
•••Terkadang badai melanda setelah suatu hal yang membuat orang merasa lebih baik dari orang lain dan terkadang badai datang sebelum orang menyadari akan kuasa yang di dapat •••
Queen dan Asistennya sedang duduk berhadapan dengan dua orang pria yang mana sekarang adalah sebuah ruangan besar yang akan menjadi saksi pertemuan dua insan yang saling bingung dengan situasi.
Suasana hening, Queen menatap heran kepada lelaki tampan yang duduk didepannya dengan kedua alis tebalnya yang menaut kedalam. Baru tadi dia dan teman-temannya membicarakan lelaki ini dan sekarang malah ada dihadapannya. Apa maksudnya ini?
Begitu pula dengan Vanno, dia menatap nanar seorang gadis yang sangat cantik didepannya ini. Seperti sedang mengingat sesorang, tapi dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat dan berusaha mengelak.
Akhirnya Asisten Kevin yang memecah keheningan diantara mereka dan juga dua orang insan yang sedari tadi berada dalam pikiran masing-masing.
"Ehem... Apa kita bisa memulainya sekarang Nona... Tuan?" tanya Kevin memandangi Queen dan Vanno bergantian.
Vanno yang tersadar dari lamunannya langsung saja memasang wajah serius dan gaya coolnya.
"Silahkan dimulai!"
Kevin pun menjelaskan secara detail tentang kerja sama kali ini dengan kerja sama yang saling menguntungkan. Setelahnya Queen yang menjelaskan tentang apa yang akan dilakukan dalam kerja sama ini.
Queen menawarkan peluncuran produk baru dan Vanno pun memberi saran untuk menyatukan antara produk terbaru Queen dengan majalah yang akan ia terbitkan bulan ini.
Dan dimana disana Queen menjadi model dari produk terbaru itu sebagai pelengkap Promotor majalah Vanno.
Mereka akan sama-sama mendapat keuntungan. Tidak hanya itu, Vanno juga menawarkan produk Queen akan di promosikan di Beauty Carefule miliknya, dimana tempat itu jual berbagai macam produk kecantikan.
"Bagaimana? Apa kalian setuju?" Vanno menatap Queen dan Kevin secara bergantian, berharap mereka setuju.
Queen benar, dia dengan mudah mendapatkan kerja sama ini, meski dia tidak banyak bersuara tapi Vanno dengan cepat menanggapi bahkan memberi penawaran terlebih dahulu.
Kevin memandangi Queen meminta pendapat dari Queen "Bagaimana nona...?"
Queen mengangguk setelah mempertimbangkan lagi "Aku setuju... Mulai sekarang kita akan menjalin kerja sama ini... Setelah kalian tanda tangan surat perjanjian yang kami siapkan!" menunjukkan sebuah map yang berisi surat perjanjian.
"Maka kita resmi bekerja sama" Quenn menambahkan lagi ucapannya.
Harry asisten pribadi Vanno mengambil map itu dan menyerahkannya kepada Vanno, setelah sebelumnya membaca isi surat itu. "Ini tuan muda"
Dengan cepat Vanno menandatangani surat itu lalu menyerahkannya kepada Kevin.
"Semoga kerja sama ini berjalan lancar" ucap Vanno sambil mengulurkan tangannya kepada Queen.
"Terima kasih atas kepercayaannya tuan muda" membalas uluran tangan Vanno dengan tersenyum manis menampakkan lesung pipinya.
Seperti tersihir Vanno pun tersenyum manis kepada Queen, menatap bola mata Queen dengan tangan mereka masih saling menggengam erat seakan tidak ingin berpisah. Namun, sedetik kemudian genggaman itu terlepas seiring datangnya kesadaran mereka.
Kecanggungan menghiasi wajah mereka "Ma... Maaf... Kalau begitu kami permisi dulu tuan muda" akhirnya Queen berpamitan menginggalkan mereka, terutama Vanno yang masih diam terpaku menatap kepergian Queen.
"Apa tuan menyukainnya?" suara Harry yang tiba-tiba mengejutkan Vanno. Lelaki itu menoleh kearah Harry.
"Menyukai siapa?" lagi-lagi Vanno membalas pertanyaan dengan pertanyaan.
"Menyukai nona Vebiola"
"Bicara apa kau ini Harry? Aku sama sekali tidak menyukainya! " elak Vanno sebelum menambahkan lagi.
"Ya aku akui... Jika aku sedikit tertarik padanya"
Harry ternyum simpul menahan tawa yang hampir meledak.
"Kau... Apanya yang lucu?" tanya Vanno sedikit ketus.
"Tidak lucu! Hanya sedikit kagum... Pria dingin dan cuek seperti tuan muda, ternyata mampu diluluhkan oleh gadis elegan itu"
Wajah Vanno mendadak memerah, antara marah dan malu.
🌹🌹🌹
Queen sedari tadi hanya diam melamun memandangi jalanan yang ramai akan kendaraan. Entah apa yang dipikirkan gadis itu, hingga mobil mereka sampai dimansion pun tidak kunjung membuat Queen sadar dari lamunannya.
"Kita sudah sampai nona muda" ucap Kevin.
"Ah... Iya pak " keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah.
"Queen pulang!!" teriakan Queen menggema didalam mansion besar itu.
Mommy yang baru saja keluar dari dapur menghampiri putri kesayangannya. Queen yang melihat Mommynya langsung saja berhambur kedalam pelukan hangat Mommynya.
"Anak kesayangan Mommy sudah pulang nak? Bagaimana meeting tadi?" tanya Mommy kepada putri kesayangannya, yang kini tengah berada dalam pelukannya.
"Berjalan lancar ma" masih mode manjanya.
"Jadi kau berhasil membujuk klien Daddy mu itu sayang?"
Queen melepas pelukan Mommy "Iya mom...Queen berhasil membujuknya. Semoga kerja sama kami berjalan sesuai rencana"
Mommy bahagia mendengarnya, setidaknya putri kesayangannya ini bisa menjadi pembisnis besar seperti Daddy dan Kakaknya.
"Kalau begitu ganti bajumu dan kita akan makan malam bersama" ucap Mommy sambil mengusap rambut putrinya.
"Iya mom...tapi dimana Daddy dan Kakak mom?"
"Mereka masih diruang kerja"
"Baiklah mom, Queen kekamar dulu"
"Cepat ya sayang... Nanti makanannya dingin"
"Yes mom" Queen berlari kecil masuk kedalam lift menuju kamar indahnya.
🌹🌹🌹
"Vanno sayang... Kau lagi apa nak?" Mami duduk disamping Vanno yang tengah bersantai di balkon sambil memainkan ponselnya.
"Ah Mami... Vanno lagi bersantai saja Mam!" masih sibuk menscrol layar ponsel seperti sedang mencari sesuatu, membuat mami menyerngit kan keningnya.
"Kau sepertinya sedang mencari sesuatu nak"
Vanno segera menoleh dengan gugup "Bukan mencari apa-apa Mam... Oh iya...apa papi sudah pulang Mam?" Vanno mengalihkan pembicaraan mengurangi rasa gugupnya.
"Papi belum pulang, ada banyak pekerjaan di kantor... Mungkin sebentar lagi dia akan pulang"
"Kau sudah makan nak?" tanya Mami lagi
"Sudah Mami! Tadi sehabis meeting perut Vanno lapar... Jadi sekalian makan saja disana" jelas Vanno sambil cengengesan.
"Putra kesayangan Mami sungguh menggemaskan sekali ya " Mami mencubit pipi Vanno yang tidak gembul dan menciumnya, membuat Vanno mengelak.
"Mami! Kenapa mami suka sekali mencium Vanno...memangnya aku anak kecil apa?" gerutu Vanno dengan mencurutkan bibirnya.
"Kamu itu dimata Mami masih seperti anak kecil... Putra kecil Mami"
Mengehela nafas panjang.
"Rasanya Mami tidak rela jika kamu sudah dewasa... apalagi sebentar lagi kamu akan menikah" sambung Mami setelah melirik Vanno yang terdiam menatap langit malam.
Vanno bersandar di bahu Maminya, bahu yang selalu membuat diri nyaman ketika kegundahan datang.
"Vanno belum memikirkan soal menikah Mam. Masih banyak tanggung jawab yang harus Vanno selesaikan... Terutama kepada Mami dan Papi"
"Bagi Vanno kalian adalah tujuan hidup Vanno, bukan yang lain... Vanno belum menemukan wanita yang tepat untuk Vanno jadikan istri... Apalagi membuat Vanno jatuh hati padanya" keluh Vanno kepada Mami.
Mami mengusap lembut rambut anaknya lalu tersenyum dan berkata "Itu kewajibanmu sebagai anak untuk berbakti kepada orang tua. Tapi kau juga harus membuka hatimu untuk wanita... Agar kau merasakan cinta dan kasih kepada wanita selain Mami"
"Anak yang sudah dewasa suatu saat pasti akan menikah bukan?" tanya Mami dengan lembut.
"Iya Mami... Jika watunya tiba, Vanno akan mencari kekasih dan menikahinya" jawab Vanno.
Bukan Vanno tak bisa membuka hatinya untuk seorang wanita, tapi karena dulu kejadian yang menimpa mendiang kakaknya. Membuat Vanno takut untuk jatuh cinta dan lagi pula, belum ada satu pun wanita yang bisa menggetarkan hatinya selama ini.