
Jimmy tidak kehilangan akal, dia terus mendekati Jessie yang tidak menghiraukan dirinya.
"Boleh aku minta nomor ponselmu?". Tanyanya lagi.
"Tidak!". Ketus Jessie.
"Ayolah! Aku hanya ingin berteman denganmu!". Bujuk Jimmy dengan muka melasnya.
"Tapi aku tidak mau! Kau ini pemaksa sekali!". Jessie meninggikan suaranya membuat teman-temannya sontak menoleh kearah mereka.
"Ada apa Jessie?". Tanya Queen sedikit panik dan menghampiri mereka berdua.
Matilah aku! Gadis ini pasti bicara yang tidak-tidak pada temannya.
Jimmy tiba-tiba merasa bahaya akan mengancamnya, padahal niatnya hanya ingin meminta nomor ponsel Jessie untuk berteman. Tapi sikap ketus Jessie sepertinya membuat nyalinya hilang sekarang.
"Aku ingin kembali kerumah! Moodku tiba-tiba rusak gara-gara seseorang!". Jessie menarik tangan Queen dan juga Jasmine supaya mereka mengikuti dirinya.
Queen dan Jasmine menjadi bertanya-tanya, apa yang terjadi pada sahabatnya ini. Tapi takut untuk bertanya, karena mereka tau jika Jessie sudah mengeluarkan tanduknya dia pasti akan berbahaya.
"Tunggu dulu Jes! Aku ingin berpamitan kepada mereka!". Tunjuk Queen kepada ketiga lelaki yang berdiri menatap mereka.
"Tidak usah! Mereka bukan teman kita!". Jessie semakin mempercepat langkahnya, membuat Queen dan Jasmine kesulitan mengimbanginya.
Anak itu sangat menyeramkan jika sudah marah! Huhh... Aku pikir bisa dengan mudah mendekatinya, ternyata pikiranku salah.
Tapi aku cukup lega dia tidak mengatakan hal yang aneh-aneh pada mereka.
Jimmy berkata dalam hati, merasa bersyukur dirinya selamat dari ancaman. Lalu Jimmy menoleh kearah Vanno yang nampak suram dan kecewa, lagi-lagi gagal untuk mengajak Queen pergi bersamanya gara-gara Jimmy yang membuat Jessie marah.
"Maafkan aku Van!". Ucap Jimmy pelan sambil menunduk.
Vanno melirik Jimmy sebentar lalu memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana dan berkata.
"Lain kali lihat situasi jika ingin bertindak!". Sarkasnya yang dirasa salah paham terhadap Jimmy tadi.
"Akukan hanya ingin berteman dengannya Van! Tapi siapa tau respon gadis itu seperti itu!". Jimmy membayangkan reaksi Jessie saat dia mendekati gadis itu.
Benar-benar menguras mental dan kesabaran, jika ingin mendapatkannya!. Gumam Jimmy dalam hati.
"Sudahlah!"
"Van! Kau harus menghubungi gadis itu sendiri nantinya! Aku tidak mau kau gagal lagi!". Titah Nathan.
"Nanti aku pikirkan!". Jawab Vanno.
"Tinggal beberapa hari lagi kau akan menghadiri pesta Jino! Jangan sampai dia meremehkanmu nantinya!". Seru Nathan mengingatkan Vanno.
"Iya kau ini cerewet seperti wanita saja!"
"Ayo kita pulang!". Ajak Nathan.
Mereka bertiga berjalan keluar dari tempat penyendiri itu, dan memasuki mobil masing-masing.
°°°°°
"Apa yang terjadi padamu Jes?". Tanya Queen disela kesibukan mereka memilah gaun untuk Jasmine.
Sekarang mereka berada disebuah butik ternama dikota London, yang juga sekaligus make over terhandal disana.
Butik ini langganan keluarga Baranta, karena berbagai pakaian dan Fashion lainnya yang merupakan barang brand nomor satu dan tentu model dan bahan yang berkualitas.
Dengan harga yang fantastis membuat marga konglomerat mudah mendapatkannya dan sulit untuk kelas orang biasa.
Tentu saja itu semua karena pemilik Butique ini bukan sembarang orang, dia adalah desainer fashion nomor satu dikota London.
Jessie nampak kesal akan pertanyaan dilontarkan oleh Queen, namun bukan karena Queen tapi ia kesal mengingat Jimmy yang memaksa meminta nomor ponselnya dengan wajah tidak bisa ditegakan itu.
"Tidak apa-apa!". Jawabnya.
"Lalu kenapa kau kelihatan kesal tadi?". Tanya Queen lagi.
Jessie hanya membuang nafas pelan.
"Apa wajahku kelihatan kesal?". Tanyanya.
"Tentu saja! Dengan sifat dan gayamu saja semua orang sudah tau kalau kau sedang marah!"
"Baiklah! Aku kesal karena teman si Nathan memaksa meminta nomor ponseku!". Ucap Jessie pelan diakhir kalimatnya sambil menunduk.
Mungkin Jessie berpikir jika Queen akan menertawakannya, setelah mengetahui hal yang sebenarnya terjadi.
Tapi pikiran Jessie salah, Queen malah menasehatinya.
"Hanya itu saja? Dia tidak berbuat macam-macam padamu bukan?". Tanya Queen.
Jessie menegadahkan kepalanya menatap Queen.
"Apa maksudmu? Tentu saja tidak! Jika dia berani macam-macam padaku, aku akan melemparnya kesungai Amazon!"
"Jes! Aku mengerti kau tidak ingin terlibat dengan lelaki seperti Jimmy! Tapi percayalah, tidak semua laki-laki nakal akan selalu nakal kan?"
"Sama seperti dia yang kita kenal nakal dan suka menggoda wakita! Tapi lelaki seperti itu akan berubah setelah menemukan cinta sejatinya! Jadi kau jangan terlalu angkuh pada lelaki Jes! Perlihatkan bahwa kau adalah gadis baik yang lemah lembut!". Jelas Queen.
Jessie mencerna ucapan Queen dengan seksama, sebelum kemudian dia bertanya.
"Apa yang harus aku lakukan jika bertemu orang seperti itu Queen?"
"Kau cukup menerima pertemanannya selagi dia mempunyai niat baik. Atau jika kau tidak mau, kau bisa menolaknya! Tentu saja kau harus mengucapkan kata-kata halus supaya tidak menyinggungnya!". Queen mengusap lembut lengan tangan Jessie untuk pengertian gadis itu.
"Terima kasih kau selalu mengerti diriku Queen!". Jessie memeluk pinggang Queen.
Ditengah haru mereka berdua, tiba-tiba Jasmine datang.
"Hei! Apa yang kalian lakukan?". Tanyanya.
Queen dan Jessie saling melepas pelukan mereka, lalu mendekat kearah Jasmine.
"Waw! Kau sangat cantik Jasmine!". Puji Jessie yang melihat penampilan Jasmine dengan heboh.
"Iya kau sangat cocok menggunakan gaun ini!". Timpal Queen dengan takjub sambil memutar tubuh Jasmine.
"Sudah! Kalian membuatku malu saja!". Ucap Jasmine yang malu dengan tingkah laku kedua sahabatnya itu.
"Kau pilih yang ini saja". Titah Queen.
Jasmine memperhatikan tampilannya dari atas sampai bawah didepan cerimin besar, dia pun membenarkan jika dia cocok dengan gaun yang dia pakai itu.
"Baiklah, aku pilih ini saja! Kalian tunggu disini, aku akan bayar dulu!". Ucap Jasmine, lalu berjalan menuju kasir.
°°°°°
Setelah kembali dari mencari Gaun untuk Jasmine, Queen langsung kembali kerumah dan masuk ke kamarnya untuk beristirahat sebentar sebelum gadis itu makan siang.
Rebahan yang nyaman membuat Queen tertidur dengan nyenyak, tanpa mengganti pakaian yang melekat ditubuhnya terdahulu.
Ricko baru saja kembali dari kantor hendak melintasi kamar adiknya. Namun sebelum dia lewat, ia melihat sang adik tidur dengan posisi telentang dan kaki yang menjuntai dilantai, serta pakaian yang belum diganti.
"Dasar anak ini! Kebiasaan yang tidak dirubah!". Ricko menggeleng-geleng kepalanya melihat Queen.
Dia masuk kedalam kamar Queen, dan membenarkan posisi tidur adiknya. Tidak lupa melepas Jacket tebal yang dipakai Queen dan Sepatu Butsnya.
Lalu berlalu pergi kekamarnya untuk membersihkan diri, setelah itu turun kebawah makan siang.
"Paman!". Panggil Ricko saat melihat Paman Thomas yang baru saja keluar dari Gazebo.
Paman Thomas menoleh kearah Ricko dan berjalan menghampiri nya dengan menunduk hormat.
"Tuan muda sudah kembali?". Tanya Paman Thomas.
"Iya paman! Hari ini Papi dan Mami kembali, jadi Ricko akan menjmputnya sore nanti!". Jawab Ricko yang mengerti arah pertanyaan Paman Thomas.
"Apa perlu saya siapkan sesuatu untuk Tuan besar dan Nyonya besar, tuan muda?"
"Siapkan makan malam spesial untuk Papi dan Mami saja Paman!". Titah Ricko.
"Baiklah tuan muda! Saya akan menyiapkan segera! Kalau begitu saya pamit kerumah belakang untuk memanggil para pelayan yang lain". Ucap Paman Thomas menunduk dan hendak berlalu pergi. Namun beberapa langkah Ricko memanggilnya lagi.
"Ada lagi tuan?". Tanyanya.
"Tolong paman sebentar lagi suruh satu pelayan untuk membangunkan Queen! Dia tertidur dikamarnya dan belum makan siang!". Titah Ricko lagi.
"Baik Tuan muda!". Paman Thomas pergi kerumah belakang dan mengatakan kepada para pelayan serta koki khusus untuk segera menyiapkan makan malam untuk Tuan besar dan Nyonya besar mereka.