
Vanno menghela nafas berat, dia hanya perlu bersabar saja. Tiba-tiba dia teringat sesuatu, dengan segera Vanno masuk kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel.
Dia menyambar ponsel yang terletak diatas nakas, sebelum kemudian duduk di atas ranjang.
Mengotak-atik isi ponsel itu, namun tidak menemukan sesuatu yang dicarinya disana.
"Ck. Ponsel tidak berguna! Apa nama akun gadis itu?" Vanno geram, dia melempar ponsel disamping dirinya duduk.
Vanno merebahkan tubuhnya dan kembali menerawang, memikirkan cara bagaimana menghubungi gadis itu. Tidak mungkin dia langsung menyatakan perasaannya, sementara dia dari dulu tidak dekat sama sekali dengan gadis itu.
Harus memerlukan pendekatan dahulu agar meyakinkannya dan membuat dia dipercaya.
Andai kakak ada disini pasti dia bisa membantuku mencari solusi dari semua ini! Kakak! Aku sangat merindukanmu, aku ingin kau mendengarkanku dari sana.
Cinta tidak hadir dihidupku, tapi aku dihadapkan dengan situasi ini! Aku memang membenci wanita. Namun aku juga tidak ingin menyakiti siapapun yang akan dekat denganku, termasuk dia si gadis culun itu.
Beberapa kali Vanno menghela nafas berat, dia ingin lari tapi juga takut. Takut tidak akan bisa kembali lagi.
"Hah! Sebaiknya aku tidur, kepalaku jadi pusing jika terus memikirkannya!" Vanno mencoba memejamkan matanya, namun tidak bisa.
Dia membolak-balikkan badannya kanan ke kiri supaya bisa tidur. Hingga akhirnya dia terbangun lagi dan duduk mengambil ponselnya, mengetikkan sesuatu untuk dikirm pesan ke sesorang.
~Vanno~
Nathan! Tolong bantu aku carikan informasi tentang gadis culun yang kemarin aku ceritakan, beserta nama akunnya! Sekarang juga!.
"Kenapa tidak dari kemarin aku menyuruh dia? Huhh..." lega rasanya dia menemukan titik awal dari semua ini.
Ting...
Vanno mendapat balasan dari Nathan, dengan cepat dia membukanya.
~Nathan~
Oke, kau tunggu informasi dariku!.
Balasan dari Nathan membuatnya tenang, setidaknya dia mempunyai teman yang bisa diandalkan dalam hal ini.
Akhirnya Vanno bisa tidur, setelah meletakkan ponselnya diatas nakas. Dia memasuki alam mimpi dengan cepat.
°°°°°
Di kediaman keluarga Baranta.
Queen sedang duduk ditaman samping rumahnya, sembari menunggu sang kakak kembali dari mengantar kedua sahabatnya.
Sekalian saja dia memberi kesempatan kepada Ricko untuk lebih dekat dengan Jasmine, dengan begitu dia akan tau perasaan kedua orang itu masing-masing.
Untuk mengusir rasa bosan karena lama menunggu sang kakak, Queen memainkan ponselnya dan mengecek jadwal kepulangan Mommy dan Daddy dari perjalanan bisnis.
"Dua hari lagi Mommy dan Daddy akan kembali dari luar kota! Hm... Aku sangat merindukan mereka! Rumah ini sangat sepi jika Mommy dan Daddy yang cerewet itu tidak disini" gumam Queen dengan wajah sendu sambil menatap layar ponsel yang menampilkan foto dirinya, Ricko dan kedua orang tuanya.
Suara mobil menyadarkan Queen dari lamunannya, dia bertanya-tanya siapakah yang datang.
"Apakah itu kakak?" Queen beranjak dari duduknya dan berjalan menuju halaman depan.
Ternyata benar, sang kakak yang sedari tadi dirinya tunggu-tunggu telah kembali. Queen masih berdiri disana memperhatikan gerak gerik Ricko.
Setelah menyimpan mobilnya, Ricko tidak sengaja menoleh saat dia hendak masuk kedalam Mansion.
Dia heran melihat adiknya berdiri sedang menatapnya. seketika Ricko berubah haluan, dia menghampiri sang adik.
"Kenapa kau disini My Sweey?" tanyanya saat sudah dihadapan Queen.
"Aku menunggu kakak!" saut Queen.
"Kau menungguku?" tanya Ricko dengan senyum manisnya.
Queen memutar bola matanya jengah dengan reaksi Ricko.
"Iya kakakku sayang! Apa yang kakak lakukan sehingga lama sekali? Aku kesepian!"
"Kau kan tau, rumah mereka berbeda arah! Jadi kakak harus mengantar mereka satu persatu dulu, tentu saja itu akan lama!" tutur Ricko menjelaskan.
Queen menepuk jidatnya. "Queen lupa kak!" ujarnya sambil cengengesan.
Ricko menjentikkan jarinya di dahi Queen. "Itu kebiasaanmu sayang!"
Queen terkekeh, sebelum kemudian dia menarik tangan Ricko menuju tempat dimana dia bersantai tadi.
"Ikuti saja kak"
Setelah sampai dikursi dia menyuruh Ricko untuk duduk.
"Untuk apa kita kesini?" tanya Ricko lagi setelah dia duduk dan memperhatikan adiknya.
Queen duduk disebelahnya sambil memeluk salah satu lengan Ricko. 'Kakak temani Queen disini ya?" pinta Queen.
"Disini kan dingin sayang!"
"Queen ingin bersantai sebentar saja disini kak! Bosan dikamar" tutur Queen.
Ricko menghela nafas pelan, lalu mengangkat tangannya yang dipeluk Queen untuk mendekap tubuh sang adik, menyalurkan rasa hangat itu.
"Kakak akan menemanimu disini, tapi jangan lama-lama ya? Nanti kau bisa sakit!"
Senyuman mengembang diwajah cantik Queen, dia membenamkan kepalanya didada Ricko.
"Baiklah kak, asalkan rasa bosanku hilang walaupun sebentar" ucap Queen tersenyum manis pada Ricko.
Mereka pun mulai membuka pembicaraan dengan bercerita dan bersenda gurau. Kedekatan keduanya membuat orang yang tidak tahu, pasti mengira mereka sepasang kekasih.
Disela perbincangan, sesekali Ricko mengecup puncak kepala adiknya dan mengeratkan dekapannya.
"Sayang! Ini sudah cukup lama kita diluar, sekarang mari kita masuk kedalam dan tidur!" ajak Ricko setelah melihat arloji yang menempel ditangannya.
Queen mengangguk, lalu Ricko pun melepaskan dekapannya dan berdiri.
"Gendong" rengek Queen dengan nada manja sambil mengulurkan kedua tangannya kearah Ricko.
Ricko yang gemas melihat tingkah lucu adiknya, pun tidak bisa menolak permintaan tuan putri.
"Kau ini menggemaskan sekali ya!" ucap Ricko sembari mengangkat tubuh mungil Queen, menggendongnya dari depan.
Queen melingkarkan kedua kakinya dipinggang Ricko dan membenamkan wajahnya diceruk leher Ricko, setelah tangannya memeluk leher sang kakak.
Ricko hanya membiarkan saja, karena dia memang ingin memanjakan adik satu-satunya itu.
Rembulan terang menyapu kegelapan malam, mengikis kegundahan alam yang sedang menanti mentari hangat untuk hadir menggantikan rembulan.
Semakin larut malam, maka semakin dingin hawa yang diberikan sang udara. Mampu menusuk tulang belulang siapa saja yang terkena hujamannya.
°°°°°
Malam yang kelam berganti siang nan cerah. Sinar cahaya yang diberikannya, membuat mata yang terpejam nyenyak mulai membukanya untuk melihat keindahan yang yang sedang menanti.
Semua orang mulai melakukan aktivitasnya, dengan kegiatan masing-masing. Begitu pula dengan kehidupan keluarga dua manusia yang akan melawan takdir ini.
Queen merasakan cahaya masuk dari celah jendelanya, terpaksa membuka perlahan mata indah ketika menatap semua orang itu.
Dengan segenap jiwa berusaha mengumpulkan nyawanya, dia merogoh ponsel miliknya yang disimpan diatas nakas samping tempat tidur.
Queen terperanjat saat melihat layar ponsel, yang menunjukkan sesuatu.
"Astagaaaa!!!" teriak Queen melihat jam sudah pukul 07:25.
"Ada apa sayang??" tanya Ricko langsung menerobos masuk ke kamar adiknya, dengan wajah panik saat mendengar suara lengking dari kamar Queen.
Queen melongo melihat reaksi kakaknya, sebelum kemudian dia berlari masuk ke kamar mandi.
Ricko yang tadinya panik, malah dibuat heran dengan adiknya yang nampak tergesa-gesa untuk mandi.
"Ada apa dengannya? Bukankah tadi dia berteriak?" Ricko bertanya pada dirinya sendiri, sambil menggeleng kepala dia melangkah keluar dari kamar itu.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Queen mulai beraksi dengan gaya culun seperti biasanya.
Dia tergesa-gesa menyambar ransel dan ponsel miliknya, lalu berlari keluar kamar tanpa menutup pintu dahulu.
"Kak!!!" teriak Queen setelah dia berada di ruang tamu, tapi tidak menemukan sosok yang dia cari.
"Kemana kakak? Tadi dia masih ada!" gumam Queen.
"Ck. Aku sudah terlambat! Kakak memang menyebalkan!" gerutu Queen, sambil berlari keluar rumah menuju mobil yang sudah siap membawanya kemana pun ia akan pergi.
Tidak menunggu lama mobil pun melajukan kecepatannya, setelah tadi ia perintahkan kepada supir.