Love Storm

Love Storm
Permulaan dimulai



Queen menepuk jidatnya pelan "Em Queen sampai lupa menyapa Mommy.. Astaga... Dimana Mommy Dad...?"


Daddy sudah tau putrinya ini memang sedikit pelupa, jadi sengaja tadi belum mengingatkan.


"Ada dikamar istirahat... katanya kurang enak badan"


Queen pun berlari kecil menuju kamar orang tuanya. Saat dia membuka pintu kamar, dia langsung berhambur masuk kedalam karena melihat Mommynya tengah tidur diatas ranjang king size.


"Mom... Mommy... " panggil Queen terdengar lirih sambil menyentuh pelan tangan Mommynya.


Seketika itu pula Mommy terbangun dari tidurnya, dapat ia lihat wajah panik anaknya.


"Ada apa sayang...?"


"Mommy sakit ya...?" tanya Queen.


Tangan Mommy menjangkau wajah cantik putrinya "Mommy hanya kurang enak badan saja.... Jangan khawatir"


Queen memegang tangan Mommy yang sedang mengelus lembut pipinya "Mommy sudah minum obat?"


Mommy mengangguk pelan tanda ia sudah minum obat.


"Kalau begitu Mommy lanjut istirahat lagi... Queen mau memasak untuk makan malam dulu ya... " meletakkan tangan Mommy kembali dan menyelimuti Mommynya.


Queen mengecup kening Mommy "Cepat sembuh ya Mom"


"Iya sayang" Mommy tersenyum dan kembali tidur.


Queen langsung keluar kamar menuju dapur untuk memasak sesuai perintah kakaknya yang cerewet itu.


°°°°°


Sementara Vanno didalam kamar yang luas duduk di atas ranjang king size, tengah sibuk berkutat di depan Labtopnya. Memeriksa email yang dikirimkan orang kepercayaannya di perusahaan.


Meski usia masih muda, tapi Vanno sudah seperti ayahnya bahkan tidak sedikit bisnis yang dia geluti. Semua tercapai sesuai keinginannya. Belum lagi dia membantu perusahaan Papinya, benar-benar pembisnis handal.


Saat sedang asyik menatap layar labtop, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Menampakkan wajah ceria maminya.


Vanno menoleh ke arah pintu "Mami... "


"Boleh mami masuk nak...?" tanya mami yang masih berdiri di ambang pintu kamar Vanno.


"Masuk saja mam..."


Mami yang sudah mendapati izin pun segera masuk, dia tidak berani masuk tanpa izin walaupun itu kamar anaknya, kecuali ada hal mendesak.


"Sayang... Kamu ngerjain apa...?" duduk disamping putra kesayangannya.


""Vanno lagi memeriksa laporan dari perusahaan Vanno mam... "


"Oh... Kamu sudah makan nak...?"


"Belum mam... Vanno masih kenyang"


Mami mengelus lembut rambut putranya "Hmm... Baiklah nak, jika kamu lapar atau apapun panggil mami dikamar ya...kamu jangan sampai sibuk mengerjakan itu sampai lupa makan, nanti kamu bisa sakit"


"Iya mami... Nanti Vanno makan"


Mami tersenyum lembut "Mami ke kamar dulu ya sepertinya papimu sudah pulang" beranjak berdiri meninggalkan kamar Vanno.


Vanno melihat maminya keluar langsung menutup labtopnya, dan berjalan menuju balkon.


Apa aku harus terima taruhan itu..? Tapi aku tidak kenal gadis itu, bahkan tidak memiliki rasa apapun padanya. Aku takut jika nanti dia jatuh cinta padaku, aku melukainya setelah waktu itu berakhir. Ahhhggrrr. Vanno mengusap kasar wajahnya.


Apa yang harus aku lakukan? Jika menolak taruhannya aku dianggap lemah, tapi jika aku terima dan pacaran dengan gadis jelek itu aku akan seperti apa nantinya?


"Terpaksa aku harus terima taruhan itu! Ini demi harga diriku di depan Jino sialan itu"


°°°°°


Setelah semalaman memikirkan taruhan itu, akhirnya Vanno membulatkan tekatnya untuk menerimanya.


Yang terpenting sekarang bagaimana caranya supaya dia bisa mendapatkan gadis itu. Waktunya hanya seminggu jika ia tidak berhasil maka popularitasnya hancur gara-gara Jino.


Di tengah sibuk berkumpul bersama temannya, tanpa sengaja mata Vanno menangkap sosok gadis yang di pikirkannya sejak semalam duduk tidak jauh dari dirinya. Gadis itu ialah Queen, dia terlihat sedang menikmati sarapan bersama teman-temannya di kafe kampus.


Merasa ada yang memperhatikan, gadis itu menoleh dan mata mereka tidak sengaja bertemu pandang. Cukup lama saling menatap, akhirnya gadis itu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah teman-temannya.


Perasaanku jadi aneh... Ada apa ini? batin Queen


Lagi ekor matanya melirik Vanno dan terkejut ternyata pria itu masih menatapnya.


Sial. Dia masih menatapku!! Ingin ku congkel matanya itu.


Vanno tersenyum ternyata gadis itu salah tingkah saat ia pandang. Mungkin ini bisa jadi kesempatan bagus untuk menarik perhatiannya.


Langkah awal baru dimulai.


Vanno harus memikirkan bagaimana caranya mendapatkan gadis itu.


"Hey Van... Kau lihat apa...?" suara Jimmy mengejutkan Vanno dari lamunannnya.


"Ah... Aku tadi tidak sengaja melihat gadis jelek itu" ucap Vanno sambil menggerakkan dagunya menunjuk ke arah Queen.


Jimmy dan Nathan mengikuti arah pandang Vanno.


"Wah... Cantik sekali" Jimmy berkata dengan senyum mengembang.


Vanno Dan Nathan menoleh Jimmy dengan tatapan heran dan penuh selidik.


"Kau bilang dia cantik Jim?" tanya Nathan.


"Iya dia begitu cantik! Sepertinya aku jatuh cinta pandangan pertama" Kata Jimmy antusias.


Nathan dan Vanno berpandangan, mereka pikir ada yang salah dengan penglihatan Jimmy.


"Penglihatanmu masih bagus kan?" tanya Vanno.


"Tentu saja masih bagus. Bahkan sangat bagus"


"Tapi kenapa kau bilang dia cantik? Jelas-jelas dia... " belum sempat Vanno menyelesaikan perkataannya, Jimmy langsung memotongnya.


"Dia jelek begitu?"


"Iya Dia memang jelek, apa kau tidak melihatnya Jim?" cela Vanno.


"Dia tidak jelek Van! Coba kau lihat itu" Jimmy menunjuk salah satu gadis itu yang ternyata adalah Jessie sahabat Queen.


Perkiraan Vanno dan Nathan salah, mereka Kira Jimmy mengagumi kecantikan Queen. Ternyata bukan.