
Queen melirik kearah Ricko berdiri dan Jasmine mengkerutkan keningnya sambil mengikuti arah mata Queen.
"Astaga!!". Pekik Jasmine setelah sadar Ricko dibelakangnya, membuat orang-orang disekitarnya menoleh padanya.
"Kecilkan suaramu itu Jasmine!". Tukas Queen.
Jasmine menutup mulutnya dan menyuruh Ricko untuk duduk. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Ricko duduk disamping Jasmine.
"Kalian mau pesan apa?". Tanya Jasmine membuyar kecanggungan dirinya.
"Terserah!". Jawab Ricko.
"Aku Mocha Late saja!". Timpal Queen.
"Baiklah! Pelayan!!". Panggil Jasmine, lalu memesan sesuai keinginan kedua orang itu.
Setelahnya, dia kembali memulai pembicaraan pada mereka.
"Tumben sekali kau ingin kesini malam-malam begini Queen? Biasanya kau tidak suka keluar malam!". Tanya Jasmine.
"Aku hanya ingin saja! Sekalian mencari angin luar bersama seseorang yang merindukanmu!". Sindir Queen kepada Ricko.
"Siapa?". Tanya Jasmine tidak mengindahkan.
Queen menunjuk kearah Ricko yang tengah bersikap santai, namun hatinya menggerutu akan kejujuran Queen.
Dasar adik nakal! Bisa-bisanya dia berkata seperti itu!.
Jasmine menundukkan wajahnya karena malu, dia tidak berani menatap Ricko.
Akhh... Aku ingin menghilang saja!.
"Oh iya Queen! Apa yang harus aku lakukan besok?". Tanya Jasmine.
"Kau cukup ikuti saja instruksiku Jasmine!"
Jawab Queen mengedipkan sebelah matanya.
Seolah mengerti Jasmine pun mengangguk, sepertinya Ricko tidak tau akan hal ini.
Dari jauh ekor mata Queen tidak sengaja menangkap sosok yang dia kenal, sedang berjalan masuk bersama teman-temannya.
Bukan kah dia, lelaki kemarin itu? Astaga! Dia tidak boleh sampai melihatku disini!.
Vanno dan kedua sahabatnya masuk kedalam cafe itu dan duduk tidak jauh dari meja Queen.
Ricko melihat tingkah adiknya yang menjadi aneh, pun bertanya.
"Kau kenapa Queen?". Tanyanya.
Queen pun mencari alasan supaya dia bisa pergi dari tempat ini. "Tidak apa-apa kak! Queen merasa sangat mengantuk!". Jawab Queen sambil pura-pura menguap.
"Sebaiknya kita pulang saja Queen!". Ajak Jasmine.
"Iya kak! Sebaiknya kita pulang saja!". Queen pura-pura mengantuk lagi.
"Kau ini selalu saja menyusahkan!". Gerutu Ricko, yang sebenarnya masih ingin disini memandangi wajah cantik Jasmine.
Queen menyengir tanpa dosa dan bangkit dari duduknya menarik tangan Ricko.
"Ayo kak! Jasmine kau tadi naik apa?". Tanya Queen.
"Aku diantar supirku tadi!". Jawab Jasmine yang ikut berdiri juga.
"Ya sudah! Sebaiknya kau ikut kami saja ya! Tidak apa kan kak?". Sarkas Queen pada Ricko.
"Iya tidak apa-apa, Kau ikut kami saja Jasmine! Agar kau tidak terlalu lama menunggunya menjemputmu!"
"Tidak baik seorang gadis terlalu lama berada diluar sendirian!". Sambung Ricko.
Setelah berfikir matang, Jasmine akhirnya terpaksa ikut mereka. Sebenarnya ia tidak ingin merepotkan kedua adik kakak itu, tapi ia pun tidak bisa menolak ajakan mereka.
°°°°°
Disela canda tawa mereka, Jimmy tidak sengaja menangkap kearah Jasmine yang hendak keluar dari Coffee shop itu.
"Bukankah itu teman si culun di kampus kita?". Tanya Jimmy tanpa mengalihkan pandangannya.
Retina Vanno dan Nathan segera beralih kepada Jasmine dan Vanno dapat melihat dua orang lagi berjalan bersamanya.
Kelihatan tidak asing! Dimana aku pernah bertemu dengannya?.
Vanno berfikir mungkin dia pernah bertemu dengan gadis disamping Jasmine, namun dia lupa dimana.
"Bersama siapa dia? Bukankah biasanya selalu bersama sahabatnya yang dua lagi?"
"Dan gadis disampingnya itu sangat cantik sekali! Bagai bidadari turun dari langit!". Sambung Jimmy membayangkan wajah cantik Queen meski dari samping.
"Dasar playboy jelek! Matanya tidak bisa disinkronkan!". Tegur Nathan.
"Apanya yang jelek Nath? Kau buta atau apa? Aku ini lelaki paling tampan diantara yang tampan!". Seru Jimmy sambil menyisir rambut gondrongnya kebelakang.
"Cih. Tidak berguna!". Kesal Nathan.
Vanno hanya menjadi penonton drama mereka berdua, baginya ini sedikit menghibur.
"Apa rencanamu selanjutnya Van?". Tanya Nathan membuka topik.
"Entahlah! Aku belum memikirkannya!". Jawab Vanno acuh.
"Waktumu tinggal beberapa hari lagi! Tapi kau belum sempat mengajak gadis itu!".
Vanno diam sejenak, lalu menghela nafas berat.
"Akan aku lakukan nanti setelah bertemu dengannya lagi!". Sarkas Vanno.
°°°°°
Tidak ingin seperti semalam pergi kuliah dengan tergesa-gesa, Queen pagi ini sudah siap untuk pergi ke kampus agar tidak terlambat.
Biasanya ia sarapan hanya roti dan susu, namun kali ini gadis itu menambahkan menu sarapan lain seperti kacang merah dan telur setengah matang.
Benar-benar luar biasa, mungkin sebentar lagi berat badan Queen akan bertambah banyak.
"Ini sungguh lezat!". Seru Queen yang tengah menyantap sarapannya.
"Jika setiap hari aku sarapan banyak seperti ini, pasti aku akan gemuk! Ya tuhan! Aku harus sering-sering olahraga!". Sambung Queen.
Tidak lama Ricko ikut bergabung dimeja makan dan langsung mencomot makanan Queen, sehingga adiknya itu marah.
"Kakak!! Queenkan lapar, kenapa kakak mengambil makananku?". Rajuk Queen dengan wajah kesal.
"Kau tumben sekali sarapan dengan menu sebanyak itu Queen?". Tanya Ricko sambil menunjuk kearah makanan didepan Queen dengan dagunya.
Queen menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya tersenyum.
"Queen sangat lapar kak! Jadi, makanya sebanyak ini! Lagi pula inilah kesempatan Queen menyantap sesuai keinginan Queen!". Ujar Queen sebelum kemudian minum susu coklatnya.
"Memangnya kau mau kemana sampai berkata seperti itu? Seperti orang tidak punya kesempatan lain saja!". Tukas Ricko.
Queen menghembus nafas pelan karena merasa terganggu dengan banyak pertanyaan dari kakaknya, lalu meletakkan roti yang akan dia makan sebelumnya.
"Coba kakak lihat, kenapa aku bisa ada disini di jam segini dan menyantap banyak makanan ini?". Tanya Queen.
"Mungkin Bi Katty membuatnya kebanyakan!". Jawab Ricko sekenanya.
Queen menepuk jidatnya pelan, karena kelemotan kakanya. Bagaimana dia punya seorang kakak yang seperti ini? Cepat tanggap soal bisnis tapi lemot soal hal mudah begini saja.
"Ya kan Queen hari ini bangun pagi kakak!! Biasanyakan Queen selalu kesiangan sehingga jarang sarapan seperti ini!". Jelas Queen dengan kesal.
Ricko hanya berohria saja dan kembali menyeruput kopinya.
Setelah dirasa kenyang, Queen bangkit dari duduknya dan pergi kekamarnya untuk mengambil tas.
"Apalagi yang aku lupa ya?". Tanya Queen pada dirinya sendiri.
Dirasa tidak ada, Queen segera turun kebawah dan mengajak kakaknya untuk berangkat.
"Ayo kak!". Ajak Queen.
Tanpa memjawab Ricko pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju Mobil kesayangannya, mengantar Queen untuk kuliah.
Mobil Sport Ricko berhenti tidak jauh dari gerbang, sesuai permintaan sang ratu. Queen keluar dengan sedikit waspada, takut-takut ada teman lain yang melihatnya.
Dirasa aman, Queen masuk kedalam kawasan ICL dengan santai. Namun, tidak berlangsung lama karena ternyata ada Vanno yang melihat.
Lagi-lagi mereka bertemu ditempat yang sama, namun kali ini hanya Vanno yang melihat Queen. Sementara gadis itu tidak menyadari keberadaan Vanno dibelakangnya.
*Gadis itu lagi! Tapi dia keluar dari Mobil semewah itu dan diantar seorang pria. Aa itu kekasihnya?
Akhh... Kenapa aku jadi begini? Tapi ini sepertinya kesempatan diriku untuk menemuinya secara langsung*!
Pun Vanno menyusul Queen dengan segera, sebelum gadis itu masuk kelasnya.
"Hei jelek!!". Teriak Vanno, tapi tidak didulikan oleh Queen.
Ckck. Dasar jelek, untung-untung diriku mau menemuinya!. Gerutu Vanno merasa diacuhkan.
Vanno mempercepat langkahnya agar sejajar dengan langkah Queen, dan sekali lagi memanggil gadis itu.
"Hei!". Sapa Vanno sambil menepuk pundak Queen, membuat gadis itu terperanjat.
"Apa?". Tanya Queen tanpa membalas sapaan dari Vanno.