
ruangan semakin memanas dan hanya ada kesunyian di dalam nya,tatapan mata kedua nya pun semakin tajam.
''habis lah ini,berakhir sudah..ini sudah berakhir, emosi tuan pasti akan meledak seperti bom sebentar lagi''batin asisten pribadi eiden yang sedikit gemetar karena tiba tiba kepala nya memutar memori yang menegang kan di mana itu saat eiden yang sedang marah besar sampai sampai ingin menghancur kan perusahaan nya sendiri.
...•••••...
rafael yang mengerti akan keadaan pun segera menghentikan ke dua nya dengan mengguna kan suara imut nya ''ahh sudah lah paman Eiden jangan dengar kan apa kata mami ku yang barusan ya,dia hanya bercanda saja kok lagian aku dan mami dengan senang hati menerima Hadian pemberian mu jadi jangan di anggap serius ucapan mami ya''ucap Rafael yang menyela di tengah tengah mereka.
''ohh''ucap eiden dengan tatapan dingin nya sambil melirik ke arah Rafael. ''jadi begitu ya''lanjut nya lagi tapi dengan suasana hati yang berbeda yang tadi nya menatap Rafael dengan dingin kini berubah menjadi tatapan lembut sambil mengelus pucuk rambut Rafael.
''ehh?cepat sekali berubah nya,aku pikir dia akan marah besar pada ku,ihhh ini jauh lebih dari kata menakut kan''batin Rachel merinding.
''tentu saja aku hanya bercanda,karena tuan sudah berbaik hati memberikan aku semua hadiah ini jadi anda tidak akan marah hanya karena sedikit candaan dari ku bukan''ucap Rachel dengan terpaksa nya.
''ya aku suka candaan mu''balas eiden dengan malas. ''emm maaf tapi ini sudah hampir waktu nya makan malam mari kita berangkat''ajak asisten pribadi eiden yang menyela.
''tidak perlu buru-buru''jawab eiden dengan santai sambil menduduk kan diri nya di sofa rumah Rachel. semua orang yang berada di ruangan itu pun bingung akan tingkah laku dari eiden.
''huh?ada apa dengan diri nya?kenapa dia duduk,apa dia tidak mau pergi dari sini?''batin Rachel bertanya tanya pada diri nya sendiri.
''huh aku tidak pernah menyangka bahwa iblis ini punya cukup harga diri yang sangat besar,ahh aku tidak bisa menahan nya lagi''batin Rachel yang sedang berusaha menahan amarah nya.
''baik lah kalau tuan eiden memaksa aku akan ganti dulu,anda tunggu di sini dan santai saja''ucap Rachel kemudian pergi dari ruang tamu dengan perasaan kesal.
''huh?ganti baju?apakah harus''batin Rachel yang menggerutu sambil berjalan. ''baik lah aku akan mengganti baju dengan baju terbaik ke yang pernah ada''lanjut Rachel yang masih berbatin.
''em rafael boleh kah aku menanyakan sesuatu?''kata eiden dengan hati-hati. ''hah?ayah ya?dia sudah lama meninggal dunia''jawab Rafael dengan nada yang sedikit sedih.
''meninggal dunia?''batin eiden ke bingungan.tiba tiba suara high heels terdengar di telinga mereka bertiga.
Tak..tak..tak..
semua pun menoleh ke arah suara dan tampak lah Rachel yang sedang berjalan menghampiri mereka mengenakan baju hitam polos dan sepatu merah terang nya dan tak lupa kaca mata bulat nya dengan rambut yang terurai serta senyum bodoh nya.
^^^Tbc.^^^