
Lassy tidak bisa melihat apa-apa di luar. Bukan sedang
disekap dalam ruangan, tapi sedang didudukkan di sebuah kursi dengan kepala
terbungkus kain hitam. Di sekitarnya sangat berisik. Banyak suara-suara, tapi
tak satu pun dia kenal. Yang dia tahu, kemarin sore sekeluarnya dari gedung
praktek Dr. Wren, dia didatangi seorang lelaki. Langsung menodongkan senjata ke
perutnya dan menginstruksikan untuk ikut apa yang dikatakannya. Kemudian orang
lain datang dengan van berwarna gelap, lalu dia dibawa masuk. Ditutup kepalanya
dan dibawa pergi entah ke mana.
Semalaman Lassy tak bisa tidur, terus berfikir apakah Bryan
sudah tahu kalau dia diculik atau malah menganggapnya marah lalu kabur darinya?
Bryan dan teman-temannya telanjur percaya kalau semua yang terjadi padanya
selama ini hanya setting-an, Lassy
takut mereka juga menganggap penculikan kali ini setting-an juga, seperti kala itu dia diculik Martha dan Bianca.
Kalau dulu dia selamat dari percobaan pembunuhan, kali ini tidak yakin akan
selamat lagi.
Dia lelah sekali, kepalanya pusing, dan badannya lemas.
Diikat dan tidak diberi makan sampai detik ini.
Kemudian suara pintu dibuka, seseorang masuk. “Bos akan
datang sebentar lagi,” lalu duduk di salah satu kursi kosong.
“Baguslah. Aku sudah bosan berdiam diri di sini terus,” eluh
seorang lainnya. “Sebenarnya untuk apa Bos menyuruh kita menculik orang?”
“Masalah pribadi sepertinya. Aku hanya mendengar selentingan
kalau ini berkaitan dengan anaknya,” seseorang lain lagi menjawab. “Kabarnya
anak Bos terluka, dan itu gara-gara wanita ini. Bos menyuruh kita
menculiknya untuk dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya.”
Anak bos? Lassy telah melakukan kesalahan besar rupanya. Dia
memang membayar orang untuk melukai beberapa orang lainnya demi melampiaskan
kecemburuannya terhadap Bryan. Tetapi sama sekali tak terpikir bahwa orang tua
salah satu korbannya akan menuntut balas. Seandainya Bryan membawanya ke
psikolog lebih cepat, kemungkinan penculikan seperti ini tidak akan terjadi.
Benar semua apa yang dikatakan Dr. Wren, bahwasanya dirinya
terlalu terobsesi dengan Bryan. Obsesinya menjadikannya posesif. Ingin
mengekang Bryan, ingin menjadikan Bryan seperti maunya. Lassy tahu Bryan
mencintainya, tapi kasih sayang yang diberikan Bryan dirasa belum cukup. Dia
terlalu serakah, menguasai Bryan tanpa ada orang lain boleh berhubungan dengan
kekasihnya itu meski hanya berteman. Dia termakan kecemburuan yang
dibesar-besarkan oleh perasaannya sendiri. Sedangkan Bryan adalah tipe lelaki
yang tak bisa dikekang. Lelaki yang pergaulannya luas bukan hanya karena
tuntutan profesi tapi juga karena kepribadian Bryan sendiri mudah akrab dengan
orang. Dan setelah kemauan Lassy tidak bisa terealisasi, dia melakukan
kebodohan dengan menyakiti diri sendiri demi mendapat perhatian dari Bryan, dan
menyakiti orang lain demi melampiaskan kecemburuannya.
Boleh dibilang sekarang Lassy menerima karmanya.
“Apa anak Bos terluka parah?”
Orang itu menggeleng tidak begitu yakin. “Aku tidak tahu
terluka apanya. Dia tidak dibawa ke rumah sakit, tidak ada perawatan sedikit
pun, tapi juga tidak keluar kamar sama sekali. Tidak ada orang yang diizinkan
masuk kecuali pihak keluarga dan pelayan khusus.”
“Jangan-jangan dia terkena penyakit menular!” tebak
seseorang. “Orang ini menularkan penyakit pada anak Bos!” pekiknya cukup
histeris seperti seorang pasien yang terdiagnosis penyakit langka atau
jenis-jenis penyakit menular mematikan lainnya. Dia bergidik. Jarinya yang tadi
menunjuk Lassy langsung ditariknya. Takut kalau sampai menyentuh Lassy lalu dia
akan tertular juga.
“Tidak mungkin!” sangkal orang pertama. “Dia terluka, bukan
terkena penyakit!”
Memang tidak mungkin, karena Lassy hanya melukai orang,
tidak menularkan penyakit pada orang. Lagipula Lassy tidak penyakitan. Dia
sehat. Tiap enam bulan sekali cek kesehatan dan terbukti sebagai wanita sehat
yang kemungkinan hidup panjang. Tentu kejadian penculikan dan pembunuhan tidak
dihitung dalam hal ini.
“Jangan-jangan dia merusak wajah anaknya Bos. Mematahkan
tangannya, kakinya, atau melumpuhkannya seumur hidup?”
Lassy bersumpah tidak ada orang yang sampai terluka sebegitu
parah. Dia membayar orang, membuatnya seperti kecelakaan biasa yang lukanya
bisa dimaafkan dengan mudah. Dia memantau semua yang dilakukan orang
bayarannya. Membayar pengobatan dan uang kompensasi dengan sangat baik. Tidak
terjadi kendala kecuali kecurigaan orang-orang profesional seperti Bryan dan
teman-temannya.
“Mungkin!”
“Ih seram!” Dia
bergidik lagi. “Sepertinya wanita ini lemah, bagaimana mungkin bisa melakukan
kejahatan seperti itu?”
“Anak Bos lebih lemah darinya.”
“Tapi kenapa Bos tidak memperbolehkan kita menyakiti wanita
ini?”
“Bos pasti ingin menghukum dengan tangannya sendiri!” Dia
tertawa kecil. “Akan melakukan hal sama seperti yang dia lakukan pada anaknya,
tapi dua kali lebih kejam!”
Lassy merasa mau pingsan mendengarnya.
***
“Hah, panti pijat?” Dia garuk-garuk kepala. Ada telepon
nyasar yang menagih uang pijat plus-plus padanya. “Aku tidak pergi ke panti
pijat dalam waktu dekat ini. Terakhir kali akhir bulan lalu, itu pun tidak
mungkin kalau aku belum membayar.”
Katanya, dia terdaftar di buku tamu. Sudah mendapat perawatan tapi pergi
terburu-buru saat mendapat telepon. Tentunya lupa membayar. Kejadiannya tiga
hari lalu dia bilang. Baru kali ini ditagih karena Bos mereka sudah cukup
memberi kelonggaran. Staff panti
pijat tak mau diomeli Bos kalau pelanggan sampai tak mau membayar.
“Tiga hari yang lalu aku tidak ke panti pijat. Kau salah
orang kali!”
“Siapa?” seorang teman memotong pembicaraan.
Orang itu menoleh ke temannya. “Salah sambung. Dia bilang
aku ke panti pijatnya tiga hari lalu. Katanya aku belum membayar jasa tukang
pijat. Gila, apa?”
“Siapa tahu kau memang pergi ke sana dan belum membayar!”
“Kau lupa, aku bersama kalian ke penyewaan mobil?”
“Benar juga!” seseorang itu mengingatnya sekarang. “Katakan
saja kau tidak pergi ke sana. Kalau dia masih memaksamu untuk membayar, tutup
saja teleponnya!”
Dia melakukannya. Mengatakan sekali lagi bahwa dia tidak ke
panti pijat tiga hari yang lalu. Tentu saja tidak ada istilah belum membayar
juga. Tetapi si penelepon yang mengaku staff panti pijat itu masih tidak percaya. Malah meminta belas kasihan agar dia mau membayar tagihan pijat agar staff panti pijat itu dimarahi kemudian dipotong gajinya oleh Bos mereka. Staff panti itu sampai membacakan nama dan nomor telepon yang tertera di buku tamunya.
“Nah, itu bukan namaku. Nomor yang kau sebutkan barusan juga
bukan nomorku!" pekiknya. “Kau salah mendial nomor paling belakang!”
Terjadi diam-diaman sebentar. Agaknya staff panti pijat sedang meneliti kembali nomor yang diteleponnya.
Beberapa detik kemudian dia menyadari kesalahannya, minta maaf karena telah
menekan nomor yang salah.
“Untung kau segera sadar, kalau tidak, sudah kulaporkan kau
pada polisi karena menuduh orang sembarangan!”
Setelah menerima ucapan maaf lagi berkali-kali, telepon itu
diakhiri.
“Kau tidak membayar jasa panti pijat?” celetuk suara lain
yang amat mereka kenal.
Semua orang menunduk, memberi salam pada Bos mereka yang
tiba-tiba masuk. Mereka juga memberi ruang agar Bos bisa melihat buruan mereka
yang sedang diikat dan ditutupi kain hitam di kepalanya.
“Tidak Bos. Itu telepon salah sambung,” jawabnya sambil
menggiring Bos-nya ke depan tawanan mereka.
“Kenapa kalian tutupi kepalanya seperti ini?”
“Biar dia tidak melihat jalan, Bos.”
“Sekarang sudah ada di sini, kenapa tidak dibuka?” Si bos
berdecak sebal. “Kenapa kalian ikat dia terlalu kuat?”
“Biar tidak kabur, Bos.”
“Kabur kepalamu! Sudah kubilang jangan sakiti dia, kenapa
malah diikat kuat begini?” Si Bos makin kesal saja. “Kau beri makan apa dia
seharian ini?”
Orang-orang itu memandang takut satu sama lain. Tidak
kepikiran untuk memberi makan tawanan mereka. Habisnya Si Bos menyuruh menculik
tapi membuat banyak larangan. Korban tidak boleh tahu kalau dirinya diculik,
tidak boleh melakukan kekerasan fisik, bahkan goresan kecil pun dilarang. Tidak
boleh membentak tawanan, tidak boleh ini, tidak boleh itu. Kalau dipikir-pikir
mereka mau menculik atau mengajak kabur, sih? Akhirnya mereka lupa semua
larangan itu.
“Dia tidak mau makan, Bos!”
Tiga orang terdekat kena tempeleng ringan di kepala mereka.
Dua lainnya untung karena berdiri agak jauh dari Bos mereka.
“Anak buah bodoh! Kau perlakukan calon menantuku dengan
kejam. Mau kuperlakukan kalian seperti ini juga, ha?” kata Si Bos sambil
menunjuk tawanan mereka. Mereka menggeleng bersamaan. Mundur teratur agar tidak
kena tempeleng lagi. “Dia akan menikah dengan anakku, akan jadi menantuku, jadi
Bos kalian juga. Kenapa kalian perlakukan dia seperti ini!”
Lima anak buah menunduk bersamaan. Meski badan mereka
gempal, bisa mengeroyok Bos mereka dengan mudah, mereka tak akan melakukannya.
Bukan takut ditangkap polisi, tapi takut dipecat lalu jadi gembel karena tak
punya pekerjaan.
“Orang ini adalah kekasih anakku. Aku pernah melakukan
kesalahan dengan menolaknya ketika dibawa pulang oleh anakku. Sekarang putraku
stres karena terpisah darinya. Satu-satunya cara mengembalikan kesehatan
putraku adalah menemukannya dan menikahkan mereka. Kalau kalian sakiti dia
seperti ini, sama saja kalian menyakiti putraku. Menyakiti putraku, sama saja
kalian menyakitiku!” omel Si Bos.
“Maaf, Bos!” ucap mereka serempak.
“Lepaskan dia!”
“Ok, Bos!”
Seorang dari mereka maju. Melepas simpul longgar dari
penutup kepala Lassy lalu menarik kain hitam itu. Meloloskan kepala Lassy dari
kegelapan dan kepengapan.
Si Bos maju untuk melihat muka calon menantunya. Apakah
masih baik-baik saja setelah lebih dari sehari ditutupi kain hitam? Kepala itu
menunduk lelah. Wajahnya tidak begitu terlihat kecuali warna putih pucat tanpa
rona tertangkap samar oleh mata Si Bos. Si Bos penasaran, sedikit banyak
perawakan itu lebih mirip orang lain yang dikenalnya daripada perawakan calon
menantunya. Badannya lebih kecil, lebih tinggi, dan lebih putih. Rambutnya pun
lebih panjang. Ketika si tawanan pelan-pelan mengangkat kepalanya, wajah Si Bos
bertemu dengan wajahnya, Si Bos melotot horor.
“Nona Liem!” jeritnya.
Si bos histeris dan ingin mati seketika.