Mr. Detective

Mr. Detective
Bodyguard Pengganti



“Kau tinggalkan Martha di mana?” teriak Kapten Bay dari


dalam ruang kerjanya.


Bryan yang terpejam di kursi kerjanya menyunggingkan senyum.


Dia amat menikmati rekan kerjanya dimarahi oleh atasannya sendiri. Mendengar


orang lain dimarahi, sedikit banyak membuat hati dan pikirannya relaks. Ini


seperti refreshing tanpa perlu ke tempat wisata.


Itu Chang, detektif yang ditugaskan menggantikan Luo


menjagai Martha. Tentu saja Chang yang mengakui diri sebagai detektif super


merasa turun pangkat. Dia detektif yang suka berurusan dengan penjahat kelas


atas. Gara-gara semalam Martha menelepon minta penjaganya ditukar, Chang yang


kena sial. Dia ditunjuk langsung oleh Kapten untuk melindungi Martha. Kalau


bahasa detektifnya, turun pangkat jadi bodyguard.


Sama seperti yang dirasakan Bryan waktu pertama kali ditugaskan menjagai Lassy.


Ketika Chang selesai dimarahi, dia keluar dari ruangan


Kapten Bay dengan gontai. Sudah mood-nya


buruk setelah pindah tugas jadi bodyguard dan dimarahi Kapten Bay, sekarang diledek teman-temannya pula.


“Kau tinggalkan Martha di mana?” seorang staff kantor menirukan


pertanyaan Kapten Bay sambil membuat gerakan bibir yang dimonyong-monyongkan.


Melihat Chang mendengus dengki, petugas itu tertawa kecil. Petugas-petugas


lain ikut tertawa. Bryan di balik meja kerja yang entah milik siapa, tersenyum penuh kemenangan.


“Jangan jadi Kapten kedua di sini! Aku tak melakukan apa pun


pada Kapten Bay, bukan berarti aku tak akan melakukan apa pun pada kalian juga!”


ancam Chang sambil menuding siapa-siapa yang tadi menertawakannya.


“Tenang, Chang! Kita tidak bermaksud meledekmu. Kapten Bay


ada benarnya. Kau meninggalkan Martha sendirian itu berbahaya. Kalau terjadi


hal seperti sebelumnya, bisa saja pekerjaanmu jadi taruhannya.”


Setidaknya ada petugas yang menenangkan Chang, meski dia


tidak benar-benar ingin meluruskan keadaan.


“Dia sedang berada di perusahaannya. Banyak orang di sana. Tidak


mungkin ada yang berani menyentuhnya. Lagipula penjagaan di sana ketat.” Chang membela diri.


“Bukankah Martha belum sembuh benar? Dia sudah pergi kerja?”


Harry geleng-geleng kepala, salut dengan wanita itu. Sakit tidak menghalanginya


mencari uang. “Pantas dia kaya, dalam keadaan sakit saja terus memaksa bekerja.”


“Selain kaya, dia juga cantik. Mengingat perseteruannya


dengan Lassy soal pria bernama Randy itu tidak benar, pasti sekarang dia tidak


memiliki kekasih,” kata petugas lainnya.


“Kau benar,” sahut Harry. “Martha suka lelaki yang seperti


apa, ya?” Dia mulai berharap-harap. Siapa tahu ada kesempatan. “Chang, kalau


Martha tidak sibuk, coba cari alasan untuk membawanya kemari. Siapa tahu dia


tertarik dengan salah satu di antara kita!” pintanya yang kemudian tos dengan


petugas di sebelahnya.


“Lelaki-lelaki tidak laku!” celetuk Kasmir yang sejak tadi


belum ada kesempatan menyampaikan pendapatnya.


Bryan kembali tersenyum mendengar pembicaraan rekan-rekan kerjanya. Dia menikmati suasana dulu dia dihina dengan status bodyguard, sekarang Chang yang dapat predikat sama.


“Ngomong-ngomong sekarang Bryan juga meninggalkan Lassy.”


Entah siapa yang mengatakannya, tapi Bryan mulai tak senang


namanya disebut. itu tandanya kesenangannya barusan akan segera berakhir.


“Jangan-jangan kalian berdua sekongkol untuk mencelakakan dua sahabat itu!”


“Jangan bercanda!” sangkal Chang. “Kita detektif polisi. Bertugas


melindungi masyarakat, bukan mencelakakan.”


Bryan menyetujuinya kali ini.


“Lagipula aku dan Bryan kemari untuk mengetahui perkembangan


kasus ini dari kalian. Coba, seberapa banyak yang sudah kalian dapat!”


Gantian beberapa petugas gelagapan ditanyai balik. Sebagian


lagi malah pura-pura berkutat dengan pekerjaan mereka. Tandanya belum terlalu


banyak yang mereka dapat.


“Kas, Kapten Bay menyuruhku menanyakan hal ini padamu!”


Kasmir langsung menggigil. Kenapa juga kasus surat kaleng


itu diserahkan padanya? Menyesal dia tak segera pulang kemarin malam.


“Surat di rumah Lassy dan Martha diantarkan pos. Di


apartemen Bianca diantarkan oleh seorang anak kecil. Gambarnya tertangkap oleh


kamera gedung. Sidik jari yang tertinggal juga sudah diperiksa. Milik seorang


anak bernama Kenzo. Usianya 12 tahun, dia yatim piatu yang dibesarkan oleh


kakek dan neneknya. Belum ada keterangan lebih lanjut, polisi sedang ditugaskan ke sana,” tutur Kasmir.


“Yang lain?” tanya Chang pada orang-orang lainnya.


“Informasi yang kita dapat belum akurat. Nanti setelah semua


jelas, kalian berdua akan diberitahu,” jawab seorang wanita.


Dia mengarang soal itu. Mereka hanya punya secuil informasi


yang tak bisa dikatakan ada hubungan erat antara kasus surat kaleng dan


itu. Toh, Bryan dan Chang bukan atasan mereka, mereka tidak wajib melapor pada


keduanya.


“Sebaiknya kalian segera menemui Lassy dan Martha daripada


Kapten Bay marah lagi. Kalau kami dapat informasi baru, Kasmir akan menghubungi


kalian secepatnya!”


“Yah, kenapa aku?” teriak Kasmir.


Si wanita langsung melotot sambil menggiling gigi-giginya


saat Kasmir protes. Dia mengirimkan isyarat agar Kasmir diam. Ini cuma rencana


agar dua detektif di depan mereka segera meninggalkan kantor.


Kasmir segera menangkap sinyal itu. “Baiklah, baiklah. Aku


akan menghubungi kalian nanti!”


Chang menyeret Bryan keluar kantor. Dia sudah tahu kalau


teman-teman di kantornya sedang tak suka dengan keberadaan mereka. Karena Chang


belum ingin menemui Martha, dia berencana untuk melakukan patroli


keberuntungan. Siapa tahu menemukan sedikit pencerahan soal kasus baru ini.


Berjalan di koridor kantor polisi, Chang membuka percakapan.


“Brey, menurutmu bagaimana soal surat kaleng ini?”


Bryan angkat bahu. “Tidak begitu mengkhawatirkan. Ancamannya


saja tidak jelas, tapi pihak kepolisian heboh sendiri. Ralat, atasan-atasan


kita yang heboh,” kata Bryan sambil menggaruk kulit kepalanya.


“Karena ini menyangkut Lassy, makanya mereka heboh.


Paling-paling ajang cari muka pada pejabat tinggi negara!”


“Jaga bicaramu, kedengaran salah satu atasan, kau bisa


dipecat!”


Chang acuh. Memang seperti itulah dia, susah diatur dan suka


semaunya sendiri. Dia sering mendapat teguran dari atasan, sesering Luo.


Bedanya kalau Chang kaku dan tak bersahabat, kalau Luo mesum dan sok bersahabat.


“Heran, dari sekian banyak orang, kenapa Lassy harus


berurusan dengan kerabat jauhnya sendiri? Investigasi jadi lebih susah.”


Bryan tak menanggapi Chang, dia hanya mengekor ke mana


temannya itu melangkah.


“Ngomong-ngomong bagaimana hubunganmu dengannya?”


“Seperti hubungan sepasang kekasih pada umumnya.”


“Sepertinya kau tak berniat untuk meninggalkannya walau


suatu hari nanti kasus ini selesai,” tebak Chang. “Kau bertahan dengannya


karena uang dan posisinya atau karena hal lain?”


Chang punya pemikiran yang jitu soal hubungan Bryan dengan


Lassy. Baguslah ada yang menanyakan hal itu, Bryan bisa jujur sekalian. Dia


menyukai Lassy, begitu juga sebaliknya. Mereka tak perlu berpisah. Kalau ada


yang menuduhnya mengincar harta Lassy, Chang pasti bukan salah satunya.


“Aku menyukainya,” jawab Bryan to the point.


“Kau bisa jatuh cinta juga?” Chang mengejek. “Sepertinya


wanita itu juga menyukaimu. Hubungan kalian agaknya akan bertahan lama.”


Chang tak mempermasalahkan hubungannya dengan Lassy.


Mengajaknya bicara lebih menyenangkan daripada bicara dengan Luo.


“Aku menyukainya.”


Bryan kasmaran, tapi tidak bisa menunjukkan ekspresi yang


tepat. Wajahnya terlihat kaku meski cengirannya lebar. Kebetulan Chang akrab


dengan segala jenis ekspresi wajah, dia tidak akan bertanya kenapa temannya itu


tidak bisa menunjukkan ekspresi yang normal.


“Apa yang menarik darinya selain harta dan kedudukan?”


“Dia jenius.”


“Dan tubuhnya bagus,” tebak Chang. “Aku bisa membaca isi


otakmu bahwa kau sering memikirkan tubuhnya, sesering Luo memikirkannya.”


Bryan cemberut. Kalau benar begitu, dia akan memperingatkan


Luo supaya tidak memikirkan Lassy lagi. Bahaya kalau detektif satu itu tidak


dicegah, bisa-bisa Lassy jadi ajang fantasi mesumnya. Meski hal seperti itu


belum tentu terjadi, Bryan tetap tidak rela.


“Luo menyukai Martha dan menyukai orang lain juga. Dia


memang seperti itu, kan?”


“Pantas Martha minta tukar bodyguard. Tapi kenapa aku yang jadi penggantinya?” eluh Chang


sambil menghela napas lemah.


Kalau itu Bryan juga tidak tahu. Kapten memilih, anak buah


tidak boleh menolak.


“Ngomong-ngomong aku akan jalan-jalan.” Jalan-jalan ala


detektif itu sekalian patroli. Menghirup udara segar sekaligus berburu


penjahat. “Kau mau ikut? Kita kembali sebelum jam kantor Lassy dan Martha habis.”


“Aku ikut!”