Love Storm

Love Storm
Kemarahan Ricko



Jimmy menghembuskan nafas pelan. "Kalian bedua selalu bersaing dari dulu. Hanya karena sebuah popularitas saja!"


"Van! Kau sebaiknya pikirkan dahulu sebelum bertindak! ". Timpal Nathan.


Vanno hanya diam mendengarkan ocehan sahabatnya.


"Aku tau itu! Tapi aku tidak suka pada gadis itu, bahkan aku saja tidak tau namanya". Vanno menyeruput kopinya.


"Dia tidak menarik untuk dilihat! Dan lagi kalian kan tahu aku tidak tertarik pada wanita. Tapi aku juga tidak punya pilihan lain selain menerima tawarannya. Jika tidak, Jino akan terus mendesakku!"


"Aku sungguh muak!"


Jimmy menepuk pelan bahu kanan Vanno. "Semoga kau tidak menyesal nantinya". Ucap Jimmy sambil menyeruput kopinya.


Kenapa mereka sekarang tiba-tiba sudah menikmati kopi? Karena tadi setelah berbincang dengan Jino, Vanno dan teman-temannya memutuskan untuk singgah di Cafe sekitaran kampus mereka.


"Queen! Apa kau sudah menemukan buku yang kau cari?". Jasmine menghampiri Queen yang sedang sibuk memilah buku yang tersusun rapi di rak buku.


"Ah ya..Aku sudah menemukannya!". Queen menunjukkan buku yang sudah dia temukan.


"Emm... Kalian sudah selesai?"


"Aku sudah selesai Queen. Tunggu sepertinya Jessie... ". Jasmine merasa ada yang tidak beres. Tunggu dimana Jessie!!! Jasmine dan Queen saling lempar pandang dengan penuh tanda tanya dimata mereka.


Dan ahhh yaaa.... Jessie kemana? Mereka baru menyadari bahwa sahabatnya yang satu itu tidak ada disini.


"Jessieeee!!". Teriak Queen dan Jasmine bersamaan.


"Jasmine bagaimana ini? Jessie.... Jessie tidak ada disini!!". Queen panik bukan main.


Jasmine pun sama halnya dengan Queen, walaupun Jessie suka ceroboh dan konyol. Tapi mereka sangat menyayanginya, takut terjadi apa-apa pada Jessie.


"Queen sebaiknya kita coba hubungi dia dulu ya!"


"Iya Jasmine cepat kau hubungi dia!"


Jasmine mencoba menghubungi Jessie, tapi mereka tiba-tiba menyerngit kan dahi sambil mencoba meyakinkan apa yang barusan mereka dengar.


Jasmine menghubungi lagi nomor Jessie. Dan terdengar lagi suara dering ponsel tak jauh dari mereka.


Suara itu di rak buku belakang mereka. Benarkah ponsel Jessie? Itu berarti dia dari tadi ada di sekitar sini, tapi kenapa tidak menyahut tadi.


Queen dan Jasmine berjalan menuju ke arah sumber suara dan dibuat terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Mereka menganga tak percaya melihat Jessie tidur pulas dengan posisi duduk bersandar pada rak buku.


Mereka berdua panik mencarinya tapi dia malah asyik tidur disini.


"Jes... Jessie... Jessie Yona Joseph.... Bangunnnnn!!". Teriak Queen di telinga Jessie.


Sejurus mungkin gadis itu langsung terbangun. Dan disambut wajah kesal oleh kedua sahabatnya.


"Kalian kenapa melihat ku seperti itu?". Tanpa berdosa Jessie menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kau bilang kenapa? Justru kami yang bertanya kenapa kau tidur disini?". Tanya Jasmine sedikit kesal.


"Aku sangat mengantuk jadi ya...Tertidur disini". Jawab Jessie menyengir kuda.


Queen dan Jasmine tak habis pikir, sahabatnya ini begadang atau apa semalam, kenapa seperti ini?


"Jika mengantuk kenapa kau tidak mengajak kami pulang saja tadi? Jangan tidur disini, ada banyak orang yang melihat mu". Queen mengarahkan jari telunjuknya ke arah orang-orang yang sedang menatapnya heran.


Jessie menutup wajahnya dengan buku yang ia pegang, karena baru menyadari orang-orang melihatnya. Malunya...


"Jes ayo kita pulang". Ajak Queen.


"Ehm baiklah ayo". Jessie berdiri dan mereka berlalu meninggalkan perpustakaan.


°°°°°


Queen nampak tersenyum melihat mobil yang terparkir di halaman rumahnya. Itu mobil Daddy ken, berarti Daddy dan Mommy sudah pulang.


Segera saja Queen masuk kedalam rumah untuk mengecek apakah benar yang dia pikirkan bahwa orang tuanya sudah pulang.


Saat masuk kedalam Queen melihat sosok pria berperawakan sama Seperti Daddynya. Langsung Queen menghampiri orang itu.


"Daddy?". Panggil Queen pelan.


"Sayang! Kau sudah pulang nak?". Daddy Ken merentangkan kedua tangannya dan Queen langsung menghambur kepelukan Daddynya.


"Daddy! Queen sangat merindukan Daddy". Daddy tersenyum mendengarnya dan memeluk Queen sambil mencium puncak kepala Queen.


"Daddy juga nak! Apa kakakmu menyusahkanmu?"


"Kakak bukan hanya menyusahkan, tapi dia juga sering memarahiku". Queen memasang wajah cemberutnya.


"Ohhh.... Jadi kau menuduhku sering memarahimu?". Sahut Ricko dari arah pintu utama bersedekap tangan di atas perut dengan wajah kesal nya.


Queen terkejut melihat kakaknya datang tiba-tiba. Tapi bukannya tadi pagi kakak bilang ingin pergi? Kenapa cepat sekali kembali kesini? Queen sedikit gugup, namun dengan cepat dia memakai jurus aktingnya.


"Daddy lihatkan kakak memarahiku? Dia sungguh menyeramkan". Queen bicara dengan nada manja tapi terdengar seperti mengejek.


Daddy ken hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku putrinya ini, sungguh pintar dalam berakting.


Ricko mempercepat langkahnya menuju ruang tamu dan menghampiri Queen dan Daddy Ken.


"Kau sungguh pintar berbohong ya adik kecil!". Geram Ricko sambil mencubit pipi adiknya dengan gemas.


"Aku bukan berbohong tapi bicara kenyataan kakak!". Queen menjauhkan wajahnya dari tangan Ricko yang hendak mencubitnya lagi.


"Kau biasanya suka memarahiku hanya karena aku minta kau menemaniku nonton film drama kesukaanku dan juga kau kadang marah karena aku ingin mengajakmu pergi ke taman bermain. Kau bilang menjengkelkan lah kekanakan lah!".


Ucap Queen dengan pura-pura memelaskan wajahnya dan memasang wajah sedih. Membuat Daddy Ken tersenyum simpul menahan tawa.


Ricko membelalakkan matanya lebar seakan bola matanya ingin dikeluarkan sekarang juga.


"Lelucon macam apa ini Queen? Kau berbicara hal sepele itu pada Daddy seolah aku marah besar padamu?"


"Dadd! Aku tidak pernah mengatakan itu padanya percaya lah". Ucap Ricko menoleh pada Daddy Ken.


Bukannya menjawab ucapan Ricko Daddy ken malah terbahak-bahak melihat wajah panik Ricko. Dan Queen? Jangan tanya lagi, sudah pasti dia tertawa keras karena berhasil mengerjai kakaknya. Salah sendiri kakaknya itu sibuk dengan pekerjaan dan sering meninggalkan dia dirumah sendirian. Sehingga Queen kesepian karenanya.


Ricko menautkan kedua alis tebalnya kedalam hingga nampak seperti menyatu.


"Kalian tertawa? Apa ada yang lucu disini?"


Mata Queen berair karena tertawa sungguh menghiburkan. "Hahaha... Kakak kenapa? Kan Queen hanya bercanda tadi!"


"Oh... Sekarang pandai ya bercanda seperti itu!". Ucap Ricko menggelitik pinggang ramping adiknya.


Queen tertawa karena geli. "Hahahaha.... Kak... Hentikan ini... Hahhha... Ak... Aku... Aku minta maaf kak... Hentikan!!"


Bukannya berhenti Ricko terus menggelitik Queen.


"Minta maaf yang benar!"


"Queen haha... Minta maaf kak!"


"Sekali lagi"


"Hahaha... Queen minta... Haha maaf.... Kakakku sayang! Paling tampan sedunia!"


Ricko menghentikan aksinya dengan senyum merekah. "Pintar adik kakak tersayang"


Queen tersenyum dan memeluk kakaknya dan di Ricko membalas pelukan Queen sambil mengecup puncak kepala adiknya.


"Baiklah kakak akan memaafkanmu, tapiii!"


"Tapi apa kak?". Queen menantikan kelanjutan kalimat Ricko. Dan Ricko yang melihatnya langsung tersenyum jahil.


"Kamu harus memasak makanan enak malam ini". Sambung Ricko.


Queen ternganga. "Apa Queen tidak salah dengar kak? Kenapa kakak menyuruhku memasak. Kan ada Bi Liana yang akan masak untuk kita"


"Bi Liana sedang sibuk jadi dia tidak sempat, jadi kau saja karena Mommy pun pasti juga masih lelah"


Queen menepuk jidatnya pelan. "Em Queen sampai lupa menyapa Mommy.. Astaga... Dimana Mommy Dad?"


Daddy sudah tau putrinya ini memang sedikit pelupa, jadi sengaja tadi belum mengingatkan.


"Ada dikamar istirahat katanya kurang enak badan"