
Sulami baru saja protes. Sekretarisnya itu mengembalikan
beberapa dokumen yang katanya salah ditanggapi Lassy. Ada yang salah menaruh
tanda tangan, ada berkas tak perlu ditanda tangani malah ditandatangani, juga
ada berkas yang hanya perlu dibaca tapi dikembalikan lagi pada Sulami. Yang
terakhir brosur yang terselip secara tak sengaja diantara map-map itu malah
dibahas panjang lebar olehnya.
Lassy tengah tidak fokus bekerja. Bahkan sekarang dia
melamun sambil mengetuk-ngetukkan pulpen ke meja.
“Las, kau kurang menuliskan satu nol di cek yang harus
diserahkan pada yayasan.”
Daniela sudah berada di depan meja yang mau tak mau
membangunkan Lassy dari lamunannya. “Kau masuk tidak mengetuk pintu dulu, Dan?”
Terkejut, tapi tidak mau menunjukkan ekspresi kaget sama sekali.
“Sejak kapan aku mengetuk pintu saat masuk ke sini?”
“Tapi kau mengagetkanku.”
“Kalau tidak melamun kau tidak akan kaget.” Daniela
meletakkan ceknya di meja. Persis di depan Lassy. Menuding ke bagian kosong di
belakang deretan angka nol. “Tambahkan nol-nya!”
“Kau kan bisa menambahkan nol sendiri.”
Bukan masalah menambahkan nol di cek itu saja, tapi juga
soal aduan dari Sulami yang mengatakan kalau Bos-nya agak aneh hari ini.
Terlalu banyak melamun jadi banyak melakukan kesalahan. Daniela hanya ingin
melihat benar-tidaknya Lassy melakukan kesalahan karena melamun. Bukan Lassy
sekali kalau melamun jadi alasan melakukan kesalahan.
Sekali lagi dia menuding pada cek itu, mengabakan agar Lassy
cepat-cepat memperbaiki cek yang akan diserahkan ke yayasan. Lassy mendecih
kesal. Dia meraih pulpennya lalu menambahkan satu nol di belakang angka-angka
itu. Daniela mengambilnya segera dan memasukkannya dalam kantong setelan
kerjanya.
“Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu, tapi jangan buat
kesalahan saat kerja. Kalau butuh bantuan, segera hubungi kami.” Daniela
berniat segera pergi. Dia sedang buru-buru untuk menyerahkan cek itu ke yayasan
amal yang rutin disumbang oleh perusahaan.
“Aku sedang memikirkan Bryan.” Lassy berkata bahkan sebelum
Daniela membalikkan badan. “Aku curiga padanya.”
Daniela menunda niatan perginya. “Dia ikut campur urusan
pekerjaanmu?” Lassy menggeleng pelan. “Aku juga merasa dia memang tidak akan
ikut campur. Bryan sepertinya tak tahu berbisnis, dia cuma tahu tentang hukum.
Lalu kau curiga karena apa?”
“Aku curiga dia mulai bosan padaku.”
Daniela tertawa sarkas.
“Aku serius, Dan.”
“Aku juga serius. Selama ini kau pacaran dengan Bryan hanya
untuk bertahan di negara ini, kan? Untuk mendapat perlindungan khusus darinya?”
“Ya, tapi aku tak bisa kehilangan dia.”
Daniela tertawa lagi.
“Masalah yang menimpamu hampir selesai. Kepolisian telah
menetapkan kau sebagai aset negara yang tidak boleh diganggu oleh siapa pun.
Kau dilindungi secara tak langsung, jadi buat apa takut kehilangan Bryan?”
Bukan tanpa alasan Daniela mengatakannya seenak jidat. Dia bermaksud mengetes
Lassy, apakah yang dilakukan dengan Bryan selama ini berpengaruh pada
kepribadian Lassy atau tidak? “Cari saja orang lain. Ada banyak polisi yang
posisinya lebih tinggi darinya.”
“Yang posisinya lebih tinggi biasanya lebih tua, Dan. Mereka
sudah tidak bekerja di lapangan lagi, berarti berpacaran dengan orang seperti
itu sama sekali tak bisa menjamin keselamatanku.”
Kata-kata Lassy diasumsikan Daniela bahwa temannya itu masih
sama seperti sebelumnya. Tidak ada yang lebih penting selain pekerjaan dan
dirinya sendiri. “Kalau begitu cari orang lain yang sama mudanya dengan Bryan,
tapi punya kemampuan lebih hebat darinya.” Sekali lagi Daniela mencoba, siapa
tahu Lassy hanya ingin bermain-main dengan lelaki berlabel kekasih.
“Dan, kau paham atau tidak yang barusan kukatakan padamu?”
Daniela mengangguk. “Kau curiga Bryan bosan denganmu, dan
kau takut kehilangannya,” ulangnya. “Las, masih banyak orang yang bisa
melindungimu meski dia bukan polisi. Kalau memang perlindungan dari dekat
sangat kau butuhkan, kenapa tidak pilih orang yang dekat juga?”
Melihat Daniela tak menanggapi baik apa yang jadi
keresahannya, Lassy curiga teman sekaligus partner kerjanya itu masih belum paham
kalau Lassy jatuh cinta pada Bryan. Ingin hidup dengan Bryan, dan tak ingin
orang lain selain detektif satu itu. Selama ini memang dia menanamkan paham
pada Daniela bahwa kebersamaannya dengan Bryan sebatas simbiosis mutualisme,
mengingat Daniela akan lebih mendukung Andrew yang ada di posisi Bryan. Tapi
melihat kemesraannya dan Bryan yang tidak dibuat-buat, kenapa Daniela belum
menarik kesimpulan bahwa mereka serius menjalin hubungan?
Lassy curiga kalau temannya itu sengaja menutup mata melihat
hubungannya dengan Bryan.
Kalau Daniela memang belum mau mengakui hubungan mereka,
Lassy tak mungkin bisa minta saran darinya.
“Kau pasti sedang terburu-buru. Aku tak akan menahanmu lebih
lama lagi.“ Lassy bertindak acuh sekarang dan Daniela tahu itu tidak bagus.
“Aku tidak memaksamu untuk memilih selain Bryan, hanya ...
saran.”
“Akan kupikirkan lagi saranmu itu.”
“Tapi kau mengusirku, berarti tak suka apa yang kukatakan
tadi.” Daniela mendesah pasrah kalau Lassy memang marah. Tapi dia benar-benar
tidak bermaksud masuk ke area pribadi Lassy, apalagi menyuruhnya memilih orang
lain. “Aku tak akan ikut campur lagi soal hubunganmu dan Bryan.”
“Aku tidak mengusirmu. Aku hanya tahu kau buru-buru. Cek itu
harus diserahkan pada mereka yang membutuhkan. Selain itu, aku butuh bantuanmu
untuk memanggilkan Sulami. Aku butuh bantuannya untuk memperbaiki semua berkas
yang kukacaukan hari ini. Tidak ada niat mengusirmu sama sekali.”
“Oh, kupikir ….” Daniela menghela napasnya keras-keras.
“Baiklah, aku akan panggilkan Sulami.”
Daniela keluar dan itu membuat Lassy lega. Dia sudah punya
banyak masalah, termasuk kecurigaannya tentang Bryan yang kelihatan mulai bosan
padanya. Dia tak mau ditambah masalah salah paham dengan temannya sendiri.
Sulami muncul, tersenyum dulu sebelum menghadap di depan
meja Lassy.
“Bos, Nona Dani bilang Anda butuh bantuan untuk mengatasi
kekacauan berkas. Saya sudah memperbaikinya, Anda tinggal mengecek dan
menandatanginya. Itu, berkasnya ada di meja Anda!” tunjuk Sulami pada tumpukan
berkas di bawah lengan Lassy.
“Aku tahu. Sudah kuteliti dan kali ini kutandatangani dengan
benar.”
“Oh,” Sulami mengangguk-angguk. “Lalu pasti ada masalah lain
yang ingin Anda bicara dengan saya?”
Lassy mengerti kalau sekretarisnya itu tahu dia butuh
bantuan lain. Sulami selain bekerja dengan baik, dia pendengar yang baik juga.
Lassy mengizinkan Sulami duduk, lalu menceritakan masalahnya untuk ditanggapi
wanita itu.
“Kau sudah pernah melihat kekasihku, kan?” tanya Lassy
ketika Sulami sudah duduk di depan mejanya. “Aku sedikit curiga padanya.
Kupikir dia mulai bosan padaku.”
Kalau Bryan bosan, takutnya cepat atau lambat dia akan
ditinggalkan. Memikirkan ditinggalkan Bryan membuat otak Lassy serasa mau
pecah. Jadi pusing mendadak. Kalaupun Bryan menyembunyikan sesuatu, tapi apa?
Apa mungkin Bryan sedang ada masalah dengan teman-temannya, atau ada ancaman
lain yang mengancam jiwanya hingga Bryan jadi terlalu khawatir?
“Dari mana Anda menyimpulkan kalau Detektif Bryan bosan?”
“Feeling-ku saja.
Semalam dia bertindak tidak seperti biasanya. Ada sesuatu, tapi tidak dia
ceritakan padaku.”
“Kekasih Anda seorang detektif. Harus menyembunyikan semua
informasi yang berkaitan dengan pekerjaannya.” Sulami mengawali pendapatnya.
“Kalau Detektif Bryan menyelidiki kasus penting semacam gembong narkoba, mafia
pajak, kasus yang berkaitan dengan isu politik, dia harus menyembunyikan
informasi sekecil apa pun dari semua orang.”
Pekerjaan Bryan tidak pernah berpengaruh terhadap hubungan
mereka sebelum ini.
“Mungkin kasus yang dihadapi sangat sensitif. Menyangkut
hidup dan mati, atau orang-orang berkuasa yang bisa saja berimbas pada
orang-orang terdekat. Siapa tahu kekasih Anda hanya mencoba menjauhkan Anda
bisa berakibat buruk bagi Anda.”
Benar juga. Tapi Lassy tidak begitu yakin.
“Positif tinking, Bos. Tidak ada salahnya bertanya dulu. Kalau
memang ada yang salah dengan hubungan kalian, bisa diselesaikan baik-baik. Tapi
kalau masalahnya menyangkut pekerjaan, sebaiknya Anda memakluminya.” Sulami
menegakkan tubuhnya, kemudian melepas napas panjang sebelum menambahkan,
“Bekerja sebagai detektif polisi selain berurusan dengan tindak kriminal, juga
harus bisa menyimpan rahasia-rahasia besar. Saran saya, Anda tidak ikut campur
pekerjaan Detektif Bryan kalau dia tidak meminta.”
“Maksudmu, aku harus diam saja?”
Sulami tersenyum kecut. “Harus melakukan yang terbaik.”
Lassy manyun. Yang terbaik untuk hubungannya dengan Bryan
itu yang seperti apa? Lassy tidak menginginkan yang muluk-muluk selama ini.
Hanya ingin Bryan bersamanya, hanya ingin dia puas dengan lelaki itu. Hanya
ingin dunia Bryan berpusat padanya. Tidak ada yang lain selain dia dan Bryan
bersama. Jadi, apa yang terbaik harus dia lakukan untuk mencapai keinginannya
itu?
Saran Sulami memang bagus, tapi tidak banyak mengena di
permasalahan yang diajukan Lassy. Namun, dia hargai masukan wanita itu lebih
bagus dari masukan Daniela.
“Sepertinya saya tidak bisa memberi saran lebih banyak dari
itu. Saya ambil berkas-berkas saja untuk diteliti lagi.”
Selain berniat memberi ruang sendiri pada Bos-nya, Sulami
harus mengerjakan tugasnya sebelum habis hari ini. Dia berdiri, meraih tumpukan
berkas yang diserahkan Lassy padanya, kemudian pamit keluar. Setelah pintu
ruangan Lassy tertutup, beberapa detik kemudian dibuka lagi oleh orang yang
sama. Sulami menjulurkan kepalanya ke dalam.
“Bos,” Lassy menoleh padanya. “Apa saran saya tadi mengena?”
Lassy tidak menjawab, hanya angkat alis karena merasa terganggu
dengan pertanyaan itu.
“Anda tidak sedang curiga kalau Detektif Bryan mendua, kan
Bos?”
Segera, alis Lassy menurun tajam.
***
“Kalau kalian selalu meninggalkan Lassy dan Martha, kenapa
tidak menolak tugas itu saja dari kemarin-kemarin!” Luo mondar-mandir.
Geleng-geleng kepala terus di depan Bryan dan Chang yang bahkan tidak
menganggapnya ada.
“Lassy sedang bekerja,” jawab Bryan.
Chang meng-copy jawaban itu. “Martha sedang bekerja.”
“Lassy dan Martha sedang bekerja,” ulang Kasmir yang
kebetulan lewat. Di tangannya ada cangkir berisi kopi yang terus mengepulkan
asap beraroma menggoda. “Kapten Bay sudah memberikan mereka kebebasan untuk
datang dan terlibat lagi dalam penanganan kasus selama Lassy dan Martha berada
di kantor mereka.”
“Kalau ada orang jahat pergi ke sana bagaimana?”
“Siapa orang jahat yang dengan bodohnya mau pergi ke kantor
dengan keamanan ketat serta CCTV di mana-mana?”
“Kalau penembak jitu? Dari gedung mana saja bisa membunuh
mereka dengan mudah. Kau pikir siapa yang bisa mengetahui kalau ada penembak
jitu mengincar nyawa Lassy dan Martha? Yang tahu hanya detektif terlatih, bukan
orang awam seperti penjaga-penjaga di kantor mereka.”
Kasmir berhenti. Bukan mau mendengarkan komplain dari Luo,
tapi dia hanya butuh waktu sejenak untuk meniup isi cangkirnya beberapa kali,
kemudian menyeruput isinya. Setelah berkata, “Ah ….” merasakan cairan hitam
pekat itu mengaliri tenggorokannya, dia kembali berjalan. Bryan dan Chang malah
sibuk dengan kegiatan remeh temeh di meja mereka.
“Kalian berdua sebagai detektif terlatih malah tidak peduli
soal itu.”
Kalau saja menyakiti rekan kerja tak ada hukumnya, Luo ingin
memukuli Bryan. Mengikat lelaki itu, dimasukkan dalam karung kemudian
membuangnya ke sungai. Dia juga ingin memukuli Chang, mengulitinya,
memutilasinya, lalu menyumbangkan dagingnya ke penangkaran buaya. Mereka berdua
tak pernah bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan. Lassy dan Martha itu dua
hal yang sangat mengagumkan menurut Luo, tapi kedua teman detektifnya itu sama
sekali tak peduli. Malah mengingkari anugerah itu.
Luo sakit hati. Menginginkan berada di posisi mereka, tapi
tak pernah kesampaian.
“Bukan hanya mereka, aku dan semua orang yang ada di sini
peduli dengan Lassy dan Martha. Tapi soal penembak jitu, itu sangat
berlebihan.” Kasmir meniup kopinya lagi, menyeruputnya lagi. Dia sudah duduk di
meja kerjanya sendiri sekarang. “Kalaupun memang ada penembak jitu yang
mengancam hidup mereka berdua, kaulah orangnya!”
“Kau bukan detektif, diam saja kenapa, sih?”
Kasmir angkat bahu, sama sekali tak takut. Memilih duduk
nyaman di kursinya, sambil mendengar ocehan Luo dari telinga kiri kemudian
menerjemahkannya menjadi lagu seriosa yang kemudian lolos lewat telinga kanan.
“Mulai hari ini, aku ambil alih Lassy dan Martha!” pekik
Luo. “Aku muak dengan tingkah kalian yang tak memikirkan keselamatan mereka
berdua!”
Tiba-tiba pintu ruangan Kapten Bay terbuka. Si empunya
ruangan keluar dari sana. Menyilangkan tangannya dan melotot ke arah anak
buahnya. Semua pegawai terdiam seketika. Termasuk Bryan dan Chang yang dengan
cepat pura-pura membaca kertas-kertas laporan.
“Aku juga muak dengan tingkahmu!” Kapten berteriak dan Luo
langsung mengkerut. “Kau cari orang lain saja kenapa? Kalau sudah tidak ada
wanita yang mau berkencan denganmu, fokus saja dengan kasus-kasus yang baru
masuk. Jangan teriak-teriak di kantor saat aku sedang berada di sini!” Kapten
Bayu mendecakkan lidahnya keras, sebal dengan Luo. “Walau aku sedang tak ada di
sini, kau tetap kularang teriak-teriak. Juga kularang mendekati Lassy dan
Martha!”
“Kapten, mereka ….”
“Mereka akan bertanggung jawab kalau Lassy dan Martha ada
apa-apa!” Kapten Bay hendak menyumpah, tapi urung karena takut dicap buruk oleh
anak buahnya. “Pergilah patroli. Tangkap satu penjahat dan hadapkan padaku
sebelum malam!" perintah Kapten Bay yang kemudian masuk kembali ke
ruangannya.
“Gara-gara kau!” tuding Luo pada Kasmir.
Kasmir melengos.
“Aku belum menyerah, Chang. Kalau kau memang tak suka jadi bodyguard-nya Martha. Aku bisa ….”
Chang memasang telunjuknya di bibir, mengambil ponsel, memeriksa
penelepon sebelum mengangkatnya. Vincent, ketua tim forensik yang beberapa hari
lalu dimintanya tolong, lelaki itu yang meneleponnya saat ini.
“Martha menelepon lebih awal,” monolognya. Semata-mata untuk
mengerjai Luo.
Ponsel didekatkan di telinga.
“Kau sudah selesai bekerja?” Chang menjawab telepon itu. “Makan
malam hari ini? Tentu saja. Tunggu, aku berangkat sekarang!” lalu mematikan telepon
dan mengantonginya lagi. “Martha mau mentraktirku makan malam. Tapi entah
kenapa dia selesai kerja lebih cepat hari ini. Mungkin dia mau jalan-jalan
dulu.” Chang mencebik dan mengangkat bahu, pura-pura pasrah. “Aku pergi dulu!”
pamitnya hanya pada Bryan.
“Aku tidak percaya padamu!” teriak Luo, tapi Chang sudah
menghilang. “Aku tidak percaya padanya. Kau tidak percaya juga, kan?”
Bryan menggeleng. “Aku percaya.”
“Tadi kau menggeleng!”
“Menggeleng apanya? Aku mengangguk. Eh tunggu-tunggu ….”
Lassy meneleponnya. Kali ini Lassy betulan, bukan bohongan seperti yang
dilakukan Chang. “Kau mau bertemu denganku sekarang? Memangnya sudah selesai
bekerja?” Bryan tidak mengada-ada, Lassy memang ingin bertemu dengannya.
“Baiklah, kujemput sekarang!” Setelah mengantongi ponselnya, Bryan pamit pada
Luo. “Lassy ingin bertemu denganku, aku pergi dulu!”
“Aku tidak percaya. Kau dan Chang memang ingin menghindar
dariku, kan?” Luo tertawa keras. “Mana mau Lassy dan Martha meninggalkan
pekerjaannya demi kalian? Bohong besar!”
“Percaya atau tidak, terserah kau!” Bryan melenggang.
“Hei, berhenti menggunakan Lassy sebagai alasan!” teriak
Luo, kali ini Bryan juga sudah menghilang. Kapten Bay yang malah muncul kembali
dari ruangannya.
“Luo, berhenti berteriak atau kuplester mulutmu!”