
Bryan melihat Lassy mondar-mandir melakukan hal-hal tidak
jelas. Mengambil barang-barang, keluar masuk toilet, dan naik turun ranjang
sesukanya. Walau dia harus meloncat-loncat dengan sebelah kakinya, Bryan tak
mau repot membantu. Dia tahu Lassy juga tak mungkin mau dibantu. Lassy adalah
wanita angkuh yang bisa melakukan segalanya sendiri. Percuma Bryan menawarkan
bantuan kalau pada akhirnya ditolak. Lebih baik dia duduk diam di sofa.
Dipikir-pikir, tak ada gunanya dia ditugaskan untuk menjaga
Lassy. Selama ini tak ada ancaman apa pun terhadapnya. Jangankan penjahat,
nyamuk saja tak berani masuk ruang rawatnya. Keberadaan Bryan jadi tidak
berguna. Tahu begini, dari awal saja dia minta dialihkan tugas. Dia bosan
datang pagi pulang malam cuma untuk bersama Lassy. Sekarang terlambat untuk
mengeluh, dia sudah terikat kontrak bernilai sejuta dolar dengan Lassy. Ada
tugas atas nama kepolisian yang ditanggungnya pula.
“Kapten Bay sudah memberitahumu?” Lassy meloncat-loncat
menghampiri Bryan, kemudian duduk di sebelahnya. “Kukatakan padanya, aku pergi
dari negara ini kalau tak diizinkan berpacaran denganmu.”
“Sudah.” Bryan merengut sedikit. “Kapten mengumpankanku
padamu.”
“Seperti perkiraanku.”
“Kapten juga menyuruhku membujuk keluargamu,” Lassy pasti
tahu alasannya, Bryan tidak perlu menutup-nutupi apa yang dikatakan Kapten Bay
tadi. “... agar keluargamu tak mengusik negara kita.”
“Tentang itu ...,”
Benarkan dia tahu? Bryan sudah menduganya.
“Kapten Bay hanya takut. Keluargaku tak sejahat yang dia
pikirkan.”
“Tentang …?” tanya Bryan ingin tahu lebih jelas.
“Itu cuma rumor, tidak benar!”
Bryan penasaran, rumor apa yang membuat Kaptennya takut?
“Kau tak usah cari tahu, tak akan pernah ditemukan
kebenarannya.”
Bryan bukan tak ambil pusing, dia cuma mau diam untuk
sementara. Cepat atau lambat dia juga pasti tahu dari Luo. Atau mungkin tidak,
mengingat baru saja dia mematahkan hati Luo gara-gara dapat perintah memacari
Lassy. Jangan salahkan Bryan, tawaran dari Lassy cukup menggiurkan dan perintah
langsung dari Kapten Bay tak mungkin dia tolak. Salah Luo sendiri, dia punya
sikap yang tak cukup membuat Lassy tertarik menjadikannya kekasih.
Eh, ngomong-ngomong Bryan juga yang mencegah Lassy
menawarkan kontrak sejuta dolar itu pada Luo.
Lassy menaikkan sebelah kakinya ke atas meja rendah di
depannya dengan kedua tangannya. Dia kesakitan di bagian yang baru dioperasi
itu. Walaupun operasinya sudah beberapa hari yang lalu dan sekarang kakinya
sudah diikat kuat-kuat, tapi masih terasa nyeri. Itu yang namanya fase
penyembuhan. Lassy mengabaikan rasa sakitnya sejenak. Dia mendorong tubuh Bryan
menyandar ke sofa, melebarkan tangan Bryan dan meletakkan kepalanya sendiri di
bahu itu.
“Kau perlu memperlakukanku seperti seorang kekasih,” begitu
dalih Lassy.
“Tapi kenapa tumben sekali …?”
“Karena aku tahu seseorang akan datang.”
Bryan menajamkan pendengarannya sambil menoleh ke pintu.
Sebagai seorang detektif dia merasakan akan kehadiran beberapa orang, mereka
sedang berjalan ke ruangan. Bryan bisa tahu karena dia pernah dilatih, tapi
bagaimana dengan Lassy?
“Bagaimana kau bisa tahu kalau akan ada orang yang datang
kemari?”
“Sttt!” Lassy mengisyaratkan untuk diam dan ternyata muncul
dua orang dari luar kamarnya.
“Lassy.”
Tadinya Daniela senang Lassy bisa cepat keluar dari rumah
sakit, setelah melihat kelakuan temannya itu bersama Bryan, dia langsung
mengerutkan keningnya. Antara heran dan agak jijik.
“Hi, Dan!”
Daniela kesulitan berkata-kata. Untung yang datang
bersamanya bukan Andrew, bisa jadi akan ada drama rebutan Lassy di rumah sakit
ini. Daniela heran melihat Lassy merebahkan kepala di bahu Bryan. Bagaimana
bisa teman sekaligus rekan kerjanya itu melakukannya?
“Dan, sekarang aku berpacaran dengan Bryan,” kata Lassy to the point. “Aku menyukainya, begitu
juga dia. Benar, kan?” Dia menepuk dada Bryan pelan.
Daniela berteman cukup lama dengan Lassy, dia banyak tahu
apa yang disukai dan yang tidak oleh temannya itu. Kalau soal cinta, Lassy tak
pernah menampakkan gejalanya. Lassy mencintai pekerjaan dan hidupnya sendiri
daripada orang lain. Kalau hari ini dia memutuskan menyukai Bryan, Daniela
belum bisa percaya.
Bryan merasa tidak enak pada Daniela, tapi terpaksa
mengangguk demi satu juta dolar dan bonus dari atasannya. Dia juga terpaksa
mengikuti alur tangan Lassy yang membimbing tangannya untuk saling mengelus.
“Selama keselamatanku ditanggung polisi, Bryan akan tinggal
di rumahku.”
“Benarkah?” Daniela terkejut.
“Tentu saja. Selain untuk melindungiku sampai kasus ini
terpecahkan, Bryan adalah kekasihku. Rumahku adalah rumahnya juga.”
“Oh,” tanggapan Daniela terdengar agak kurang ikhlas.
“Mobilmu sudah siap kalau kau mau pulang sekarang,” katanya mengalihkan topik
pembicaraan.
Dia canggung membicarakan hubungan Lassy dengan Bryan.
Tumben-tumbennya Lassy bisa dekat dan tertarik dengan orang yang cuma punya
profesi sebagai detektif pemerintah.
“Kuambilkan kursi roda untukmu.” Dia menawarkan sekalian
menghindar dari dua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu.
Daniela pergi tepat setelah Lassy menyatukan bibirnya dengan
Bryan. Dia tak kuat melihat adegan yang demikian. Bukan Daniela cemburu atau
apa, masalahnya hubungan temannya itu agak di luar batas. Dia memaklumi kalau
yang ada di sebelah Lassy saat ini adalah Andrew, tapi karena Bryan yang ada di
sana, Daniela sedikit merinding.
“Jack,” panggil Lassy pada sopir keluarga yang ditinggalkan
Daniela di ruangan itu. Lelaki itu menunduk hormat. “Kenalkan, ini Bryan,
kekasihku. Dia seorang detektif. Dia juga yang melindungiku.”
Jack mengangguk, sementara Bryan mengulurkan tangannya meminta
salaman. Dengan canggung Jack menjabat tangan itu. Dia merasakan derajatnya
terlalu rendah untuk menyambut uluran tangan kekasih majikannya.
“Aku memang kekasih majikanmu, tapi jangan anggap aku
majikanmu juga.” Bryan menggoyang jabatan tangan mereka, lalu cepat dilepaskan.
“Jack, Bryan akan tinggal dengan kita. Kau bisa berteman
dengannya.” Jack mengangguk lagi. “Ya sudah, kau angkat saja barangku. Suster
sudah mengepaknya tadi pagi.”
“Baik, Nona!”
Bryan tidak duduk semobil dengan Lassy, dia membawa mobilnya
sendiri. Tujuannya sekarang hanya untuk mengantarkan Lassy pulang, mengecek dan
mengenali sampai sudut rumah, lalu menemui Luo di kantor. Ada Daniela, pembantu
rumah, serta dua polisi yang ditempatkan di sana. Bryan bisa meninggalkan Lassy
tanpa khawatir ada orang jahat menyambanginya.
“Ini rumahku, Brey.”
Rumahnya berkali-kali lipat lebih besar dari rumah Bryan.
Tidak salah kalau Lassy termasuk orang kaya raya di negara ini. Di mata Bryan,
pembantu pria, ditambah Lassy, cuma ada lima orang. Rumah besar seperti yang
sekarang ini masih akan terasa sepi kalau cuma dihuni lima orang. Toh, Bryan
juga tak yakin kalau pembantu Lassy tinggal di bangunan utama. Biasanya orang kaya
menempatkan pembantunya di bagian paling belakang rumah mereka. Ruang-ruang
kecil yang berada di sudut dapur rumah. Bisa jadi Lassy tipe orang kaya yang
seperti itu?
“Cuma ada lima orang tinggal di sini?”
“Akan tambah kau,” jawab Lassy.
“Serta sepupunya Lassy,” tambah Daniela. “Dia akan datang
akhir minggu ini.”
“Aku tak suka kedatangannya,” eluh Lassy. “Dia akan
melakukan segala cara agar aku bisa ikut dengannya.”
“Kuharap kau tak terpancing perkataannya.”
Dua polisi yang sedang berjaga hormat pada Bryan. Salah
satunya membukakan pintu, lalu mempersilakan mereka masuk. Ada seorang pembantu
yang menyambut kedatangan mereka. Pembantu itu langsung mengambil alih tugas
Bryan, mendorong kursi roda Lassy dan menggiring mereka ke ruang makan.
“Seperti perintah Nona, kami sudah menyiapkan menu makan
siang.” Pembantu itu menepatkan kursi roda Lassy di sebelah kursi makan. Dia
juga membantu Lassy pindah ke kursi.
”Silakan Nona Dani,” katanya mengarahkan Daniela pada kursi
lain. “Silakan Tuan,” dan mempersilakan Bryan duduk.
Bryan menolak untuk duduk. Dia punya agenda lain di rumah
ini. Yang harus dilakukannya adalah mengecek rumah, kemudian menemui partner kerjanya.
“Brey ....”
“Aku tak bisa ikut makan. Aku akan menemui polisi di depan
dan memintanya untuk memanduku menyisir rumah ini.”
“Kan bisa nanti.”
Bryan menggeleng. “Karena aku harus menemui Luo setelahnya.”
“Kau bisa makan dulu lalu menemui Detektif Luo. Untuk
mengecek rumah bisa kau lakukan lain kali.” Lassy agak tak senang. Seharusnya
supaya terlihat benar-benar sebagai sepasanng kekasih, Bryan ikut makan
dengannya. “Makan dulu!” perintahnya.
“Las, mungkin ada benarnya Bryan mengecek rumahmu. Kalau ada
sesuatu yang tidak beres, dia akan segera tahu. Itu sudah jadi tugasnya.”
Daniela bukan bermaksud benar-benar membela Bryan, dia sebenarnya juga tak
nyaman kalau harus makan semeja dengan seorang detektif. “Kalau cuma untuk
makan bersama, nanti kau juga bisa makan dengannya.”
Lassy memberikan tanda pengusiran dengan tangannya. Bryan
dengan segera menyingkir dari Lassy dan Daniela yang memulai acara makan mereka
dengan berisik. Sementara Bryan berkeliling rumah dengan polisi yang
ditugaskan, Deniela mulai mengutarakan keberatannya soal hubungan Lassy dan
Bryan.
“Las ...”
“Aku tahu kau mau bilang apa,” potong Lassy. “Kau terkejut
dengan hubunganku dan Bryan?” Daniela membenarkan tebakannya. “Aku juga tidak
tahu kenapa bisa begini. Aku pernah sangat yakin lebih mencintai pekerjaan
dibanding yang lainnya. Kalaupun aku ingin memiliki kekasih, Bryan tidak masuk
dalam kriteriaku. Tapi ... hatiku berubah saat pertama kali melihatnya masuk ke
ruang rawatku.”
“Ini seperti bukan kau. Kau bisa menyukainya, tapi untuk
mengambil keputusan berpacaran dengannya itu terlalu terburu-buru,” tutur
Daniela. “Dia seorang detektif, Las.”
“Bukankah itu bagus. Dia tak mungkin ikut campur
pekerjaanku.” Setelah minum dan meletakkan gelas, Lassy menambahkan, “Aku juga
bisa mendapat perlindungan darinya.”
“Justru karena dia seorang detektif, kau jadi tak aman.
Kesehariannya bergelut dengan tindak kriminal. Pasti banyak penjahat di luar
sana yang dendam padanya. Kalau tahu kau adalah kekasih Bryan, kau bisa jadi
sasaran balas dendam mereka.”
Lassy tersenyum sinis. “Jadi kekasihnya atau tidak, nyatanya
banyak orang yang mendendam dan ingin mencelakakanku. Setidaknya dengan adanya
Bryan, penjahat akan berpikir ulang.”
“Mereka akan mengira kau dijaga khusus oleh kepolisian?”
tebak Daniela dan Lassy mengiyakan. “Kau tidak sedang memanfaatkan Bryan, kan?”
“Tidak juga.”
Daniela meninggalkan makanannya. Dia memilih mengerutkan
dahi menanggapi pernyataan ambigu sahabatnya.
“Aku benar-benar menyukainya,” katanya sambil kembali
tersenyum sinis.
Daniela tak yakin Lassy mencintai Bryan. Dia malah
beranggapan itu akal-akalan Lassy agar dapat perhatian langsung dari
kepolisian. Lassy akan merasa tenang kalau terus ada detektif polisi berada di
sekitarnya. Mengingat banyak orang menginginkan nyawanya, entah itu karena
persaingan bisnis, musuh keluarga, atau suruhan keluarganya sendiri, punya
kekasih seorang detektif itu bagus. Intinya, Lassy yang tidak pernah aman
tinggal di negara sendiri bisa sedikit bernafas lega kalau jaminan
keselamatannya adalah kekasih sendiri.
“Yah, kalau kau benar-benar menyukainya apa boleh buat. Rasa
suka itu memang sering datang tiba-tiba.”
Daniela membiarkan Lassy melakukan apa maunya. Dia yakin
Lassy selalu berfikir jauh sebelum bertindak. Karena Lassy satu dari sekian
banyak manusia jenius dan licik yang pernah dikenalnya, Daniela tidak bisa
mendebatnya lagi.
.
.
.
Saat pembantu mengemasi meja makan, Bryan kembali dengan
petugas jaga. Dia mau berpamitan untuk menemui Luo. Ini penting, dia harus
datang secepatnya. Bryan perlu tahu informasi apa yang sudah didapat Luo. Dia
tak bisa diam sedangkan kawan-kawannya sudah beraksi di luar sana. Kalau
tugasnya sekarang memang untuk menjagai korban, setidaknya dia tahu
perkembangan kasusnya.
“Jam berapa kau akan kembali?” Bryan membantu Lassy kembali
ke kursi roda.
“Sebelum jam petugas jaga habis.”
“Apa aku perlu tinggal di sini sampai Detektif Bryan
kembali?” Daniela menyela.
“Kalau tidak keberatan,” jawab Bryan. “Kau harus membiasakan
diri memanggil namaku. Kita akan sering bertemu setelah ini, kan?”
“Kau benar, Bryan.” Daniela mengetes nama. Dia sudah bisa
menerima Bryan sebagai kekasih Lassy, dengan anggapan Lassy cuma
memanfaatkannya. “Baiklah, aku akan di sini sampai kau kembali. Kuharap ada
banyak informasi yang bisa kau dapat dari Detektif Luo”
Bryan mengangguki Daniela. Daniela sudah sedikit akrab
dengannya. Entah apa yang membuatnya seperti itu, Bryan tak peduli. Yang
penting hubungannya dengan Lassy bisa diterima oleh semua pihak. Demi Lassy,
tepatnya uang yang ditawarkan wanita itu padanya.
Lassy
juga mempersilakan Bryan pergi setelah satu kecupan ditinggalkan lelaki itu di
dahinya. Sebenarnya Lassy mengisyaratkan di bibirnya, tapi Bryan tidak menggubris.
Dia masih punya rasa malu di hadapan Daniela. Belum terbiasa. Mungkin nanti,
kalau dia sudah menjiwai perannya memiliki kekasih ganda. Dia bisa berbagi ciuman
bersama Ren dan Lassy.