
Setelah berbincang-bincang kecil dengan keluarga Baranta, Jasmine permisi untuk kembali kerumahnya. Dia benar-benar merasakan kehangatan didalam keluarga itu yang sebelumnya belum pernah dia rasakan dirumahnya.
Karena Jasmine adalah gadis yatim piatu, yang ditinggal oleh kedua orang tuanya dalam sebuah insiden yang menyebabkan dia kehilangan sosok orang tua untuk selamanya. Dari sejak kejadian itu, dia tinggal bersama pengasuhnya.
Makanya sejak Mommy Stella memintanya untuk menjadi kakak Queen, dia merasa bahagia. Itu berarti dia mendapatkan keluarga baru, apalagi menjadi kakak untuk Queen, sahabat yang dia anggap sebagai saudara.
Jasmine menjadi pewaris tunggal dan menjadi pemimpin diperusahaan papanya. Dia belajar mengurus semuanya dari umur 17 tahun, dan tentu dibantu oleh paman Harry orang kepercayaan papanya.
Pahit manis kehidupan sudah dirasakannya, apalagi tanpa dukungan keluarga disampingnya. Tapi itu semua tidak pernah Jasmine keluhkan, itu memang takdirnya dan harus ia jalani dengan lapang dada.
"Mama, Papa! Jasmine bahagia karena akhirnya menemukan keluarga baru yang mau menerimaku menjadi bagian dari mereka! Mungkin ini berkat dari doa-doaku selama ini dan aku harap kalian tenang disana!". Gumam Jasmine dalam hati.
°°°°°
Mommy Stella dan Queen saat ini tengah bersantai ditaman Mansion mereka, Daddy Ken dan Ricko berada di Ruang kerja.
"Mom! Apa Mommy pekan ini akan makan malam bersama keluarga Mahessa?". Tanya Queen.
"Iya sayang! Ada apa?"
"Boleh kah Queen tidak ikut?". Tanya Queen lagi.
"Memangnya kenapa kau tidak mau ikut? Biasanya kau sangat suka makan malam bersama!". Seru Mommy Stella.
Queen sedikit ragu-ragu untuk mengatakan, jika dia diajak Vanno menghadiri undangan pesta Ulang Tahun Jino.
"Emm... Queen... Diajak teman sekampus Queen untuk menghadiri suatu pesta!". Sarkas Queen.
"Pesta?". Tanya Mommy Stella.
"Iya Mom! Tidak apa-apa, kan?"
"Tidak apa-apa! Tapi kau harus berhati-hati disana! Karena... ". Mommy Stella sengaja menggantung ucapannya, agar Queen penasaran.
"Karena apa Mom?". Tanya Queen.
"Ya... Karena kau ini cantik! Jika tidak pandai memanfaatkan, maka kau akan terjebak hati seorang Pria!". Sarkas Mommy Stella dengan kekehan geli.
"Mommy selalu saja! Queen mengira ada sesuatu disana!". Ucap Queen.
"Lelaki atau perempuan?". Tanya mommy Stella.
"Dia lelaki!". Jawab Queen datar.
"Apa??". Teriak Mommy Stella dengan heboh.
"Ada apa Mom? Kenapa Mommy berteriak?". Tanya Queen sambil menutup telinganya.
"Dia kekasihmu?". Tanya Mommy Stella.
"Bukan Mom! Dia temanku! Kami baru kenal kemarin!". Jawab Queen dengan santai.
"Wow! Baru kenal sudah mengajak pergi ke pesta? Apa dia tampan seperti Daddy dan kakakmu?". Banyak sekali pertanyaan dari Mommynya, membuat Queen sakit kepala mendengarnya.
"Aku tidak tau!". Jawabnya dengan singkat.
"Apanya yang tidak tau? Jika dia tidak tampan, tentu saja kau tidak mau pergi dengannya!"
Harus aku akui dia memang tampan! Tapi wajahnya yang datar itu membuat ketampanannya tidak terlihat olehku!. Gumam Queen dalam hati.
"Sudah lah Mom! Queen sangat mengantuk, besok ada kelas pagi!". Ucap Queen sebelum kemudian mencium pipi Mommynya.
"Bisa bahaya jika Mommy terus saja bertanya!". Gumam Queen pelan sambil berjalan menuju kamarnya.
Setelah Queen masuk kedalam, Mommy Stella mulai berkhayal.
"Baru saja kemarin aku menjodohkan putraku kepada gadis cantik, dan sekarang putriku sedang dekat dengan teman lelakinya!".
"Itu berarti aku akan segera memiliki dua menantu sekaligus dan akan segera menjadi nenek! Hihi... ". Bayangan anak-anaknya menikah dan memiliki cucu, membuat dia tersenyum-senyum sendiri.
°°°°°
Dikediaman Keluarga Mahessa.
Vanno baru saja kembali dari luar, bertemu dengan kedua sahabatnya. Dia baru saja memberitahukan, bahwa dia sudah mengajak Queen untuk pergi ke pesta Ulang Tahun Jino. Namun, gadis itu belum memberi jawaban akan ajakannya kemarin.
Queen bukan la orang yang mudah untuk didekati, tapi juga bukan gadis yang mudah untuk dilepaskan apabila sudah mendapatkan hatinya. Bagi Vanno gadis seperti ini mungkin akan menyulitkannya dimasa akan datang.
"Apa dia tidak ingin menerima ajakanku? Bagaimana lagi aku harus meyakinkannya!". Tanya Vanno pada dirinya sendiri.
Dia bukanlah lelaki yang pandai dalam membujuk seorang gadis, dia belum berpengalaman soal itu.
Vanno menyambar ponsel yang terletak diatas nakas, berniat ingin menanyakan lagi keputusan dari Queen.
Dia sudah kehabisan cara untuk rencana selanjutnya, saat ini yang dia butuhkan hanya sebuah keputusan dari Queen.
Baru saja Vanno ingin menghubungi Queen, gadis itu sudah terlebih dahulu menghubunginya.
Ya, Queen adalah gadis yang tidak suka basa basi, dia harus berterus terang dalam segala hal dan menyatakan secara langsung. Dia berani menanggung resiko dengan keputusannya dan tidak terobsesi pada satu objek yang menurutnya berlebihan.
Bunyi ponsel Vanno beranjak berdering, dan dia langsung mengangkatnya setelah melihat siapa yang menghubunginya.
"Hallo?". Sapa gadis diseberang sana.
"Iya hallo!". Balas Vanno.
"Apa tawaranmu kemarin masih berlaku?"
"Jika kau tidak ingin memberikan jawabanmu, maka jangan hubungi aku!". Ucap Vanno yang ingin menutup telponnya.
"Tunggu! Tunggu dulu! Jika tawaranmu masih berlaku, maka aku akan setuju untuk ikut denganmu! Tapi jika tidak, aku tidak akan menghubungimu lagi! Aku janji!"
"Rencanaku berhasil!". Gumam Vanno dalam hati.
"Baiklah! Aku akan menjemputmu besok malam! Awas jika kau berani berubah pikiran!". Ancam Vanno.
"Yaa... Baiklah! Sampai jumpa besok malam!"
Tutt.... Sambungan terputus sepihak.
"Ternyata tidak sulit seperti yang kubayangkan!". Sarkas Vanno.
Ada rasa lega dihati Vanno setelah Queen setuju untuk ikut dengannya, rencana awalnya berjalan lancar. Tinggal rencana selanjutnya, bagaimana dia akan memulai sebuah hubungan palsu dengan gadis itu.
Vanno menulis sesuatu diponselnya dan mengirim sebuah pesan kepada Nathan.
~Vanno~
Jangan lupa dengan apa yang aku perintahkan padamu tadi!
Ting... Satu pesan masuk dari Nathan.
~Nathan~
Kau tenang saja! Sudah aku lakukan segala yang kau inginkan!
~Vanno~
Bagus!
Vanno meletakkan ponselnya diatas nakas, lalu beranjak dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
°°°°°
Queen merasa sangat lelah hari ini, ditambah lagi banyak Email yang harus ia periksa malam ini. Karena dia memiliki tanggung jawab yang besar, Quee tidak ingin menyia-nyaikannya.
Perusahaan yang dia pimpin semakin berkembang pesat, apalagi dengan adanya kerja sama pada perusahaan lain, membuat dia kewalahan jika saja tidak ada Kevin sang asistennya.
Kevin sebenarnya orang kepercayaan perusahaan Daddy Ken, tapi karena Queen belum menemukan pengganti Asisten yang lalu, jadi merekrut Kevin untuk sementara. Itulahs sebabnya Daddy Ken segera kembali ke kota ini.
Disana Kevin tidak sendirian melainkan bersama sekretaris pribadi Queen yaitu, Hardin Louis. Pria itu sama seperti Kevin yang mempunyai segudang wawasan mengenai perusahaan.
Tapi entah kenapa dia tidak ingin menggantikan posisi Asisten Queen yang dahulu, dia lebih memelih menjadi sekretaris saja.
Berkali-kali Queen menguap karena sudah mengantuk, tapi pekerjaannya belum selesai. Padahal dia ingin sekali tidur dan segera masuk ke alam mimpi, namun apalah daya semua harus ia tahan sampai saatnya tiba.
"Hoamm...! Kapan ini akan berakhir? Aku sudah sangat mengantuk". Ucap Queen sambil mengusap air matanya karena menguap terus menerus.
Selama dua jam Queen mengerjakan pekerjaannya, dan sekarang sudah pukul satu dini hari.
Astaga! Pantas saja aku sudah menguap berkali-kali, ternyata waktu sudah selarut ini!. Gumam Queen sambil melirik jam diponselnya.
Queen meregangkan ototnya yang terasa tegang, lalu melangkah menuju kamar mandi.
Bisa dipastikan besok dia akan bangun kesiangan, karena hari ini tidur selarut itu. Kalau saja tidak ada kelas pagi, mungkin tidak apa-apa baginya untuk bangun kesiangan.
•
•
•
•
•
•
•
•
**Maaf jika jarang untuk selalu update, Ana banyak pekerjaan jadi tidak bisa menulis cerita ini dengan cepat! 🙏
Tapi akan Ana usahakan ya, dan tolong kasih saran baik agar seperti apa kelanjutan cerita ini😊
Jangan lupa dukungan berupa like, rate and vote ya. Makasih**