah menyukai


orang kaya yang royal atau lebih tepat disebut boros.


“Kenapa?”


Bryan menggeleng.


“Kau tidak merasa sayang menolak semua uang dariku?”


“Aku sudah merasa cukup dengan gajiku. Kupikir-pikir lagi,


buat apa punya uang banyak kalau cuma ditimbun di bank.”


“Kau bisa mengajak kekasihmu liburan, mentraktirnya makan


dan membelikannya barang-barang mahal.” Bukan Lassy tidak ingat Bryan sudah


mengatakan kalau dia sudah putus dari kekasih kecilnya itu, tapi Lassy tidak


punya kata lain untuk diucapkan.


“Aku tidak punya kekasih. Baru saja kubilang padamu aku


sudah putus dengannya, dan sebentar lagi putus denganmu juga.” Suara Bryan


rendah di akhir kalimat. Terdengar tidak ikhlas.


“Kalau begitu kau harus mempertahankanku.” Lassy mencoba


peruntungan. “Sekali lagi minta aku jadi kekasihmu dan aku akan menerimamu


dengan syarat aku satu-satunya untukmu.”


“Jangan main-main denganku?” Bryan tidak mau dibohongi.


Lassy tidak menjawab. Dia diam, Bryan ikut diam. Detik


berikutnya mereka saling lirik, saling pandang, kemudian tersenyum bersamaan.


Lassy ternyata serius.


Dan Bryan sama seriusnya.


Tidak perlu berpikir bagi Bryan untuk mengutarakan


perasaannya lagi. “Kau mau jadi kekasihku, Las? Aku janji kau akan jadi


satu-satunya kekasih bagiku!”


“Kau tidak romantis,” Lassy cemberut. “Tapi ... karena kau


memenuhi syarat, aku menerimamu,” katanya sambil tersenyum lebar.


Lalu keduanya saling mendekat, saling melekat dan saling jatuh cinta.


Eh, berciuman juga.