Love Storm

Love Storm
Nasib buruk bagi Vanno



Pun Jessie yang dari tadi hanya menjadi pendengar sangat terkejut, bagaimana tidak. Mereka baru saja menginjakkan kaki dirumah ini, tapi Jasmine dan Ricko sudah berpelukan? Apa yang tidak dia ketahui diantara mereka? Pikir Jessie.


Ah sudahlah! Aku saksikan saja berita ini.


Jessie pun memilih diam mengamati pembicaraan orang-orang yang ada didepannya ini.


"Kau salah paham Queen! Aku tidak mempunyai hubungan dengan kakakmu, apalagi berpelukan!" jelas Jasmine meyakinkan Queen.


"Aku tadi hampir terpeleset saat ingin berjalan menuju lift, untung ada kakakmu yang menolongku. jika tidak, mungkin aku sudah terjatuh kelantai!" sambung Jasmine.


"Benarkah? Kau tidak berbohong?" tanya Queen.


"Iya itu benar, kan kak Ricko?" Jasmine meminta pembelaan kepada Ricko yang tengah bersikap santai itu.


"Iya sayang! Apa yang dikatakan dia memang benar!" timpal Ricko.


Seketika wajah Queen berubah kecewa, seperti menginginkan sesuatu.


"Hahh... Putus sudah harapanku mempunyai kakak ipar!" gumamnya pelan.


Ricko mengernyitkan kening. "Apa maksudmu Queen?" tanyanya.


"Aku kira kakak mempunyai hubungan dengan Jasmine! Ternyata tidak!"


"Padahal aku sudah merasa senang tadi!" sambung Queen lagi.


Jasmine tersipu malu dengan ucapan Queen, bagaimana bisa dia berkata seperti itu?


Sementara Ricko tersenyum penuh arti.


"Kau mau dia menjadi kakak iparmu?" menunjuk kearah Jasmine.


Queen mengangguk antusias. "Iya kak! Dari dulu aku selalu ingin mempunyai kakak ipar seperti Jasmine!"


"Wah...Queen! Apa kau yakin dengan ucapanmu itu?" kini Jessie ikut bertanya kepada Queen.


Dengan cepat Queen menganggukkan kepalanya.


"Lihatlah Jasmine! Kau sudah mendapat lampu hijau dari calon adik iparmu!" Jessie terkekeh geli menggoda Jasmine.


Ughh...Jasmine semakin salah tingkah dibuat mereka.


Yang benar saja? Aduh Queen! Kau membuat perasaanku semakin campur aduk. Aku harus bagaimana menghadapi situasi ini? Gumam Jasmine dalam hati sambil meremas jemari tangannya.


Ricko melihat ekspresi wajah Jasmine yang gugup dan panik, semakin gencar ingin menggodanya.


"Baiklah kalau begitu kau tanya dia saja. Mau apa tidak menjadi kakak iparmu!"


Dasar adik kakak sama-sama menyebalkan, mereka sengaja ingin menyudutkanku! Lihat saja Queen, aku akan memarahimu nanti. Ya tuhan keluarkan aku dari situasi ini!!. Jerit batin Jasmine.


"Jasmine! Apa kau mau menjadi kakak iparku?" tanya Queen memasang wajah imutnya, membuat Jasmine menjadi gemas.


Lihatlah wajahnya itu, membuatku tidak tega mengatakan tidak!


"A... Aku... Belum memikirkannya Queen! Oh ya... Aku merasa lelah, bolehkah aku beristirahat sekarang Queen?" Jasmine mengalihkan topik guna menghindari banyak pertanyaan dari sahabatnya itu.


Queen mencurutkan bibirnya "Baiklah, istirahatlah kakak ipar!" tersenyum manis kepada Jasmine.


Jasmine menghela nafas lega "Kalau begitu kami ke kamar dulu ya sayangku!"


"Ayo Jess!"


Mereka berdua berjalan menuju kamar tamu yang telah ditunjukkan oleh pelayan.


Kini tinggal kakak beradik itu yang masih duduk menghadap layar TV, setelah persidangan menegangkan yang dilakukan tadi.


"Kak!" panggil Queen.


"Hem!" sahut Ricko.


"Menurut kakak, Jasmine itu seperti apa?"


Ricko menoleh "Apanya yang seperti apa?"


"Ck. Dia itu gadis seperti apa? Apakah masuk kriteria calon istri idaman kakak?"


"Hem...Dia bisa dibilang termasuk kriteria idaman kakak! Tapi dia sedikit dingin dan acuh terhadap laki-laki" Ricko tersenyum membayangkan pertemuan pertama mereka tadi seperti apa.


Queen menelisik ekspresi wajah Ricko.


"Apa kakak menyukainya?"


Tanpa sadar Ricko mengangguk pelan, sebelum kemudian dia tersadar dan segera memalingkan wajahnya kesamping.


Astaga! Dia pasti akan membocorkan hal ini kepada temannya itu.


Queen tersenyum "Sudah ku duga!" gumam Queen pelan.


°°°°°


Di dalam kamar tamu.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Jessie.


"Apanya?" Jasmine balik bertanya.


Jasmine menerawang kelangit-langit kamar.


"Biasa saja!" itulah tanggapan dari Jasmine terhadap Ricko.


"Aku rasa dia cocok denganmu Jas!"


"Dia baik dan perhatian, juga ramah terhadap orang yang baru dikenal seperti kita!" sambung Jessie.


"Aku takut Jess!" keluh Jasmine.


Jessie yang semula berbaring telentang, kini menghadap Jasmine kesamping.


"Kau tidak perlu takut Jas! Dia pria yang berasal dari keluarga terpandang, sudah pasti sifat dan tingkah lakunya tidak seperti DIA!" Jessie menekan kata terakhir dengan nada tidak senang.


"Aku tau! Tapi kami baru kenal, aku rasa kami butuh waktu untuk mengenal dahulu!"


"Terserah kau saja Jas! aku hanya ingin kau mendapatkan yang terbaik dan bahagia" Jessie memeluk Jasmine.


Jasmine membalas pelukan Jessie dan tersenyum.


"Terima kasih Jess! Kau dan Queen sahabat, sekaligus seperti adik bagiku!"


"Kalianlah yang terbaik untukku!" sambung Jasmine.


Dia merasa bahagia dengan memiliki sahabat rasa saudara seperti Jessie dan Queen. Mereka selalu mensuport dan menyayangi satu sama lain.


°°°°°


Malam hari saat Vanno tengah bermain game, tiba-tiba ponselnya berdering.


Kriiiinggg....


"Ck. Siapa malam-malam begini menggangguku?" decak Vanno kesal, lalu melihat nama si penelpon.


Jimmy is calling


"Kau berani sekali menggngguku sedang bermain!" tak menunggu Jimmy menyapa, Vanno langsung memarahinya.


"Haha... Maafkan aku kawan! Ada informasi penting untuk kau ketahui!"


"Apa itu?"


"Ck.Tadi kau marah-marah!" gerutu Jimmy pelan.


"Aku mendengarnya!" sergat Vanno.


"Baiklah-baiklah! Aku hanya ingin mengatakan jika kau diundang Jino dipesta ulang tahunnya pekan depan! Tapi..."


Belum sempat Jimmy melanjutkan ucapnnya, Vanno lebih dulu memotong.


"Hanya itu? Itu yang kau bilang penting, sampai repot-repot menggangguku?"


"Cih. Aku belum selesai bicara sudah kau potong saja!"


"Ya... Ya... Cepat katakan apa lagi?"


"Ini penting tapi juga akan menyulitkanmu Van!"


"Apa maksudmu?"


"Si kadal itu, menyuruhmu untuk membawa si culun itu!"


"Apa?? Dia ingin aku membawa si culun itu?"


"Iya, untuk mengawali pertaruhanmu padanya. Kau harus membawa dia!"


Vanno semakin kesal dibuat oleh si Jino, bahkan ingin memukul orang itu juga.


"Oke, terima kasih untuk informasi ini! Akan aku fikirkan bagaimana nanti!"


"Sip! Aku tutup dulu tuan muda! Semoga dia mau diajak olehmu hehe!" sebelum sambungan telpon putus, terdengar kekehan dari Jimmy.


"Aghhh.... Apa-apaan si iblis itu? Hah... Dia menyuruhku membawa si culun itu datang kepestanya? Sial!!" Vanno mengusap kasar rambutnya, merasa frustasi.


"Aku sama sekali tidak tertarik dengan gadis culun itu! Bagaimana ini?" Vanno bicara pada dirinya sendiri.


Seorang Vanno Putra Mahessa terkenal dengan sifat dingin dan populer di ICL, yang tidak pernah mau dekat apalagi bergandengan dengan wanita, mau tidak mau harus menjalin hubungan dengannya. Demi memenangkan taruhan dan reputasi membuat dia menggelapkan hatinya menerima nasib buruk kedepan.


Pertaruhan konyol ini akan dimulai pekan depan, dia harus mempersiapkan mental untuk itu.


Setelah mengakhiri terlepon dari Jimmy, Vanno tidak lagi melanjutkan main gamenya yang tadi tertunda. Dia turun dari tempat tidur lalu berjalan menuju balkon, untuk menyegarkan otaknya, setelah tadi menyimpan ponselnya diatas nakas.


Melihat pantulan cahaya dari kota, sedikit menenangkan apalagi cuaca bagus.


Vanno berdiri menghadap pagar balkon, menumpu badannya dengan kedua telapak tangan sembari memikirkan sesuatu.


Tiga bulan! Ya... Hanya tiga bulan, setelah itu aku bebas dari nasib buruk ini! Itu bukan masalah kan?


Vanno menghela nafas berat, dia hanya perlu bersabar saja. Tiba-tiba dia teringat sesuatu, dengan segera Vanno masuk kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel.


Dia menyambar ponsel yang terletak diatas nakas, sebelum kemudian duduk di atas ranjang.