Mr. Detective

Mr. Detective
Rumah Keluarga Liem



Bryan melihat Lassy mondar-mandir melakukan hal-hal tidak


jelas. Mengambil barang-barang, keluar masuk toilet, dan naik turun ranjang


sesukanya. Walau dia harus meloncat-loncat dengan sebelah kakinya, Bryan tak


mau repot membantu. Dia tahu Lassy juga tak mungkin mau dibantu. Lassy adalah


wanita angkuh yang bisa melakukan segalanya sendiri. Percuma Bryan menawarkan


bantuan kalau pada akhirnya ditolak. Lebih baik dia duduk diam di sofa.


Dipikir-pikir, tak ada gunanya dia ditugaskan untuk menjaga


Lassy. Selama ini tak ada ancaman apa pun terhadapnya. Jangankan penjahat,


nyamuk saja tak berani masuk ruang rawatnya. Keberadaan Bryan jadi tidak


berguna. Tahu begini, dari awal saja dia minta dialihkan tugas. Dia bosan


datang pagi pulang malam cuma untuk bersama Lassy. Sekarang terlambat untuk


mengeluh, dia sudah terikat kontrak bernilai sejuta dolar dengan Lassy. Ada


tugas atas nama kepolisian yang ditanggungnya pula.


“Kapten Bay sudah memberitahumu?” Lassy meloncat-loncat


menghampiri Bryan, kemudian duduk di sebelahnya. “Kukatakan padanya, aku pergi


dari negara ini kalau tak diizinkan berpacaran denganmu.”


“Sudah.” Bryan merengut sedikit. “Kapten mengumpankanku


padamu.”


“Seperti perkiraanku.”


“Kapten juga menyuruhku membujuk keluargamu,” Lassy pasti


tahu alasannya, Bryan tidak perlu menutup-nutupi apa yang dikatakan Kapten Bay


tadi. “... agar keluargamu tak mengusik negara kita.”


“Tentang itu ...,”


Benarkan dia tahu? Bryan sudah menduganya.


“Kapten Bay hanya takut. Keluargaku tak sejahat yang dia


pikirkan.”


“Tentang …?” tanya Bryan ingin tahu lebih jelas.


“Itu cuma rumor, tidak benar!”


Bryan penasaran, rumor apa yang membuat Kaptennya takut?


“Kau tak usah cari tahu, tak akan pernah ditemukan


kebenarannya.”


Bryan bukan tak ambil pusing, dia cuma mau diam untuk


sementara. Cepat atau lambat dia juga pasti tahu dari Luo. Atau mungkin tidak,


mengingat baru saja dia mematahkan hati Luo gara-gara dapat perintah memacari


Lassy. Jangan salahkan Bryan, tawaran dari Lassy cukup menggiurkan dan perintah


langsung dari Kapten Bay tak mungkin dia tolak. Salah Luo sendiri, dia punya


sikap yang tak cukup membuat Lassy tertarik menjadikannya kekasih.


Eh, ngomong-ngomong Bryan juga yang mencegah Lassy


menawarkan kontrak sejuta dolar itu pada Luo.


Lassy menaikkan sebelah kakinya ke atas meja rendah di


depannya dengan kedua tangannya. Dia kesakitan di bagian yang baru dioperasi


itu. Walaupun operasinya sudah beberapa hari yang lalu dan sekarang kakinya


sudah diikat kuat-kuat, tapi masih terasa nyeri. Itu yang namanya fase


penyembuhan. Lassy mengabaikan rasa sakitnya sejenak. Dia mendorong tubuh Bryan


menyandar ke sofa, melebarkan tangan Bryan dan meletakkan kepalanya sendiri di


bahu itu.


“Kau perlu memperlakukanku seperti seorang kekasih,” begitu


dalih Lassy.


“Tapi kenapa tumben sekali …?”


“Karena aku tahu seseorang akan datang.”


Bryan menajamkan pendengarannya sambil menoleh ke pintu.


Sebagai seorang detektif dia merasakan akan kehadiran beberapa orang, mereka


sedang berjalan ke ruangan. Bryan bisa tahu karena dia pernah dilatih, tapi


bagaimana dengan Lassy?


“Bagaimana kau bisa tahu kalau akan ada orang yang datang


kemari?”


“Sttt!” Lassy mengisyaratkan untuk diam dan ternyata muncul


dua orang dari luar kamarnya.


“Lassy.”


Tadinya Daniela senang Lassy bisa cepat keluar dari rumah


sakit, setelah melihat kelakuan temannya itu bersama Bryan, dia langsung


mengerutkan keningnya. Antara heran dan agak jijik.


“Hi, Dan!”


Daniela kesulitan berkata-kata. Untung yang datang


bersamanya bukan Andrew, bisa jadi akan ada drama rebutan Lassy di rumah sakit


ini. Daniela heran melihat Lassy merebahkan kepala di bahu Bryan. Bagaimana


bisa teman sekaligus rekan kerjanya itu melakukannya?


“Dan, sekarang aku berpacaran dengan Bryan,” kata Lassy to the point. “Aku menyukainya, begitu


juga dia. Benar, kan?” Dia menepuk dada Bryan pelan.


Daniela berteman cukup lama dengan Lassy, dia banyak tahu


apa yang disukai dan yang tidak oleh temannya itu. Kalau soal cinta, Lassy tak


pernah menampakkan gejalanya. Lassy mencintai pekerjaan dan hidupnya sendiri


daripada orang lain. Kalau hari ini dia memutuskan menyukai Bryan, Daniela


belum bisa percaya.


Bryan merasa tidak enak pada Daniela, tapi terpaksa


mengangguk demi satu juta dolar dan bonus dari atasannya. Dia juga terpaksa


mengikuti alur tangan Lassy yang membimbing tangannya untuk saling mengelus.


“Selama keselamatanku ditanggung polisi, Bryan akan tinggal


di rumahku.”


“Benarkah?” Daniela terkejut.


“Tentu saja. Selain untuk melindungiku sampai kasus ini


terpecahkan, Bryan adalah kekasihku. Rumahku adalah rumahnya juga.”


“Oh,” tanggapan Daniela terdengar agak kurang ikhlas.


“Mobilmu sudah siap kalau kau mau pulang sekarang,” katanya mengalihkan topik


pembicaraan.


Dia canggung membicarakan hubungan Lassy dengan Bryan.


Tumben-tumbennya Lassy bisa dekat dan tertarik dengan orang yang cuma punya


profesi sebagai detektif pemerintah.


“Kuambilkan kursi roda untukmu.” Dia menawarkan sekalian


menghindar dari dua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu.


Daniela pergi tepat setelah Lassy menyatukan bibirnya dengan


Bryan. Dia tak kuat melihat adegan yang demikian. Bukan Daniela cemburu atau


apa, masalahnya hubungan temannya itu agak di luar batas. Dia memaklumi kalau


yang ada di sebelah Lassy saat ini adalah Andrew, tapi karena Bryan yang ada di


sana, Daniela sedikit merinding.


“Jack,” panggil Lassy pada sopir keluarga yang ditinggalkan


Daniela di ruangan itu. Lelaki itu menunduk hormat. “Kenalkan, ini Bryan,


kekasihku. Dia seorang detektif. Dia juga yang melindungiku.”


Jack mengangguk, sementara Bryan mengulurkan tangannya meminta


salaman. Dengan canggung Jack menjabat tangan itu. Dia merasakan derajatnya


terlalu rendah untuk menyambut uluran tangan kekasih majikannya.


“Aku memang kekasih majikanmu, tapi jangan anggap aku


majikanmu juga.” Bryan menggoyang jabatan tangan mereka, lalu cepat dilepaskan.


“Jack, Bryan akan tinggal dengan kita. Kau bisa berteman


dengannya.” Jack mengangguk lagi. “Ya sudah, kau angkat saja barangku. Suster


sudah mengepaknya tadi pagi.”


“Baik, Nona!”


Bryan tidak duduk semobil dengan Lassy, dia membawa mobilnya


sendiri. Tujuannya sekarang hanya untuk mengantarkan Lassy pulang, mengecek dan


mengenali sampai sudut rumah, lalu menemui Luo di kantor. Ada Daniela, pembantu


rumah, serta dua polisi yang ditempatkan di sana. Bryan bisa meninggalkan Lassy


tanpa khawatir ada orang jahat menyambanginya.


“Ini rumahku, Brey.”


Rumahnya berkali-kali lipat lebih besar dari rumah Bryan.


Tidak salah kalau Lassy termasuk orang kaya raya di negara ini. Di mata Bryan,


pembantu pria, ditambah Lassy, cuma ada lima orang. Rumah besar seperti yang


sekarang ini masih akan terasa sepi kalau cuma dihuni lima orang. Toh, Bryan


juga tak yakin kalau pembantu Lassy tinggal di bangunan utama. Biasanya orang kaya


menempatkan pembantunya di bagian paling belakang rumah mereka. Ruang-ruang


kecil yang berada di sudut dapur rumah. Bisa jadi Lassy tipe orang kaya yang


seperti itu?


“Cuma ada lima orang tinggal di sini?”


“Akan tambah kau,” jawab Lassy.


“Serta sepupunya Lassy,” tambah Daniela. “Dia akan datang


akhir minggu ini.”


“Aku tak suka kedatangannya,” eluh Lassy. “Dia akan


melakukan segala cara agar aku bisa ikut dengannya.”


“Kuharap kau tak terpancing perkataannya.”


Dua polisi yang sedang berjaga hormat pada Bryan. Salah


satunya membukakan pintu, lalu mempersilakan mereka masuk. Ada seorang pembantu


yang menyambut kedatangan mereka. Pembantu itu langsung mengambil alih tugas


Bryan, mendorong kursi roda Lassy dan menggiring mereka ke ruang makan.


“Seperti perintah Nona, kami sudah menyiapkan menu makan


siang.” Pembantu itu menepatkan kursi roda Lassy di sebelah kursi makan. Dia


juga membantu Lassy pindah ke kursi.


”Silakan Nona Dani,” katanya mengarahkan Daniela pada kursi


lain. “Silakan Tuan,” dan mempersilakan Bryan duduk.


Bryan menolak untuk duduk. Dia punya agenda lain di rumah


ini. Yang harus dilakukannya adalah mengecek rumah, kemudian menemui partner kerjanya.


“Brey ....”


“Aku tak bisa ikut makan. Aku akan menemui polisi di depan


dan memintanya untuk memanduku menyisir rumah ini.”


“Kan bisa nanti.”


Bryan menggeleng. “Karena aku harus menemui Luo setelahnya.”


“Kau bisa makan dulu lalu menemui Detektif Luo. Untuk


mengecek rumah bisa kau lakukan lain kali.” Lassy agak tak senang. Seharusnya


supaya terlihat benar-benar sebagai sepasanng kekasih, Bryan ikut makan


dengannya. “Makan dulu!” perintahnya.


“Las, mungkin ada benarnya Bryan mengecek rumahmu. Kalau ada


sesuatu yang tidak beres, dia akan segera tahu. Itu sudah jadi tugasnya.”


Daniela bukan bermaksud benar-benar membela Bryan, dia sebenarnya juga tak


nyaman kalau harus makan semeja dengan seorang detektif. “Kalau cuma untuk


makan bersama, nanti kau juga bisa makan dengannya.”


Lassy memberikan tanda pengusiran dengan tangannya. Bryan


dengan segera menyingkir dari Lassy dan Daniela yang memulai acara makan mereka


dengan berisik. Sementara Bryan berkeliling rumah dengan polisi yang


ditugaskan, Deniela mulai mengutarakan keberatannya soal hubungan Lassy dan


Bryan.


“Las ...”


“Aku tahu kau mau bilang apa,” potong Lassy. “Kau terkejut


dengan hubunganku dan Bryan?” Daniela membenarkan tebakannya. “Aku juga tidak


tahu kenapa bisa begini. Aku pernah sangat yakin lebih mencintai pekerjaan


dibanding yang lainnya. Kalaupun aku ingin memiliki kekasih, Bryan tidak masuk


dalam kriteriaku. Tapi ... hatiku berubah saat pertama kali melihatnya masuk ke


ruang rawatku.”


“Ini seperti bukan kau. Kau bisa menyukainya, tapi untuk


mengambil keputusan berpacaran dengannya itu terlalu terburu-buru,” tutur


Daniela. “Dia seorang detektif, Las.”


“Bukankah itu bagus. Dia tak mungkin ikut campur


pekerjaanku.” Setelah minum dan meletakkan gelas, Lassy menambahkan, “Aku juga


bisa mendapat perlindungan darinya.”


“Justru karena dia seorang detektif, kau jadi tak aman.


Kesehariannya bergelut dengan tindak kriminal. Pasti banyak penjahat di luar


sana yang dendam padanya. Kalau tahu kau adalah kekasih Bryan, kau bisa jadi


sasaran balas dendam mereka.”


Lassy tersenyum sinis. “Jadi kekasihnya atau tidak, nyatanya


banyak orang yang mendendam dan ingin mencelakakanku. Setidaknya dengan adanya


Bryan, penjahat akan berpikir ulang.”


“Mereka akan mengira kau dijaga khusus oleh kepolisian?”


tebak Daniela dan Lassy mengiyakan. “Kau tidak sedang memanfaatkan Bryan, kan?”


“Tidak juga.”


Daniela meninggalkan makanannya. Dia memilih mengerutkan


dahi menanggapi pernyataan ambigu sahabatnya.


“Aku benar-benar menyukainya,” katanya sambil kembali


tersenyum sinis.


Daniela tak yakin Lassy mencintai Bryan. Dia malah


beranggapan itu akal-akalan Lassy agar dapat perhatian langsung dari


kepolisian. Lassy akan merasa tenang kalau terus ada detektif polisi berada di


sekitarnya. Mengingat banyak orang menginginkan nyawanya, entah itu karena


persaingan bisnis, musuh keluarga, atau suruhan keluarganya sendiri, punya


kekasih seorang detektif itu bagus. Intinya, Lassy yang tidak pernah aman


tinggal di negara sendiri bisa sedikit bernafas lega kalau jaminan


keselamatannya adalah kekasih sendiri.


“Yah, kalau kau benar-benar menyukainya apa boleh buat. Rasa


suka itu memang sering datang tiba-tiba.”


Daniela membiarkan Lassy melakukan apa maunya. Dia yakin


Lassy selalu berfikir jauh sebelum bertindak. Karena Lassy satu dari sekian


banyak manusia jenius dan licik yang pernah dikenalnya, Daniela tidak bisa


mendebatnya lagi.


.


.


.


Saat pembantu mengemasi meja makan, Bryan kembali dengan


petugas jaga. Dia mau berpamitan untuk menemui Luo. Ini penting, dia harus


datang secepatnya. Bryan perlu tahu informasi apa yang sudah didapat Luo. Dia


tak bisa diam sedangkan kawan-kawannya sudah beraksi di luar sana. Kalau


tugasnya sekarang memang untuk menjagai korban, setidaknya dia tahu


perkembangan kasusnya.


“Jam berapa kau akan kembali?” Bryan membantu Lassy kembali


ke kursi roda.


“Sebelum jam petugas jaga habis.”


“Apa aku perlu tinggal di sini sampai Detektif Bryan


kembali?” Daniela menyela.


“Kalau tidak keberatan,” jawab Bryan. “Kau harus membiasakan


diri memanggil namaku. Kita akan sering bertemu setelah ini, kan?”


“Kau benar, Bryan.” Daniela mengetes nama. Dia sudah bisa


menerima Bryan sebagai kekasih Lassy, dengan anggapan Lassy cuma


memanfaatkannya. “Baiklah, aku akan di sini sampai kau kembali. Kuharap ada


banyak informasi yang bisa kau dapat dari Detektif Luo”


Bryan mengangguki Daniela. Daniela sudah sedikit akrab


dengannya. Entah apa yang membuatnya seperti itu, Bryan tak peduli. Yang


penting hubungannya dengan Lassy bisa diterima oleh semua pihak. Demi Lassy,


tepatnya uang yang ditawarkan wanita itu padanya.


Lassy


juga mempersilakan Bryan pergi setelah satu kecupan ditinggalkan lelaki itu di


dahinya. Sebenarnya Lassy mengisyaratkan di bibirnya, tapi Bryan tidak menggubris.


Dia masih punya rasa malu di hadapan Daniela. Belum terbiasa. Mungkin nanti,


kalau dia sudah menjiwai perannya memiliki kekasih ganda. Dia bisa berbagi ciuman


bersama Ren dan Lassy.