
Vanno bangun dari tidurnya, saat Matahari mulai berada dipuncak ubun-ubun. Dia melihat arloji sudah menunjuk kan pukul 12 siang.
Sudah waktunya dia pulang untuk makan siang, karena perutnya sudah sangat lapar.
Vanno memang suka masakan rumah dibanding masakan luar, karena lidahnya sudah terbiasa memakan masakan sang mami.
Dia akan makan diluar, jika ada hal mendadak ataupun berkumpul bersama sahabat-sahabatnya.
"Aku harus segera pulang kerumah atau mami akan sedih jika aku tidak pulang makan siang bersamanya dirumah!"
Vanno beranjak berdiri menuju kamar mandi untuk membasuh muka dan setelahnya dia keluar dari apartment untuk pulang kerumah.
Sebelum pulang, Vanno singgah sebentar disebuah mini market untuk membeli camilan ringan dan minuman kaleng, karena dikamarnya kehabisan makanan dan minuman.
Setelah itu baru dia melanjutkan kembali perjalanan pulang kerumahnya sambil mendengarkan music jazz kesukaannya.
°°°°°
Vanno telah sampai dirumah dan dia langsung mencari keberadaan maminya.
"Mam...Mami!!!" teriak Vanno berjalan kesana kemari mencari Mami Dania yang menjadi kebiasaannya jika pulang kerumah.
"Mami!!"
Vanno mencari kedapur dan ruang makan namun tidak ada, hanya makanan saja yang sudah tersaji diatas meja makan.
"Kemana mami pergi?" gumam Vanno sebelum berjalan menuju lift untuk kekamarnya.
Sementara Mami Dania ternyata sedang duduk dikebun bunganya sambil melihat-lihat bunga yang ia tanam kemarin.
Terlihat Mami Dania nampak sedang menikmati keharuman bunga dan juga cuaca yang cerah yangmembuat hatinya menghangat.
"Beruntung aku menanam bunga-bunga disini! Rumah ini menjadi segar bila memandangnya" ucap Mami Dania tersenyum.
Ditengah ketenangannya, samar-samar dia mendengar suara putranya yang sedang memanggilnya.
"Anak itu, selalu saja berteriak mencariku jika baru pulang!"
Terdengar lagi suara Vanno berteriak memanggilnya setelah itu tidak terdengar lagi teriakan putranya, namun tak membuat wanita paruh baya ini beranjak dari duduknya ataupun sekedar menyahut.
Wanita itu hanya tersenyum sambil menggeleng-geleng kepala dengan tingkah putranya.
"Sayang... " Mami Dania menoleh saat ada suara yang mendekatinya.
Ternyata Papi Rangga yang baru saja pulang untuk makan siang bersama istri dan putranya.
"Ah papi... Kapan sampai?" tanyanya dengan lembut, setelah Papi Rangga mengecup kening dan kedua pipinya.
Papi Rangga duduk disebelah Mami Dania "Baru saja sayang!" jawabnya.
"Dimana anak kita? Apa dia sudah pulang?". Tanya Papi Rangga.
"Sepertinya sudah! Asal papi tau, anak kita itu akan berteriak mencariku jika dia pulang"
Papi Rangga terkekeh "Itulah putra kita mami! Dulu kakaknya yang sering seperti itu, sekarang dia juga begitu kebiasaannya"
Mendengar kata kakak membuat Mami Dania sedih mengingat mendiang putra sulungnya yang telah pergi.
"Mami sangat merindukan Daniel!"
Papi Rangga merasa bersalah melihat istrinya bersedih.
"Maafkan papi mam! Bukan maksud papi membuat mami bersedih"
Mami Dania tersenyum tipis seraya mengusap air matanya yang sudah menetes.
"Justru mami yang minta maaf, karena belum bisa melepas kepergiannya sampai saat ini!"
"Tidak! Mami jangan bicara seperti itu, ini sudah takdir kita mami. Papi hanya berharap dia akan tenang disana dan kita pun segera melepasnya!"
Papi Rangga membawa Mami Dania kedalam pelukannya.
"Maafkan papi!"
"Kita harus kuat papi" Mami Dania membalas pelukan Papi Rangga.
Mereka berpelukan cukup lama, hingga tidak sadar kalau Vanno telah berdiri dibelakang mereka.
"Ehem....Sudah jangan bermesraan disini, makanan akan dingin jika tidak segera dimakan!" ucap Vanno.
Vanno memang suka merusak suasana mesra orang tuanya.
"Dasar anak nakal! Cepat cari istri sana, biar tidak mengacau orang tua lagi bermesraan" ketus Papi Rangga.
Vanno mendengus kesal, lagi-lagi menikah. Kata ini telah bosan didengarnya hampir setiap hari.
"Papi tidak ada kata-kata lain apa? Menikah itu tidak mudah papi!"
"Menikah itu mudah, hanya kau saja yang membuatnya semakin rumit!"
Mami yang tadinya sudah tersenyum kini jadi marah melihat perdebatan ayah dan anak itu.
"Sudah.... Sudah! Kalian seperti anak kecil saja, ayo kita makan siang!" Berjalan mendahului suami dan putranya untuk menuju ruang makan.
"Lihatlah! Ini semua gara-gara kau, mamimu menjadi marah sekarang" tuduh Papi Rangga sambil bersedekap.
"Kenapa papi jadi menyalahkanku? Ini juga salah papi kan?"
"Enak saja sa..."
Belum sempat Papi Rangga menimpali, suara nyaring Mami Dania menghentikan perdebatan itu.
"APA KALIAN TIDAK MAU MAKAN? Haa??" teriak Mami Dania yang berdiri ditengah pintu.
Vanno dan Papi Rangga pun akhirnya diam dan langsung berjalan menuju ruang makan.
Selama makan, mereka tidak pernah mau bicara. Karena itu tradisi keluarga dan tentunya adat sopan santun, setelah selesai baru boleh bicara.
Vanno makan dengan lahap seperti orang kelaparan, membuat Mami heran padanya. Biasanya dia selalu menjaga porsi makan, tapi kali ini sungguh seperti tidak perduli berat badan.
Setelah mereka semua selesai makan baru Mami Dania berbicara.
"Sayang! Kau kau kenapa hari ini kelihatan seperti sangat kelaparan? Hingga porsi makanmu 2 kali lipat dari biasanya"
Vanno baru selesai minum dan mengelap mulutnya dengan tissu, lalu menjawab.
"Entahlah mam, Vanno sangat lapar! Sepertinya karena semalam Vanno tidak makan malam dan tadi pagi pun hanya minum susu saja"
"Ya sudah, kalau begitu pergilah naik ke kamarmu jangan kemana-mana lagi!" titah Mami Dania.
Vanno pasrah akan titah maminya, karena dia anak yang penurut.
"Baiklah mami, Papi. Vanno ke kamar dulu!"
"Iya nak" sahut Mami dan Papi bersamaan.
Setelah Vanno naik menuju kamar nya, Papi Rangga angkat bicara.
"Sayang! Apa kau ingat keluarga Baranta teman kuliahku dulu? Dia juga rekan bisnisku!" tanyanya.
Mami Dania tampak berfikir, sebelum kemudian dia mengangguk antusias lalu tersenyum.
"Iya mami ingat! Bagaimana kabar mereka pi?"
"Mereka baik-baik saja dan katanya mereka akan berkunjung ke rumah kita pekan depan!"
Mami Dania sangat senang mendengarnya.
"Benar kah yang papi katakan ini?"
"Iya benar! karena kita sudah lama tidak bertemu keluarga mereka, jadi tidak masalahkan jika kita menyambut kedatangan mereka?"
"Tentu tidak masalah papi! Mami sangat senang mereka mau datang ke rumah kita ini"
Papi Rangga tersenyum "Kalau begitu papi mau kekantor lagi, masih ada pekerjaan belum selesai!'
"Iya papi berhati-hatilah!"
Papi Rangga tersenyum lalu mengecup kening Mami Dania seperti biasanya.
"Jangan terlalu merindukan papi ya" ucap Papi Rangga mengedipkan sebelah matanya, sebelum beranjak pergi.
"Dasar tua bangka!" celetuk Mami Dania melihat tingkah suaminya.
°°°°°
Di Mansion keluarga Baranta.
Queen dan kedua sahabatnya tengah sibuk menata makan siang yang mereka buat tadi, setelah bergelut lama didapur.
"Akhirnya selesai juga masakan kita!" ucap Jessie yang baru saja membantu Jasmine dan Queen menata makanan.
"Cih. Mana ada! Kau dari tadi hanya mencicipi saja Jess, kapan kau membuatnya?" cibir Queen sambil menyeka kedua tangan dipinggangnya.
Jessie terkekeh "Iya maksudku selesai juga masakan kalian, setelah tadi aku lelah mencicipinya haha"
"Sama saja!"
Sementara Jasmine hanya duduk memperhatikan mereka berdua.
"Apa kalian sudah selesai?" tanyanya kemudian.
Queen dan Jessie menoleh kearahnya dan menyengir kuda.
"Sudah, ayo kita makan!" ajak Queen.
Mereka berdua mengangguk, namun kemudian Jasmine kembali bersuara.
"Em... Queen! Apa kau tidak ingin mengajak kakakmu makan?" tanyanya dengan sedikit ragu.
"Haa?" teka Queen dan Jessie secara bersamaan.
"Kenapa?"
"Kau bilang apa tadi?" tanya Queen balik.
"Aku?" Queen mengangguk.
"Aku hanya bertanya tadi, apa kau tidak ingin mengajak kakakmu makan?" ulang Jasmine.
Queen dan Jessie saling pandang dan tersenyum penuh arti.
"Oh... Kakak sepertinya sedang istirahat. Lebih baik kau saja yang mengajaknya, aku sangat lelah jika harus naik ke atas!"
Jessie pun ikut menimpali "Iya Jasmine, kau saja yang mengajaknya. Tadikan kau yang berpikiran untuk mengajak kak Ricko!"
Jasmine memandang mereka berdua secara bergantian, sebelum kemudian dia bertanya.
"Apa harus aku? Kan banyak pelayan dirumah ini Queen! Jadi suruh saja mereka yang memanggil kakakmu"
"Mereka sedang istirahat sekarang, sangat kasihan jika merepotkan mereka lagi!"
Akhirnya Jasmine beranjak dari duduknya tanpa membalas ucapan Queen lagi.
"Apa kau tau dimana kamarnya?" tanya Queen, sebelum Jasmine berjalan jauh.
Jasmine menoleh "Tidak tau"
Queen pun menjelaskan dimana letak kamar Ricko dan Jasmine langsung berjalan menuju arah yang ditujukan.