
Setelah pulang dari taman wisata kemaren, Daniel dibuat semakin bingung dengan tingkah laku aneh Gebie beberapa hari ini.
Sebentar menangis sebentar tersenyum seperti anak kecil saat meminta dibelikan ice cream. Padahal biasanya juga dia merengek tapi tidak sampai nangis begini.
Apa yang terjadi pada kekasihnya? Namun dengan begitu Daniel tetap menuruti keinginan sang kekasih.
Seperti saat ini Daniel diminta sang kekasih untuk menemani shoping tapi anehnya bukan untuk membeli barang-barang Brandt seperti Tas, Sepatu atau semacamnya. Melainkan berupa makanan dengan segala cemilan dan juga ice cream.
Sungguh miris nasib Daniel, setelah membeli semua itu, bukannya dimakan habsi oleh Gebie tapi malah dia makan sedikit sisanya disuruh Daniel menghabiskan.
Jiwanya semacam mirip-mirip orang hamil bukan? Tapi itu tidak mungkin, anak siapa memangnya. Daniel saja tidak pernah menyentuh selain berciuman dan peluk.
Ini sebuah teka teki untuk Daniel!!
"Kau mau apalagi sayang?" tanya Daniel dengan nada lembut.
Melihat kekasih dari tadi hanya diam memandangi ice cream dan cemilan ditangannya, tapi tak urung dimakan.
Gebie menoleh kesamping sambil tersenyum manis.
"Ini dulu, nanti kalau aku ingin yang lain aku minta padamu ya?"
"Baiklah sayang... Cepat makan ice cream nya nanti mencair" menunjuk es yang dipegang Gebie.
Gebie mengangguk cepat dan segera melahap habis es nya sampai mengering diwadahnya.
Daniel hanya menggeleng kepala melihat tingkah menggemaskan Gebie.
"Tidak ada yang akan merebutnya sayang" mengacak acak rambut lebat Gebie.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata Yang memperhatikan mereka dari dalam mobil dengan tangan mengepal dikemudi dan wajah yang merah padam.
"Sial!! Apa-apaan si bodoh itu, dia hamil anakku tapi malah Pria lain yang menuruti keinginannya. Apa susahnya meminta padaku bukan padanya!!" raung Steven.
Ya kan benar! Ternyata Gebie hamil, dan anak yang dikandungnya adalah anak dari mantan kekasihnya yang akhir-akhir ini sering ditemuinya tanpa sepengetahuan Daniel.
Sungguh hebat wanita pujaan si Daniel ini dalam menyembunyikan rahasia besar.
Tapi tunggu dulu!! Ada satu orang lagi yang tahu tentang ini selain mereka berdua, namun masih belum membongkarnya.
Siapa dia?
"Lihat saja sayang... Kau akan menjadi milikku selamanya dan akan kupastikan dia menendangmu dari kehidupannya. Dan aku? Aku akan melenyapkannya bila kau bersikeras membujuk dia!"
Steven tertawa keras sambil menyeringai dengan tatapan tajam pada dua orang itu, sebelum kemudian melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
🌹🌹🌹
Seorang lelaki yang belum berapa lama ini menginjak usia remaja kini tengah mondari mandir disebuah apartment dengan keadaan bingung.
"Apa yang harus aku lakukan pada kakak? Dia pasti tidak tau tentang semua ini!" ucapnya pelan.
Dia kelihatan bingung, namun juga takut akan terjadi sesuatu pada kehidupan kakaknya. Entah Kenapa dia merasa gelisah dengan keadaan ini.
"Tapi bagaimanapun kakak harus tau tentang kak Gebie yang sebenarnya, aku takut terjadi sesuatu padanya bila dia tau sendiri"
"Oke... Aku akan memberi tahu kakak setelah ulang tahunnya lusa. Semoga kakak percaya padaku!" Vanno telah membulatkan tekadnya untuk mengungkap kebenaran Gebie.
Sebulan yang lalu, Vanno tengah berjalan kaki sendirian menuju supermarket dekat apartment kakaknya, karena dia memang sering menginap disana jika tidak ada Mami dan Papinya dirumah utama.
Namun, saat dia hendak melewati sebuah Restaurant, tak disengaja dia melihat dua orang yang nampak akrab dan romantis sedang makan malam.
Tapi hanya salah satunya yang dikenal Vanno dan itu adalah kekasih kakaknya. Tidak menunggu lama dia pun penasaran siapa Pria itu yang nampak perhatian pada kekasih kakaknya.
Vanno memberanikan diri masuk kesana dan duduk tidak jauh dari mereka, lalu dia pun mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mulai merekam dua orang itu dalam bentuk Video.
Terdengar jelas semua yang mereka bicarakan disana dan itu sangat membuat Vanno terkejut bukan main atas apa yang dia dengar barusan.
Pria itu menyebut bahwa dia sangat bahagia menjadi ayah dari anak dalam kandungan Gebie dan ternyata Pria itulah mantan kekasih kak Gebie yang dulu meninggalkannya.
Demi Tuhan itu terdengar menyakitkan bagi Vanno, apalagi sampai kakaknya mengetahui ini.
Setelah dicukup lama mengambil video mereka, Vanno segera menyimpan ponselnya dan keluar dari Restaurant itu.
"Maafkan aku kak!" gumam Vanno sambil berjalan menuju supermarket.
🌹🌹🌹
"Kau harus makan yang banyak Sayang... Agar anak kita tidak kelaparan!" Steven menambahkan steak dan sup daging didalam piring Gebie.
"Aku akan menjadi gemuk jika seperti ini sayang" protes Gebie saat melihat Steven menambahkan lauk pauk di piringnya.
"Kau tetap cantik bila nanti gemuk, lagipula berat badanmu pasti bertambah seiring besarnya perutmu dan itu akan membuat dirimu kelihatan gemuk"
Steven memang tidak mempermasalahkan seperti apa bentuk tubuh Gebie nantinya, toh itu juga karena ada calon anak mareka didalam perut Gebie.
Sebenarnya Steven begitu karena ingin meyakinkan Gebie bahwa dia akan menerima Gebie apapun keadaannya dan mencoba untuk serius dengan hubungan mereka.
Berkali-kali dia mengajak Gebie untuk menikah, tapi wanita itu masih belum siap, karena alasannya ada pada Daniel.
"Iya sayang tapi kan.... "
Belum sempat Gebie menyelesaikan ucapannya, Steven lebih dulu memotongnya.
"Tidak ada tapi-tapian, ingatlah! Ini demi kesehatan anak kita yang ada didalam perutmu" perintah Steven.
"Hmm... Baiklah"
Akhirnya Gebie menuruti keinginan Steven dengan wajah cemberut.
🌹🌹🌹
"Sayang! Dimana aku menyimpan ponsel ku ya?" tanya Gebie yang baru selesai dari toilet.
"Ada didalam tas mu" jawab Daniel karena tadi dia yang menyimpan ponsel Gebie kedalam tas itu.
Gebie buru-buru mengambil ponselnya, dan tiba-tiba suara ponsel berdering dari dalam tas itu.
Kringggg....
"Ah... Siapa yang ini menelpon?" gumam Gebie sambil mencari-cari letak ponselnya.
"Siapa yang menelponmu sayang?" tanya Daniel saat melihat Gebie telah menemukan ponselnya.
"Tidak tau sayang! Sebentar ya aku angkat dulu ini pasti dari mama" jawabnya berlalu meninggalkan Daniel yang masih duduk sambil menggeser layar ikon hijau setelah tau siapa yang menelpon.
"Hallo...." sapa Gebie dengan suara agak pelan seakan takut Daniel mendengar pembicaraannya.
"Hallo sayangku! Kau ada dimana sekarang?"
"A... Aku ada di kampus. Kenapa?"
"Aku sangat merindukanmu sayang, malam ini kita bertemu ya"
"Aku tidak janji! Karena sekarang aku bersama Daniel, sebaiknya kau jangan terus-terusan menghubungiku!!" perintah Gebie.
"Ayolah sayang, aku kan hanya ingin melihat perkembangnnya saja tidak lebih. Apa kau tega membiarkan papanya ini tersiksa"
"Huhh... Iya nanti aku kesana!" akhirnya Gebie pasrah.
"Oke... Aku menunggumu. Sampai bertemu nanti malam sayangku... Muachhh..."
"Iya!"
Gebie mematikan sambungan telepon dari Steven dan kembali menghampiri Daniel yang tadi ia tinggal sebentar.
"Maaf sedikit lama sayang!" ucap Gebie merasa tak enak hati pada Daniel karena sudah membuatnya menunggu lagi.
"Tidak apa-apa sayang! Sepertinya mama sangat merindukanmu ya?"
"I... Iya... Mama sangat merindukanku itu sebabnya agak lama" jawab Gebie dengan gugup.
"Ya sudah, kita pulang ya? Tugasmu sudah kau antar bukan?" tanya Daniel lagi.
"Sudah sayang! Ayo kita pulang!" ajak Gebie.
"Ayo..." beranjak berdiri Daniel meraih tangan mungil Gebie dan menggenggamnya erat.