
"Dia tidak jelek Van... Coba kau lihat itu" Jimmy menunjuk salah satu gadis itu yang ternyata adalah Jessie sahabat Queen.
Perkiraan Vanno dan Nathan salah, mereka Kira Jimmy mengagumi kecantikan Queen. Ternyata bukan...
Yang Jimmy lihat adalah Jessie sahabat Queen. Mereka sibuk bercengkrama sambil memakan sarapan mereka. Hingga selesai Vanno masih melirik Queen.
Queen dan kedua sahabatnya beranjak pergi setelah sebelumnya membayar makanan mereka dan berniat langsung ke kelas mereka.
Sampai mereka lewat samping meja Vanno dan teman-temannya, langkah mereka terhenti karena ada suara menyapa salah satu sahabat Queen.
"Hey cantik... Mau aku antar tidak?" Jimmy berkata dengan nada menggombalnya sampai teman-temannya memutar bola mata malas.
Queen dan kedua sahabatnya berlalu begitu saja melewati Vanno dan teman-temannya, yang masih menatap heran ke arah mereka. Apa mereka ini tuli? Pikir Vanno.
"Eh cantik-cantik ternyata tuli" kembali Jimmy angkat suara, hingga Jessie membalikkan badannya dan menggebrak meja mereka tepat di sebelah Jimmy.
Brakkk
"Apa mulutmu itu tidak mau kau pakai lagi? Hah?" bentak Jessie sambil mencengkram kerah baju Jimmy. Vanno dan Nathan terkesiap dengan perlakuan Jessie terhadap Jimmy. Wanita ini tidak ada anggun-anggunnya terhadap Pria.
Jimmy yang dibentak, tidak sedikit pun takut. Malah tersenyum manis pada Jessie agar wanita itu melepaskan cengkramannya dengan ketampanan yag Jimmy punya.
"Tidak ada gunanya kau tersenyum seperti itu padaku" geram Jessie dan melepaskan tangannya dari kerah baju Jimmy yang sudah terlihat kusut.
"Dasar mulut busuk tidak tau diri" Jessie meninggalkan mereka bertiga yang diam mematung menatap kepergian Queen dan teman-temannya.
Sampai dikelas, mereka kembali bercengkrama seperti tidak akan ada yang mengusik kesenangan mereka dikelas.
Saat obrolan berlangsung, tiba-tiba Jessie mengalihkan pembicaraan.
"Apa kalian tau?" tanya Jessie, spontan Queen dan Jasmine menggeleng kepala.
Jessie menghela nafas panajang lalu kembali bicara.
"Tadi aku lihat, teman si buaya itu terus menatap Queen... Bahkan aku melihat kau pun curi-curi pendang kepada dia Queen" Jessie terdengar menggoda saat kalimat terakhirnya sambil tersenyum mengedipkan mata ke arah Queen.
"Aku hanya heran kenapa dia terus menatapku... Ah mungkin dia risih dengan penampilanku haha" Queen tergelak, dia berpikir bahwa Vanno menatapnya karena penampilannya yang sederhana, tapi dia tidak tau arti lain dari tatapan itu.
Mungkin jika dengan orang lain Vanno akan dengan senang hati menerimanya sebagai taruhannya, tapi ini dengan gadis jelek itu. Apa yang terjadi setelahnya saat dia berpacaran dengan gadis itu meskipun hanya taruhan.
"Queen sebaiknya kau berhati-hati dengan pria itu"
"Kenapa?"
"Aku takut jika dia akan membuatmu terluka" Queen terdiam mendengar ucapan Jasmine. Ya, Jasmine paling dewasa diantara mereka bertiga jadi Queen sudah tau watak dan sifat Jasmine. Gadis itu paling tidak suka jika salah satu temannya dilukai oleh pria brengsek. Dia harus mengintrogasi terlebih dahulu sifat asli pria itu. Karena dulu Jasmine sempat terluka karena pria, itulah sebabnya dia tidak mau hal itu terjadi pada teman-temannya.
"Ketahuilah Queen, aku tidak ingin kau mengalami hal yang sama Seperti diriku dulu... Cukup aku saja jangan dirimu dan Jessie" jelas Jasmine sambil merangkul Queen dan Jessie.
Mereka sangat bersyukur di pertemukan gadis seperti Jasmine, jika dulu mereka tidak bertemu dalam suatu insiden. Mungkin sampai sekarang Queen tidak punya teman sejati.
"Aku akan lebih berhati-hati Jasmine"
🌹🌹🌹
Queen berperan penting dalam pertemuan kali ini, karena dia juga mempunyai sebagian saham pada cabang perusahaan Daddynya yang ada di London.
Sebelum pulang berganti baju, Queen terlebih dahulu menelpon asisten Daddynya.
Tutttt tuttt sambungan telpon dijawab.
"Hallo pak..."
"Iya hallo nona... Apakah nona sudah pulang?" tanya Kevin Asisten pribadi Daddy Ken.
"Iya pak... Queen sudah pulang. Apa semua berkas yang diperlukan sudah disiapkan pak?" tanya Queen.
Karena Queen memang bisa diandalkan dalam urusan meeting jadi selalu Queen yang menghandle meeting Daddy Ken. Dia tau anaknya sangat jenius dalam berbisnis, jadi tidak perlu diragukan lagi. Meskipun tanpa Queen pelajari terlebih dahulu, tapi dia mampu memenangkan setiap kerja sama dengan perusahaan lain.
"Sudah... Nona tinggal bersiap untuk berangkat kesana saja"
Queen tersenyum manis "Baiklah pak... Queen akan kesana sebelum itu Queen mau berganti pakaian dulu... Nanti bapak jemput Queen dirumah saja ya"
"Siap nona... Kalau begitu saya tutup teleponnya"
Setelah sambungan terputus, Queen bergegas pulang dengan mengendarai mobil sport putih miliknya. Tidak ada yang percaya bukan? Seorang sederhana seperti Queen mempunyai mobil mewah. Karena Queen sangat pandai menybunyikan identitas aslinya dan menyangkut mobil? Queen punya segala cara membuat orang tidak melihat dia menaiki mobil itu.
Mobil melaju memecah keramaian kota, hingga tak terasa mobil itu sampai di mension mewah.
Queen turun dari mobil dan segera menuju kamarnya. Mandi dan berganti pakaian yang cocok untuknya.
Selesai membersihkan diri, Queen merias menampilannya. Dia memilih celana panjang hitam dan atasan kemeja warna putih dengan sebelah lengan panjang dan lengan kiri tereskpos menampakan kulit putih mulusnya dengan ikat pinggang dipakai pada tubuh indahnya. Tidak lupa make up natural dan rambut di kepang satu, menambah kesan elegan dan dinginnya keluar. Queen nampak sangat berbeda dengan kesehariannya di kampus, mereka yang melihat pasti tidak mengenalinya.
Dalam pertemuan ini Queen maupun kilennya tidak menyadari kehadiran satu sama lain. Karena Queen akan merubah penampilannya jika sudah menyangkut urusan perusahaan, dia tidak mau membuat malu keluarganya dengan penampilan sederhana. Biarlah dikampus saja dia seperti culun, karena itu akan mudah baginya mendapat teman sejati dan bukan teman sejati. Ketika sudah diluar? Queen berubah 180° seperti bukan dirinya yang selalu dihina.
Queen keluar kamar menuju lift untuk turun kelantai 3 rumahnya. Saat keluar lift tiba-tiba Queen dikejutkan dengan suara Ricko yang ternyata sedang bermain ponsel di ruang keluarga.
"Wah... Wah... Ada bidadari turun ternyata" ledek Ricko pada adiknya yang berjalan menuju kearahnya.
"Kau seperti hantu kakak... Karena mengejutkanku akan kehadiran mu dirunah ini" balas Queen tanpa memperdulikan ucapan kakaknya.
"Kau sungguh menyebalkan ya sekarang Queen" Ricko berdiri menghadap adiknya dan mencium kening adiknya penuh kasih sayang.
"Semoga kali ini kau memenangkan kerja sama dengan klien kita lagi Queen" ucap Ricko setelah mengecup adiknya.
"Aku pasti akan memenangkannya kak... Mungkin klien kali ini tidak mudah tapi aku akan berusaha mendapatkan kerja sama ini"
Ricko tersenyum sambil mengusap pelan rambut adiknya "Pergilah... Semoga berhasil"
Queen mencium pipi kakaknya dengan cepat dan tersenyum manis lalu berkata "Aku pergi kak" Queen berlalu meninggalkan kakaknya dan menghampiri mobil Kevin yang sudah dari tadi menunggunya.
Terlihat Kevin siap dengan membukakan ointu untuk majikannya "Silahkan nona... "
Queen hanya tersenyum sebelum ia masuk mobil dan berlalu meninggalkan Mansion mewahnya menuju hotel yang telah dijanjikan.
Maaf jika kata-katanya typo 😊