
Ricko berdiri mendekati Queen, lalu mengapit kepala adiknya dengan sebelah tangan.
"Kakak... Maafkan aku!! Aku hanya bercanda, percayalah!". Queen berusaha menjauhkan dirinya dari amukan Ricko.
Semua yang ada disana tertawa melihat tingkah kakak beradik itu, terutama untuk Jasmine yang mengira mereka baik-baik saja bisa bertingkah seperti anak kecil yang berebut mainan.
"Untuk apa kau melakukannya?". Tanya Ricko disela amarahnya kepada sang adik.
Sebetulnya dia tidak marah besar, hanya kesal dengan candaan adiknya. Ricko menyayangi adiknya lebih dari dirinya sendiri, mana mungkin dia setega itu.
"Sayang! Sudahlah, lepaskan adikmu!". Ucap Mommy Stella menegahi.
"Tidak akan aku lepaskan, sebelum bocah ini menjelaskannya padaku, Mom!". Seru Ricko.
Mommy melirik Jasmine dan Jessie, lalu beralih kepada suaminya.
Cepat bantu putrimu!
Lewat tatapan matanya, Mommy Stella menitahkan agar suaminya menghentikan kedua anak mereka.
Dia juga putramu!
Balas Daddy Ken dengan cara yang sama, dia lupa jika ratu telah memberi perintah tidak akan ada kata TIDAK diantara mereka.
Mommy Stella yang merasa kesal, lalu mendekati suaminya dan mencubit pinggang Daddy Ken.
"Sudah kukatakan, bukan? Kau harus membantu putrimu. jika tidak, aku tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya!". Sarkas Mommy Stella.
Daddy Ken meringis menahan sakit, lalu mengiyakan perintah istrinya.
"Ricko, Queen!! Hentikan, apa kalian tidak malu pada dua gadis ini?". Daddy Ken menunjuk ke arah Jasmine dan Jessie yang tengah menyaksikan tingkah dua anaknya.
Mendengar ucapan Daddy Ken seketika Ricko menghentikan aksinya, dia lupa jika ada orang lain selain keluarganya disini.
Oh ****. Hancur sudah reputasiku didepan dia!.
Ricko berkali-kali merutuki dirinya karena tidak bisa menahan rasa kesalnya pada Queen.
Jasmine dan Jessie tersenyum simpul karena melihat secara langsung sisi lain dari Ricko dan Queen.
"Maaf! Aku hanya merasa kesal pada adikku, tidak berniat membuat kalian melihat sisi lain kami!". Ucap Ricko pelan dengan malu.
Mereka tertawa bersama, hingga Ricko pun ikut tertular tawa itu. Jasmine dan Jessie merasakan kehangatan saat berkumpul bersama keluarga Baranta.
"Apa yang kau katakan pada kakakmu, hingga dia tergesa -gesa datang kemari, Queen?". Tanya Mommy Stella, karena yang dia tau putranya itu paling tidak suka jika diganggu saat bekerja.
"Queen hanya berkata jika Mommy memerlukan bantuan kakak disini, karena Daddy tidak bisa!". Queen mengatakan dengan wajah tidak berdosa, lagi pula apa yang salah dengan kata-katanya.
Mommy Stella dan Daddy saling lempar pandang, tidak mengerti maksud dari perkataan putrinya itu.
"Bukankah Daddymu ada disini? Memangnya Mommy butuh bantuan apa?". Tanya Mommy Stella.
"Dia berbohong pada Ricko, Mom! Sebenarnya ada maksud terselubung dibaliknya!". Sahut Ricko sebelum Queen menjawab.
"Bukankah kakak senang, jika aku melakukan ini semua?". Queen menyela untuk membela diri.
"Apa maksudmu?". Ricko balik bertanya.
"Aishh... Kakak pura-pura tidak tau atau apa?". Queen mengarahkan ekor matanya kearah Jasmine dan Ricko mengikuti arah lirikan Queen.
Deg... Mata Ricko beradu pandang dengan tatapan teduh Jasmine. Jadi inilah yang dimaksud oleh Queen ditelpon tadi, supaya Ricko mengobati rasa rindunya disini.
Kekasihku!
Tanpa sadar satu kata itu terucap dihati Ricko, begitu pula dengan Jasmine dia tanpa sadar memuji Ricko.
Tampan!
Wajah Jasmine merona mendengar usulan Queen, dia merasa de javu. Mereka sama-sama membutuhkan waktu berdua, jadi wajar jika menginginkan untuk berkencan.
Ricko menyetujui usulan adiknya dan segera mengatur waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya pada Jasmine. Sedangkan Jasmine hanya bisa pasrah keadaan, dia tidak mau menolaknya karena inilah saatnya memperjelas status hubungan diantara mereka.
Setelah cukup lama berbincang-bincang serta makan siang bersama diruangan Mommy Stella, Queen dan kedua sahabatnya berpamitan kepada Mommy dan Daddy untuk pulang kerumah.
Mereka sudah sangat lelah hari ini, jika dilanjutkan untuk berjalan-jalan lagi pasti mereka tidak akan sanggup kekampus besok.
Begitu pula dengan Ricko, dia juga ikut pulang. Tapi sebelum itu dia mengantar Jasmine dan Jessie terlebih dahulu kerumah mereka masing-masing.
Urusan kantor dia serahkan kepada Asistennya yang sudah dia percayakan selama beberapa tahun ini.
°°°°°
Malam hari, Queen beristirahat dikamarnya sambil membaca buku yang dia beli kemarin. Itulah kebiasaan Queen sebelum tidur, membaca dapat membuat matanya mengantuk tapi juga mendapatkan pengetahuan baru.
Dirasa sudah cukup lama dia membaca buku, akhirnya Queen menutup bukunya dan pergi ke kamar mandi membersihkan wajahnya.
Saat dia berada didalam sana, tiba-tiba terdengar sebuah notifikasi masuk dari ponselnya.
Queen keluar dengan wajah segar dan sudah berganti pakaian tidur, sebelumnya dia hanya menggunakan celana pendek dan tank top rumahan.
Sebelum dia merebahkan tubuhnya diatas Ranjang, Queen sempatkan mengecek ponselnya barangkali ada sebuah informasi dari teman-temannya, pikir Queen.
Dan benar saja dia menemukan satu pesan masuk tapi bukan dari teman-temannya, melainkan dari si Monster.
"Mau apa lagi dia?". Tanya Queen pada dirinya sendiri.
Queen meletakkan kembali ponselnya diatas nakas, tanpa berniat membuka isi pesannya.
"Lebih baik aku segera tidur!". Ucapnya sambil menarik selimut dan mulai memejamkan matanya.
Berkali-kali dia mencoba untuk tidur, namun tidak bisa dan malah membuatnya gelisah. Queen melirik kesamping tempat tidurnya dan mengambil kembali ponselnya.
"Dasar si Monster pengacau! Kau membuatku sulit untuk tidur hari ini!". Queen menggerutu dan segera membuka isi pesan itu, lalu matanya menatap serius apa yang dia baca.
~Vanno~
Besok temani aku pergi ke suatu tempat!
Begitu lah isi pesan yang dibaca Queen, dan ternyata dari Vanno.
"Ck. Mengapa harus aku? Apa-apaan ini!". Dengan kesal Queen melempar ponselnya disamping, lalu menarik selimut dan memejamkan mata.
Apalagi yang akan dilakukan lelaki itu kepada Queen, sehingga semaunya mengajak gadis itu pergi menemaninya yang entah kemana.
Entah karena kesal atau memang mengantuk, dia akhirnya terlelap dengan nyenyak menghilangkn segala banyak pertanyaan dan sanggahan di benaknya.
Sementara ditempat lain, lelaki itu menunggu balasan dari gadis yang beberapa hari ini mengganggu pikirannya. Berkali-kali dia mengecek benda pipih itu supaya mendapati notifikasi pesan masuk, namun nihil hasilnya.
Tidak ada tanda-tanda sebuah balasan, karena gadis yang dia tunggu telah melenyapkan dirinya dialam mimpi.
"Mengapa dia tidak membalas pesanku?". Tanya Vanno pada dirinya sendiri.
Vanno merasa gelisah, dia mulai berpikir jika gadis itu tidak tertarik padanya serperti dirinya yang sudah mulai tertarik pada gadis itu.
Tertarik? Sejak kapan dan bagaimana bisa?. Gumam Vanno dalam hati.
Tapi jika sudah seperti ini, bagaimana dia akan menghadapi tantangan itu kedepannya? Sedangkan tantangan itu lah yang akan menyulitkan hidup dirinya selanjutnya.
Alasan Vanno mengajak Queen untuk pergi menemaninya besok adalah untuk mencoba lebih dekat dan memulai tantangan yang diberikan Jimmy padanya.
"Sudah lah, besok aku akan menemuinya langsung di kampus. Dia pasti sudah tidur sekarang!"
Vanno menyimpan ponselnya diatas nakas dan merebahkan diri, tidak lama setelahnya dia tertidur.