Love Storm

Love Storm
Ikuti Aku



Perasaan aneh dia rasakan, berdebar dan salah tingkah cukup sudah. Vanno tak kuasa dengan tatapan itu, lalu tanpa dia sadari sebelah tangannya mengusap wajah Queen dengan telapak tangan.


Seketika mata Queen membulat, "Hei! Kenapa kau seenaknya mengusap wajahku? Memangnya wajahku cermin dirumahmu yang banyak debunya?" gerutu Queen semakin kesal dengan Vanno.


Vanno ingin tertawa saat melihat wajah marah Queen yang menurutnya lucu, tapi rasa gengsi tinggi membuatnya berusaha menelan tawa itu.


Vanno berdehem, lalu berkata. "Iya, wajahmu penuh debu. Jadi aku bantu bersihkan."


"Apa??" teriak Queen namun tidak terlalu tinggi, sambil mengeluarkan ponselnya dan bercermin disana.


Tidak ada. Dia buta atau apa? Wajahku bersih!. Gumam Queen dalam hati lalu melirik Vanno sekilas.


"Kau berani berbohong! Dasar si Monster mesum, tidak berguna. Huhh..." Sarkas Queen setelah merasa dibohongi, lalu menghentakkan kakinya melangkah meninggalkan Vanno didepan pintu kelasnya.


*****


Setelah Queen duduk dikursinya, barulah Vanno pergi dari pintu kelas. Dia sengaja menunggu disana karena ingin melihat reaksi marah Queen yang menurutnya lucu.


"Kau kenapa Queen?" tanya Jasmine saat gadis itu duduk disebelahnya dengan wajah kesal.


Queen menoleh kearah Jasmine, lalu berkata. "Kau tau? Hari ini aku sangat tidak beruntung, karena bertemu dengan si Monster itu lagi."


Jasmine mengerutkan keningnya bingung.


"Monster? Dimana??"


Bukan Jasmine yang histeris, tapi Jessie yang sedang berada dibelakang mereka. Queen dan Jasmine Refleks memegang dada mereka.


"Kapan kau berdiri disitu?" tanya Queen setelah menetralkan jantungnya.


Tanpa wajah berdosa Jessie menjawab, "Sejak tadi." ucapnya sambil terkekeh.


"Astaga, kau hampir membuat jantung kami melompat. Lalu kenapa kau diam saja jika sudah disini sejak tadi?" tanya Jasmine menimpali.


Jessie beralih dikursi depan Queen dan Jasmine, lalu duduk disana.


"Aku tadi ingin berbicara pada kalian, tapi begitu aku mendengar perkataan Queen barusan, aku jadi lupa apa yang ingin aku bicarakan." jawab Jessie.


"Memangnya apa yang kau kesalkan, Queen?" tanya Jessie kemudian.


Queen menghela nafas pelan, lalu berkata. "Si Monster itu tadi malam mengirim pesan singkat kepadaku"


Jasmine dan Jessie saling pandang, lalu beralih menatap tanya kepada Queen.


"Aku tau pasti kalian bertanya-tanya ada apa."


Jasmine dan Jessie menganggukkan kepala mereka.


"Dia mengajakku keluar besamanya hari ini" sambung Queen.


Mendengar penuturan Queen, kedua sahabatnya menganga tidak percaya.


"Apa itu bisa disebut ajakan berkencan?" tanya Jessie dengan skeptis.


"Tapi kenapa? Maksudku, selama ini dia menghinamu. Lalu tiba-tiba dia mengirim pesan dan mengajakmu untuk keluar bersamanya." timpal Jasmine.


"Apa dia sekarang menyadari bahwa kau tidak seburuk yang dia kira?" ucap Jasmine dan Jessie bersamaan.


Queen mengedikkan bahunya sebagai tanda tidak tahu.


"Lalu kau menerimanya?" tanya Jessie.


"Tidak!" jawab Queen sambil mengambil buku didalam tasnya.


"Kenapa?" tanya Jessie lagi.


Queen menoleh ke arah Jessie sambil menyipitkan matanya.


"Kau mau aku mengikuti kemana pun dia pergi? Dia itu Monster! Bisa-bisa aku mati karena darah tinggi menghadapinya"


Jessie dan Jasmine tertawa keras mendengar penuturan dari Queen. Sungguh ironis pemikiran sahabatnya itu.


Tapi memang tidak dipungkiri, kenyataannya ketika dia bertemu dengan lelaki itu emosi dan darah tinggi nya langsung naik.


Queen melirik kedua sahabatnya dengan kesal, bagaimana bisa mereka menertawakannya. Ada yang salah? Pikirnya.


Jessie dan Jasmine menghentikan tawanya, dan berkata. "Maafkan kami Tuan Putri!" ucap mereka bersamaan sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.


Queen pura-pura marah, lalu membalikkan badannya memunggungi kedua sahabatnya.


Berkali-kali Jessie dan Jasmine membujuknya agar tidak marah, namun Queen tetap pura-pura marah.


Akhirnya mereka kehabisan cara untuk membujuknya hingga mereka hanya bisa diam dan memutuskan untuk membaca buku masing-masing.


*****


Lain hal dengan ketiga lelaki yang sedang mendiskusikan sesuatu dikelasnya, metea belajar dengan seksama.


"Seperti itu lah yang seharusnya kita lakukan" ujar Vanno setelah menjelaskan secara detail tugas yang akan mereka kerjakan.


"Rencana yang bagus bro! Kita akan mendapat nilai yang terbaik jika berhasil" timpal Jimmy menyetujui.


"Tapi kita harus merahasiakan rencana ini dari anak-anak yang lain. Agar tidak ada yang mengcopy tugas kita" ucap Nathan sambil melirik teman-teman kelas mereka.


"Baiklah" seru Vanno dan Jimmy bersamaan.


Setelah selesai berdiskusi tentang tugas yang diberikan oleh dosen, mereka pun usai kelas dan keluar menuju parkiran kampus.


Ketika sampai disana, mereka pulang menggunakan Mobil masing-masing. Tapi tidak dengan Vanno, dia masih berdiri diluar Mobilnya tanpa berniat masuk dahulu.


Sepertinya sedang menunggu seseorang. Matanya sibuk melihat kesana kemari.


Dimana gadis itu? Awas saja jika dia menghindariku!. Gumamnya dalam hati.


Berkali-kali Vanno melihat Arlogi ditangannya, karena sudah lama dia berdiri diluar Mobil menunggu Queen. Tapi gadis itu tidak kunjung hadir.


Ia merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya, lalu menghubungi seseorang setelah menemukan kontaknya.


"Dimana?" tanya Vanno kepada seseorang diseberang sana.


"Saya masih berada di Perusahaan, Tuan!" jawab orang itu yang tidak lain adalah Asisten Pribadi Vanno.


"Katakan kepada Kliennya untuk menungguku setengah Jam lagi" titahnya.


"Baik Tuan. Saya akan segera menyampaikan kepadanya" ucap Kevin.


Vanno mengakhiri panggilan telepon setelah Kevin mengiyakan perintahnya. Saat Vanno hendak menyimpan Ponselnya dan ingin pergi mencari keberadaan Queen, tiba-tiba gadis itu lewat didepannya bersama kedua sahabatnya.


Detik itu juga Vanno menarik tangan gadis itu dan membawanya masuk kedalam Mobilnya.


"Apa-apaan ini? Lepaskan aku!" Queen berusaha berontak dan ingin keluar dari dalam Mobil Vanno, tapi na'as Mobilnya sudah terkunci.


"Lepaskan aku, biarkan aku keluar!"


Vanno tidak memperdulikan teriakan dan usaha Queen untuk keluar, dia terus melajukan Mobilnya membelah jalanan kota London.


"Percuma kau berteriak, kita sudah sampai." ucap Vanno setelah Mobil yag dia kendarai berhenti di depan sebuah gedung megah.


Queen dibuat melongo dengan yang ada dihadapannya saat ini. Bagaimana tidak, dia dibawa oleh si Monster itu kemari dan tidak tau apa tujuannya.


Ini adalah.... Perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Daddy kemarin, kan? Kenapa dia membawaku kemari?


Karena lama melamun, Queen tidak menyadari jika Vanno membukakan dia pintu.


"Kau keluar sendiri atau ku gendong sampai ke dalam?" tanya Vanno sambil mencondongkan tubuhnya kearah Queen.


Queen membulatkan matanya dan dengan secepat kilat dia membuka salt beltnya.


"A...Aku keluar sendiri!" jawab Queen sambil tangannya mendorong tubuh kekar Vanno.


Vanno menahan senyum melihat tingkah Queen yang gugup padanya, padahal dia hanya mengerjai.


Queen melangkahkan kakinya kedalam dengan mata yang mengitari isi gedung itu. Bukan karena takjub atau apapun, melainkan karena dia masih merasa bingung kenapa dia dibawa kemari oleh Si Monster.


Lelaki itu tidak mengatakan apa tujuannya membawa dia kesini dan dia pun tidak berniat bertanya.


Vanno membawa Queen menuju lantai paling atas menggunakan Lift Khusus CEO. Dikarenakan Ruangannya berada dilantai dua puluh, jadi mereka agak lama berada didalam sana yang membuat Queen gelisah.