Mr. Detective

Mr. Detective
Detektif Penjaga



Bryan berjalan santai di kantor kepolisian. Dia datang


terlalu awal. Sebenarnya Bryan terdaftar sebagai anggota yang menangani kasus


penyelundupan narkoba. Ada mafia yang menyelundupkan narkoba jenis sabu-sabu


seberat 2 kwintal di pelabuhan. Sabu-sabunya ditemukan polisi, tapi pelakunya


belum diketahui.


Kepolisian sudah mempunyai gambaran pemilik sabu-sabu itu.


Mereka membentuk tim untuk mengusut kasus ini dan Bryan berada di dalamnya.


Harusnya pagi ini Bryan melakukan penyelidikan bersama timnya, tapi tengah


malam tadi namanya dicoret dari daftar. Tiba-tiba atasannya mengalih tugaskan


dia untuk mengusut kasus tabrak lari Lassy Liem. Bryan keberatan, tapi dia bisa


apa?


Atasannya itu tidak terlalu keras, tapi teguh pendirian.


Kalau sudah bilang A, akan tetap A walau ada hujan badai sekalipun.


“Brey, kau datang terlalu pagi?” Husky voice mengalun di udara. Bryan melenggang santai tanpa mau


menanggapinya. Dia duduk di salah satu kursi entah milik siapa. Kursi itu masih


kosong pagi ini. “Kapten belum datang. Kau akan bertemu dengannya, kan?”


“Darimana kau tahu aku akan bertemu dengannya?”


“Semua orang tahu kau dialih tugaskan oleh Kapten.”


Padahal pemindahan tugasnya dini hari tadi, sekarang semua


orang sudah tahu berita itu. Berita buruk selalu menyebar lebih cepat daripada


wabah. Bryan berdecak kesal, membuat Luo tertawa senang.


“Sudahlah. Lagipula kau sering menangani kasus besar.


Sekali-kali coba pecahkan kasus kecil.”


“Aku sudah pernah melewati fase itu.”


“Aku tahu!”


Seorang OB lewat. Luo memanggilnya dan memesankan kopi hitam


untuk Bryan dan dirinya sendiri. Itu bentuk respek darinya agar Bryan bisa


mengatasi gejolak batin karena Kapten seenak jidat memindah tugaskan temannya


itu.


“Kau jangan sedih begitu!”


“Aku tidak sedih.”


“Kau terlihat setengah hati menangani kasus ini.”


Bryan menghela nafas bosan di depan Luo. Seakan mengatakan


pada dunia bahwa begitulah nasib detektif polisi yang punya atasan nyeleneh


seperti atasan mereka.


“Nona Liem itu salah satu pemegang saham perusahaan


periklanan terbesar di negara ini. Kudengar dia orang yang hebat. Dia cantik,


pintar, dan kaya. Kau tak akan menyesal bertemu dengannya.”


Kalau saja kasus ini diserahkan padanya, Luo akan senang.


Tidak akan membuat reaksi kebosanan seperti yang ditunjukkan Bryan. Kasus


tabrak lari bagi Bryan sama dengan kasus mengutil barang, terlalu kecil. Tapi


Luo tahu kalau temannya itu hanya tidak mengerti seni dalam memilih kasus.


“Jangan anggap remeh kasus tabrak lari. Pecahkan saja


kasusnya, siapa tahu kau dapat bonus dari perusahaan periklanan itu.”


“Aku tak gila uang sepertimu!”


“Tapi kau tak akan menolak kalau diberi uang, kan?”


Bryan tak menjawab yang artinya membenarkan. Siapa juga yang


tak mau uang, bahkan orang yang sudah kaya raya saja masih terus mencari uang.


“Ngomong-ngomong kau sudah mengambil berkas kasus itu?”


“Sudah.” Bryan menyamankan posisi duduknya. Menyandar dengan


santai sambil menyilangkan kakinya. “Pagi tadi dua petugas mengantarkannya


padaku.”


“Kau sudah menyiapkan pertanyaan untuk Nona Liem nanti?”


Bryan tidak menjawab karena saat itu OB datang memberikan


kopi mereka. Setelah berterima kasih dan menunggu OB itu pergi, mereka


meneruskan pembicaraan.


“Kalau kau bertemu dengannya nanti, katakan padanya kalau


pihak kepolisian turut menyesal atas kejadian itu. Semoga dia cepat sembuh,”


kata Luo sambil menggeser kopinya mendekat. “Kau juga boleh menyisipkan


namaku!”


“Aku baru saja dari rumah sakit.”


“Menemui Nona Liem?” Bryan menganggukinya dengan malas.


“Kenapa pagi-pagi sekali? Kau menyalahi prosedur.” Padahal Luo berharap ucapan


semoga cepat sembuhnya bisa disampaikan Bryan pada wanita itu. “Kau ini ... ya


sudah lah,” sesalnya. “Jadi, bagaimana Nona Liem itu?”


“Seperti yang kau bilang, dia terlihat pintar dan kaya.”


Meski wajahnya pucat, Lassy terlihat cantik. Bryan tidak


tahu kecantikan itu natural atau buatan tangan manusia. Yang jelas Lassy tipe


wanita yang akan disukai banyak laki-laki, termasuk disukai dirinya dan Luo. Setidaknya


begitu yang bisa dideskripsikan Bryan setelah melihat Lassy untuk pertama


kalinya. Dia hanya tidak ingin memberitahukannya pada Luo secara jelas.


“Dia tipe wanita kelas atas.”


Luo mengangguk-angguk sebelum menyeruput kopinya.


Bryan


sangat beruntung, pikir Luo.


“Sebenarnya ...,“


Bryan mulai merenung. Mencoba mengingat-ingat kembali


kejadian tadi, di mana Lassy menunjukkan ekspresi tak suka dengan


kedatangannya. Dengan begitu wanita itu tidak pantas dapat respek dari orang


lain.


“Tidak terlalu jelas memang, tapi menurutku dia lebih tua


lima belas-dua puluh tahun dari kita!”


Luo tersedak kopi. Kopi di mulutnya muncrat, mengenai


benda-benda di atas meja. Kertas, map, monitor, keyboard, dan benda-benda lain basah


seketika.


Untungnya Bryan menyingkir tepat waktu.


“Hati-hati, nanti kau tersedak!”


Padahal dia tahu Luo sudah tersedak.


*****


Bryan sudah menyampaikan keluhannya pada Kapten Bay. Bryan


menanyakan alasan atasannya memindah tugaskan dirinya. Kapten Bay tak memberi


alasan yang jelas kecuali kalimat ‘semua masyarakat berhak mendapatkan


pelayanan yang sama dari kepolisian’. Ketika tabrak lari semalam terjadi, tak


ada polisi senior yang nganggur untuk menangani kasus itu. Sedangkan anggota


yang ditugaskan untuk menyelidiki penyelundupan narkoba sangat banyak. Kalau


Kapten Bay menarik Bryan dari kasus itu, tak akan berpengaruh juga pada


penyelidikan kasus narkoba.


Bryan sudah protes sedemikian rupa. Dia tahu siapa saja


pasti mau menangani kasus tabrak lari itu asal Kapten yang menunjuknya.


Kalaupun tak ada yang bisa ditunjuk lagi oleh Kapten Bay. Ada banyak polisi di


kantor, kenapa tidak mereka saja? Polisi-polisi baru pun harus diberi


kesempatan menangani kasus.


Dengan menolak protes Bryan, agaknya Kapten Bay menyimpan


alasan lain untuk kasus ini.


Sekarang Bryan sedang menunggu di luar ruang rawat Lassy. Ditemani


seorang polisi berseragam, duduk di jajaran kursi tunggu. Lassy telah selesai


dioperasi pergelangan kakinya. Dia baru saja dipindahkan kembali ke kamar rawat


dan sedang diperiksa dokter.


“Detektif Bryan,” panggil dokter yang baru saja keluar dari


ruang rawat Lassy. Bryan yang sedang sibuk memikirkan tindakan ganjil


atasannya, terpaksa mendongak. “Saya sudah selesai. Nona Liem tidak diberi obat


tidur. Anda bisa menemuinya sekarang.”


Bryan berdiri. Mengangguk untuk berterima kasih. Setelah


dokter dan suster pergi, Brian mengkode polisi yang bersamanya untuk masuk


ruangan Lassy. Lassy sedang memejamkan mata ketika mereka masuk. Bryan tahu


Lassy tidak tidur karena mereka ada janji interogasi lanjutan.


Ketika Bryan mengambil kursi dan meletakkannya tempat di


dekat ranjang Lassy, si empunya ranjang membuka matanya.


“Kuharap Anda tak jadi datang siang ini, Detektif,” kata


Lassy lemas. Dia memang butuh istirahat, tapi janji dengan Bryan menghalangi


niatnya. “Aku sangat mengantuk.”


“Berapa lama biasanya Anda bisa tidur?”


“Satu dua jam? Kenapa? Anda mau membiarkanku tidur dulu


Bryan melirik pada polisi berseragam yang duduk di sofa


dekat pintu. Polisi itu tadi bercerita kalau sebenarnya hari ini dia cuti. Dia


berencana mengunjungi ibunya di kota sebelah. Lagi-lagi karena Kapten Bay,


acara cuti itu dibatalkan. Semua orang tau Kapten Bay itu kepemimpinannya tak diragukan,


hanya kadang-kadang dianggap semena-mena oleh anak buahnya. Hampir seluruh anak


buahnya mengeluh atas sikapnya itu.


“Kau!” Bryan menunjuk si polisi. Polisi itu seketika


menegakkan tubuhnya. “Kau masih berniat mengunjungi ibumu?”


“Saya sedang bertugas, Pak!” katanya mantap.


“Kau baru saja dibebas tugaskan untuk hari ini. Pulanglah


dan kembali kemari besok pagi!” perintah Bryan.


Dia segera berterima kasih sekaligus berpamitan, lalu


meninggalkan ruangan dengan langkah ringan. Polisi itu tahu dia tidak


benar-benar dibebas tugaskan. Itu cuma bentuk belas kasihan dari Bryan.


Diterima saja. Lagipula kapan lagi bisa mendapatkan kesempatan seperti ini?


Setelah polisi tadi meninggalkan tempat, Bryan beralih pada


Lassy.


“Kau juga kubebaskan sementara. Kalau mau tidur sepanjang


sore, lakukan sekarang!”


Lassy mengerutkan dahinya. Bryan tipe detektif yang sopan


kalau ada orang lain di dekatnya. Ketika mereka hanya berdua, dia kelihatan


aslinya. Seperti tebakannya tadi pagi, formalitas tidak sempurna yang


diperagakan Bryan, ternyata untuk menutupi ketidaksopanannya ini.


“Aku akan berada di sini sepanjang hari.”


“Ada yang salah denganmu, Detektif?” Untuk tidak bersikap


formal, Lassy pun tidak akan sungkan lagi. “Kau berubah sikap hanya dalam waktu


semenit.”


“Panggil aku Bryan. Aku tidak terlalu suka berbasa basi. Aku


ditugaskan mengawalmu sepanjang hari sampai kasus ini berakhir.”


Itulah tugas yang berusaha Bryan tolak mati-matian tadi


pagi. Kapten Bay menyerahkan sebuah surat yang berisi tugas khusus untuk


mengawal Lassy Liem sepanjang hari sampai kasus tabrak lari ini selesai. Bryan


tak setuju. Dia tak terima, tapi dia kalah berdebat. Kapten Bay mengancam tak


akan pernah mengikut sertakannya lagi dalam kasus-kasus besar kalau Bryan


mangkir dari tugas ini. Dia seperti turun pangkat dari detektif profesional


jadi bodyguard biasa. Inilah yang membuat mood Bryan jadi buruk setengah hari ini.


Karena mood-nya


sudah buruk, ada baiknya dia istirahat sejenak agar kelakukannya tidak


menjadi-jadi lalu mempermalukan diri sendiri.


“Aku tidak tahu apa istimewanya dirimu sampai atasanku


menyuruhku mengawalmu?” tuturnya. Tak jadi duduk di dekat Lassy, dia berjalan


ke sofa yang barusan ditinggalkan si polisi. Dia duduk di situ. “Akan kusimpan


pertanyaan ini. Nanti kutanyakan lagi setelah kau selesai beristirahat.”


Bryan melonggarkan dasinya, kemudian merebahkan tubuhnya di


sofa. Dia memejamkan mata dan menumpangkan lengan kirinya menutupi muka.


“Kau tidak sopan sekali!”


Bryan tidak menjawab. Dia sering dikatai demikian oleh


teman-temannya, dikatai sekali lagi tidaklah berefek buruk padanya.


“Atas dasar apa atasanmu menyuruhmu menjagaiku?”


“Aku juga tak tahu. Dia menyembunyikan semua alasannya


dariku,” jawab Bryan masih dalam posisi rebahannya. “Sepertinya kasusmulah yang


menyebabkannya.”


“Kasusku?”


”Akan kuceritakan padamu beberapa fakta yang sudah


didapatkan kepolisian soal kasusmu. Itu pun kalau kau mau menunggu satu dua jam


lagi.”


Lassy mendecih lirih. Dia tahu apa yang akan dilakukan


Bryan. Dengan posisi itu, Bryan pasti akan mengambil sesi tidur siang yang


seharusnya tidak dimiliki seorang detektif.


“Aku akan tidur sejam. Kalau tak ada sesuatu yang penting,


jangan bangunkan aku!”


Bukankah


tadi Bryan yang menawarkan istirahat padanya, kenapa sekarang dia yang akan


tidur? Lassy menggerutu dalam


hati.


Lassy membiarkan Bryan tidur sesuai yang diinginkannya.


Ketika suster datang membawakan makan siang yang terlambat, itu sudah satu setengah


jam Bryan tertidur. Brian tak terganggu ketika suster melakukan banyak


pergerakan dalam ruangan. Baru setelah Lassy dan suster berbicang sambil makan,


Bryan mulai terusik tidurnya, lalu bangun.


“Sebelum aku tidur, kau masih bisa menggerakkan tanganmu,


kenapa sekarang harus disuapi?” Bryan menanggalkan jasnya, kemudian menggulung


kedua lengan kemejanya sebatas siku. “Apa itu semacam pelayanan khusus?”


lanjutnya sambil menarik keluar dasinya yang sudah longgar.


Suster tersenyum menanggapi pertanyaan Bryan. Suara yang


Bryan keluarkan semacam ejekan untuk Lassy, tapi terdengar seperti suara orang


yang sedang iri di telinga suster.


“Memang masih bisa menggerakkan tangan, tapi bahu kanan Nona


Liem terluka dan dokter menyarankan untuk meminimalkan pergerakannya, Pak.”


Bryan tak ambil pusing kalau memang itu benar. Dia


mengabaikan suster dan Lassy yang sedang makan siang dengan memilih masuk kamar


mandi.


“Saya pikir suami Anda iri pada pelayanan rumah sakit yang


Anda terima,” katanya pada Lassy.


Lassy mengerutkan dahi. Apa mereka terlihat seperti suami


istri? Tidak habis pikir, tapi Lassy mencoba maklum. Kadang-kadang orang bisa


salah tebak, apalagi dengan sikap Bryan barusan.


“Dia bukan suamiku.”


“Benarkah? Tapi dia tampan.”


Bryan tidak tampan, dia dekil dan sedikit bau. Dari dekat


pun Lassy bisa lihat ada bekas jahitan di atas mata lelaki itu. Membelah alis


sampai pelipis. Itu mengurangi nilai ketampanan seorang pria. Belum lagi


sikapnya yang tidak sopan. Lelaki seperti itu bukan tipenya.


“Kalau dia tampan bukan berarti dia suamiku.” Dia serius,


tapi entah kenapa suster tertawa.


“Perhatian sekali sampai meninggalkan pekerjaan untuk


menunggui Anda di sini. Sebuah hubungan pasti melewati pasang surut.


Kadang-kadang memang begitu, tapi dengan saling mengerti, semua masalah akan


mudah dilewati.”


Lassy sebal sampai merajuk pada suster. Suster segera mengemasi


piring, memberi air dan obat untuk diminum Lassy sebelum dia pergi.


Saat itulah Bryan keluar dari kamar mandi.


“Saya akan kembali dua jam lagi sesuai permintaan Anda


tadi.”


Lassy mendecih. Itu permintaannya sebelum dia dioperasi. Dia


merasa badannya sangat lengket, dia butuh mandi atau pembersihan ala orang


sakit, tapi sekarang waktunya sedang tidak tepat. Ada Bryan yang akan berada di


ruangan ini sepanjang hari. Dia tidak mau dibersihkan di hadapan detektif itu.


“Saya harap Anda masih di sini dua jam kedepan, Pak!” pinta


suster itu pada Bryan. Lassy langsung melotot padanya. Tapi pelototan itu hanya


dibalas dengan senyum ramah dari suster


Bryan tidak tahu apa yang diminta suster, tapi dia menjawab,


“Aku akan di sini sampai tengah malam.” Sesuai dengan tugas yang sudah


diberikan Kapten Bay padanya.


“Baguslah, saya butuh bantuan Anda nanti.”


Lassy melotot lagi pada suster itu.


Suster mengira Lassy memang sedang ada masalah dengan Bryan,


makanya tidak mau mengakui kalau dia ada hubungan dengan Bryan. Lassy tidak mau


Bryan ada di sini karena masalah itu. Tetapi demi kebaikan Lassy, Bryan patut


ada di sini menurut suster. Untuk itu suster mengabaikan pelototan Lassy. Dia keluar


dari ruang rawat lebih cepat untuk menghindari pasangan yang menurutnya sedang


bertengkar itu.