
“Auuuh!” teriak Bryan
ketika tiba-tiba kepalanya ditabok berulang kali.
Lassy tersentak bangun, begitu juga Bryan. Ketika Lassy
sibuk menyembunyikan tubuh telanjangnya di balik selimut, Bryan malah
terbengong hebat. Ada penyusup masuk kamarnya. Bentuknya wanita cantik dengan
segala pesonanya. Namun sayang, ekspresinya sangar. Bryan ingat wajah seperti
itu, wajah yang gambarnya diperlihatkan Luo tempo hari. Sepupu jahat Lassy,
Cassy Liem.
“Kau meniduri sepupuku!” Cassy menuding tepat di depan bola
mata Bryan.
“Dia kekasihku,” jawab Bryan sekenanya.
“Dia juga sepupuku!”
“Ya aku tahu!” jawab Bryan acuh.
Dan sebuah tempelengan mendarat di kepala Bryan sampai si
empunya kepala mendesis kesal. Dia mau melawan, tapi tak enak hati dengan
Lassy. Dilihat dari perawakannya saja Cassy kalah jauh dari Bryan, sekali pukul
pasti pingsan. Namun mendengar kejahatannya selama ini, tampaknya Cassy tipe
licik dan bermulut kasar.
“Kenapa kau memukulku?”
Sekali lagi Cassy mendaratkan tangannya. Maunya ke kepala,
karena Bryan berkelit, akhirnya tangan Cassy mengenai pipinya.
“Karena kau meniduri sepupuku!”
“Dia kekasihku, terserah kita mau berbuat apa.”
“Dia dalam perlindunganku!” kata Cassy tegas.
“Dia dalam perlindunganku!” balas Bryan, mengeluarkan
kalimat yang sama.
Ketika Cassy hendak memukul lagi, Bryan menangkap tangannya.
Benar saja, wanita itu tak berkutik lagi. Mulutnya memaki-maki Bryan, tapi
tangannya tak bisa bergerak sama sekali.
“Bangsat, lepaskan aku atau kulaporkan polisi!”
“Brey lepaskan dia!” perintah Lassy.
“Aku akan lapor polisi!” ancam Cassy setelah tangannya
dilepaskan Bryan. Tangannya sakit, merah di pergelangan. Tandanya dia tak
pernah dikasari sebelum ini.
“Cas, dengarkan aku!” pinta Lassy. “Bryan ini kekasihku.”
“Kata Sandy kau memacari seorang detektif, kenapa malah
memacarinya?”
“Dia memang detektif, Cas!” terang Lassy. “Kau mau lapor
polisi untuk apa, dia sendiri polisi!”
“Oh!” seru Cassy. Agaknya tak percaya. Muka Bryan tak
terlihat menjanjikan untuk ukuran seorang detektif. Tapi karena Lassy yang
bilang begitu, mau tak mau harus percaya. “Kenapa tak bilang dari tadi.”
“Kau main pukul saja, tak mau tanya dulu.”
“Aku cemas padamu. Tiba-tiba kau ada di kamar yang bukan
milikmu, telanjang dengan lelaki tak dikenal dan tubuhmu bekas dicumbui, kau
pikir aku tak takut kalau kau diperkosa olehnya?” Lagi-lagi Cassy menuding Bryan.
“Sejak kapan kau mencemaskan keadaanku?” Lassy berdecak
sebal. “Karena kau sudah tahu Bryan kekasihku, jangan bicarakan soal ini lagi.
Hubunganku dengan Bryan, bukan urusanmu.”
Cassy berdecak kesal.
“Sekarang katakan untuk apa kau datang kemari?”
“Menemui detektif Trevor. Aku perlu bicara dengan orang
itu.”
“Dia Detektif Trevor!” tunjuk Lassy pada Bryan.
“Aku Bryan Trevor.” Bryan mengulang.
“Ya ampun,” eluh Cassy. Sepupunya ini membuatnya pusing
mendadak. “Cepat mandi, aku ajak kalian makan siang. Kutunggu di luar!”
Cassy keluar cepat, membuka dan menutup pintu dengan kasar.
“Bagaimana sepupumu bisa ada di sini?”
Lassy angkat bahu. “Dia selalu seperti itu. Aku akan mandi
duluan!”
***
Cassy memindahkan dua sosis dan telur mata sapinya ke piring
Lassy lalu mengisi piringnya dengan roti gandum dan menetesinya dengan olive oil. Cassy juga mengambil potongan jeruk sunkist yang dipesannya pada pembantu, lalu sayuran warna warni. Terakhir
mayonaise tawar di tepi piringnya. Piringnya penuh, penuh dengan sayuran mentah dan roti gandum.
Lassy menuang isi piringnya ke piring Bryan, sedangkan dia
makan roti dengan selai blueberry. Bryan diam saja. Makan yang ada, anggap itu
semua rejeki. Toh, yang masak pembantu Lassy, belanja pakai uang Lassy juga.
Dia tinggal makan, tak perlu protes.
“Kenapa kita makan di sini, kau bilang akan mengajak kami
makan siang?”
“Ini belum siang. Lagipula kalian belum sarapan, kita makan
di sini sama saja.”
Cassy memasukkan daun berwarna ungu ke mulutnya, lalu daun
hijau runcing-runcing. Katanya itu salad, tapi Bryan lebih suka menyebutnya
makanan kambing.
“Aku mau menukar balik asetku.” Katanya sungguh-sungguh,
tapi tidak sedikit pun mengalihkan pandangan dari rerumputan di piringnya.
“Tidak sekarang,” jawab Lassy tegas.
“Lalu kapan? Aku mau investasi di perusahaan temanku.”
“Nanti, Cas. Aku pasti kembalikan semua asetmu. Sekarang aku
masih butuh pertukaran aset kita.”
“Aku tidak mau punya aset di negara ini,” tolak Cassy.
Bryan membuka suara. “Aku tak tahu permasalahan kalian, tapi
sekarang kalian dilindungi di sini. Kau bisa tinggal di sini selama kau mau.
Kalau bisa, kembali ke sini sekalian.”
“Kau dengar kata-kata Bryan, Cas!”
“Terima kasih, tapi aku nyaman tinggal di luar negeri.”
Cassy menghentikan makannya, memandang tajam ke arah Bryan. “Kau tahu waktu itu
seseorang menanyaiku soal ini? Soal pertukaran aset antaraku dengan Lassy?
Mereka bertanya, tapi dari nadanya mengatakan seolah-olah aku yang menukarkan
asetku dengan milik kekasihmu ini!” terangnya sambil mencibir keji ke arah
Lassy. “Padahal dia yang menukarkannya. Dalihnya macam-macam. Aku tidak tahu
itu benar atau tidak. Demi saudara aku merelakan hal seperti ini terjadi, tapi
kenapa jadi aku yang dituduh bukan-bukan!”
“Cas, soal itu aku serius!”
Cassy mendecih keji.
“Ada orang-orang dalam perusahaanku yang menggerogoti uang
perusahaan. Mereka bisa mendapat tanda tanganku tanpa kusadari, Cas. Bersabarlah
sedikit. Setelah aku berhasil menemukan orang itu, menendangnya keluar dari
perusahaan, baru aku kembalikan semua ke posisi semula.”
Lancar Lassy menerangkan, seperti semuanya aman terkendali
di tangannya. Dia memang sangat berhutang budi pada Cassy, tapi semuanya belum bisa
dikembalikan seperti semua sebelum masalahnya selesai.
“Aku sudah kehilangan uang jutaan dolar karena kelalaianku
mengeluarkan tanda tangan, Cas. Mengertilah!”
“Sewa para ahli untuk menyelidiki pegawai-pegawaimu, biar si
*** itu cepat ketemu!”
“Aku sudah menyewa beberapa, tapi kau juga tahu kalau
perusahaanku punya pegawai yang tak sedikit. Butuh waktu untuk penyelidikan
skala besar.” Lassy menengok pada Bryan. “Perusahaanku dalam masalah, jadi
terpaksa aku melakukan itu.”
Jadi penukaran aset itu berlaku sebaliknya? Cassy tak ada
salah sama sekali soal itu? Jangan-jangan, klien yang memutuskan kontrak dan
kejadian komanya Lassy dulu bukan salah Cassy juga. Waktu di rumah sakit
kemarin Lassy mengatakan padanya kalau Cassy tak ada hubungannya dengan kasus
Lassy, apa itu tandanya memang benar Cassy tak salah apa pun?
Bryan jadi bingung setelah menarik kesimpulan seperti itu.
Menyangkut masalah keluarga Liem, kenapa dia jadi bodoh begini, ya?
“Kau pasti mengira aku licik,” kata Cassy pada Bryan. “Tapi
kau perlu tahu, kekasihmu ini lebih licik dariku.”
“Cas, kau mengatai sepupumu sendiri!” protes Lassy.
“Nyatanya kau memang licik.”
“Demi kebaikan itu perlu kulakukan, tapi jangan sebut aku
licik. Aku cuma terlalu jenius.”
saja kau mati saat obat itu merusak otakmu.”
“Cassy Liem, kau kasar sekali!” protes Lassy.
“Terserah aku mau bicara apa!” katanya ketus. “Jadi kapan
kau akan kembalikan asetku?”
“Beri aku sebulan. Untuk investasimu, kau bisa pakai uangku
dulu.”
Cassy mengiyakan tanpa protes. Lagipula selicik-liciknya
Lassy juga demi kebaikan sepupunya itu sendiri. Cassy sebagai keturunan Liem
yang sayang saudara-saudaranya, pasti tak tega kalau perusahaan Lassy
digerogoti musuh dari dalam. Yang penting dia masih bisa menggunakan uang Lassy
untuk investasi bisnisnya sendiri.
“Kau juga jangan menandatangani apa pun yang berasal dari
negara ini.”
“Aku tahu,” kata Cassy kasar. “Aku sudah selesai makan.
Setelah ini aku ada pertemuan dengan teman. Bryan, kalau kau tak ada acara, antar
aku ke tempat pertemuan itu!”
“Tidak masalah!”
“Masalah, aku tidak mau ditinggal sendirian di sini!” protes
Lassy.
Cassy mendecih. “Cuma mengantar ke pertemuan. Tempatnya
tidak jauh dari sini. Seberapa lamanya, sih? Lagipula di sini ada banyak orang,
tak ada yang berani menyakitimu.”
“Aku sedang dalam mode tak ingin berpisah dengan Bryan.”
“Kau ikut saja,” tawar Bryan.
Berubah manis, Lassy meminta, “Sekalian jalan-jalan, ya?”
“Kalau itu maumu.” Bryan menyetujui.
“Aku mau sepatu baru. Aku juga lama tak beli es krim di
luar, kau mau belikan untukku, kan?” pintanya lagi. Masih dengan nada-nada manja.
Cassy menyipitkan matanya. Lassy bermanja-manja? Tidak
pantas. Tidak sesuai dengan sifat keras dan arogannya selama ini.
“Apa pun itu!” jawab Bryan berusaha romantis.
Cassy mendecih sekali lagi. Mencibir pasangan yang sedang
kasmaran di depannya. Pemandangan itu bermanja-manja itu menyakiti mata Cassy.
***
Lassy sudah menjelaskan semuanya pada Bryan bahwa Cassy
memang tak punya salah padanya. Semua yang dituduhkan selama ini tidak benar.
Sama seperti pertengkarannya dengan Martha gara-gara Randy dulu. Semuanya rumor belaka.
Lassy memang jenius memanipulasi banyak hal, tapi dalam hal
cinta dia tak sejenius itu. Buktinya saat Bryan menanyakan masalah Cassy, dia
segera menjelaskan semuanya. Mungkin takut Bryan salah paham, lalu
meninggalkannya. Atau takut Bryan melaporkannya ke polisi dan memenjarakannya.
Dia juga bersedia dibawa ke kantor polisi untuk mengklarifikasi berita
kejahatan Cassy yang tidak benar itu. Asal Bryan yang meminta, dia akan turuti.
Setelah klarifikasi, Lassy menunggu Bryan yang berdalih ke
toilet. Lassy menunggu di depan meja Tax, supaya dia ada teman untuk diajak
ngobrol. Untungnya Luo yang menyukai Lassy dan Narita yang mendukung hubungan
Lassy dan Bryan sedang tidak ada di tempat, keadaan kantor sedang adem ayem.
“Bryan memperlakukanmu dengan baik, kan?”
“Tentu saja. Memangnya kenapa?”
Sebenarnya pertanyaannya keliru. Tax mau tanya kenapa pipi
Bryan tadi terlihat merah? Apa Lassy memukulnya? Tapi karena tidak mungkin Tax
terang-terangan menuduh Lassy, dia membalik pertanyaannya.
Tax menggeleng. “Baguslah kalau dia baik padamu,” jawabnya
sambil tertawa garing. “Ngomong-ngomong, kau masih mencintai Bryan, kan?”
“Pertanyaanmu aneh.”
“Ada orang lain yang suka padamu?”
“Siapa? Kau? Maaf, aku masih mencintainya. Dan sepertinya
aku tak mau mencintai orang lain selain Bryan.”
“Bukan. Bukan aku, tapi temanku,” terang Tax. “Lupakan. Yang
penting kau bahagia dengan Bryan. Nanti aku bilang pada temanku itu kalau
kalian tidak ingin berpisah.”
Lassy tahu siapa yang dimaksud Tax. Orang itu adalah Luo. Detektif
satu itu sering sekali cari muka kalau berada di dekatnya. Pernah merayu
beberapa kali, tapi Lassy tak tertarik. Waktu menelepon Martha kemarin,
sahabatnya itu juga bercerita kalau Luo merayunya. Bisa dikatakan kalau Luo itu
lelaki perayu. Untungnya Martha juga sama tak tertariknya seperti Lassy.
“Tax, sebenarnya aku mau mengajak Bryan kencan malam ini,
tapi aku tak tahu tempat mana yang bagus. Bryan juga sering berada di luar
rumah, bisa jadi sudah pernah ke semua tempat. Aku maunya kencan ke tempat yang
sama sekali belum pernah dikunjunginya atau belum pernah kukunjungi. Kau punya saran?”
“Kencan malam ini?”
Tax jenis lelaki romantis, dia tahu bagaimana memperlakukan
pasangan dengan baik. Tempat-tempat romantis dia juga tahu, tapi kalau romantis
versi orang kaya seperti Lassy, dia agak sanksi.
Tax menggosok hidungnya. Berpikir sejenak sebelum memberi
saran.
“Sebenarnya aku tahu banyak
tempat yang keren, tapi aku tak yakin kau mau ke sana.”
“Aku mau!” jawab Lassy cepat.
“Masalahnya, itu bukan tempat khusus orang kaya.”
“Yang kaya aku, bukan Bryan. Aku bisa menyesuaikan diri.”
Bukan menyombongkan kekayaan sebenarnya, hanya bicara kenyataan saja. “Ayolah, beritahu aku!”
“Kau yakin?”
“Asal tempatnya sekeren yang kau katakan, aku sangat yakin.
Kapan-kapan kusponsori liburanmu dengan kekasihmu. Ke Amerika atau ke Eropa, terserah kau.”
“Benarkah?” Tax girang. “Kalau begitu kutulis alamatnya
untukmu sekarang!”
Tax menyelesaikan tugasnya sebelum Bryan bergabung dengan
mereka. Setelah kertas diserahkan dan dikantongi oleh Lassy, Bryan datang dan
mengajak Lassy segera pergi.
“Terima kasih bantuannya, Tax.”
“Ah, senang bisa
membantumu, Las.”
“Kalian membicarakan apa?”
“Bukan urusanmu, segera pulang sana!” usir Tax sambil
membuat gesture pengusiran dengan kedua tangannya. “Nikmati kencanmu!” teriak
Tax sebelum Lassy dan Bryan keluar kantor.
Bryan bergandengan tangan dengan Lassy ketika berjalan ke
mobil mereka. Mengabaikan petugas-petugas yang memandanginya curiga. Mereka
sepasang kekasih, sudah sepantasnya terlihat mesra saat jalan berdua. Kalau ada
yang curiga, abaikan saja.
“Kau memberitahu Tax kalau kita akan kencan?” tanya Bryan
sembari membuka pintu mobil untuk Lassy.
“Ya. Aku minta saran darinya.” Ketika Bryan sudah
menyusulnya ke mobil, Lassy menambahkan. “Dia orang yang romantis, punya
segudang pengalaman kencan dan tak pernah mengecewakan pasangan.”
“Dari mana kau tahu itu?”
“Dari caranya bicara dan dari bentuk bantuan yang
diberikannya padaku.” Lassy menyerahkan daftar yang dibuat Tax tadi. “Bawa aku
ke salah satu tempat itu sekarang!”
Bryan meneliti daftarnya, dia tahu semua tempat-tempat itu,
tapi tak sekali pun pergi ke sana. “Yang paling dekat saja. Kita bisa kunjungi
yang lainnya nanti.”
“Ok!” sahut Lassy. “Satu lagi, tadi Tax tanya sesuatu padaku
tapi belum sempat kujawab.”
“Pertanyaan apa?” Bryan menyahut sambil menyalakan mesin
mobilnya.
“Apa kau mencintaiku?”
“Tentu saja aku mencintaimu. Kalau dia tanya lagi, aku yang
akan menjawabnya.”
Lassy mengangguk-angguk puas. “Aku juga mencintaimu,”
katanya sambil tersenyum sembunyi-sembunyi, karena sebenarnya yang menanyakan
pertanyaan tadi adalah dirinya sendiri.