Love Storm

Love Storm
Informasi tentang Queen



"Ck. Aku sudah terlambat! Kakak memang menyebalkan!" gerutu Queen, sambil berlari keluar rumah menuju mobil yang sudah siap membawanya kemana pun ia akan pergi.


Tidak menunggu lama mobil pun melajukan kecepatannya, setelah tadi ia perintahkan kepada supir.


Sesekali Queen melirik arlojinya, hanya untuk mengecek waktu.Sesampainya di area luar pintu gerbang ICL, Queen turun dari mobil dan menyuruh supirnya untuk segera meninggalkan kampus ini. Alasannya tentu saja karena tidak mau ada yang melihat dirinya keluar dari mobil mewah.


Mungkin karena tergesa-gesa untuk masuk kedalam kampus, Queen tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang.


Dia hampir saja jatuh, kalau sebuah tangan kekar tidak dengan sigap menyambarnya. Hingga membuat tubuh Queen masuk kedalam pelukannya.


"Aww!" Queen meringis karena tangannya ditarik agak kuat, hingga refleks dia mendongakkan kepalanya keatas untuk melihat siapa yang sudah menariknya.


Mata mereka beradu pandang cukup lama, sampai mereka tidak sadar jika dalam posisi berpelukan.


Dia sangat tampan!.


Secara tidak sadar Queen memujinya, tapi sebaliknya dengan laki-laki yang sedang memeluknya. Dia bertanya-tanya pada gadis dihadapannya ini.


Mata ini! Dimana aku pernah melihatnya?


Vanno memandang lekat manik mata Queen, bukankah mereka sering bertemu? Tapi kali ini dengan jarak yang sangat dekat, bahkan tidak ada cela diantara mereka. Sehingga detak jantung mereka hampir terasa.


Ada apa denganku? Rasanya perasaan ini sangat akrab! Gumam Vanno dalam hati.


Tiba-tiba Queen tersadar karena dia teringat akan masuk kelas. Refleks dia mendorong dada Vanno yang masih menatapnya.


"M... Maaf! Aku tidak sengaja menabrakmu. Sekali lagi maafkan aku, permisi!"


Queen berlalu pergi meninggalkan Vanno yang masih mematung, tanpa menunggu respon dari sang empunya.


Iya, Aku pernah melihat mata itu! Mata yang sama seperti gadis kecil yang pernah ke rumahku beberapa tahun lalu! Agrhhh... Itu tidak mungkin dia, mata manusia didunia ini sangat banyak yang serupa!. Decak Vanno.


"Astaga! Aku sudah terlambat! Ini semua gara-gara gadis jelek itu!" Vanno merutuki dirinya sendiri.


Tidak mau memikirkan hal yang tidak berguna, Vanno bergegas masuk ke dalam kampus.


°°°°°


Didalam kelas, Queen dan kedua sahabatnya sedang duduk-duduk sambil membaca buku.


"Jasmine!" panggil Queen sesaat setelah selesai membaca.


"Hem!" sahut Jasmine yang sibuk dengan bukunya.


"Apa kau sibuk besok malam?" tanya Queen.


"Tidak! kenapa?"


Seketika wajah Queen sumringah. "Benarkah?" tanyanya dengan antusias.


"Iya, kenapa?"


"Wah... Ini kesempatan bagus untukmu Jasmine!" ujar Queen dengan heboh.


"Apa maksudmu Queen?" Jasmine mengerutkan keningnya.


"Maksudku adalah, ini kesempatan bagus untukmu berkenalan lebih dekat dengan keluargaku Jasmine!" Queen tersenyum kepada Jasmine, lalu kepada Jessie.


"kau ini bicara apa Queen? Aku tidak mengerti!"


Jessie yang sedari tadi diam, pun menimpali dengan menepuk jidatnya. "Kau ini kenapa lambat sekali Jasmine? Bukankah sudah jelas kemarin, Queen ingin kau menjadi kakak iparnya?" ujarnya.


"Tapi..."


"Besok Mommy dan Daddyku kembali dari luar kota! Jadi kau harus ikut makan malam dengan kami! Kalau kau tidak mau, aku tidak akan bicara padamu lagi" potong Queen.


Jasmine yang pasrah hanya bisa menghela nafas panjang, dia tidak mungkin menolak apalagi dengan ancaman Queen yang tidak ingin bicara padanya.


"Baiklah! Aku akan pergi! Tapi... "


"Aku sangat senang kau mau ikut Jasmine! Besok kau harus menepati ucapanmu ini dan berdandan yang cantik!" lagi-lagi Queen memotong ucapan Jasmine.


"Kau tenang saja Jas! Aku akan membantumu mempersiapkan penampilanmu besok!" ujar Jessie ikut menimpali.


Mereka benar-benar tidak memberi kesempatan untuk Jasmine berbicara. Sementara gadis itu hanya bisa pasrah saja, mengikuti perkataan kedua sahabatnya itu.


°°°°°


Vanno dan kedua sahabatnya tengah membahas tentang rencana mereka untuk menjalankan pertaruhan antara Vanno dan Jimmy.


"Kau sudah dapatkan informasi mengenai gadis itu Nath?" tanya Vanno disela perbincangan mereka.


"Sudah, tapi hanya beberapa saja dan juga akun miliknya tidak aku temukan! Sepertinya gadis itu bukan gadis biasa Van!"


"Apa? Jadi kau mendapatkan apa saja?" tanya Vanno dengan nada terkejut.


"Hanya ini yang kutemukan!"


Vanno mengambil Map itu dan segera membuka, lalu mengambil sebuah kertas didalam sana.


Dia membaca isi tulisan pada kertas ditangannya, setelah itu memasukkan kembali kedalam Map tadi.


"Kalau seperti ini, bagiamana aku bisa menghubungi gadis itu?"


"Bukankah kau bisa meminta langsung pada orangnya?" sarkas Nathan menaik turun sebelah alisnya.


"Itu tidak mungkin, mau taruh dimana wajahku ini!" elak Vanno sambil terkekeh.


"Kau terlalu gensi Van! Seharusnya ini bukanlah hal yang masalah, apalagi kau nanti akan memacarinya kan? Demi menang pertaruhan!" timpal Jimmy.


Nathan menganggukkan kepala. "Iya, yang kau katakan benar Jim! Menurutku anggaplah ini sebagai awal mula kisah cinta antara cowok terpopuler ICL dengan gadis culun! Haha..." Nathan berbicara dengan nada mengejek.


Sedangkan Jimmy sudah tidak sanggup menahan tawa, hingga akhirnya tawanya pecah beserta dengan ledekan.


"Benar-benar pasangan serasi! Hahaa..."


"Kalian sudah bosan hidup ya?" tanya Vanno dengan suara dingin dan tajam.


Seketika nyali kedua sahabatnya itu pun menghilang, setelah melihat hawa gelap dimata Vanno.


"Maafkan kami Van! Tapi kupikir yang dikatakan Nathan tadi memang benar. kau harus meminta sendiri kepada gadis itu, agar dia tidak curiga padamu dan itu memudahkanmu untuk mendekatinya.


Vanno diam sembari berfikir dengan matang, dia pun berpendapat demikian. Bahwa dia yang seharusnya turun tangan.


"Baik, jika itu saran dari kalian! Aku akan menemuinya nanti!"


Jimmy dan Nathan bernafas lega, sahabatnya itu akhirnya menerima saran dari mereka.


"Kalian bantu aku menjaga rahasia ini dari si iblis itu!" titah Vanno.


"Kenapa?" tanya Jimmy.


"Karena aku tidak mau dia tau hal ini!"


"Oke, jika itu maumu!"


"Sebaiknya kita pulang saja! Aku bosan lama-lama disini!" ujar Vanno beranjak berdiri meninggalkan dua sahabatnya yang masih duduk manis.


"Vanno! Hei!! Tunggu dulu!" teriak Jimmy, namun tidak dihiraukan oleh Vanno.


"Sudah! Jangan berteriak, mereka melihatmu!" seru Nathan yang sudah berdiri, sambil menunjuk kearah teman-teman sekelasnya yang memperhatikan Jimmy.


Jimmy hanya menyengir kuda, lalu menyusul kedua sahabatnya yang telah berjalan keluar kelas.


"Dasar sahabat biadap! Kalian tega meninggalkanku!" gerutu Jimmy seperti anak kecil.


Disaat bersamaan mereka berpapasan dengan tiga gadis yang tengah berjalan sambil bersenda gurau, dan juga ingin menuju parkiran.


"Hei Van! Coba kau lihat siapa itu?" tunjuk Nathan pada tiga gadis itu.


Vanno dan Jimmy melihat kearah yang ditunjuk oleh Nathan.


"Jodoh tidak akan kemana!" ucap Jimmy secara tidak sadar.


"Apa katamu?" tanya Vanno menatap tajam kepada Jimmy yang masih menatap ketiga gadis itu.


Entah untuk siapa kata "Jodoh" yang ditujukan oleh Jimmy. Untuk dirinya atau untuk Vanno? Hanya dialah yang tau, maksud dari ucapannya itu.


"Aku bilang jodoh tidak akan kemana! Kenapa?"Jimmy menoleh kearah Vanno dengan kening mengkerut.


Vanno berdecak kesal ingin membalas ucapan Jimmy, namun Nathan dengan cepat menghentikannya.


"Sudah! Sudah! Apa kalian tidak malu dilihat orang? Sebaiknya kita temui mereka sekarang!" titah Nathan mendahului mereka berdua.


Vanno diam, dia pun bingung harus berkata apa dan memulainya darimana. Sebab dia belum pernah dekat dengan wanita manapun.


Haruskah aku menemuinya sekarang?


Cukup lama Vanno berdiam, hingga Nathan dan Jimmy memanggilnya lagi baru dia akan menyusul mereka.


"Kenapa kau diam Van? Gara-gara kau yang lama, gadis-gadis itu pergi!" sungut Nathan.


"Iya, dan aku tidak bisa menemui bidadariku itu!" Vanno dan Nathan memutar mata jengah.


"Ayo kita pulang!" ajak Vanno.


Mereka bertiga memasuki mobil Vanno, karena Jimmy diantar maminya dan Nathan sengaja tidak membawa mobil.