
Mendengar jawaban Queen, mereka langsung tertawa. "Kau pasti dikerjai kakakmu". Seru jasmine lalu terkekeh melihat ekspresi Queen.
"Iya ku rasa juga begitu Queen! Kalau tidak mana mungkin dia harus repot mengganggumu hanya karena makanan"
Queen mengangkat bahu. "Mungkin" ucapnya.
"Awas saja kalau nanti dia kembali, aku pasti akan membalasnya"
Waktu pelajaran telah dimulai, tapi belum ada tanda-tanda dosen mereka akan masuk kelas. Mereka masing-masing menyibukkan diri karena menunggu terlalu lama. Apakah dosen mereka tidak masuk hari ini? Tapi kenapa tidak memberi instruksi dahulu agar para murid tidak mager.
Sementara Queen dan kedua temannya hanya memandang malas pada mereka yang mengoceh tidak jelas dikelas karena kalut.
"Aku sangat membenci situasi ini, apa kalian juga begitu?". Jessie membuka suara.
Queen mengangguk cepat sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Jessie. "Aku juga begitu! Aku sangat suka ketenangan dan benci kebisingan"
"Jika dosen itu tidak masuk, bagaimana kalau kita pergi ke perpustakaan saja". Jasmine memberi ide sambil menjentikkan ibu jari dan jari telunjuknya.
Mereka sangat suka pergi ke perpustakaan saat jam kosong dari pada harus berkeliaran tidak jelas seperti anak lainnya, hal itu bagi mereka hanya membuang waktu saja, tidak bermanfaat.
"Ide yang Bagus! Aku sudah lama tidak kesana". Sahut Jessie sambil melirik Queen yang tadi sibuk membaca buku.
"Queen ku sayang kau kenapa diam saja dari tadi? Kau maukan ikut kami?
Queen mengangkat kepalanya yang tadi ia sibuk menunduk membaca buku.
"Ah ya... Aku ikut saja, karena aku juga ingin mencari buku tentang Medical"
Wajah keduanya langsung sumringah karena Queen yang dari tadi diam saja juga mau ikut.
°°°°°
Sementara di kelas lain, dosen menjelaskan materi tapi salah satu mahasiswa sibuk dengan ponselnya tanpa memperdulikan penjelasan dosen yang didepan. Mereka para guru sudah biasa dengan sikap anak itu, dialah Vanno Putra Mahesa. Karena dia juga termasuk orang yang berpengaruh di Imperial College London (ICL).
Meski begitu Vanno menjadi mahasiswa terunggul di kampusnya, kepintaran dan kecerdasannya sudah tidak diragukan lagi. Semua itu menurun dari papinya Rangga Mahesa dan jangan lupakan Mami Dania Mahesa. Papi Rangga juga merupakan rekan bisnis Daddy Ken, mereka sama-sama raja bisnis hebat dikota ini.
Tapi sayang hanya Vanno yang banyak diketahui anak-anak kampus sementara Queen mereka tidak tahu sama sekali tentang keluarga gadis itu, mereka tahu tentang keluarga Queen tapi tidak ada yang tahu bahwa Queen putri keluarga Bantara, karena ini semua atas permintaan Queen kepada orang tuanya untuk sementara waktu tidak mempublikasikan dirinya.
Mau menegur tidak berani karena takut menyinggung keluarga Rangga yang katanya kejam kalau sudah menyangkut orang yang mengusik keluarga mereka. Tidak sedikit dari mereka yang dibuat jera oleh bawahan Papi Rangga yang tidak berbelas kasih. Terpaksa semua dosen mengabaikan saja tingkah laku Vanno.
"Oke anak-anak... Pelajaran kita sampai disini dulu, bapak harap kalian bisa mendeskripsikan tugas yang bapak berikan tadi". Ucap pak Leo selaku dosen Pembimbing di jurusan Vanno.
"Siap pak!!". Jawab mereka kompak.
Dan Vanno pun segera keluar dan diikuti teman-temannya. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti tatkala dia keluar dari kelas. Ternyata Jino menghadang jalan Vanno dan kedua sahabatnya.
"Hey bro kau mau kemana?". Georjino Revaldi mendekati Vanno yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan dingin. Tidak ada rasa takut di hati Jino melihat tatapan Vanno.
Sahabat Vanno tidak tinggal diam, mereka langsung beraksi untuk melawan Jino yang sok berkuasa.
"Eh si kadal". Kata Jimmy Alexander salah satu sahabat Vanno dengan tersenyum mengejek.
"Aku tidak bicara padamu!". Tukas Jino menunjuk wajah Jimmy.
"Mau apa kau? Aku tidak punya waktu lama untuk meladeni mu!". Vanno berkata dengan nada dingin. Sebelah tangannya dimasukkan kedalam saku celana.
Queen yang baru keluar kelas tidak sengaja bertemu mereka, seketika Vanno menghentikan perkataannya dan menatap tajam kearah Queen yang melewatinya begitu saja.
Vanno yang mendengarnya jadi kalut.
"Apa maksudmu?"
Jino mengangkat kedua bahunya. "Kau lihat saja penampilannya sungguh tidak menarik. Sangat berbeda dengan gadis lain disini!". Memperhatikan gadis-gadis yang berlalu lalang dengan tubuh dan pakaian yang menggoda.
"Dia seperti anak jalanan"
Queen yang belum jauh dari mereka masih bisa mendengar ucapan Jino yang menghinannya. Ya itulah yang tidak disukai Queen, mereka hanya bisa menilai seseorang dari luar saja. Tidak tahu malu sama sekali berani mencela tapi tidak meratapi diri sendiri. Kata-kata itu pantas untuk mereka yang bermulut busuk.
"Kalian dengar kan? Mereka selalu saja bicara tanpa disaring dahulu. Tidak ada etika sama sekali!". Geram Jessie.
"Kau benar Jes! Mereka tidak pantas di biarkan hidup apalagi menikmati oksigen didunia ini". Jasmine ikut menimpali ucapan Jessie.
"Sudah lah! Biarkan saja mereka berkata apa, aku tidak peduli!. Queen berjalan mendahului mereka yang tengah bengong mendengar ucapan Queen. Bagaimana dia bisa tidak untuk perduli. Sedangkan harga dirinya direndahkan. Itulah yang ada di pikiran mereka.
Jessie dan Jasmine menatap Queen dengan tatapan sendu, Queen sungguh gadis berhati lembut. Kalau mereka di posisi Queen pasti kereka akan melabrak siapapun yang berani menghinanya, tapi tidak dengan Queen. Dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Sambil berjalan merangkul Queen Jasmine berkata. "Aku salut kepadamu Queen!"
"Kau tidak pernah membalas mereka, melainkan mendiamkan saja"
Queen tersenyum getir. "Kalau aku membalas mereka. Itu sama saja aku dengan mereka kan? Jadi biarkan saja mereka berbuat semaunya, nanti juga akan lelah sendiri"
"Eh kenapa kita jadi membahas ini... Lebih baik kita segera cepat sampai di perpustakaan". Jessie merangkul mereka berdua untuk segera melangkah cepat.
Disini Jessie sebagai penghibur sekaligus yang paling gesrek, yang paling berani dan pastinya sangat melindungi Queen. Sedangkan Jasmine, ia punya pemikiran dewasa dari dua sahabatnya itu, dia juga suka memberi solusi sekaligus nasihat untuk dua sahabat yang sangat ia sayangi.
Queen bahagia dan bersyukur memiliki sahabat yang bisa menerima dia apa adanya. Ia berharap suatu hari mereka berdua tidak kecewa saat nanti mereka tau semua tentang keluarganya.
°°°°°
"Van! ". Suara Nathan Aksa Balram, mengejutkan Vanno dari lamunannya.
Vanno mendongak sedikit wajahnya, agar bisa menjangkau wajah Nathan.
"Ada apa?". Ucap Vanno dengan suara dingin.
"Kau melamunkan apa?". Bukannya menjawab pertanyaan Vanno malah Nathan balik nanya. Kebiasaan Nathan pertanyaan dibalas pertanyaan.
"Melamunkan apa? Aku tidak melamun". Sangkal Vanno.
"Aku tau... kau pasti memikirkan tawaran Si kadal tadi kan?". Tebak Jimmy.
"Kenapa kau bisa tau?"
Jimmy terkekeh. "Aku sudah lama mengenalmu Van! Jadi aku tau sifat dirimu. Kau tidak mudah menerima tawaran begitu saja jika tidak ada alasan"
Jimmy menghembuskan nafas pelan. "Kalian bedua selalu bersaing dari dulu. Hanya karena sebuah popularitas saja!"
"Van! Kau sebaiknya pikirkan dahulu sebelum bertindak!". Timpal Nathan.
Vanno hanya diam mendengarkan ocehan sahabatnya.