Mr. Detective

Mr. Detective
Cassy Liem



“Auuuh!” teriak Bryan


ketika tiba-tiba kepalanya ditabok berulang kali.


Lassy tersentak bangun, begitu juga Bryan. Ketika Lassy


sibuk menyembunyikan tubuh telanjangnya di balik selimut, Bryan malah


terbengong hebat. Ada penyusup masuk kamarnya. Bentuknya wanita cantik dengan


segala pesonanya. Namun sayang, ekspresinya sangar. Bryan ingat wajah seperti


itu, wajah yang gambarnya diperlihatkan Luo tempo hari. Sepupu jahat Lassy,


Cassy Liem.


“Kau meniduri sepupuku!” Cassy menuding tepat di depan bola


mata Bryan.


“Dia kekasihku,” jawab Bryan sekenanya.


“Dia juga sepupuku!”


“Ya aku tahu!” jawab Bryan acuh.


Dan sebuah tempelengan mendarat di kepala Bryan sampai si


empunya kepala mendesis kesal. Dia mau melawan, tapi tak enak hati dengan


Lassy. Dilihat dari perawakannya saja Cassy kalah jauh dari Bryan, sekali pukul


pasti pingsan. Namun mendengar kejahatannya selama ini, tampaknya Cassy tipe


licik dan bermulut kasar.


“Kenapa kau memukulku?”


Sekali lagi Cassy mendaratkan tangannya. Maunya ke kepala,


karena Bryan berkelit, akhirnya tangan Cassy mengenai pipinya.


“Karena kau meniduri sepupuku!”


“Dia kekasihku, terserah kita mau berbuat apa.”


“Dia dalam perlindunganku!” kata Cassy tegas.


“Dia dalam perlindunganku!” balas Bryan, mengeluarkan


kalimat yang sama.


Ketika Cassy hendak memukul lagi, Bryan menangkap tangannya.


Benar saja, wanita itu tak berkutik lagi. Mulutnya memaki-maki Bryan, tapi


tangannya tak bisa bergerak sama sekali.


“Bangsat, lepaskan aku atau kulaporkan polisi!”


“Brey lepaskan dia!” perintah Lassy.


“Aku akan lapor polisi!” ancam Cassy setelah tangannya


dilepaskan Bryan. Tangannya sakit, merah di pergelangan. Tandanya dia tak


pernah dikasari sebelum ini.


“Cas, dengarkan aku!” pinta Lassy. “Bryan ini kekasihku.”


“Kata Sandy kau memacari seorang detektif, kenapa malah


memacarinya?”


“Dia memang detektif, Cas!” terang Lassy. “Kau mau lapor


polisi untuk apa, dia sendiri polisi!”


“Oh!” seru Cassy. Agaknya tak percaya. Muka Bryan tak


terlihat menjanjikan untuk ukuran seorang detektif. Tapi karena Lassy yang


bilang begitu, mau tak mau harus percaya. “Kenapa tak bilang dari tadi.”


“Kau main pukul saja, tak mau tanya dulu.”


“Aku cemas padamu. Tiba-tiba kau ada di kamar yang bukan


milikmu, telanjang dengan lelaki tak dikenal dan tubuhmu bekas dicumbui, kau


pikir aku tak takut kalau kau diperkosa olehnya?” Lagi-lagi Cassy menuding Bryan.


“Sejak kapan kau mencemaskan keadaanku?” Lassy berdecak


sebal. “Karena kau sudah tahu Bryan kekasihku, jangan bicarakan soal ini lagi.


Hubunganku dengan Bryan, bukan urusanmu.”


Cassy berdecak kesal.


“Sekarang katakan untuk apa kau datang kemari?”


“Menemui detektif Trevor. Aku perlu bicara dengan orang


itu.”


“Dia Detektif Trevor!” tunjuk Lassy pada Bryan.


“Aku Bryan Trevor.” Bryan mengulang.


“Ya ampun,” eluh Cassy. Sepupunya ini membuatnya pusing


mendadak. “Cepat mandi, aku ajak kalian makan siang. Kutunggu di luar!”


Cassy keluar cepat, membuka dan menutup pintu dengan kasar.


“Bagaimana sepupumu bisa ada di sini?”


Lassy angkat bahu. “Dia selalu seperti itu. Aku akan mandi


duluan!”


***


Cassy memindahkan dua sosis dan telur mata sapinya ke piring


Lassy lalu mengisi piringnya dengan roti gandum dan menetesinya dengan olive oil. Cassy juga mengambil potongan jeruk sunkist yang dipesannya pada pembantu, lalu sayuran warna warni. Terakhir


mayonaise tawar di tepi piringnya. Piringnya penuh, penuh dengan sayuran mentah dan roti gandum.


Lassy menuang isi piringnya ke piring Bryan, sedangkan dia


makan roti dengan selai blueberry. Bryan diam saja. Makan yang ada, anggap itu


semua rejeki. Toh, yang masak pembantu Lassy, belanja pakai uang Lassy juga.


Dia tinggal makan, tak perlu protes.


“Kenapa kita makan di sini, kau bilang akan mengajak kami


makan siang?”


“Ini belum siang. Lagipula kalian belum sarapan, kita makan


di sini sama saja.”


Cassy memasukkan daun berwarna ungu ke mulutnya, lalu daun


hijau runcing-runcing. Katanya itu salad, tapi Bryan lebih suka menyebutnya


makanan kambing.


“Aku mau menukar balik asetku.” Katanya sungguh-sungguh,


tapi tidak sedikit pun mengalihkan pandangan dari rerumputan di piringnya.


“Tidak sekarang,” jawab Lassy tegas.


“Lalu kapan? Aku mau investasi di perusahaan temanku.”


“Nanti, Cas. Aku pasti kembalikan semua asetmu. Sekarang aku


masih butuh pertukaran aset kita.”


“Aku tidak mau punya aset di negara ini,” tolak Cassy.


Bryan membuka suara. “Aku tak tahu permasalahan kalian, tapi


sekarang kalian dilindungi di sini. Kau bisa tinggal di sini selama kau mau.


Kalau bisa, kembali ke sini sekalian.”


“Kau dengar kata-kata Bryan, Cas!”


“Terima kasih, tapi aku nyaman tinggal di luar negeri.”


Cassy menghentikan makannya, memandang tajam ke arah Bryan. “Kau tahu waktu itu


seseorang menanyaiku soal ini? Soal pertukaran aset antaraku dengan Lassy?


Mereka bertanya, tapi dari nadanya mengatakan seolah-olah aku yang menukarkan


asetku dengan milik kekasihmu ini!” terangnya sambil mencibir keji ke arah


Lassy. “Padahal dia yang menukarkannya. Dalihnya macam-macam. Aku tidak tahu


itu benar atau tidak. Demi saudara aku merelakan hal seperti ini terjadi, tapi


kenapa jadi aku yang dituduh bukan-bukan!”


“Cas, soal itu aku serius!”


Cassy mendecih keji.


“Ada orang-orang dalam perusahaanku yang menggerogoti uang


perusahaan. Mereka bisa mendapat tanda tanganku tanpa kusadari, Cas. Bersabarlah


sedikit. Setelah aku berhasil menemukan orang itu, menendangnya keluar dari


perusahaan, baru aku kembalikan semua ke posisi semula.”


Lancar Lassy menerangkan, seperti semuanya aman terkendali


di tangannya. Dia memang sangat berhutang budi pada Cassy, tapi semuanya belum bisa


dikembalikan seperti semua sebelum masalahnya selesai.


“Aku sudah kehilangan uang jutaan dolar karena kelalaianku


mengeluarkan tanda tangan, Cas. Mengertilah!”


“Sewa para ahli untuk menyelidiki pegawai-pegawaimu, biar si


*** itu cepat ketemu!”


“Aku sudah menyewa beberapa, tapi kau juga tahu kalau


perusahaanku punya pegawai yang tak sedikit. Butuh waktu untuk penyelidikan


skala besar.” Lassy menengok pada Bryan. “Perusahaanku dalam masalah, jadi


terpaksa aku melakukan itu.”


Jadi penukaran aset itu berlaku sebaliknya? Cassy tak ada


salah sama sekali soal itu? Jangan-jangan, klien yang memutuskan kontrak dan


kejadian komanya Lassy dulu bukan salah Cassy juga. Waktu di rumah sakit


kemarin Lassy mengatakan padanya kalau Cassy tak ada hubungannya dengan kasus


Lassy, apa itu tandanya memang benar Cassy tak salah apa pun?


Bryan jadi bingung setelah menarik kesimpulan seperti itu.


Menyangkut masalah keluarga Liem, kenapa dia jadi bodoh begini, ya?


“Kau pasti mengira aku licik,” kata Cassy pada Bryan. “Tapi


kau perlu tahu, kekasihmu ini lebih licik dariku.”


“Cas, kau mengatai sepupumu sendiri!” protes Lassy.


“Nyatanya kau memang licik.”


“Demi kebaikan itu perlu kulakukan, tapi jangan sebut aku


licik. Aku cuma terlalu jenius.”


saja kau mati saat obat itu merusak otakmu.”


“Cassy Liem, kau kasar sekali!” protes Lassy.


“Terserah aku mau bicara apa!” katanya ketus. “Jadi kapan


kau akan kembalikan asetku?”


“Beri aku sebulan. Untuk investasimu, kau bisa pakai uangku


dulu.”


Cassy mengiyakan tanpa protes. Lagipula selicik-liciknya


Lassy juga demi kebaikan sepupunya itu sendiri. Cassy sebagai keturunan Liem


yang sayang saudara-saudaranya, pasti tak tega kalau perusahaan Lassy


digerogoti musuh dari dalam. Yang penting dia masih bisa menggunakan uang Lassy


untuk investasi bisnisnya sendiri.


“Kau juga jangan menandatangani apa pun yang berasal dari


negara ini.”


“Aku tahu,” kata Cassy kasar. “Aku sudah selesai makan.


Setelah ini aku ada pertemuan dengan teman. Bryan, kalau kau tak ada acara, antar


aku ke tempat pertemuan itu!”


“Tidak masalah!”


“Masalah, aku tidak mau ditinggal sendirian di sini!” protes


Lassy.


Cassy mendecih. “Cuma mengantar ke pertemuan. Tempatnya


tidak jauh dari sini. Seberapa lamanya, sih? Lagipula di sini ada banyak orang,


tak ada yang berani menyakitimu.”


“Aku sedang dalam mode tak ingin berpisah dengan Bryan.”


“Kau ikut saja,” tawar Bryan.


Berubah manis, Lassy meminta, “Sekalian jalan-jalan, ya?”


“Kalau itu maumu.” Bryan menyetujui.


“Aku mau sepatu baru. Aku juga lama tak beli es krim di


luar, kau mau belikan untukku, kan?” pintanya lagi. Masih dengan nada-nada manja.


Cassy menyipitkan matanya. Lassy bermanja-manja? Tidak


pantas. Tidak sesuai dengan sifat keras dan arogannya selama ini.


“Apa pun itu!” jawab Bryan berusaha romantis.


Cassy mendecih sekali lagi. Mencibir pasangan yang sedang


kasmaran di depannya. Pemandangan itu bermanja-manja itu menyakiti mata Cassy.


***


Lassy sudah menjelaskan semuanya pada Bryan bahwa Cassy


memang tak punya salah padanya. Semua yang dituduhkan selama ini tidak benar.


Sama seperti pertengkarannya dengan Martha gara-gara Randy dulu. Semuanya rumor belaka.


Lassy memang jenius memanipulasi banyak hal, tapi dalam hal


cinta dia tak sejenius itu. Buktinya saat Bryan menanyakan masalah Cassy, dia


segera menjelaskan semuanya. Mungkin takut Bryan salah paham, lalu


meninggalkannya. Atau takut Bryan melaporkannya ke polisi dan memenjarakannya.


Dia juga bersedia dibawa ke kantor polisi untuk mengklarifikasi berita


kejahatan Cassy yang tidak benar itu. Asal Bryan yang meminta, dia akan turuti.


Setelah klarifikasi, Lassy menunggu Bryan yang berdalih ke


toilet. Lassy menunggu di depan meja Tax, supaya dia ada teman untuk diajak


ngobrol. Untungnya Luo yang menyukai Lassy dan Narita yang mendukung hubungan


Lassy dan Bryan sedang tidak ada di tempat, keadaan kantor sedang adem ayem.


“Bryan memperlakukanmu dengan baik, kan?”


“Tentu saja. Memangnya kenapa?”


Sebenarnya pertanyaannya keliru. Tax mau tanya kenapa pipi


Bryan tadi terlihat merah? Apa Lassy memukulnya? Tapi karena tidak mungkin Tax


terang-terangan menuduh Lassy, dia membalik pertanyaannya.


Tax menggeleng. “Baguslah kalau dia baik padamu,” jawabnya


sambil tertawa garing. “Ngomong-ngomong, kau masih mencintai Bryan, kan?”


“Pertanyaanmu aneh.”


“Ada orang lain yang suka padamu?”


“Siapa? Kau? Maaf, aku masih mencintainya. Dan sepertinya


aku tak mau mencintai orang lain selain Bryan.”


“Bukan. Bukan aku, tapi temanku,” terang Tax. “Lupakan. Yang


penting kau bahagia dengan Bryan. Nanti aku bilang pada temanku itu kalau


kalian tidak ingin berpisah.”


Lassy tahu siapa yang dimaksud Tax. Orang itu adalah Luo. Detektif


satu itu sering sekali cari muka kalau berada di dekatnya. Pernah merayu


beberapa kali, tapi Lassy tak tertarik. Waktu menelepon Martha kemarin,


sahabatnya itu juga bercerita kalau Luo merayunya. Bisa dikatakan kalau Luo itu


lelaki perayu. Untungnya Martha juga sama tak tertariknya seperti Lassy.


“Tax, sebenarnya aku mau mengajak Bryan kencan malam ini,


tapi aku tak tahu tempat mana yang bagus. Bryan juga sering berada di luar


rumah, bisa jadi sudah pernah ke semua tempat. Aku maunya kencan ke tempat yang


sama sekali belum pernah dikunjunginya atau belum pernah kukunjungi. Kau punya saran?”


“Kencan malam ini?”


Tax jenis lelaki romantis, dia tahu bagaimana memperlakukan


pasangan dengan baik. Tempat-tempat romantis dia juga tahu, tapi kalau romantis


versi orang kaya seperti Lassy, dia agak sanksi.


Tax menggosok hidungnya. Berpikir sejenak sebelum memberi


saran.


“Sebenarnya aku tahu banyak


tempat yang keren, tapi aku tak yakin kau mau ke sana.”


“Aku mau!” jawab Lassy cepat.


“Masalahnya, itu bukan tempat khusus orang kaya.”


“Yang kaya aku, bukan Bryan. Aku bisa menyesuaikan diri.”


Bukan menyombongkan kekayaan sebenarnya, hanya bicara kenyataan saja. “Ayolah, beritahu aku!”


“Kau yakin?”


“Asal tempatnya sekeren yang kau katakan, aku sangat yakin.


Kapan-kapan kusponsori liburanmu dengan kekasihmu. Ke Amerika atau ke Eropa, terserah kau.”


“Benarkah?” Tax girang. “Kalau begitu kutulis alamatnya


untukmu sekarang!”


Tax menyelesaikan tugasnya sebelum Bryan bergabung dengan


mereka. Setelah kertas diserahkan dan dikantongi oleh Lassy, Bryan datang dan


mengajak Lassy segera pergi.


“Terima kasih bantuannya, Tax.”


“Ah, senang bisa


membantumu, Las.”


“Kalian membicarakan apa?”


“Bukan urusanmu, segera pulang sana!” usir Tax sambil


membuat gesture pengusiran dengan kedua tangannya. “Nikmati kencanmu!” teriak


Tax sebelum Lassy dan Bryan keluar kantor.


Bryan bergandengan tangan dengan Lassy ketika berjalan ke


mobil mereka. Mengabaikan petugas-petugas yang memandanginya curiga. Mereka


sepasang kekasih, sudah sepantasnya terlihat mesra saat jalan berdua. Kalau ada


yang curiga, abaikan saja.


“Kau memberitahu Tax kalau kita akan kencan?” tanya Bryan


sembari membuka pintu mobil untuk Lassy.


“Ya. Aku minta saran darinya.” Ketika Bryan sudah


menyusulnya ke mobil, Lassy menambahkan. “Dia orang yang romantis, punya


segudang pengalaman kencan dan tak pernah mengecewakan pasangan.”


“Dari mana kau tahu itu?”


“Dari caranya bicara dan dari bentuk bantuan yang


diberikannya padaku.” Lassy menyerahkan daftar yang dibuat Tax tadi. “Bawa aku


ke salah satu tempat itu sekarang!”


Bryan meneliti daftarnya, dia tahu semua tempat-tempat itu,


tapi tak sekali pun pergi ke sana. “Yang paling dekat saja. Kita bisa kunjungi


yang lainnya nanti.”


“Ok!” sahut Lassy. “Satu lagi, tadi Tax tanya sesuatu padaku


tapi belum sempat kujawab.”


“Pertanyaan apa?” Bryan menyahut sambil menyalakan mesin


mobilnya.


“Apa kau mencintaiku?”


“Tentu saja aku mencintaimu. Kalau dia tanya lagi, aku yang


akan menjawabnya.”


Lassy mengangguk-angguk puas. “Aku juga mencintaimu,”


katanya sambil tersenyum sembunyi-sembunyi, karena sebenarnya yang menanyakan


pertanyaan tadi adalah dirinya sendiri.