
Steven yang melihat Gebie memegang kepalanya pun mendapat kesempatan untuk membuktikannya pada Daniel.
"Sayang, Ingat kandunganmu! Kasihan anak kita melihat ibunya menangis" seru Steven sambil mengelus perut Gebie yang sedikit kelihatan buncit.
Semua orang disana terkejut mendengar ucapan Steven, ada yang berbisik-bisik buruk tentang Daniel ada juga yang berbisik tentang Gebie.
Seketika Daniel emosi dan dia ingin sekali mengamuk dihadapan semua tamu yang ada disana, tapi ia menahannya agar tak membuat onar.
"Maafkan aku! Maafkan aku Daniel! Sungguh aku minta maaf"
Hanya itulah kata-kata yang diucapkan Gebie untuk Daniel, sebelum kemudian dia pergi meninggalkan pesta yang kini jadi kacau.
Steven mendekati Daniel dan tersenyum penuh kemenangan.
"Pada akhirnya, cinta akan kembali kepada pemilik yang seharusnya. Dan selamat ulang tahun untukmu! Semoga kau bisa melupakannya" ucap Steven sambil memberikan sebuah paper bag kepada Daniel dan pergi meninggalkan tempat itu.
Daniel tak kuasa menahan sakit dihatinya, selama ini dia mencintai wanita yang munafik. Dan lebih menyakitkan lagi wanita itu mengandung anak dari Pria lain, wanita yang selama ini dia jaga kini dimiliki orang lain.
Mami menghampiri Daniel dengan wajah penuh air mata, merasa iba kepada putranya.
"Maafkan mami nak, karena tidak memperhatikan dirimu. Sehingga kau salah memilih kekasih!"
Daniel memeluk Maminya "Mami tidak perlu minta maaf, ini salah Daniel. Seharusnya Daniel bisa membedakan mana yang baik mana yang tidak. Maafkan Daniel mam!"
Setelah menumpahkan air matanya dipelukan sang mami, Daniel bangkit lalu merogoh kunci mobil didalam saku celananya dan berlari keluar rumah menuju mobilnya.
Orang-orang disana panik dan berkali-kali meneriaki namanya tapi tidak ia hiraukan. Mami dan Papinya pun tidak kalah panik melihat anaknya yang pergi entah kemana.
"Daniel putraku!! Kembali nak, kau mau kemana?!!" teriak Mami Dania.
Daniel tidak peduli, rasa amarah sedih dan sakit bercampur menjadi satu. Hingga membuatnya gelap mata dan melajukan mobilnya sekencang-kencang mungkin, melewati orang yang berlalu lalang.
Semakin melaju dan melaju sampai ia tidak lihat tanda jalan, dan tidak sengaja berlawanan arah dengan bus umum. Daniel yang sudah sadar akan bahayanya langsung membanting stir mobil, hingga mobilnya menabrak pohon besar ditepi jalan yang menyebabkan dia kecelakaan parah.
Seketika Mami Dania merasakan firasat buruk, dia teringat akan Daniel yang pergi entah kemana. Apalagi dalam keadaan terpuruk seperti itu, hal buruk tidak boleh terjadi pada anaknya.
"Papi segera hubungi Daniel pi, mami takut terjadi sesuatu padanya!" desak Mami Dania pada suaminya.
"Iya mi, papi akan menghubunginya sekarang! Mami tenang ya" Papi Rangga pun menghubungi nomor Daniel, tapi tidak diangkat.
"Bagaimana? Apa dia mengangkatnya?" Kini Daddy Ken menimpali.
"Ponselnya tidak diangkat, ada dimana anak itu sekarang?" Papi Rangga begitu frustasi dia pun mengsulkan untuk menyusul anaknya.
"Lebih baik papi susul saja dia sekarang! Vanno kamu jaga mamimu jangan pergi kemana-mana!" titah Papi Rangga. Namun, saat akan hendak keluar rumah, ponselnya berdering.
Tertera nama Daniel yang menghubunginya, tidak menunggu lama dia langsung mengangkatnya.
Tutt...
"Hallo, apa ini dengan keluarga pemilik ponsel ini?"
Deg... Bukan putranya yang berbicara, tapi orang lain. Lalu dimana putranya?
"Iya ini dengan keluarganya, dimana pemilik ponsel ini?"
"Maafkan kelancangan saya tuan, pemilik ponsel ini ditemukan kecelakaan lalu lintas dan dia sedang ditangani pihak rumah sakit!"
"Apa?? Rumah sakit mana? Cepat katakan!"
"Rumah sakit kota"
"Baik, kalau begitu terima kasih. Kami akan segera kesana!" ucap Papi Rangga kemudian memutuskan sambungan telepon.
Dia kembali mendekati anak istrinya dan juga keluarga Daddy Ken, yang kini tengah menatap penuh tanya padanya karena semua tamu sudah dipulangkan tadi.
"Apa yang terjadi pada anak kita papi? Dan siapa yang dirumah sakit?" tanya Mami Dania saat melihat sang suami menghampirinya.
"Daniel kecelakaan dan sekarang dia ditangani pihak rumah sakit!" jawab Papi Rangga.
Tangis Mami Dania semakin pecah "Ayo kita kesana sekarang!"
Mami Dania beranjak berdiri dan segera menghambur keluar rumah, diikuti Papi Rangga dan yang lainnya dibelakang.
Mereka masuk ke mobil keluarga masing-masing dan melajukan mobil menuju rumah sakit.
🌹🌹🌹
Berbagai alat pernapasan di tempelkan pada tubuhnya, hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan Daniel saat ini.
Keluarga Mahesa dan keluarga Bantara sudah sampai dilokasi dimana Daniel sedang ditangani.
Papi Rangga menanyakan pada orang yang menolong putranya tadi, bagaimana keadaan Daniel saat ini.
"Bagaimana keadaan anak saya pak?"
"Anak tuan sedang diruang operasi, keadaannya sangat memprihatinkan tuan"
Kecelakaan itu membuatnya banyak kehilangan darah!" sambung orang itu.
Mami Dania yang mendengarnya pun semakin menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Mommy Stella.
"Ya Tuhan! Selamatkan putra sulungku" ucap Mami Dania.
Tidak berselang lama pintu ruang operasi terbuka dan salah satu dokter keluar menghampiri mereka dengan wajah sulit diartikan.
Papi Rangga menghampiri dokter itu "Bagaimana keadaan anak saya dok?"
Dokter masih diam, seperti tengah menyusun kata-kata yang tepat.
"Dokter ayo jawab!! Anak saya baik-baik saja kan?" tanya Papi Rangga lagi.
Dokter itu menghembuskan nafas pelan, sebelum kemudian dia menjawab.
"Mohon tuan dan nyonya bersabar hati! Maafkan, kami sudah berusaha sebaik mungkin. Tapi tuhan sepertinya terlalu menyayangi anak tuan!"
"Maafkan kami tuan" sebelum kemudian pergi meninggalkan mereka.
Semua orang disana meneteskan air mata, tidak terkecuali Mami dan Papi Daniel.
"Papi, anak kita! Anak kita selamat kan? Mami harus melihatnya sendiri! Iya harus"
ucap Mami Dania sambil beranjak berdiri.
Mami Dania menerobos pintu ruang operasi dan seketika ia berteriak histeris melihat kondisi putranya yang sudah pucat pasi dan sudah ditutupi separuh tubuhnya dengan kain putih.
"Tidak!! Ini tidak mungkin!" Suara Mami Dania yang berteriak membuat orang diluar ruangan itu menerobos masuk.
"Mami!!" teriak Papi Rangga dan juga Vanno secara bersamaan.
Mereka menghampiri Mami Dania yang sudah bersimpuh di bawah kaki ranjang bansal.
"Astaga nyonya!" ucap Mommy Stella berlutut memeluk Mami Dania.
"Daniel anakku hiks... hikss... Di... Dia masih hidup, benarkan nyonya Stella?"
"I.. Iya... Di... Dia masih hidup, nyonya tenang kan dirimu!"
Tidak lama setelahnya, Mami Dania tidak sadarkan diri. Membuat semua orang semakin panik dan kasihan padanya.
Segera perawat yang ada disana membawa Mami Dania ke ruang ICU untuk dirawat.
Dan mayat Daniel pun sudah di bawa kerumah duka untuk di makamkan.
🌹🌹🌹
Setelah hari kematian Daniel saat itu, semua orang dikeluarga Mahesa merasa hampa. Tidak ada lagi tuan muda pertama mereka dirumah itu, meskipun Daniel jarang kembali kerumah itu.
Tapi karena keramahan dan sifat humoris yang dimiliki Daniel, membuat orang-orang disana merasakan kehangatan rumah itu.
Itulah kejadian dimana Daniel Putra Mahesa meninggalkan dunia dalam keadaan hati yang tergores. Dimana juga hari itu tepat dihari ulang tahunnya yang ke 23 tahun dan juga hari kehidupan terakhirnya didunia.
Mungkin benar kata dokter itu, tuhan terlalu sayang pada Daniel sehingga dia diambil begitu saja. Sebelum dia menemukan pengobat luka dihatinya.
Dan karena itu jugalah Vanno menjadi Pria yang pendiam dan dingin apalagi kepada wanita. Dia sangat membenci wanita, berharap tidak terlibat pada cinta buta seperti sang mendiang kakak.
Namun, takdir sudah digariskan untuk Vanno dan itu pasti akan terjadi padanya lewat cara lain.
Â
*Trauma pada Asmara hanya akan membuat hidup semakin gelap, sebab tidak mengizinkan siapapun yang mengganti dengan warna kebahagiaan. Hanya ada ketakutan dan luka*. ~~~
Â