Love Storm

Love Storm
Mengapa mengabaikanku?



Karena posisi mereka sama-sama sedang mengantri dikasir, jadi tidak diherankan lagi jika Jimmy si playboy sekampus itu leluasa menggoda gadis pujaannya.


Jessie merasa kesal karena dia bertemu lagi dengan Jimmy.


Ck. Dia lagi!


Sementara Jasmine sibuk mencari-cari sesuatu didalam tasnya.


Kemana? Bukankah tadi aku simpan disini?


Jasmine lupa jika tadi dia tidak mengambil lagi Golden Card miliknya setelah membayar pakaiannya tadi.


"Berapa totalnya?". Tanya seseorang yang berdiri disamping dirinya.


Jasmine menoleh karena suara yang tidak asing baginya dan alangkah terkejut orang itu adalah Nathan.


"Kau?" Jasmine menatap dingin kepada Nathan.


"Biar aku saja!". Ucap Jasmine yang melihat tukang kasir menerima kartu debit dari Nathan.


Nathan tersenyum manis. "Bukankah kau tidak menemukan apa yang kau cari?"


Pelayan kasir mengembalikan kartu debit Nathan.


"Ini tuan!". Ucap pelayan itu.


Jasmine jadi merasa tidak enak dengan Nathan. "Terima kasih atas kemurahan hatimu! Setelah ini akan aku kembalikan uangmu!". Ucap Jasmine.


"Berape nomor rekeningmu?". Tanya Jasmine sambil mengeluarkan ponselnya.


Nathan mendekatkan dirinya kepada Jasmine, lalu mengucapkan sesuatu.


"Tidak perlu. Jika kau tidak ingin berhutang budi, maka kau tidak perlu mengganti uangku. Cukup kau ikut aku kencan pekan ini!". Bisik Nathan sambil menyeringai.


Jasmine mendorong tubuh Nathan, agar menjauh darinya.


"Tidak akan, cepat berikan nomor rekening mu!". Titah Jasmine dengan tegas.


"Kau tidak akan mendapatkannya jika kau menolak ajakanku ini!". Ucap Nathan dan tersenyum manis ke arah Jasmine.


"Ck. Dasar pemaksa! Aku tidak akan merimanya!". Sarkas Jasmine, lalu menyambar belanjaannya yang sudah dibayar oleh Nathan.


Nathan hanya bisa tersenyum melihat Jasmine selalu menghindarinya disaat mereka bertemu, begitu bencikah gadis itu padanya?, Pikir Nathan.


Gadis yang menarik! Aku jadi semakin menyukainya!. Gumam Nathan.


Queen mencoba untuk tidak melirik Vanno, tapi nyatanya mata nakal itu selalu mencuri pandang ke arah lelaki dingin itu.


"Queen, kartu debit ku sepertinya ketinggalan di Toko tadi. Kau dan Jessie tunggu aku disini ya! Aku ingin menanyakannya, barangkali masih ada disana!". Jasmine meletakkan Bag Papernya di meja dekat kasir, lalu pergi ke Toko pakaian setelah mendapat anggukan dari Queen.


"Jasmine pergi kemana?". Tanya Jessie menghampiri Queen, setelah selesai membayar.


"Dia kehilangan kartu debit, jadi ingin menanyakannya di toko tadi! Semoga saja ketemu!". Jawab Queen.


"Apa kau sudah selesai bayar Jes?". Tanya Queen.


"Sudah, sekarang kau cepatlah bayar!".Titah Jessie mendorong pelan pundak Queen.


"Iya, iya! Kau ini sungguh tidak sabaran!". Gerutu Queen mencurutkan bibirnya sambil berjalan menuju kasir.


Sampai dikasir ternyata kebetulan giliran dia dan Vanno, hal itu membuat mood Queen menjadi runyam seketika.


Sial. Malas sekali jika bersama dengan lelaki ini!


Vanno tidak menyadari bahwa disampingnya ada orang lain, dia terlalu fokus memeriksa data keuangan Toko milik dirinya.


"Berapa totalnya?". Tanya Queen dengan datar kepada pelayan kasir setelah semua belanjaannya diletakkan.


Pelayan kasir mulai menghitung, dan membacakan totalnya kepada Queen. Gadis itu melirik ke arah Vanno sebentar lalu mengulurkan kartu debitnya kepada pelayan kasir.


Vanno sengaja tidak menoleh ke arahnya, dia ingin melihat apa yang dilakukan gadis itu jika berada disampingnya.


Nyatanya pikiran Vanno salah, gadis itu bersikap biasa saja seolah tidak menyadari kehadirannya, dan itu sukses membuat Vanno geram.


Setelah selesai membayar belanjaannya, Queen hendak melangkah pergi. Namun baru akan melangkahkan kakinya, tangannya dicekal seseorang yang ternyata tidak lain adalah Vanno.


Astaga, mau apa lagi monster ini?


Queen berdoa agar dia tidak lagi berurusan dengan Vanno, karena dia tidak akan sanggup menghadapi lelaki yang membuat perasaannya menjadi kacau akhir-akhir ini.


"Kenapa kau mengabaikan diriku?". Tanya Vanno setengah berbisik.


"Lepaskan tangan ku Tuan Muda! Kau menyakitiku!". Ucap Queen dingin.


"Tidak akan ku lepaskan, sebelum kau menjawab pertanyaanku!". Ucap Vanno sambil menatap tajam netra mata Queen.


Queen merasa kesal akan lelaki yang bertindak sesuka hati seperti Vanno, membuat dia ingin sekali menghajar lelaki ini.


Vanno pun tidak ingin melepaskan genggaman tangannya dan malah menatap dalam mata Queen, tapi gadis itu malah melempar tatapan kesal dan tajamnya.


"Heh! Apa urusanmu?". Tanya Queen sambil berusaha untuk melepaskan cekalan tangan dari Vanno, karena pasti sebentar lagi teman-teman mereka akan lihat.


Vanno tertegun, dia tidak menafikkan jika mereka sekarang hanyalah dua orang asing, jadi apa urusannya jika Queen mengabaikan dirinya.


Akhirnya dengan kesal Vanno melepaskan cekalan tangannya dari tangan Queen. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Queen berlari meninggalkan Vanno yang masih berdiri menatapnya.


Ya tuhan, aku benar-benar muak dengan tingkah nya yang seenaknya seperti itu. Bisa gila jika aku terus saja bertemu dengannya!. Gumam Queen dalam hati saat lepas dari Vanno.


"Kau lama sekali Queen!". Gerutu Jessie sambil mencurutkan bibirnya.


Queen terkekeh. "Maaf! Tadi sedikit terjadi drama sebentar!". Ucapnya.


"Drama apa? Kau tidak tau ya, kita sudah lama ditinggalkan Jasmine? Aku khawatir padanya!


Queen baru ingat, jika Jasmine tadi pergi mencari Kartu Kreditnya yang hilang. Gara-gara Vanno dia jadi melupakan sahabatnya itu.


"Ya sudah, sekarang kita temui dia!". Ajak Queen dan diangguki oleh Jessie.


Sepeninggal kedua gadis itu, Vanno dihampiri kedua sahabatnya.


"Ada apa Van? Kau kelihatan seperti tidak rela ditinggal gadis itu!". Tanya Jimmy dengan sarkastik.


"Apa kau tidak lihat? Tadi dia memegang tangan gadis culun itu, seolah enggan melepaskan!". Timpal Nathan yag ternyata melihat kejadian barusan.


Vanno mendelik kesal dengan kedua sahabatnya, dia merasa terpojokkan.


"Kalian bicara sembarangan lagi, maka aku akan memotong mulut kalian!". Ucap Vanno penuh tekanan sambil melempar tatapan tajamr.


Nathan dan Jimmy terkekeh canggung, namun tidak dipungkiri bahwa tatapan itu sangat menakutkan.


°°°°°


Di tempat lain, Queen dan kedua sahabatnya sedang menuju Toko perhiasan milik Mommy Stella. Setelah mereka menemukan kartu debit milik Jasmine yang ternyata tertinggal di kasir toko pakaian yang sempat mereka singgahi sebelumnya.


Mobil yang dikendarai Queen membawa mereka ditempat tujuan, mereka keluar dari mobil dan berdiri dihadapan gedung yang lumayan megah dan tinggi.


"Wow!! Ini luar biasa, seperti sebuah Mall!". Seru Jessie dengan kagum akan kemegahan properti milik Mommy Stella.


Queen terkekeh geli dan Jasmine hanya memutar matanya malas.


"Kau seperti tidak pernah melihat Toko saja Jes!". Tegur Queen sambil melangkah masuk kedalam dan disambut hormat oleh para pengawal disana.


"Ini bukan lah apa-apa dibandingkan milik Toko lainnya". Sambung Queen.


Jessie dan Jasmine saling pandang, lalu mengikuti jejak langkah Queen yang sedang berjalan menuju sebuah ruangan.


Disana terdapat banyak pajangan perhiasan mulai dari Emas, Perak, hingga berlapis Berlian, tidak seperti Toko perhiasan pada umumny.


Queen mengajak kedua sahabatnya untuk menemui Mommynya disebuah ruangan bertuliskan Stella Naomy Baranta.


Setelah sampai mereka masuk kedalam dan didalam sana ternyata bukan hanya Mommy Stella saja, tetapi juga ada Daddy Ken yang setia menemani istrinya.








Hay kawan, maafkan Ana yang baru bisa Update sekarang, karena sedikit urusan diluar membuat Ana capek untuk menulis.


Tapi kali ini bakal sering Up kok😊


Happy Reading semoga tidak bosan menunggu ya😂