
“Ada apa denganmu?” tanya Lassy sambil menerima kupasan
jeruk dari Daniela. Dia bukan bertanya pada temannya, tapi bertanya pada Bryan
yang duduk lemas di sofa. Dari dia datang sampai saat ini, kekasihnya itu belum
berkata apa pun selain salam sapa biasa. “Brey, aku bertanya padamu?”
“Tidak apa-apa,” jawabnya malas.
“Kau ada masalah di kantor?” tanya Daniela ikut-ikutan.
“Tidak. Aku hanya sedikit lelah.”
Double lelah menurut Bryan. Lelah karena orang tua Ren tiba-tiba
memutuskan hubungannya dengan putri mereka. Lelah juga karena Sandy ternyata
sudah punya kekasih. Padahal belum sampai sebulan sejak kejadian Sandy datang
ke kamarnya malam itu, sekarang dia sudah punya kekasih. Pantas saja siang tadi
wanita itu tak begitu tertarik dengannya. Ternyata Bryan kalah cepat dengan
lelaki sialan bernama Aiden itu.
Setelah menyadari telepon Sandy yang masih aktif, Bryan
mendapat kabar dari sepupu Lassy itu. Sandy mengatakan kalau sedang makan siang
dengan temannya. Dia minta maaf karena pergi tanpa pamit. Ketika Bryan
pura-pura ingin tahu teman Sandy, wanita itu menyebutkan nama Aiden. Lalu
menjelaskan kalau Aiden adalah pemilik apartemen yang waktu itu ditinggalinya.
Dia bahkan menjanjikan akan mengenalkan Aiden pada Bryan nantinya.
Sandy memang penggoda sialan bagi Bryan, setelah Bryan
tergoda padanya, wanita itu malah memilih lelaki lain. Aiden mengakui Sandy
sebagai kekasihnya tadi siang, barusan Sandy bilang mereka teman. Yang benar
yang mana? Bryan masih punya kesempatan atau tidak, sih? Namun, Bryan keburu
galau lagi, ketika sepupu Lassy itu bilang akan menginap di apartemen Aiden.
Dalam sehari sial berkali-kali diterima Bryan. Putus
hubungan paksa dengan Ren, ditinggal kencan oleh Sandy, dan sebentar lagi pasti
Lassy mendepaknya dengan satu juta dolar.
“Lebih baik kau pulang dan istirahat,” saran Daniela. “Aku
bisa menjaga Lassy di sini.”
“Tidak, Dan. Dia detektif, lelah itu sudah jadi makanannya
sehari-hari. Tidak ada alasan untuknya istirahat. Tugasnya masih sama,
menjagaiku 24 jam,” kata Lassy sadis, hampir terdengar seperti diktator. “Dia
baru datang, ke mana saja sepanjang pagi sampai siang ini?”
Daniela meringis kasihan pada Bryan, tapi membenarkan ucapan
Lassy.
“Aku ke kantor menanyakan penyelidikan kasusmu.”
Lassy mendecih tapi diam-diam tertarik pembicaraan itu.
Daniela juga.
“Orang-orang yang menabrakmu dan menganiaya Martha sudah
mengaku. Yang kemarin mendatangi kalian di apartemen itu juga sudah
dipenjarakan, tapi mereka masih tutup mulut kalau ditanya nama bos-nya.”
“Apa ini akan memakan waktu? Maksudku untuk mengorek
keterangan dari mereka.”
“Tergantung.” Bryan mulai menegakkan badan. Dia bersemangat
kalau membahas tindak kejahatan. “Polisi punya banyak cara untuk membuat mereka
bicara. Kalau mereka tetap tak mau membagi informasi, kita yang akan mencarinya
sendiri.”
“Aku tahu polisi sehebat itu,” puji Daniela. “Ini belum ada
sebulan dan kalian sudah menangkap penjahatnya.”
“Belum. Belum semuanya.”
“Iya, tinggal Bos mereka, kan? Setelah mereka semua
tertangkap, kau akan sebebas dulu, Las,” kata Daniela senang. Dia, Lassy dan
Andrew bisa leluasa berbisnis lagi. “Aku jadi tidak sabar. Ingin tahu siapa
orang yang ingin sekali membunuhmu?”
Lassy merampas paksa jeruk di tangan Daniela. Harusnya dia
dapat asupan buah itu. Daniela lebih fokus dengan kasus yang dibawa Bryan.
Lassy memang tertarik, tapi tidak harus sebahagia temannya. Dia yang jadi
korban di sini, haruskah dia bahagia? Walau sudah dua kali beruntung tidak mati
di tangan penjahat, bukan berarti dia bisa beruntung lagi untuk berikutnya.
“Bryan, aku perlu berterima kasih padamu, juga pada semua
temanmu. Karena ada kalian, aku jadi tidak cemas lagi dengan keselamatan
Lassy.”
“Buat apa kau berterima kasih padanya? Kasusnya belum
selesai. Lagi pula itu memang tugas mereka.”
Daniela menoel lengan Lassy. Menegurnya karena tak baik
bicara begitu pada detektif yang telah menyelamatkannya.
“Kan, sudah kuberitahu, karena Bryan lengah, aku diculik dan
hampir dibunuh.” Lassy memutarbalikkan fakta. Dia tak bercerita bahwa
penculiknya adalah Martha. Bahkan selama ini Andrew dan Daniela tak tahu kalau
Lassy, Martha, dan Bianca bersahabat.
Bryan jadi malas untuk kembali bercerita. Dia punya kekasih
rasanya seperti musuh.
“Bryan, jangan ambil hati omongannya,” kata Daniela sambil
tertawa canggung.
“Terima kasih telah diingatkan.”
“Oh, karena kau sudah ada di sini, aku harus kembali ke
kantor. Ada yang perlu kuurus.” Daniela memindahkan keranjang jeruk dari
pangkuannya ke meja. Dia berdiri, menepuk-nepuk rok kerjanya agar sisa kulit
jeruk yang menempel jatuh ke lantai. “Malam ini aku akan datang lagi. Kau tak
Bryan mengangguk kecil.
“Perlu kuberitahu Andrew kalau kau ada di sini? Dia cemas
sekali tak mendengar kabarmu hampir seminggu.” Bagaimanapun Daniela tetap
menganggap bahwa berpacaran dengan Bryan adalah cara Lassy mencari
perlindungan. Tentang benar-tidaknya mereka pacaran, Daniela tak mau Andrew
tahu. Karena dia lebih setuju kalau Lassy dengan Andrew, bukan dengan orang
lain.
Lassy menggeleng. “Aku temui dia kalau sudah keluar dari sini.”
“Baiklah, Aku pergi sekarang.”
Daniela mengambil kunci mobil yang dia tinggalkan di meja.
Berpamitan pada Bryan dan bergegas keluar ruangan.
“Aku akan minta izin dokter untuk pulang lebih cepat,” ujar
Lassy bersamaan Bryan beralih dari sofa menuju bekas tempat duduk Daniela.
“Setelah kakiku, sekarang lenganku yang cedera. Kalau rawat jalan di rumah aku
bisa sembuh lebih cepat.”
Sebelum duduk, Bryan mendekati Lassy untuk memberinya
kecupan kilat di pipi. “Kau tak punya rumah lagi, masih ingat?” katanya sambil
duduk di kursi.
“Numpang di rumahmu. Apa gunanya punya kekasih kalau tak
boleh ditumpangi tinggal?” Kekasihnya mendecih mendapati kelicikannya. “Aku
keluar uang sejuta dolar, bukan hanya untuk menyewa tubuhmu, tapi juga untuk
semua aset yang kau punya, kecuali kekasihmu.”
“Kau mengeluarkan uang untuk kekasihku,” Bryan mengingatkan.
“Aku perlu menemuinya untuk menyerahkan uang itu.”
“Kapan?”
“Besok kalau bisa. Sudah beberapa hari aku tak menemuinya.
Biasanya aku tak tega meninggalkannya kalau dia pasang muka memelas. Dia itu
manis sekali.” Bryan berlagak masih memiliki Ren. Biar saja, menyenangkan diri
sendiri walau kenyataannya lain.
Bibir Lassy berkedut, sebelah bawah mata kanannya juga. Hal
seperti itu terjadi kalau dia merasakan tidak enak hati. Seperti gagal
transaksi atau kehilangan klien. Mendengar Bryan membicarakan kekasihnya,
hatinya juga tidak enak.
“Temui dia secepatnya lalu kembali kemari!” perintah Lassy.
“Jangan coba-coba menginap di rumahnya selagi kau punya tanggungan
melindungiku!”
“Khusus besok, aku akan pulang telat. Aku akan berangkat
sore dan pulang agak malam,” dengan santai Bryan mengambil jeruk yang tadi
ditinggalkan Daniela di meja. “Setelah beberapa minggu tak bertemu, tidak
mungkin aku cuma menemuinya, menyerahkan cek darimu, lalu pergi begitu saja.
Aku merindukan kekasihku.” Bryan mengupas jeruknya, asal bersih, lalu
membelahnya jadi dua bagian. Dia memasukkan satu potongan besar dalam mulutnya.
“Kau bilang merindukanku saat kemarin aku diculik.” Lassy
gusar. Dia juga pernah merasakan rindu. Di saat yang sama ketika dia diculik
Martha.
“Kan sudah ketemu, jadi tidak rindu lagi.”
“Oh, jadi kau berharap aku diculik dulu sampai berhari-hari
baru kau akan merindukanku.”
Bryan memuntahkan isi jeruk ke telapak tangannya,
melemparkannya dalam keranjang. Mulutnya disumpal lagi dengan potongan jeruk yang baru.
“Bukan begitu. Setiap hari aku bersamamu. Sedangkan kau dan
dia sama-sama kekasihku, setidaknya aku menyempatkan diri untuk menemuinya
sekali-kali.”
Mulut Bryan penuh, makan sambil bicara membuat sebagian air
jerus merembes keluar mulut. Bryan menarik selimut Lassy dan menyeka mulutnya.
Lassy tersentak, menarik balik selimutnya dan memasang ekspresi jijik.
“Kau jorok sekali!”
Terkadang begitulah kelakuan detektif. Tidak hanya Bryan,
detektif lain pun sama. Jadi, Bryan tak ambil pusing.
“Kapten Bay tadi ke sini dan bilang akan menemuiku lagi
besok. Kau mau ke rumah kekasihmu itu, ha?”
Bryan mengernyit. Pantas ketika dia ke kantor tadi siang,
atasannya itu tidak ada di ruangannya.
“Kapten bilang, Inspektur J akan datang ke sini juga,”
katanya, sok penting.
“Inspektur J mau ke sini?” Bryan kaget. Sebegitu hebatkah
pengaruh Lassy dan keluarganya? Inspektur J pasti diutus langsung oleh
Presiden. “Kan aku perginya sore hari. Mereka pasti sudah pulang dari sini.”
“Mereka akan datang sore hari,” lanjut Lassy. “Kalau kau mau
dipecat, silakan menginap di rumah kekasihmu!”
“Tidak. Tidak jadi. Aku ke sana lain kali saja,” ralat
Bryan. Toh, dia memang tak mungkin ke rumah Ren lagi. Ini namanya kebohongan
yang hampir jadi petaka. “Aku bisa menitipkan cek-nya pada tetangganya.
Tetangganya itu temanku,” terang Bryan pada pertanyaan yang tak pernah
dilontarkan padanya. “Kau mau jeruk? Kukupaskan!”
Dia berubah baik setelah ancaman pemecatan yang dilontarkan
Lassy tadi. Sayangnya Lassy keburu marah.
“Tidak mau!” tolaknya kasar.