
Ini namanya penderitaan batin.
Bukan Lassy yang menderita batinnya meski dia jadi korban
salah culik, tapi si bos dan anak buahnya. Pasalnya sudah salah culik, Lassy pula orangnya.
Dengar-dengar Lassy dilindungi negara. Cari masalah dengan Lassy berarti cari masalah dengan negara. Si Bos
menduga ada satuan khusus yang menjaga Lassy kemana pun dia pergi. Kalau Lassy bisa jadi
korban salah culik, satuan khusus penjaga Lassy pasti sedang mencari mereka. Mampus saja kalau orang-orang hebat itu menemukan
mereka dalam keadaan seperti ini.
Meski bukan siapa-siapa, Lassy tidak pantas jadi korban
salah culik. Wanita itu baik. Bekerja sama dengan perusahaan periklanan yang Lassy pimpin, produk yang dirilisnya dikenal masyarakat luas. Penjualannya meningkat tajam, lalu untung banyak. Tidak
seharusnya orang yang membuatnya kaya, menderita seperti sekarang.
“Nona Liem, makan sedikit, ya!”
Lassy memang sudah dilepaskan ikatannya. Si Bos
sudah minta maaf, berlutut sampai kakinya kesemutan, tapi Lassy bergeming di kursinya. Masalahnya bukan Lassy menolak permintaan maaf Si Bos dan anak
buahnya, tapi menolak untuk makan dan minum yang disodorkan padanya. Sudah
begitu, dia juga tak mau diantarkan pulang atau dibawa ke rumah sakit untuk
diperiksa kesehatannya. Si Bos pusing tujuh keliling jadinya.
“Nona Liem, kau sudah tak makan dari kemarin. Makanlah sedikit saja!” pinta Si Bos sambil
mengulurkan makanan lezat yang sekarang mulai dingin setelah dibeli anak
buahnya setengah jam yang lalu. “Kalau begitu minumlah sedikit!” tambahnya
setelah uluran makanannya ditolak Lassy dengan gelengan.
Tadinya Lassy lega bukan main ketika tahu kalau jadi korban
salah culik. Tubuhnya yang lemas dan ketakutan berangsur-angsur membaik. Dia
berencana segera pulang. Makan, mandi, dan tentu saja bertemu dengan
kekasihnya. Dia mau tahu bagaimana reaksi Bryan setelah tak berjumpa dengannya
dari kemarin? Apakah Bryan merindukannya, seperti Lassy merindukan lelaki itu?
Namun, ketika memikirkan kemungkinan Bryan tidak sadar kalau kekasihnya menghilang, Lassy mengurungkan niat. Terbesit rencana untuk menunggu Bryan sadar kalau dirinya diculik. Mungkin ditambah dengan tak mau
makan dan minum, membuat dirinya merana, sengsara, dan terlihat menyedihkan
ketika Bryan menemukannya, kekasihnya itu akan lebih perhatian padanya.
“Nona Liem ....”
Tapi ...
“Nona Liem ....”
Nona Liem, Nona Liem terus, Lassy jadi bimbang. Dia kasihan dengan
Si Bos, meski sudah dimaafkan, lelaki itu masih terlihat ketakutan. Belum lagi anak
buah Si Bos, berdiri berjajar di sisi jauh sambil menunduk dan gemetaran. Lassy tak tega, apalagi setelah mendengar alasan Si Bos menculik adalah untuk kebahagiaan putranya yang sekarang ini sedang depresi
berat. Depresi karena cinta.
Sedikit banyak Lassy mengerti perasaan putranya Si Bos, dia
sendiri juga merasakan hal sama. Kalau terpisah jarak dengan Bryan bawaannya
was-was, takut Bryan tak akan kembali. Apalagi kalau sampai ada orang
memisahkan mereka seperti yang dialami putranya Si bos, Lassy pasti memilih mati saja. Dan kalau sekarang Si bos ingin menebus kesalahannya dengan menyatukan putranya dengan kekasihnya, Lassy tidak patut menghalanginya.
Dia juga teringat pembicaraannya dengan Dr. Wren kemarin. Terlalu posesif, terlalu cemburuan,
kemudian Dr. Wren berhasil menyadarkannya. Dia memang mencintai Bryan, bukan
berarti harus mengekangnya. Dr. Wren membuatnya berjanji untuk lebih menekan
keposesifannya, lebih terbuka dengan kekasihnya juga. Apa-apa harus dibicarakan
berdua. Tidak boleh menyakiti diri sendiri lagi, juga orang lain.
“Nona Liem, mohon maafkan kami ....”
“Sudah cukup!” Lassy angkat bicara. “Aku maafkan kalian!”
Si Bos mendesahkan nafasnya, lega. “Kalau begitu makanlah dulu, baru kita antar pulang.” Lassy menggeleng, membuat Si Bos ketakutan lagi. “Nona Liem ... kalau kau tak mau diantar
pulang, cepat atau lambat satuan khusus itu akan datang kemari dan menghabisi kita.”
Lassy mengerutkan dahi. Apa yang dipikirkan Si
Bos meleset dari yang diinginkannya. “Satuan khusus apa?”
“Orang-orang hebat yang menjagamu itu!” pekik Si Bos hampir histeris.
“Tidak ada satuan khusus, hanya akan ada polisi-polisi yang datang kemari.” Lassy melirik jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan Si Bos. “Tidak akan lama lagi.” Dihitung dari telepon panti
pijat yang diyakini Lassy sebagai telepon
jebakan untuk mengetahui posisi penculik.
“Astaga ....” Si Bos menempuk jidatnya sendiri. Berdiri, lalu mondar-mandir seperti orang gila.
“Niatan membahagiakan putraku belum berhasil dan aku akan ditangkap polisi?”
Dia berhenti setelah mondar mandir tiga kali, kembali ke depan kursi yang
diduduki Lassy hanya untuk memelas. “Nona Liem, tolong selamatkan aku!”
“Baiklah, asal setelah ini kau benar-benar mempersatukan putramu dengan kekasihnya!” Sebagai
sama-sama pecinta, Lassy prihatin dengan nasib
putranya Si Bos. Maka dari itu, dia mau Si Bos benar-benar melakukannya dengan
baik. Dia juga memilih untuk keluar dari sini, daripada mengingkari janjinya
dengan Dr. Wren. “Aku punya rencana, tapi kalian harus membantuku!”
“Tentu saja. Apa pun yang kau mau, Nona Liem!”
***
Penggerebekan tempat yang digunakan penculik untuk menawan Lassy,
gagal. Tidak ada siapa pun di tempat itu. Tempatnya pun bersih seperti tak
pernah dijamah, tapi polisi meyakini bahwa tempat itu pernah disinggahi
penculiknya. Mungkin penculiknya sudah menebak kalau polisi menemukan tempat
itu dari telepon janggal berkedok panti pijat. Berarti mereka termasuk
profesional di bidangnya.
Pencarian dilakukan lagi, polisi detektif disebar ke jangkauan yang lebih luas. Bryan juga pergi,
ke tempat para penjahat kelas teri sering kabur dan sembunyi. Perkampungan
labirin. Ini menjadi tugas berat bagi Bryan kalau tidak mengingat Lassy sebagai alasan. Bryan beberapa kali kemari,
tapi sering tersesat daripada tidaknya. Satu-satunya detektif yang tahu betul
dengan kampung labirin ini menolak untuk ikut. Alasannya ingin mencari Lassy dengan tangannya sendiri di tempat lain. Alhasil Bryan mengajak polisi patroli yang daerah tugasnya dekat-dekat sini.
Mereka pergi ke gedung apartemen yang jadi sarangnya pencopet, menemui ketua copet untuk
“Tidak adakah satu dari anak buahmu yang membelot, ikut organisasi yang lebih besar seperti
penculikan dan pembunuhan?”
“Semua anak buahku terpantau baik olehku. Tidak ada dari mereka yang membelot seperti itu.”
Kalaupun ada, Si ketua tentu akan mengambil tindakan. Dikeluarkan dari kelompok
dan tidak akan mendapatkan perlindungan lagi.
“Kalau di daerah ini, kau dengar ada penjahat baru masuk atau tidak?”
Si ketua tersenyum mengejek. Bukan dia tidak dengar, tapi apa pun di luar gedung ini, di luar
pencopet yang jadi anak buahnya, dia tidak mau ikut campur. Perkampungan
labirin punya kode etik yang mengharuskan kelompok satu dan lainnya tidak
saling ikut campur urusan masing-masing. Kalau polisi berhasil menangkap
penjahat, mereka juga akan lepas tangan.
“Beritahu sedikit, aku akan melepaskan dua anak buahmu yang tertangkap bulan lalu.”
Si ketua tersenyum lagi. Pencopet yang sudah tertangkap bukan lagi urusan kelompok. Tugas ketua
hanya melindungi pencopet yang kabur dan sembunyi dari kejaran polisi.
“Kuberi uang berapa pun kau mau,” tawar Bryan lagi.
“Aku yakin uangmu tak ada secuilnya dari uangku.” Si ketua tertawa kecil, lalu menambahkan
setelah reda tawanya, ”Kau tidak fokus, Detektif. Ada masalah pribadi, kan?
Kalau mencampurkan masalah pribadi dengan pekerjaan, kau akan menjadi detektif
yang tidak kompeten.” Karena selama ini, kalau pekerjaan seseorang jadi kacau
tentu saja ada masalah pribadi terbawa-bawa dalam pekerjaan. Dia bisa
melihatnya dengan jelas dari perilaku Bryan. “Seperti sekarang ini!” ejeknya.
Bagaimana Bryan tidak mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan? Yang hilang dan
sedang dicarinya sekarang adalah kekasihnya. Memang ada larangan bagi polisi
untuk ikut menangani kasus yang menimpa keluarga, tapi Lassy belum jadi bagian dari keluarga Bryan. Dia masih diizinkan ikut asal setelah ketemu penjahatnya Bryan tidak main hakim sendiri.
“Kusarankan kau pulang, selesaikan masalah, baru kau ke sini lagi. Atau kirim saja detektif
lain yang lebih mengenal tempat ini sebelum penjahat buruanmu menghilang!”
Ini gara-gara Luo, kalau saja temannya itu mau diajak kemari, Bryan tidak akan mendapati penghinaan
dari Si ketua copet. Bryan juga,sudah diingatkan kalau ketua copet itu lidahnya
tajam, dia malah terpeleset lidah sendiri. Untungnya dua polisi yang diajaknya
sedang menunggu di luar ruangan. Bryan agak lega, bisa menekan rasa malunya seorang diri.
Bryan keluar dengan tangan hampa. Secuil informasi pun tak dapat, malah dapat penghinaan. Dibilang
tidak kompeten hanya karena menawarkan uang pada ketua copet pula. Sangat tidak
keren. Daripada waktunya terbuang percuma, Bryan meminta dua polisi patroli itu
menemaninya menyusuri gang-gang sempit di kampung labirin ini. Hampir sejam,
tapi belum ada seperempat wilayah dijelajahi mereka. Tidak ada tanda-tanda yang
mencurigakan. Karena Bryan hanya minta waktu sejam pada polisi patroli itu,
Bryan harus menyudahi petualangannya.
“Sudah sejam, lebih baik kita kembali!” ajak Bryan pada dua polisi yang bersamanya.
Saat berjalan balik,
mereka bertemu dengan segerombolan orang di belokan. Orang-orang itu berhenti
mendadak karena terkejut. Mengetahui ada polisi di depan, mereka panik dan
segera menyembunyikan barang-barang yang mereka bawa. Sekelebat bisa dilihat
Bryan dan kawanannnya bahwa itu adalah senjata-senjata tajam.
“Pak, itu adalah geng motor yang suka membuat onar di daerah patroli kita. Akhirnya mereka
menampakkan diri juga!” kata seorang polisi.
Mendengar perkataan polisi, gerombolan pembuat onar segera melarikan siri. Langsung dikejar oleh
polisi itu.
“Pak, bantu kami
menangkapnya!” pinta polisi yang satunya, yang kemudian lari juga menyusul
temannya.
Bryan punya
keperluan yang lebih mendesak daripada menangkap geng pembuat onar, tapi karena
dua polisi tadi sudah membantunya, Bryan pun harus membantu mereka juga. Bryan
menyusul mereka kemudian. Berlari mengejar kedua polisi di depannya. Sampai
hampir dekat dengan kedua polisi itu, Bryan dibuat berhenti mendadak oleh
panggilan seorang polisi yang baru datang.
“Kau lihat berandalan tadi, kan?” tanya Bryan pada polisi itu.
Awalnya belum paham, tapi dia segera mengangguk. “Ya!”
“Kenapa kau tak ikut menangkap mereka?”
“Aku datang untuk menemuimu, Detektif.”
“Kau sudah bertemu denganku. Ikut aku mengejar berandalan itu dulu!” Kemudian Bryan berlari lagi,
meninggalkan polisi itu yang kemudian menyusulnya juga.
Sampai di belokan, Bryan kehilangan jejak. Polisi tadi sudah berada di dekatnya. Ingin segera
menyampaikan pesan yang dia bawa dari kantor pusat.
“Detektif, aku ingin bicara denganmu ....”
Namun, Bryan menemukan berandalan yang dikejar itu berlari di gang sebelah.
“Mereka lewat sana. Kita potong arah saja!”
Lalu Bryan berlari lagi, disusul polisi itu.
Bryan dan polisi itu berhasil menghadang berandalan. Mereka berkelahi, awalnya lima lawan dua, lalu
dua polisi sebelumnya segera datang dan ikut membantu. Adu jotos tak terelakkan.
Bahkan Bryan hampir kena sabet pisau si berandalan kalau polisi yang
mengejarnya barusan tidak menyelamatkannya. Perkelahian berhenti ketika salah
satu dari polisi itu mencabut pistol dan meledakkannya di udara. Lima
berandalan itu langsung tiarap, lalu ditangkap dengan mudah oleh Bryan dan polisi-polisi
yang bersamanya.