
“Selamat pagi!”
Bryan, si detektif yang
kadang dibilang polisi begajulan, kali ini berpakaian formal hingga badan
tinggi besarnya terlihat tidak setegap biasanya. Jasnya terlihat bersih dan
rapi, meski sebenarnya itu jas dua tahun lalu yang dipakai dua tiga kali dalam
setahun. Dulu jas itu sedikit longgar, tapi sekarang agak kekecilan. Di
belakangnya, dua petugas berseragam polisi mengikutinya masuk ke ruang rawat.
“Kami dari kepolisian,
ditugaskan untuk mengusut kasus tabrak lari Nona Lassy Liem.”
Dia menunjukkan lencananya,
kemudian mengantonginya lagi. Menghampiri Andrew dan Daniela, bersalaman dan
saling berkenalan.
“Saya minta Anda berdua
keluar sebentar. Saya akan mengajukan beberapa pertanyaan pada Nona Liem!”
“Apa kita tidak bisa tetap
di sini?” pinta Andrew.
“Ini prosedur. Proses tanya
jawab ini bisa terganggu bila ada warga sipil ikut mendengarkan.”
“Tapi kami keluarganya.”
Andrew masih tak mau menyerah. “Kami tidak akan mengeluarkan suara sedikit pun
selama proses tanya jawab berlangsung.”
“Maaf, ini prosedur,”
ulangnya tanpa ada basa basi. “Anda berdua bisa bertanya pada Nona Liem setelah
kami selesai.”
Andrew tak ingin
meninggalkan Lassy. Namun polisi punya wewenang untuk menghindarkan semua orang
yang berpotensi mengganggu proses interogasi. Andrew tak akan menyerah kalau
saja Daniela tak memarahi dan menariknya keluar dari ruang rawat.
Pintu segera ditutup
setelah kedua teman Lassy itu keluar ruang rawat. Satu polisi ikut keluar untuk
berjaga di luar pintu dan seorang lagi berjaga di dalam ruangan.
“Selamat pagi!” Bryan
mengulang sapaannya. “Nona Liem, saya detektif polisi yang ditugaskan untuk
menginterogasi Anda,” terangnya dengan gaya formal. “Saya Bryan Trevor,
detektif dari satuan pusat.”
“Aku mendengarnya saat Anda
berkenalan dengan kedua temanku tadi,” sahut Lassy yang tak mau berbasa-basi.
Lassy merasa tak nyaman
melihat Bryan. Penampilan, gerak gerik, dan juga perkataan detektif itu sok
formal. Orang yang formalitasnya tak sempurna, pasti ada yang salah dengan
orangnya. Lassy punya banyak pengalaman dengan orang-orang seperti itu, yaitu
kliennya. Dan dia tidak suka. Lassy berharap interogasinya akan berjalan cepat.
“Baguslah kalau begitu.
Saya akan mulai bertanya, saya harap Anda tidak keberatan mengingat kejadian
tabrakan semalam.”
“Tidak keberatan.”
Bryan mempersiapkan
kertasnya. Dia mengeluarkan alat tulis dari dalam saku kemejanya, lalu menekan
kepala pulpen untuk memunculkan ujungnya. Bryan berdehem sejenak sebelum mulai
melontarkan pertanyaan.
“Nona Liem ...,”
“Lassy saja.”
“Lassy,” Brian mengulang.
“Pukul berapa Anda pulang kantor semalam?”
“Pukul 10.25,” jawab Lassy.
“Sekitar pukul sebelas lebih aku sampai di dekat tikungan itu.”
“Bagaimana situasi tadi
malam? Anda merasa ada sesuatu yang janggal seperti ada yang mengikuti atau
mengawasi gerak gerik Anda?” Lassy menggeleng cepat. “Bagaimana Anda bisa
sampai di sana tadi malam?”
“Aku naik mobil.”
“Naik mobil?” Bryan
mengernyit. “Pihak polisi tidak menemukan mobil Anda di tempat kejadian.”
Kalau Lassy naik mobil,
bagaimana bisa dia jadi korban tabrak lari dengan tubuh tergeletak di tepi
jalan? Keluarga yang menemukan Lassy juga tidak melihat ada mobil di sekitar
sana. Bryan memberitahukan penemuan itu pada Lassy. Membuat Lassy sangat
terkejut.
Lassy sempat melihat dua
mobil itu pergi, tapi dia pingsan kemudian. Yang terakhir dia ingat, mobil
miliknya masih ada di tepi jalan tempat dia memberhentikannya.
“Bisa Anda ceritakan detail
kejadian itu? Yang Anda ingat saja. Syukur-syukur kalau bisa mengingat
semuanya!”
Lassy menghela nafas
sebelum mulai.
“Aku pulang pukul sepuluh
lebih. Berhenti di mini market untuk membeli barang. Sekitar pukul sebelas aku
hampir sampai tikungan itu. Ada satu mobil melesat cepat di belakangku yang
kemudian melambat saat sudah dekat. Mobil itu menyerempet badan mobilku, lalu
berhenti kira-kira lima-enam puluh meter di depan. Karena sisi kiri mobilku
rusak parah, aku berniat menghampiri mobil itu dan marah pada pengemudinya.”
Lassy menjeda kalimatnya untuk mengambil beberapa napas panjang. Dia baru bangun dari pingsan
panjangnya. Masih lemah. Bicara banyak menguras tenaganya yang bahkan belum
diisi. Jadi, dia butuh setidaknya beberapa napas panjang untuk menguatkan diri.
“Saat berada di tengah
jalan, mobil lain datang dengan kecepatan tinggi dan menghantam tubuhku. Aku
terpelanting, tubuhku mati rasa dan tak bisa bergerak, tapi aku masih sadar
ketika melihat kedua mobil itu pergi,” lanjutnya.
Bryan banyak menulis di
kertasnya setelah mendengar cerita singkat dan padat itu.
“Kedua mobil itu pergi
setelah Anda tertabrak?” tanyanya yang langsung diiyakan oleh Lassy. “Anda
seperti berpendapat kalau kedua pengendara mobil itu bersekongkol?”
“Mungkin begitu,” jawab
“Bisa saya tahu merek,
jenis, dan plat nomor mobil Anda?” Lassy menyebutkan dan Bryan menulisnya.
“Bisakah Anda mengingat mobil yang menyerempet itu?”
“Mobil sport. Lamborghini
warna abu-abu pekat. Aku pernah hampir membeli mobil yang serupa tahun lalu.
Tapi aku tak tahu tipenya.”
“Tidak masalah,” kata Bryan
sambil terus menulis.
Pemilik mobil mewah dengan
merek itu tak terlalu banyak. Tak akan sulit mencarinya karena polisi
jelas-jelas punya nama seluruh pemilik kendaraan bermotor di negara ini.
“Anda ingat plat nomornya?”
Lassy menggeleng. “Kalau mobil kedua?”
“Tidak sama sekali. Aku
cuma ingat benda hitam itu menghantamku dengan kuat lalu melesat pergi tanpa
menurunkan kecepatannya.”
“Apakah Anda merasa punya
musuh selama ini?”
Lassy menyangkal. Selama
ini dia bersikap tak acuh pada masalah orang lain, itu dimaksudkan agar tak ada
orang yang mencampuri urusannya. Dia tak suka cari musuh. Kalau menurut
Daniela, sifat tak acuhnya itu hampir membuat separuh karyawan mereka sebal
padanya. Mungkin dari sifat itulah yang membuat beberapa orang tak suka
padanya. Tetapi Lassy yakin kalau tak ada orang yang ingin membunuhnya hanya
karena sebal padanya.
Itu hanya sebuah pendapat
pribadi, dia tak perlu mengatakannya pada Bryan.
“Pukul berapa jam kantor
Anda berakhir?”
“Lima sore.”
“Anda pulang sebegitu
larut?”
“Aku lembur akhir-akhir
ini.”
Lassy terbatuk batuk
sebelum menyelesaikan kalimatnya. Tenggorokannya kering setelah sejak tadi
bicara terus. Tadi dengan Andrew dan Daniela, sekarang dia diinterogasi Bryan.
Dia butuh air lagi untuk membasahi tenggorokannya.
“Aku butuh minum.”
Bryan mempersilakan. Dia
menyibukkan diri dengan catatannya sementara Lassy bersusah payah meraih air
minum di sebelah ranjangnya. Bryan mengalihkan pandangannya pada Lassy ketika
perempuan itu menjatuhkan tutup gelas. Dia tak berhasil meraih gelas di atas
meja. Bryan dan Lassy berpandangan sebentar, kemudian kembali pada kegiatan
masing-masing.
“Tak jadi minum?” tanya
Bryan yang melihat Lassy bersandar lagi ke bantalnya.
Lassy bukan tak jadi minum,
dia tak berhasil mengambil gelas. Bryan pasti tahu soal itu, tapi detektif itu
tak mau repot-repot membantu. Dia berpikir kedatangannya cuma untuk
menginterogasi korban, sedangkan membantu mengambil minum bukan bagian dari
pekerjaannya.
“Kita lanjutkan ...,”
Lassy mendengus samar, tapi
dia pasrah.
“Anda lembur akhir-akhir
ini, apa ada pekerjaan penting yang harus segera diselesaikan?”
Lassy berdehem,
melonggarkan tenggorokannya. “Kami baru saja menang tender.” Bryan menggaris bawahi
kata ‘kami’ dan Lassy segera menjelaskannya. “Aku dan kedua temanku tadi
bekerja di perusahaan yang sama. Kami baru saja memenangkan tender kelas
Internasional. Karena aku yang memimpin presentasinya nanti, aku lembur untuk
memastikan pekerjaan sesuai target.” Lassy berdehem lagi. Dia mengambil waktu,
sekedar untuk menggeser posisi kepalanya. “Sudah sekitar dua minggu ini aku
lembur dan tidak terjadi apa-apa sebelumnya.”
“Anda masih ingat siapa
saja yang ikut dalam perebutan tender itu?”
Lassy mengiyakan.
“Apakah ada salah satu dari
mereka terlihat kecewa setelah kalah tender.”
“Sepertinya tidak. Kita
sering bertemu di perebutan tander sebelum-sebelumnya. Lagipula kalah menang
dalam bisnis itu sudah biasa.”
Bryan melihat arlojinya dan
mengerutkan dahi karenanya. Waktunya menipis, sedangkan dia masih punya banyak
pertanyaan. Dia harus segera ke kantor karena ingin bertemu dengan atasannya.
“Untuk hari ini cukup
sampai di sini. Kita akan bertemu lagi nanti siang,” kata Bryan masih sambil
melihat ke arah jam tangannya. “Sebelum saya pergi, ada yang ingin Anda
tambahkan?”
Lassy menggeleng cepat.
“Baiklah, saya pamit
sekarang. Selamat pagi!”
Lassy menghembuskan nafas
lega ketika Bryan mulai menjauh dari ranjangnya. Pintu ruang rawatnya sudah
dibuka petugas polisi, tapi saat berada di depan pintu, Bryan berbalik.
Detektif itu berjalan ke sisi kiri ranjang, lalu berjongkok ke lantai untuk
mengambil tutup gelas yang tadi dijatuhkan Lassy. Bryan meletakkan tutup itu di
meja. Dia beralih pada gelas berisi air putih dan menggesernya ke tepi, dekat
ranjang, agar Lassy bisa menggapainya.
“Tak perlu sungkan,” kata
Bryan ketika Lassy memandang curiga padanya. “Sekedar bantuan kecil.”
Dia benar-benar pergi
setelahnya