
Sepulang dari perusahaan Vanno, gadis cantik itu langsung pulang kerumahnya dengan wajah yang nampak sangat lelah. Wajah cantik itu memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya dia tersadar kembali akibat suara bariton dari bawah sana memanggilnya.
“Queen!! Yuhuuuuu... Adik cantik dan manis kakak tapi kuat makan, dimanakah dirimu berada??”
Suara bariton itu menggema di depan kamarnya, siapa lagi kalau bukan Ricko. karena dirumah itu hanya dia yang berani memuji Queen lalu menghempaskan gadis itu kedasar laut amazon. Entah apa maksudnya, hanya dia yang tau.
“Oh ****! Kakakkkk... kenapa malah mengacau si? Aku kan sangat ngantuk”
Krett...pintu terbuka menampakkan tubuh tegap tinggi itu masuk kedalam kamar sang putri.
“Sayang...”
Ricko berjalan kearah adiknya berada. “Kau kenapa? Kau sakit? Atau kau lapar?” Queen benar-benar kesal dengan kakaknya, pertanyaan itu antara perhatian dan mengejek itu kurang lebih sama.
“Kakak kenapa datang ke kamarku?” tanya Queen, tubuhnya masih tengkurap diatas ranjang king size dikamar cantik namun elegant itu.
“Kenapa? Tidak boleh ya?” tanya Ricko dan itu semakin membuat Queen kesal.
Gadis itu membalikkan tubuhnya menjadi telentang sambil menarik boneka beruangnya untuk ia peluk.
“Kehadiran kakak disini tidak diharapkan. Jadi, lebih baik kakak keluar dari kamar Queen”
Bukannya pergi, Ricko malah mendudukkan tubuhnya disamping Queen berbaring sambil menyandarkan tubuhnya didasboard ranjang.
“Kau kenapa sayang? Tidak biasanya begini. PMS ya?”
Queen menoleh kebelakang menjangkau wajah kakaknya, lalu berkata. “Kakak yang kenapa? Datang-datang mengganggu orang istirahat saja” sambil mencurutkan bibirnya sesenti kedepan.
“Kakak sebenarnya sangat marah padamu, Queen. Kau pergi entah kemana tanpa memberi tahu kakak terlebih dahulu dan tidak mengangkat panggilan kakak tadi siang. Sebenarnya kamu kemana, sama siapa dan apa yang kamu lakukan diluar sana?”
Sumpah demi apapun, Queen risau mendengar begitu banyaknya pertanyaan yang dilontarkan oleh Ricko kali ini.
Lelaki itu tidak memberi jeda setiap pertanyaannya, yang membuat Queen yang semula kesal menjadi mati kutu.
“Kak...kak...bertanya itu satu persatu dong, Queen kan bingung mau jawab yang mana”
Oke, kali ini Ricko menghela nafasnya pelan sambil menunduk kebawah menatap adiknya. “Cepat jawab kakak Queen”
Queen mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk dan menatap balik kakaknya. “Kakak janji ya jangan marah sama Queen, kalau marah nanti aku adu ke Daddy” ekspresi menggemaskan Queen yang membuat Ricko jadi ingin menjitak jidat gadis itu.
“Baiklah, kakak tidak akan marah. Cepat katakan sekarang juga!” titah Ricko.
Queen menghembuskan nafas pelan, lalu memulai bicara. “Jadi gini, tadi sepulang dari kampus, Queen diajak teman ke perusahaannya untuk...” belum selesai Queen bicara, tapi sudah dipotong oleh kakaknya.
“Untuk apa Queen? Apa yang kau lakukan disana?” tanya Ricko dengan tidak sabaran.
Gadis itu merungut “Ishh kakak! Makanya dengarkan Queen bicara dulu”
“Tadi itu...Queen diajak kesana untuk melihat-lihat perusahaannya. Dan Queen diajak makan juga, lalu setelah itu dia rapat dan Queen disuruh nunggu dulu sampai dia selesai baru dia akan mengantar Queen pulang.” sambungnya.
Ricko merasa ada yang janggal dengan penjelasan dari adiknya barusan.”Tunggu dulu...’”
“Tadi kau bilang dia mengajakmu ke perusahaannya, kau makan disana dan menunggu dia selesai rapat. Itu berarti kau tau apa nama perusahaannya itu dan siapa dia?”
Sedangkan yang yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya.
Ricko menepuk jidatnya saat melihat reaksi adiknya. “Jadi, kau tidak tau?” tanyanya memastikan.
Sekali lagi adiknya menggeleng kepala “Queen tidak tau kak”
Ricko mengusap wajahnya pelan. “Kenapa bisa tidak tau si Queen?” tanyanya lagi.
“Queen kan tidak tertarik mencari tau apalagi ingin tau kak. Memangnya kenapa si kak?” Queen yang semula nunduk kini mendongakkan kepalanya kearah Ricko.
Ricko memiringkan tubuhnya menghadap sang adik. “Kau tau Queen? Kakak sangat mengkhawatirkan dirimu. Jadi, kakak hanya memastikan apa temanmu itu berniat baik atau tidak padamu. Dan satu lagi, dia lelaki atau perempuan?”
Kakak benar juga, aku harus waspada mulai sekarang. Tapi...saat menginap diapartementnya kemarin, dia biasa saja bahkan tidak macam-macam padaku. Jadi, aku harus bagaimana?. gumam Queen dalam hati.
Ricko jadi curiga saat melihat adiknya melamun saja saat ditanya. Ada yang tidak beres, pikirnya.
“Hello...kau kenapa Queen? Kakak bertanya padamu sejak tadi, kau malah melamun saja”
Tidak-tidak!! Semua lelaki kan memang buaya, aku tidak seharusnya mudah percaya begitu saja. Astaga Queen! Apa yang kau fikirkan kemarin? Kau bisa saja terkena masalah jika saja dia bertindak jauh padamu!
Queen menggelengkan kepalanya beberapa kali, hingga membuat kakaknya jadi bingung daaannn...makin curiga.
"Kau ini kenapa? Ada yang salah pada otakmu itu? Hingga kau bahkan tidak mendengarkan pertanyaan ku.". Ujar Ricko yang jengkel kepada adiknya.
Queen pun tersentak dan menoleh pada kakaknya yang berwajah...Ah entahlah. Jengkel mungkin.
"Aku mau lanjut istirahat kak, bisakah kakakku yang tampan ini segera menyingkir dari kamarku dulu?". Secara tidak langsung Queen mengusir Ricko yang setengah mati jengkel pada adik satu-satunya itu.
Kalau saja gadis ini bukan adiknya, sudah dipastikan dia benar-benar akan melemparkannya ke laut sana untuk ia berikan pada hiu-hiu kesayangannya.
"Teganya kau mengusir kakak ya Queen! Kau sungguh ingin ku lempar dilaut sana."
Dengan langkah kasar Ricko keluar dari kamar Queen dan tak lupa menutup pintu kuat, hingga hampir saja foto besar terpajang di dinding atas ranjang Queen terjatuh.
"Kakaaakkkkk!!"
Queen kesal sekali dan ingin rasanya dia memakan manusia hari ini kalau saja dia tidak ingat dia pun manusia juga.
Sementara diluar sana, Ricko baru baru saja menyambut tamu yang baru datang dimansion nya itu.
"Eh hai...".
Berjalan mendekati sang tamu lalu memberikan sedikit ciuman di pipinya, sementara sang tamu cukup terkejut dengan tindakan tuan rumah ini.
Ricko terkekeh melihat wajah terkejut Jasmine ketika dia menciumnya. Sungguh ironis memang pria ajaib ini.
"Hahaha...kau kenapa nona?". Dengan tidak berdosanya dia bertanya pada gadis yang masih menetralkan detak jantungnya yang lari maraton.
"Apa yang kau lakukan?" tanya gadis itu.
Ricko tersenyum menyebalkan seraya mengangkat sebelah alisnya. "Aku? Aku tidak ngapa-ngapain"
Jasmine hanya mendengus kesal sambil mencurutkan bibirnya barang sesenti mungkin. Ya, dialah Jasmine yng saat ini sedang mengunjungi sahabat yang sudah dia anggap seperti adiknya itu.
"Lain kali kau harus punya sopan santun wanita. Walaupun kau lebih tua dariku!" tandasnya pada pria menurutnya menyebalkan itu.
Ricko tersenyum manisnya "Baiklah nona cantik, aku minta maaf"
"Jangan marah! Nanti cantikmu bertambah, lalu aku yang repot hahaha..."
"Kau! Oh ****. Sungguh sial aku datang kesini" umpat Jasmine, namun itu membuat Ricko seketika menatapnya tajam.
"Kau mengumpat?"
"Tidak!"
"Lalu apa?"
"Bernyanyi"
Sungguh Jasmine ingin melempar lelaki ini disungai Amazon melewati lembah gunung hutan belantara dan memberi makan binatang buas.
Dengan rasa kesal membuncah Jasmine menerobos melewati Ricko dan jangan lupakan gadis itu menyenggol bahu Ricko dengan sangat keras, sehingga membuat pria itu terkejut dengan tindakan gadisnya. Eh ralat, belum menjadi gadisnya.