
Selama perjalanan pulang Gebie hanya diam sambil memandang ke luar jendela, ia sibuk dengan pikirannya saat ini.
Dia tidak tega terus-menerus membohongi Daniel, bagaimanapun cepat atau lambat semua akan terbongkar.
"Kau melamunkan apa sayang? Hm?" seketika Gebie tersadar dari lamunannya dan mendapati Daniel yang sesekali menoleh kearahnya.
"Aku... " jawaban Gebie menggantung dan itu membuat Daniel tambah penasaran.
"Ada apa? Jika ada masalah kau ceritakan lah padaku, siapa tahu aku bisa membantumu mengatasinya!"
Dengan apa kau akan mengatasinya jika kau tau yang sebenarnya tentang diriku Daniel!
Gebie terdiam sambil menatap sendu Daniel.
"Hei sayang Kenapa kau diam? Tidak mau menceritakannya padaku?" tanya Daniel saat ia tidak mendapat respond dari Gebie.
Aku bingung mau bagaimana mengatakannya padamu Daniel!
Gebie mencari alasan untuk jawaban yang tepat pada Daniel agar lelaki itu tidak curiga padanya.
"Aku merasa tidak enak badan saja sayang!"
"Apa? Kita kedokter sekarang ya?" tanya Daniel dengan khawatir.
"Jangan berlebihan! Aku hanya tidak enak badan bukan sakit parah" elak Gebie karena dia takut Daniel akan tahu tentang kehamilannya disaat yang tidak tepat.
"Justru sebelum parah aku akan membawamu kedokter, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan"
"Kau tau kan dirimu hanya sendirian dirumah, ya walaupun masih ada pelayamu disana! Tapi mereka pasti enggan mendekatimu" sambung Daniel menjelaskan.
Gebie menghela nafas pelan "Aku tidak apa-apa sayang, percayalah! Setelah dirumah aku akan segera minum obat... Tidak perlu kerumah sakit"
"Hm... Baik lah sayang! Tapi jika ada apa-apa kau harus segera hubungi aku ya" ucap Daniel mengusap pelan kepala Gebie.
Gebie tersenyum manis, merasa senang karena Daniel pengertian padanya.
"Terima kasih kau selalu mengerti diriku sayang!"
"Sama-sama sayang... Selama kau nyaman denganku itu tidak masalah"
Setelah mengantar Gebie pulang, Daniel segera melaju mobilnya untuk pulang ke apartmentnya.
🌹🌹🌹
Di apartment Daniel yang sangat luas, Vanno duduk dibalkon kamar sambil bermain Game di ponselnya.
"Cih. Berani sekali dia melawanku!!" geramnya.
Vanno tidak menyadari bahwa Daniel sudah berdiri dibelakangnya dengan bersedekap didada terus memperhatikan dia.
"Siapa yang kau maksud?" ucap Daniel dingin.
Dia mendekati adiknya, lalu duduk disebelah Vanno.
"Eh kakak... Kapan kakak pulang?" tanya Vanno mengalihkan pembicaraan kakaknya.
"Dari tadi sebelum kau mengumpat tidak jelas" ketus Daniel.
"Ayolah kak... Aku hanya bercanda saja pada game ini" Vanno menyengir kuda menampakkan ginsul putihnya.
"Terserah kau saja!"
"Em kak..." panggil Vanno agak sedikit ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Apa?"
"Besok kakak ulang tahun kan? Apa kakak akan merayakan seperti sebelumnya pada kak Gebie?" tanya Vanno pada akhirnya setelah tadi ragu-ragu.
"Tentu saja... Memang nya ada apa? Tumben kau bertanya seperti itu?"
"Tidak ada... Aku hanya bertanya saja"
"Oh ya... Dimana kakak akan merayakannya?" sambung Vanno lagi.
Daniel berdecak kesal akan banyak sekali pertanyaan adiknya ini.
"Ck. Kau ini Kenapa cerewet sekali seperti mami?"
"Karena aku putra kesayangannya jadi tentu saja sama seperti mami! Kakak ada-ada saja" jawab Vanno sambil terkekeh geli.
Daniel memutar jengah bola matanya.
"Dasar kau ini" berlalu meninggalkan adiknya.
Vanno tertawa keras mengejek kakak tersayangnya itu.
🌹🌹🌹
Keesokan harinya, Daniel menyiapkan sarapan untuk adik tersayang dimeja makan. Sedangkan Vanno baru saja turun dari kamar menggunakan pakaian santainya, karena hari ini weekend jadi dia ingin bermalas-malasan saja diapartement.
Lagi pula kakaknya ingin pergi ke keluar bersama kekasihnya, entah kemana itu dia pun tidak tau.
"Selamat pagi kak...dan selamat ulang tahun untuk kakakku tersayang ini" sapa Vanno sekaligus memberi ucapan kepada kakaknya.
Daniel tersenyum seraya memeluk adiknya "Terima kasih adikku!" melepaskanmu pekukan dan mempersilahkan adiknya duduk menikmati sarapan.
"Apa kita tidak pulang kerumah utama sebentar kak?" tanya Vanno disela makannya.
"Nanti malam kita pulang sebentar... Mami bilang mereka menyiapkan acara makan malam keluarga dirumah, bersama rekan bisnis Papi"
"Kakak mau keluar siang ini bersama kekasih Hati hehe" sepertinya Vanno sengaja menekan kata Kekasih hati pada Vanno supaya adiknya itu iri.
"Cih. Aku tidak peduli itu!"
"Benarkah? Lalu bagaimana dengan anak teman Papi yang kau bilang cantik waktu itu? Apa kau tidak peduli jika dia juga datang malam ini?" goda Daniel pada adiknya.
"Ck. Kenapa kakak malah menggodaku?" Vanno mulai terlihat kesal pada kakaknya.
"Siapa yang menggodamu? Kau saja yang berlebihan"
"Sudahlah... Aku kenyang! Gara-gara kakak nafsu makanku hilang" gerutu Vanno, sementara Daniel tertawa senang karena berhasil membalas adiknya.
Daniel dengan cepat menghabiskan sarapannya dan segera naik kekamar untuk mandi, karena dia sudah ditunggu sang kekasih untuk dijemput.
🌹🌹🌹
Sementara dirumah Gebie, wanita itu baru saja selesai merias diri dan tinggal menunggu Daniel menjemputnya.
"Kenapa dia lama sekali? Aduh... Aku Kenapa jadi gugup begini rasanya?" dari tadi ia merasakan gugup dan gelisah, entah karena apa itu dia haha berharap Semoga baik-baik saja.
Dan tidak lama setelahnya, ponsel Gebie berdering.
Kringggg...
Gebie mengira itu Daniel, dia langsung mengangkat tanpa melihat siapa yang menelpon.
Tut...
"Hallo... Kau dimana sayang? kenapa lama sekali?" tanya Gebie tidak memberi jeda mendengar suara sang penelpon.
"Kenapa sayang? Kau merindukanmu lagi?"
Gebie merasa familiar dengan suara ini langsung menjauhkan ponsel dari telingannya dan melihat siapa yang menelpon.
Mati aku... Kenapa tadi tidak melihat dulu siapa yang menghubungiku!
"Kau... Kenapa kau menelponku?"
"Sayangku... Aku hanya ingin mengingatkan jika nanti malam kita dinner bersama malam ini!"
"Ck. Iya aku tau... Sudah jangan menghubungiku dulu siang ini aku sibuk!" ketus Gebie.
"Baiklah sayangku... Sampai jumpa nanti malam! Aku akan menjeputmu"
"Hm... "
Gebie cepat-cepat mematikan panggilan dan berlari keluar rumah karena mendengar suara klakson mobil.
Dan ternyata Daniel baru saja datang.
"Sudah lama menungguku sayang?" tanya Gebie lembut saat sudah berdiri di samping mobil Daniel.
"Baru saja sayang"
"Ayo masuk... Kita kesuatu tempat!"
Gebie tersenyum senang segera masuk kedalam mobil dan tidak menunggu lama Daniel melaju mobilnya.
"Kau mau membawaku kemana sayang?"
"Kita akan ke Mall dan setelah itu lunch" jawab Daniel sambil fokus menyetir.
Gebie mengerutkan keningnya "Buat apa kita pergi ke Mall?"
Daniel menoleh ke samping "Mau apalagi selain mengajakmu shoping! Kau tidak ingin membeli sesuatu disana?"
"Aku tidak mau membeli apa-apa sayang. Yang kau belikan kemarin belum terpakai semua! Itu pemborosan"
Daniel sudah tau akan jawaban Gebie, akhirnya dia memutuskan untuk membeli sesuatu diam-diam untuk sang kekasih hati.
"Baiklah sayang"
🌹🌹🌹
Mobil yang dikendarai Daniel telah sampai diarea parkir Mall dan mereka keluar dari mobil.
Daniel menyaut tangan Gebie dan menggenggamnya erat membawa masuk kedalam Mall.
Kini arah dan tujuan Daniel tertuju pada Toko Perhiasan langganan Maminya. Dia menarik pelan Gebie hingga wanita itu kebingungan kanapa Daniel membawanya ketempat itu.
"Kenapa kita kesini sayang?" tanyanya saat sudah di dalam Toko Perhiasan.
"Aku mau mengambil pesanan Mami" ucap Daniel terpaksa berbohong.
Sedang Gebie, wanita itu hanya ber oh ria saja.
"Selamat pagi tuan" sapa pelayan toko dengan ramah dan menunduk hormat.
"Selamat siang!" Daniel menuntun Gebie untuk duduk di salah satu sofa disana.
"Apa yang bisa kami bantu tuan"
"Aku ingin mengambil pesanan minggu lalu!" ucap Daniel pada pelayan itu dan salah satu dari mereka menjawab.
"Oh iya tuan... Maaf tunggu sebentar saya akan mengambilkan pesanan anda dulu"
Pelayan itu masuk dan mengambil apa yang sudah dipesan Daniel.