
Vanno dan yang lainnya masih setia menunggu didepan Ruang periksa dimana Queen sedang ada didalam sana.
Suara decitan pintu membuat lamunan mereka tersadar, dan melihat seorang Dokter muda bernamtag Sagastyan Maher keluar dari ruangan itu.
Vanno menghampiri Dokter itu dan bertanya.
"Bagaimana keadaannya dok?". Tanya Vanno.
"Dia tidak apa-apa! Hanya mengalami Magh ringan, karena penyakit Magh mempunyai beberapa sebab, salah satunya dinding lambung yang rapuh dan asam lambung yang tinggi!"
"Tapi untuk Nona Queen sepertinya karena pola makan tidak teratur dan konsumsi makanan pedas dan asam, sehingga mengakibatkan Magh bisa kambuh dan salah satu penyebab utama ialah karena stress yang membuat seseorang tidak bernafsu untuk makan dan kemudian perut menjadi kosong!". Jelas Dokter Sagas.
"Jadi, apa yang harus dilakukan agar dia tidak mengalami hal ini lagi?". Tanya Vanno lagi
"Cukup ingatkan untuk selalu menghindari makanan Asam dan Pedas tadi, juga jaga pola makan!". Ucap Dokter Sagas.
Dokter Sagas menyuruh perawat disampingnya memberikan secarik kertas kepada Vanno.
"Ini resep obat yang harus ditebus! Jangan lupa untuk selalu diminum supaya mengurangi rasa perih dilambungnya!". Titah Dokter Sagas.
Vanno menyaut kertas putih itu, lalu memberikannya kepada Jimmy.
"Terima kasih Dokter!". Ucap Vanno.
"Sama-sama tuan!". Dokter Sagas pergi meninggalkan mereka.
Jimmy memperhatikan kertas yang ada ditangannya, lalu bertanya kepada Vanno.
"Kenapa kau memberikan kertas ini kepadaku Van?"
Vanno menoleh kearah Jimmy dengan wajah datar.
"Tebus obat itu sekarang dan belikan makanan untuk gadis itu!". Titahnya kepada Jimmy.
"Harusnya ini kau saja yang urus, kenapa aku?". Protes Jimmy.
"Aku ada urusan sebentar, jadi kau berdua saja yang pergi!". Ucap Vanno berlalu meninggalkan mereka entah kemana.
Jimmy hanya bisa menghela nafas pelan, dan akhirnya dia pergi dengan membawa kertas putih itu.
"Apa kau merasa ada sesuatu yang aneh Nath?". Tanya Jimmy yang tengah berjalan beriringan bersama Nathan.
"Sesuatu yang aneh?". Nathan mengernyitkan keningnya.
"Iya, kau tidak melihat betapa khawatirnya Vanno saat menunggu gadis itu diperiksa tadi!". Ucap Jimmy.
"Hem... Aku rasa dia menyembunyikan sesuatu dari kita! Karena sebelumnya di tidak pernah seperti itu kepada siapapun termasuk seorang wanita!". Sarkas Nathan penuh curiga.
"Apa mereka mempunyai hubungan gelap, yang tidak kita ketahui?". Jimmy membayangkan seperti apa temannya itu saat bersama Queen.
"Mana mungkin! Mereka kan baru saja kenal kemarin!". Sangkal Nathan.
"Tapi... ". Ucapan Jimmy menggantung karena Nathan memotongnya.
"Sudahkah, jika yang kau pikirkan memang benar! Itu berarti ada kemajuan dalam diri Vanno!"
"Cepat kita pergi, sebelum Vanno mengamuk karena kita lama!". Sambung Nathan.
°°°°°
Sementara didepan ruangan Queen, Vanno dan Kedua sahabatnya masih disana.
"Kalian apa tidak masuk ke kelas lagi?". Tanya Vanno, karena yang dia tau kedua wanita itu masih ada satu mata kuliah lagi.
Jessie dan Jasmine lempar pandang, sebelum kemudian mereka terpengarah.
"Astaga! Kau benar, kami masih ada satu kelas lagi!". Ucap Jessie.
"Tapi bagaimana kita bisa meninggalkan Queen sendirian disini Jes?". Tanya Jasmine.
Vanno mengerti kebimbangan mereka, pun ikut berbicara.
"Kalian pergilah! Biar aku yang menjaganya disini!". Ucap Vanno.
"Tapi kau kan harus kembali kerumahmu!". Jasmine ingat Vanno sudah usai kelas dari tadi.
"Tidak apa-apa! Cepat pergilah, sebelum aku berubah pikiran! Dan katakan pada Dosenmu bahwa temanmu sakit!". Tegas Vanno.
"Baiklah, kami pergi sekarang! Awas jika kau meninggalkan atau berbuat macam-macam padanya! Aku tidak akan melepaskan dirimu!". Ancam Jessie dengan tatapan tajamnya.
Vanno tetap dengan wajah datarnya, tanpa takut dengan ancaman Jessie. Dia menepis dua jarinya kode untuk mengusir kedua gadis itu.
"Kenapa ketiga gadis itu galak sekali? Huhh...". Keluh Vanno pada gadis-gadis itu.
Vanno masuk kedalam Ruangan dimana Queen dirawat, setelah tadi mempertimbangkannya.
Disana nampak seorang gadis berwajah pucat sedang terbaring lemah, dengan selang infus disalah satu tanganya.
Vanno berjalan mendekat kearah Bad Hospital dan berdiri disisi ranjang itu. Memperhatikan wajah Queen yang tanpa dirias sedikit pun dengan seksama.
"Ternyata kau cantik juga jika seperti ini!". Gumam Vanno pelan, sambil mengusap pipi Queen dengan lembut.
Tapi saat teringat dengan taruhannya kepada Jino, membuat Vanno menepis pikiran kagumnya itu dari Queen.
Astaga! Apa yang aku pikirkan?
Saat tangannya terulur untuk menyentuh mata gadis itu, seketika pula mata Queen akan terbuka.
Vanno menarik kembali tangannya dari wajah Queen. Perlahan mata Queen terbuka dan objek pertama yang dilihatnya adalah wajah Vanno.
Apa aku belum bangun dari mimpiku?. Gumam Queen dalam hati.
"Kau sudah sadar?". Tanya Vanno yang melihat Queen menatapnya.
Apa aku sudah tiada? Kenapa ada malaikat tampan disini?
Queen masih menatap tidak percaya kepada Vanno, lalu dia bangun berniat ingin duduk.
"Aww... ". Queen merasakan sakit ditangannya akibat tusukan jarum infus.
Vanno yang melihat, pun membantu dirinya untuk duduk.
"Biar kubantu!". Ucapnya sambil memegang pundak Queen, lalu menaikkan sandaran Bad Hospital untuk Queen bersandar.
Gadis itu tidak menolak, dia hanya diam tanpa mengatakan apapun.
"Kau ingin apa? Minum? Makan? Atau... "
"Aku hanya ingin minum!". Potong Queen dengan cepat.
Vanno mengambilkan segelas air putih diatas nakas yang sudah disediakan perawat tadi.
"Ini!". Dia menyodorkan air itu kepada Queen.
"Terima kasih!". Ucap Queen menyaut gelas ditangan Vanno.
Queen merasa risih saat dirinya ditatap oleh Vanno. Lelaki itu tidak membiarkan pandangannya lepas dari gerak gerik Queen, seperti ada sesuatu didalam dirinya untuk selalu melihat gadis itu.
Mungkin inilah yang dinamakan Badai Cinta yang sedang melanda Vanno. Berharap semua itu hanyalah bayangan semu semata, karena takut akan terlalu dalam jatuh pada sebuah perasaan sepihak dalam dirinya.
Lebih baik untuk menyangkal semua itu dari pada dia sendiri yang terjebak dalam jaring permainan, yang bahkan belum dimulainya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Dan siapa yang membawa ku kemari?". Tanya Queen memecah lamunan lelaki itu.
"Kau tadi pingsan saat keluar dari Restaurant! Jadi teman-temanmu membawamu kemari!". Jawab Vanno, tanpa memberitahu bahwa dirinya ikut andil saat membawa Queen.
Queen mengangkat sebelah alisnya.
"Dimana mereka?". Tanyanya.
"Mereka masih ada kela! Jadi aku menyuruhnya untuk kembali ke kampus dahulu". Jawab Vanno.
"Kelas?". Tanya Queen.
"Iya, kenapa?"
"Astaga!! Aku masih ada satu mata kuliah lagi!". Heboh Queen dan hendak turun dari Bad Hospital, namun langsung dihentikan Vanno.
"Kau mau kemana?". Tanya Vanno.
"Aku... Aku mau kembali ke kelas sekarang!". Jawab Queen.
"Diam disini! Atau aku akan mematahkan kakimu itu!". Vanno menatap tajam kearah Queen.
Queen terdiam lalu menyandarkan punggungnya kembali.
Dia bukan malaikat, dia pembunuh!. Gerutu Queen dalam hati.
"Kau masih sakit! Jadi jangan berani pergi dari sini!". Tegas Vanno.
"Tapi aku... "
"Sudah ku bilang jangan kemana-mana! Teman-temanmu sudah aku suruh meminta izin kepada Dosenmu!". Sarkas Vanno.
Queen akhirnya terdiam dan memilih untuk memainkan ponselnya yang baru dia ambil didalam tasnya.
•
•
•
•
•
•
•
•
Selamat membaca guys😊
Jangan lupa untuk selalu mendukung Ana👌
Follow me IG ~ Villiana123