Love Storm

Love Storm
Ajakan dari Vanno



Queen terbangun dari mimpi indah nya, saat samar-samar mendengar suara Mommy Stella yang sedang memanggilnya.


"Queen sayang!! Mommy pulang!". Teriak Mommy Stella dari bawah sana.


"Queen!!". Teriak Mommy Stella lagi.


Queen bangun dan duduk sambil meregangkan otot-otot tubuhnya.


"Sepertinya aku mendengar suara Mommy memanggilku! Apa Mommy sudah kembali?". Tanya Queen pada dirinya sendiri, lalu bangkit dari Ranjang dan turun kebawah untuk menemui orang yang dirindukannya dari kemarin.


Queen melihat Mommy dan Daddy beserta sang kakak tengah duduk-duduk disofa Ruang keluarga, sambil berbincang-bincang ringan.


"Mommy!!". Teriak Queen berlari kecil menghampiri mereka.


Mereka yang sedang asyik berbicara, seketika terhenti mendengar suara nyaring Queen.


"Mommy! Daddy! Queen sangat sangat merindukan kalian!". Ucap Queen yang sudah didekat mereka dan menghambur kepelukan orang tuanya.


"Kami juga merindukanmu nak!". Ucap Mommy Stella sambil tersenyum hangat.


"Bagaimana keadaanmu selama kami tinggal, sayang?". Tanya Mommy Stella.


"Queen kesepian jika kak Ricko bekerja atau pun pergi keluar Mom!". Ucap Queen dengan wajah sedihnya.


"Tapi sekarang Queen tidak kesepian, karena kalian sudah kembali kerumah ini!". Sambungnya dengan senyuman manis.


"Kasian sekali putri Mommy yang cantik ini!". Seru Mommy Stella mencubit pipi putrinya.


"Sudah Queen! Sebaiknya biarkan Mommy dan Daddy istirahat dulu!". Titah Ricko agar Queen berhenti bermanja dengan orang tua mereka.


"Hem! Padahal Queen baru saja ingin bermanja-manja kepada Mommy dan Daddy! Kakak selalu saja seperti itu!". Gumam Queen pelan, namun dapat didengar oleh kakaknya.


"Aku dengar!". Ketus Ricko membuat kedua orang tua mereka menggeleng kepala dengan tingkah anak-anaknya.


"Daddy! Sebaiknya kita istirahat sekarang!". Ajak Mommy Stella bangkit dari duduknya.


"Iya Mommy!". Ucap Daddy Ken.


Mereka berdua berlalu pergi meninggalkan anak-anaknya yang masih lempar tatapan tajam.


°°°°°


Dirumah keluarga Mahessa.


Vanno dan orang tuanya sedang duduk bersantai ditaman samping rumah mereka, sesekali tawa canda menghiasi kebersamaannya.


"Papi dan Mami akan pergi kemana pekan ini?". Tanya Vanno.


"Kami akan menghadiri undangan makan malam bersama dikeluarga Baranta nak!". Ucap Mami Dania.


"Keluarga Baranta?". Tanya Vanno.


"Iya nak, ada apa?"


"Sepertinya Vanno pernah mendengar nama keluarga ini Mam!". Jawab Vanno mengingat-ingat lagi.


"Tentu saja kau pernah mendengar nya sayang! Keluarga mereka adalah teman sekaligus rekan kerja kita! Apa kau ingat dulu saat ulang tahun kakakmu?". Tanya Mami Dania.


"Iya!"


"Mereka juga hadir dan menyaksikan kisah pilu itu disana! Dan mereka jugalah yang menemani keterpurukan kami sejak itu!". Mami Dania terlihat sedih saat mengingat hal dahulu itu.


"Oh jadi Mami dan Papi akan makan bersama keluarga mereka?". Tanya Vanno.


"Iya nak! Sekaligus ada yang ingin kami bahas disana!". Jelas Mami Dania.


"Apa itu Mam?". Tanya Vanno.


"Tidak ada! Ini soal pekerjaan saja!". Jawab Papi Rangga menimpali.


Vanno manggut-manggut mengerti.


"Kau ingin ikut sayang?". Tanya Mami Dania.


"Sepertinya tidak Mam! Vanno diundang untuk menghadiri pesta Ulang Tahun teman kampus Vanno!". Seru Vanno.


"Baiklah sayang! Sampaikan salam Mami pada temanmu itu!"


"Iya mam!"


"Hari sudah gelap! Ayo kita masuk kedalam, pasti makanan sudah siap!". Ajak Papi Rangga.


"Mami dan Papi duluan saja! Vanno ingin menghubungi seseorang sebentar!". Jawab Vanno sambil merogoh ponsel disaku celananya.


"Siapa? Apa itu kekasihmu?". Tanya Mami Dania penasaran.


Vanno gugup untuk menjawab.


"Bu... Bukan Mam! Dia teman Vanno!". Ucapnya.


"Oh yaa?". Kali ini Papi Rangga menimpali dengan sedikit menggoda putranya itu.


"Tentu saja! Papi kira apa?"


"Papi mengira itu adalah calon kekasihmu, atau bisa jadi sudah kekasihmu!"


"Bukan Papi! Dia memang teman Vanno!". Jelas Vanno mencoba meyakinkan orang tuanya.


"Sudah, ayo kita masuk! Kau bilang tadi ingin makan!". Halang Mami Dania.


"Gara-gara Putra kesayangan Mami ini, Papi jadi lupa!". Tuduh Papi Rangga.


"Dasar Papi!". Gerutu Mami Dania berlalu pergi meninggalkan suaminya, lalu Papi Rangga menyusul dirinya dari belakang.


"Apa yang harus aku katakan setelah menghubunginya?". Tanya Vanno pada dirinya sendiri sambil menyangga dagu dengan tangannya.


"Apa aku langsung saja katakan jika aku ingin dia menjadi pasanganku dipesta itu?"


Agrhhh sial! Sulit sekali menciptakan kata-kata yang tepat!. Gumam Vanno.


Vanno mengetik sebuah nama yang sudah disimpannya kemarin, lalu mulai menghubunginya.


Tuuutt...


Sambungan terhubung.


"Hallo!". Sapa seseorang diseberang sana, terdengar seorang wanita yang menjawab telpon.


"Hallo!". Sapa wanita itu lagi, terdengar suaranya menggerutu didalam sana.


"I.. Iya hallo!". Balas Vanno dengan gugup.


"Siapa?"


"Vanno! Apa kau ingat?"


"Oh kau! Ada apa?"


"Aku ingin mengajakmu menghadiri undangan pesta Ulang Tahun teman kampus kita pekan ini!". Ucap Vanno to the poin.


"Pesta? Apa maksudmu?"


Vanno menghela nafas pelan.


"Aku ingin kau menjadi pasanganku dipesta itu! Apa kau mau?"


"...... "


Vanno tidak mendengar jawaban dari seberang sana, lalu mengecek sabungan telpon ternyata masih terhubung.


"Hallo?"


"Ah ya! Maaf, sepertinya aku harus memikirkannya dahulu!"


"Kenapa?". Tanya Vanno.


"Pekan ini aku akan makan malam dirumahku bersama teman orang tuaku! Nanti akan aku hubungi jika aku bisa!"


"Baiklah! Kau hubungi aku jika kau sudah setuju untuk ikut denganku!". Ucap Vanno.


"Oke!"


Hanya itu jawaban wanita itu, dan langsung memutuskan sambungan telponnya.


"Setidaknya aku sudah berusaha mendekatinya sekarang!". Vanno merasa lega karena sudah mengutarakan pikiran yang menggangunya sejak kemarin.


Vanno berpikir dia sudah menjalankan misi pertamanya dalam pertaruhan ini, tinggal ia menjalankan misi selanjutnya.


°°°°°


Queen menatap layar ponselnya yang baru saja menerima telpon dari Vanno, lelaki yang baru beberapa hari ini dikenalnya.


"Apa aku harus menerima tawarannya?". Tanya Queen pada dirinya sendiri.


"Tapi aku harus memastikan bahwa itu memang keinginannya, bukan karena hal lain!"


Lama berpikir akhirnya Queen melanjutkan ritualnya yang tertunda akibat menerima telpon. Queen berdandan seadanya saja, karena yang menjadi peran utama pada malam ini adalah kakaknya dan Jasmine.


Sederhana pakaian Queen, hanya mini dress rumahan saja. Karena dengan tampilan apapun dia tetap bersinar cantik.


Setelah selesai, Queen menghubungi Jasmine supaya gadis itu bersiap untuk dijemput supir pribadinya yang sudah ia utus sejak tadi.


Tuuutttt....


"Iya Queen?"


"Kau sudah selesai?". Tanya Queen.


"Sudah! Kenapa?"


"Sebentar lagi supirku akan menjemputmu disana! Kau bersiaplah!"


"Iya sayang! Aku tutup dulu!"


"Ah yaa!"


Queen menyimpan ponselnya diatas nakas, lalu berjalan menuju kamar Ricko. Disana pria itu sudah tampan meski hanya memakai pakain kasual, serta rambut yang disisir rapi kedepan menambah aura pesonanya.


"Kakak tampan sekali!". Seru Queen yang sudah duduk ditepi ranjang kakaknya.


"Astaga!!". Ricko terkejut melihat adiknya yang duduk enteng diranjangnya.


"Sejak kapan kau disana?". Tanyanya.


"Sejak tadi!". Jawab Queen datar.


"Seharusnya kau ketuk pintu dahulu sebelum masuk!".


"Tadi Queen sudah ketuk pintu! Tapi kakak tidak sadar!".


"Memangnya siapa yang ingin kakak temui dengan berdandan seperti itu?". Tanya Queen memicingkan mata.


"Kau tau apa anak kecil!". Jawab Ricko ketus.


"Aku sudah besar kakak!". Queen mencurutkan bibirnya kedepan pura-pura merajuk.


"Sebaiknya kau keluar dan temui Mommy dan Daddy dibawah sana!". Titah Ricko.


"Cih. Mengusir!". Ucapnya sambil berjalan keluar dari kamar Ricko dengan menutup pintu keras, sehingga menimbulkan suara nyaring.


Ricko hanya mengacuhkan saja, dan kembali menatap pantulan dirinya didepan cermin.


Perfeck!


Satu kata untuk Ricko dengan tampilannya sekarang, dan ia segera berlalu menyusul adiknya kebawah bergabung bersama kedua orang tua mereka.









Selamat membaca guys😊


Mohon dukungan dengan Like, komen and votenya agar Ana bisa semangat lanjutin ceritanya👌Terima kasih.