Mr. Detective

Mr. Detective
Detektif Yang Tidak Kompeten



Ini namanya penderitaan batin.


Bukan Lassy yang menderita batinnya meski dia jadi korban


salah culik, tapi si bos dan anak buahnya. Pasalnya sudah salah culik, Lassy pula orangnya.


Dengar-dengar Lassy dilindungi negara. Cari masalah dengan Lassy berarti cari masalah dengan negara. Si Bos


menduga ada satuan khusus yang menjaga Lassy kemana pun dia pergi. Kalau Lassy bisa jadi


korban salah culik, satuan khusus penjaga Lassy pasti sedang mencari mereka. Mampus saja kalau orang-orang hebat itu menemukan


mereka dalam keadaan seperti ini.


Meski bukan siapa-siapa, Lassy tidak pantas jadi korban


salah culik. Wanita itu baik. Bekerja sama dengan perusahaan periklanan yang Lassy pimpin, produk yang dirilisnya dikenal masyarakat luas. Penjualannya meningkat tajam, lalu untung banyak. Tidak


seharusnya orang yang membuatnya kaya, menderita seperti sekarang.


“Nona Liem, makan sedikit, ya!”


Lassy memang sudah dilepaskan ikatannya. Si Bos


sudah minta maaf, berlutut sampai kakinya kesemutan, tapi Lassy bergeming di kursinya. Masalahnya bukan Lassy menolak permintaan maaf Si Bos dan anak


buahnya, tapi menolak untuk makan dan minum yang disodorkan padanya. Sudah


begitu, dia juga tak mau diantarkan pulang atau dibawa ke rumah sakit untuk


diperiksa kesehatannya. Si Bos pusing tujuh keliling jadinya.


“Nona Liem, kau sudah tak makan dari kemarin. Makanlah sedikit saja!” pinta Si Bos sambil


mengulurkan makanan lezat yang sekarang mulai dingin setelah dibeli anak


buahnya setengah jam yang lalu. “Kalau begitu minumlah sedikit!” tambahnya


setelah uluran makanannya ditolak Lassy dengan gelengan.


Tadinya Lassy lega bukan main ketika tahu kalau jadi korban


salah culik. Tubuhnya yang lemas dan ketakutan berangsur-angsur membaik. Dia


berencana segera pulang. Makan, mandi, dan tentu saja bertemu dengan


kekasihnya. Dia mau tahu bagaimana reaksi Bryan setelah tak berjumpa dengannya


dari kemarin? Apakah Bryan merindukannya, seperti Lassy merindukan lelaki itu?


Namun, ketika memikirkan kemungkinan Bryan tidak sadar kalau kekasihnya menghilang, Lassy mengurungkan niat. Terbesit rencana untuk menunggu Bryan sadar kalau dirinya diculik. Mungkin ditambah dengan tak mau


makan dan minum, membuat dirinya merana, sengsara, dan terlihat menyedihkan


ketika Bryan menemukannya, kekasihnya itu akan lebih perhatian padanya.


“Nona Liem ....”


Tapi ...


“Nona Liem ....”


Nona Liem, Nona Liem terus, Lassy jadi bimbang. Dia kasihan dengan


Si Bos, meski sudah dimaafkan, lelaki itu masih terlihat ketakutan. Belum lagi anak


buah Si Bos, berdiri berjajar di sisi jauh sambil menunduk dan gemetaran. Lassy tak tega, apalagi setelah mendengar alasan Si Bos menculik adalah untuk kebahagiaan putranya yang sekarang ini sedang depresi


berat. Depresi karena cinta.


Sedikit banyak Lassy mengerti perasaan putranya Si Bos, dia


sendiri juga merasakan hal sama. Kalau terpisah jarak dengan Bryan bawaannya


was-was, takut Bryan tak akan kembali. Apalagi kalau sampai ada orang


memisahkan mereka seperti yang dialami putranya Si bos, Lassy pasti memilih mati saja. Dan kalau sekarang Si bos ingin menebus kesalahannya dengan menyatukan putranya dengan kekasihnya, Lassy tidak patut menghalanginya.


Dia juga teringat pembicaraannya dengan Dr. Wren kemarin. Terlalu posesif, terlalu cemburuan,


kemudian Dr. Wren berhasil menyadarkannya. Dia memang mencintai Bryan, bukan


berarti harus mengekangnya. Dr. Wren membuatnya berjanji untuk lebih menekan


keposesifannya, lebih terbuka dengan kekasihnya juga. Apa-apa harus dibicarakan


berdua. Tidak boleh menyakiti diri sendiri lagi, juga orang lain.


“Nona Liem, mohon maafkan kami ....”


“Sudah cukup!” Lassy angkat bicara. “Aku maafkan kalian!”


Si Bos mendesahkan nafasnya, lega. “Kalau begitu makanlah dulu, baru kita antar pulang.” Lassy menggeleng, membuat Si Bos ketakutan lagi. “Nona Liem ...  kalau kau tak mau diantar


pulang, cepat atau lambat satuan khusus itu akan datang kemari dan menghabisi kita.”


Lassy mengerutkan dahi. Apa yang dipikirkan Si


Bos meleset dari yang diinginkannya. “Satuan khusus apa?”


“Orang-orang hebat yang menjagamu itu!” pekik Si Bos hampir histeris.


“Tidak ada satuan khusus, hanya akan ada polisi-polisi yang datang kemari.” Lassy melirik jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan Si Bos. “Tidak akan lama lagi.” Dihitung dari telepon panti


pijat yang diyakini Lassy sebagai telepon


jebakan untuk mengetahui posisi penculik.


“Astaga ....” Si Bos menempuk jidatnya sendiri. Berdiri, lalu mondar-mandir seperti orang gila.


“Niatan membahagiakan putraku belum berhasil dan aku akan ditangkap polisi?”


Dia berhenti setelah mondar mandir tiga kali, kembali ke depan kursi yang


diduduki Lassy hanya untuk memelas. “Nona Liem, tolong selamatkan aku!”


“Baiklah, asal setelah ini kau benar-benar mempersatukan putramu dengan kekasihnya!” Sebagai


sama-sama pecinta, Lassy prihatin dengan nasib


putranya Si Bos. Maka dari itu, dia mau Si Bos benar-benar melakukannya dengan


baik. Dia juga memilih untuk keluar dari sini, daripada mengingkari janjinya


dengan Dr. Wren. “Aku punya rencana, tapi kalian harus membantuku!”


“Tentu saja. Apa pun yang kau mau, Nona Liem!”


***


Penggerebekan tempat yang digunakan penculik untuk menawan Lassy,


gagal. Tidak ada siapa pun di tempat itu. Tempatnya pun bersih seperti tak


pernah dijamah, tapi polisi meyakini bahwa tempat itu pernah disinggahi


penculiknya. Mungkin penculiknya sudah menebak kalau polisi menemukan tempat


itu dari telepon janggal berkedok panti pijat. Berarti mereka termasuk


profesional di bidangnya.


Pencarian dilakukan lagi, polisi detektif disebar ke jangkauan yang lebih luas. Bryan juga pergi,


ke tempat para penjahat kelas teri sering kabur dan sembunyi. Perkampungan


labirin. Ini menjadi tugas berat bagi Bryan kalau tidak mengingat Lassy sebagai alasan. Bryan beberapa kali kemari,


tapi sering tersesat daripada tidaknya. Satu-satunya detektif yang tahu betul


dengan kampung labirin ini menolak untuk ikut. Alasannya ingin mencari Lassy dengan tangannya sendiri di tempat lain. Alhasil Bryan mengajak polisi patroli yang daerah tugasnya dekat-dekat sini.


Mereka pergi ke gedung apartemen yang jadi sarangnya pencopet, menemui ketua copet untuk


“Tidak adakah satu dari anak buahmu yang membelot, ikut organisasi yang lebih besar seperti


penculikan dan pembunuhan?”


“Semua anak buahku terpantau baik olehku. Tidak ada dari mereka yang membelot seperti itu.”


Kalaupun ada, Si ketua tentu akan mengambil tindakan. Dikeluarkan dari kelompok


dan tidak akan mendapatkan perlindungan lagi.


“Kalau di daerah ini, kau dengar ada penjahat baru masuk atau tidak?”


Si ketua tersenyum mengejek. Bukan dia tidak dengar, tapi apa pun di luar gedung ini, di luar


pencopet yang jadi anak buahnya, dia tidak mau ikut campur. Perkampungan


labirin punya kode etik yang mengharuskan kelompok satu dan lainnya tidak


saling ikut campur urusan masing-masing. Kalau polisi berhasil menangkap


penjahat, mereka juga akan lepas tangan.


“Beritahu sedikit, aku akan melepaskan dua anak buahmu yang tertangkap bulan lalu.”


Si ketua tersenyum lagi. Pencopet yang sudah tertangkap bukan lagi urusan kelompok. Tugas ketua


hanya melindungi pencopet yang kabur dan sembunyi dari kejaran polisi.


“Kuberi uang berapa pun kau mau,” tawar Bryan lagi.


“Aku yakin uangmu tak ada secuilnya dari uangku.” Si ketua tertawa kecil, lalu menambahkan


setelah reda tawanya, ”Kau tidak fokus, Detektif. Ada masalah pribadi, kan?


Kalau mencampurkan masalah pribadi dengan pekerjaan, kau akan menjadi detektif


yang tidak kompeten.” Karena selama ini, kalau pekerjaan seseorang jadi kacau


tentu saja ada masalah pribadi terbawa-bawa dalam pekerjaan. Dia bisa


melihatnya dengan jelas dari perilaku Bryan. “Seperti sekarang ini!” ejeknya.


Bagaimana Bryan tidak mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan? Yang hilang dan


sedang dicarinya sekarang adalah kekasihnya. Memang ada larangan bagi polisi


untuk ikut menangani kasus yang menimpa keluarga, tapi Lassy belum jadi bagian dari keluarga Bryan. Dia masih diizinkan ikut asal setelah ketemu penjahatnya Bryan tidak main hakim sendiri.


“Kusarankan kau pulang, selesaikan masalah, baru kau ke sini lagi. Atau kirim saja detektif


lain yang lebih mengenal tempat ini sebelum penjahat buruanmu menghilang!”


Ini gara-gara Luo, kalau saja temannya itu mau diajak kemari, Bryan tidak akan mendapati penghinaan


dari Si ketua copet. Bryan juga,sudah diingatkan kalau ketua copet itu lidahnya


tajam, dia malah terpeleset lidah sendiri. Untungnya dua polisi yang diajaknya


sedang menunggu di luar ruangan. Bryan agak lega, bisa menekan rasa malunya seorang diri.


Bryan keluar dengan tangan hampa. Secuil informasi pun tak dapat, malah dapat penghinaan. Dibilang


tidak kompeten hanya karena menawarkan uang pada ketua copet pula. Sangat tidak


keren. Daripada waktunya terbuang percuma, Bryan meminta dua polisi patroli itu


menemaninya menyusuri gang-gang sempit di kampung labirin ini. Hampir sejam,


tapi belum ada seperempat wilayah dijelajahi mereka. Tidak ada tanda-tanda yang


mencurigakan. Karena Bryan hanya minta waktu sejam pada polisi patroli itu,


Bryan harus menyudahi petualangannya.


“Sudah sejam, lebih baik kita kembali!” ajak Bryan pada dua polisi yang bersamanya.


Saat berjalan balik,


mereka bertemu dengan segerombolan orang di belokan. Orang-orang itu berhenti


mendadak karena terkejut. Mengetahui ada polisi di depan, mereka panik dan


segera menyembunyikan barang-barang yang mereka bawa. Sekelebat bisa dilihat


Bryan dan kawanannnya bahwa itu adalah senjata-senjata tajam.


“Pak, itu adalah geng motor yang suka membuat onar di daerah patroli kita. Akhirnya mereka


menampakkan diri juga!” kata seorang polisi.


Mendengar perkataan polisi, gerombolan pembuat onar segera melarikan siri. Langsung dikejar oleh


polisi itu.


“Pak, bantu kami


menangkapnya!” pinta polisi yang satunya, yang kemudian lari juga menyusul


temannya.


Bryan punya


keperluan yang lebih mendesak daripada menangkap geng pembuat onar, tapi karena


dua polisi tadi sudah membantunya, Bryan pun harus membantu mereka juga. Bryan


menyusul mereka kemudian. Berlari mengejar kedua polisi di depannya. Sampai


hampir dekat dengan kedua polisi itu, Bryan dibuat berhenti mendadak oleh


panggilan seorang polisi yang baru datang.


“Kau lihat berandalan tadi, kan?” tanya Bryan pada polisi itu.


Awalnya belum paham, tapi dia segera mengangguk. “Ya!”


“Kenapa kau tak ikut menangkap mereka?”


“Aku datang untuk menemuimu, Detektif.”


“Kau sudah bertemu denganku. Ikut aku mengejar berandalan itu dulu!” Kemudian Bryan berlari lagi,


meninggalkan polisi itu yang kemudian menyusulnya juga.


Sampai di belokan, Bryan kehilangan jejak. Polisi tadi sudah berada di dekatnya. Ingin segera


menyampaikan pesan yang dia bawa dari kantor pusat.


“Detektif, aku ingin bicara denganmu ....”


Namun, Bryan menemukan berandalan yang dikejar itu berlari di gang sebelah.


“Mereka lewat sana. Kita potong arah saja!”


Lalu Bryan berlari lagi, disusul polisi itu.


Bryan dan polisi itu berhasil menghadang berandalan. Mereka berkelahi, awalnya lima lawan dua, lalu


dua polisi sebelumnya segera datang dan ikut membantu. Adu jotos tak terelakkan.


Bahkan Bryan hampir kena sabet pisau si berandalan kalau polisi yang


mengejarnya barusan tidak menyelamatkannya. Perkelahian berhenti ketika salah


satu dari polisi itu mencabut pistol dan meledakkannya di udara. Lima


berandalan itu langsung tiarap, lalu ditangkap dengan mudah oleh Bryan dan polisi-polisi


yang bersamanya.