
“Mana Sandy?” Lassy mengabaikan Bryan, memilih fokus
memutar-mutar pergelangan kaki sesuai arahan petugas fisioterapi. “Lassy,”
panggil Bryan.
Melirik sejenak, kemudian menjawab dengan acuh. “Semalam dia
keluar.”
“Sandy akan segera pulang atau tidak?” tanya Bryan lagi
sambil mondar mandir di kamarnya.
Bukan Bryan merindukan Sandy, tapi temannya ingin menginterogasi
wanita itu. Bagaimanapun Sandy tinggal di rumah Lassy dan menghilang saat
ledakan terjadi. Kalau Sandy tak bisa dimintai keterangan, dia bisa jadi
tersangka peledakan itu.
“Mana kutahu.” Lassy masih fokus dengan terapi engsel
kakinya. “Mungkin dia menemui partner-nya
yang kemarin malam atau mencari partner baru,” sambungnya syarat akan ejekan.
Petugas terapi mengoleskan krim perangsang agar otot
pergelangan kaki Lassy lentur dan segera bisa berjalan normal. Dia meratakan
krim, memijit sebentar sebelum mengaba Lassy untuk mencoba gerakan putar-putar
lagi.
“Bisa kau berikan nomor teleponnya padaku!”
Lassy hampir curiga kalau Bryan bukan benar-benar
menginginkan Sandy kembali untuk diinterogasi temannya, tapi diinterogasinya
sendiri.
“Ini penting. Kalau tak punya alibi, dia bisa jadi
tersangka.”
“Mungkin memang dia tersangkanya. Dia tak ada di rumah saat
ledakan itu terjadi,” kata Lassy seenak jidatnya. “Tangkap saja dia!”
“Kau ini bicara apa? Dia sepupumu, tidak mungkin melakukan
hal demikian.”
Bryan memang sudah dibutakan oleh pesona Sandy. Dia bisa
tahan berhadapan dengan sepupu Lassy itu, tapi entah untuk waktu yang berapa
lama. Mungkin kalau Lassy tak ada ketika Bryan dan Sandy sedang ngobrol berdua,
saat itulah pertahanan Bryan akan runtuh. Bryan percaya kata-kata Lassy kalau
Sandy punya pesona demikian kuat, tapi Bryan tak bisa mencegah dirinya untuk
tidak tergoda. Seperti kata Luo, detektif juga manusia, mereka punya batasan
untuk tidak tergoda wanita cantik.
“Dia biasa pulang sore, dan pergi lagi malam harinya. Kalau
kau mau mencegahnya pergi, tawarkan tubuhmu padanya,” kata Lassy tak acuh. “Dia
pasti akan tinggal malam ini.”
“Kau ini bicara apa?” ulang Bryan. “Aku tak mungkin
melakukan hal senista itu. Kau yang kekasihku kenapa aku harus menawarkan
tubuhku pada orang lain?”
“Mukamu mengatakan demikian. Tidak percaya? Tanya saja
petugas terapi ini!” Petugas langsung menunduk, pura-pura tidak mendengar
pertengkaran Lassy dan Bryan. “Kalau aku tak bersamamu, sudah pasti kau akan
berbuat macam-macam dengannya!” lanjutnya kasar.
“Las …!” protes Bryan. Dia malu. Ada orang lain di situ,
tapi Lassy berkata seolah semuanya benar. “... kau terdengar seperti
pencemburu.”
“Kalau tahu, kau tak akan memanas-manasiku dengan adegan
mengobrol intim dengan sepupuku.”
Melihat Bryan memijit pelipisnya sambil mondar-mandir,
petugas terapi merasa tidak enak. Dia menangkap aura pertengkaran besar akan
terjadi di antara keduanya. Lassy yang cemburuan, sedangkan Bryan tak memberi
respon yang baik. Petugas melirik lingkar tangannya, jam di sana menunjukkan
pukul sepuluh kurang. Lima belas menit lagi terapinya selesai, tapi kalau dia
harus bertahan di antara sepasang kekasih yang menebar kemarahan satu sama
lain, dia tidak tahan.
“Terapi hari ini selesai,” putusnya. “Sering gerakkan
kakimu, tapi jangan terlalu dipaksa!” Lassy mengiyakan. “Aku akan kembali besok
pagi,” pamitnya sambil mengemasi alat-alat terapi.
“Terima kasih.”
Bryan menyela, “Telepon Sandy, tanya dia ada di mana. Bilang
padanya aku akan menjemputnya sekarang!” perintahnya, tak mau ambil pusing
kalau suasana menjadi tak mengenakkan bagi terapis itu. “Kau akan kembali ke
rumah sakit?” tanya Bryan beralih pada petugas terapi.
“Iya.”
“Butuh tumpangan?”
“Tidak, terima kasih. Aku membawa mobil dinas.” Sedikit demi
sedikit dia berjalan keluar kamar. Ketika Bryan menawarkan untuk mengantarnya
ke pintu, dia menolak. “Aku tahu jalan keluar,” jawabnya sambil tersenyum
canggung. “Aku pergi sekarang,” pamitnya sekali lagi.
Petugas sudah keluar kamar, tapi belum jauh ketika Bryan
ngotot ingin Lassy menelepon sepupunya. Bryan mau bertemu Sandy, itu intinya.
Alasannya untuk dibawa menemui teman detektif yang akan menginterogasinya, tapi
Lassy tak percaya.
“Sandy harus diinterogasi secepatnya, kau paham atau tidak?”
kata Bryan jengkel. “Untuk mengusut masalahmu yang makin berlarut-larut, dia
harus segera diperiksa. Ini demi kebaikanmu juga,” lanjutnya diikuti dengusan
kasar kepada Lassy.
“Demi kebaikanku atau demi kebaikannya?” Lassy masih santai
menanggapi Bryan. Dia tahu kekasihnya itu mulai lupa dengan iming-iming sejuta
dolar darinya. Sandy mulai menggantikan fokus Bryan rupanya.
“Dua-duanya,” jawab Bryan marah. “Yang terancam nyawanya
adalah kau, tapi kalau Sandy tak segera menemui tim penyidik, dia bisa disangka
pelakunya.”
“Dia memang pelakunya!” pancing Lassy.
“Demi apa kau menuduh sepupumu sendiri?” tanya Bryan makin
naik pitam.
“Demi kekasihku yang mulai membelot,” jawab Lassy masih
santai. “Demi sejuta dolar serta tubuhku yang kuberikan secara cuma-cuma.”
Lassy mendengus sambil bergumam, “Sia-sia!”
“Kau!” Bryan mengeram, tapi dengan cepat menurunkan
emosinya. “Jangan bicara seperti itu lagi. Tidak ada yang sia-sia di sini. Aku
akan tetap menjagamu sampai masalah ini selesai, dan selama itu aku tetap
kekasihmu.”
Sampai masalah ini selesai kata Bryan? Itu kalimat
menyedihkan yang pernah didengar Lassy. Lebih menyedihkan dari saat asetnya
ditukar ke luar negeri, ataupun saat dia kehilangan ingatannya sejenak setelah
menegak minuman berisi obat dari sepupunya. Memang dia yang memulai kontrak
bernilai setuja dolar itu, tapi Lassy berharap diperlakukan layaknya kekasih
meski waktunya terbatas. Lassy menyukai Bryan, itu masalahnya. Dia menyukai
detektif itu karena tempo hari mencuri ciumannya waktu di rumah sakit. Namun,
sepertinya Lassy telah melakukan kesalahan dengan menawarkan kontrak pada
lelaki itu.
jawab Lassy mencoba mengurai masalahnya sendiri. Melupakan perasaannya akan
jadi pilihan sebelum berlarut-larut lalu Lassy sakit sendiri. “Aku tak bisa
beritahukan nomornya. Kalau kau mau, minta saja pada pembantuku.”
Bryan meninggalkan Lassy, bergegas menemui salah satu
pembantunya. Di saat Lassy berharap Bryan mengurungkan niat untuk mencari
Sandy, lalu menemaninya di rumah seperti yang ditugaskan Kapten Bay, Bryan
memang kembali lagi padanya. Bukan untuk menemaninya, tapi untuk membawanya serta
untuk mencari sepupunya.
“Aku tak bisa meninggalkanmu. Cepat pakai baju hangat dan
bawa jaketmu!” perintah Bryan yang kemudian pergi lagi.
***
Bryan menghentikan mobilnya di depan gerbang apartemen.
Apartemen mewah dan baru. Sekitar enam bulan lalu launching dengan harga
terendah 3,5 juta. Bryan menanyai Lassy tentang siapa yang dikunjungi Sandy di
dalam sana, tapi Lassy menjawabnya ketus. Dia bilang, partner bercinta Sandy. Maka dari itu, Bryan marah dan tak bicara
lagi padanya. Bryan segera menjalankan mobilnya, menunjukkan tanda pengenal
pada penjaga agar diberi akses masuk lalu membawa mobilnya ke basemant untuk diparkir. Dia juga
menyeret Lassy untuk ikut ke dalam gedung, walau menolak.
“Lantai 17 nomor kamar 32,” kata Bryan sambil melihat
nomor-nomor di dalam lift. “Bryan
memencet nomor lantai. Lift tertutup
kemudian terangkat.
“Kenapa tak menelepon dan menyuruhnya keluar saja?”
“Aku ingin tahu siapa yang bersamanya sekarang. Bersama
siapa dan di mana dia, bisa jadi alasan tepat untuk diajukan ke tim penyidik.”
“Kukira kau cuma ingin membuktikan perkataanku. Dia
benar-benar dengan partner bercintanya
atau tidak, iya kan?”
Bryan tak menanggapi Lassy. Baginya, Lassy sudah sangat
keterlaluan. Tak peduli nasib sepupu, bahkan berani menuduhnya segala. Yang
paling Bryan tak suka adalah sikap sok cemburu yang diperlihatkan terhadap
Sandy. Bryan hanya berusaha menolong Lassy dan sepupunya, tidak ada niat
lainnya, apalagi menyelingkuhi Lassy. Walau statusnya pacar bayaran, Bryan
tetap berusaha menjadi kekasih setia.
Setelah keluar lift,
Bryan menggandeng Lassy. Dia membawa kekasihnya itu menyusuri lorong apartemen,
mencari nomor 1732 di pintunya. Kamar nomor 32 ada di deret kanan. Lassy yang
menemukannya duluan, sedangkan Bryan kehilangan kesabaran karena ingin segera
menemui dan menyampaikan maksud kepada Sandy. Bryan memencet bel, tak lama
kemudian Sandy membuka pintu. Wanita itu sudah rapi, kelihatan sedang menunggu
Bryan menjemputnya.
“Oh, kau ikut juga?” celetuknya ketika melihat Lassy
digandeng Bryan. “Kau sedang sakit, seharusnya istirahat saja di rumah,” kata
Sandy sambil memberikan jalan keduanya untuk masuk.
“Mauku juga begitu, tapi Bryan memaksaku ikut.”
“Kalian tunggu di sini, aku akan mengemas pakaianku
semalam.”
Bryan menyuruh Lassy duduk, sedangkan dia sendiri
mengedarkan pandangannya ke segala arah. Mata detektifnya digunakan untuk
menangkap semua informasi di rumah ini, menganalisa lalu menyimpulkan.
Sayangnya dari yang dia lihat, tak ada kesimpulan tentang pemilik asli
apartemen ini. Bryan mau melangkah ke dalam, tapi Sandy cepat keluar dengan tas
jinjingnya.
“Kau mencari siapa?” tanya Sandy yang melihat Bryan
celingukan ke dalam. “Temanku baru saja keluar. Sebenarnya hari ini dia bekerja
agak siang, ingin kukenalkan dia pada kalian, tapi kalian datang terlambat.”
“Jam berapa dia akan pulang.”
Sandy mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan barusan.
“Temanmu. Jam berapa dia pulang kerja?” ulang Bryan.
“Malam, sekitar jam sembilan. Memangnya kenapa? Kau ingin
mengenalnya?”
Bryan ingin kenal orang itu. Mengenal dengan artian
menyelidikinya, tapi dia tak bisa terang-terangan mengatakannya di hadapan
Sandy.
“Lain kali saja kalau dia libur kerja.”
“Baiklah, kita berangkat sekarang saja.”
Entah karena ada Sandy atau ada alasan lain, Bryan tak lagi
menggandeng Lassy saat turun dari lantai atas. Mereka jalan sendiri-sendiri,
Bryan memimpin jalan dan Lassy serta Sandy mengikutinya. Dua saudara sepupu itu
tampak tidak akrab. Saling bicara memang, tapi tanya jawab mereka syarat akan sindiran.
Bertanya dengan nada angkuh dan menjawab dengan sinis. Begitu terus sampai di
parkiran. Baru setelah Lassy minta izin ke toilet semuanya berakhir.
Lassy pergi ke toilet, tak mau diantar Bryan. Bryan sudah
memaksa, tapi Sandy berhasil membuatnya tinggal. Tidak benar-benar ingin ke
toilet sebenarnya, Lassy datang kemudian memutuskan mencuci tangan dan membasuh
muka untuk menghilangkan kepenatan yang mulai dirasakannya pagi ini.
“Kupikir kau sudah mati,” kata seseorang yang baru saja
keluar dari salah satu bilik toilet.
Lassy melirik lewat kaca di depannya. Dia melihat orang yang
tak ingin dilihatnya sekarang. “Kupikir kau yang mati.”
“Nyatanya kita sama-sama hidup dan urusan kita akan segera
berlanjut.”
“Tidak,” tolak Lassy. Dia mengusap wajahnya sekedar
menghilangkan tetesan air yang menghalangi penglihatan.
“Tidak kenapa?”
“Ada detektif sedang menungguku di luar, kau tak akan bisa
menggangguku.”
Seseorang itu menggeleng. “Dia terlalu jauh. Kalau
kuselesaikan sekarang, dia tak akan tahu.”
Lassy menyesal menolak Bryan tadi. Harusnya dia memprediksi
kejadian seperti ini akan terjadi kalau tak ada Bryan. Persetan dengan orang
yang ada di depannya, dia bisa lari dan sampai di depan Bryan sebelum
tertangkap.
Orang itu menarik tangan Lassy ketika hendak pergi. Sebelum
terjadi perlawanan lebih keras, seorang lain datang, membekapnya dengan sapu
tangan berbau menyengat. Dalam kawalan orang itu, Lassy meronta-ronta. Sebentar
kemudian badannya melemas, matanya memberat, lalu ambruk lebih cepat sebelum
melihat siapa yang membiusnya barusan.
“Ini rencana B-nya,” kata seseorang sambil mengantongi sapu
tangannya.
“Kau tahu dia akan menolak?”
“Orang seperti dia, tidak mungkin tidak menolak.”