
Di sinilah Queen dan Vanno, di Ruangan besar bernuansa Elegant khas Pria dan juga terdapat Kamar Pribadi sekaligus kamar mandi.
Queen sedikit takjub dengan Interior dan suasana ruangan itu, apalagi dengan keadaan tenang dan nyaman. Karena Ruangan Kerja Vanno berada di lantai paling atas dan juga disana hanya terdapat ruangan milik Vanno dan Asisten Pribadinya saja.
Puas menilai isi ruangan itu dan berkeliling, Queen duduk disalah satu sofa putih dekat dengan jendela kaca yang langsung menghadap pemandangan kota London.
"Kau mau minum apa?" Vanno duduk disebelah Queen yang tengah melempar pandangan diluar jendela.
Gadis itu menoleh dan sedikit memberi jeda untuk bicara "Apa saja, asal jangan kopi" Vanno memencet tombol yang menghubungkan antara dia dan Asistenmya.
"Buatkan aku Moccachino dan Tea rasa mint" titah Vanno setelah Asistennya menjawab panggilan dari dirinya.
Queen masih menatap diluar jendela, seperti ada yang sedang gadis itu pikirkan.
Vanno melihat dengan jelas apa yang gadis itu pikirkan saat ini.
"Kau ada masalah?" tanyanya dengan selembut mungkin.
Queen tidak mendengar suara Vanno yang bertanya padanya, gadis itu masih berada berperang dalam pikirannya sendiri.
Vanno menghela nafas pelan.
"Queen..." panggilnya kemudian.
Queen tersentak dan dia refleks menghadap matanya kearah iris mata Vanno. Sejenak mereka beradu pandang, sebelum akhirnya berpisah mata tidak ingin perasaan aneh itu semakin menjadi.
"Ada apa?" tanya Queen yang kini menyadarkan tubuhnya disandaran sofa.
"kenapa kau diam saja?"
"Lalu aku harus apa? Berbicara banyak? atau berteriak tidak jelas seperti orang gila?"
"Tidak. Maksudku...kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?" Entah sadar atau tidak laki-laki itu bertanya seperti itu tapi nyatanya dia benar-benar penasaran.
Queen mengangkat sebelah alisnya "Mengatakan apa? Kau memaksa membawaku kemari dan aku rasa aku hanya kesal padamu" ucapan Queen barusan seperti menohok dihati Vanno.
ia tidak menyangka gadis ini tidak senang saat dibawa ke perusahaannya. Biasanya banyak gadis diluaran sana yang berebut ingin dibawa kemari agar di kenal sebagai orang penting bagi Vanno.
Tapi tidak satupun yang ia hiraukan untuk dibawa, apalagi menjejakkan kakinya kemari. Hanya Queen lah gadis pertama yang ia bawa dan sudah pasti gadis itu sangat penting baginya.
"Kau... apakah tidak suka aku bawa kesini?"
Queen menoleh kearah Vanno yang sedari tadi menatapnya dengan pandangan sulit diartikan.
"Sudahlah. Meski aku berkata tidak suka, pada kenyataanya aku telah berada disini."
"Maafkan aku" Vanno menundukkan pandangannya kebawah.
Suara ketukan pintu menghentikan Queen yang ingin berucap. Nampak Asisten Kevin masuk masuk dengan membawa minuman dan makanan ditangannya. Sesuai perintah sang atasannya itu.
Vanno tau Queen pasti lapar karena sekarang sudah menginjak melewati makan siang, jadi dia inisiatif memesan makanan untuk gadis itu.
"Maaf mengganggu Tuan Muda. Ini pesanan anda" Asisten Kevin meletakkan dengan hati-hati diatas meja depan mereka. Matanya tidak sedikit pun melirik kearah Queen, yang membuat gadis itu mengernyitkan keningnya.
"Makanlah. Kau pasti lapar, kan?" Vanno berkata setelah Asisten Kevin keluar dari ruangannya, dan membuka kotak makanan lalu menyodorkannya kepada Queen.
Kebetulan perut Queen memang sedap tadi berdemo meminta untuk di isi, beruntung Vanno tidak mendengarnya. Jika tidak, habislah dia diejek oleh si Monster itu.
Tanpa sungkan dan tanpa ragu, Queen mengambil alih kotak makanannya dari hadapan Vanno dan langsung memakannya tanpa jeda.
Hal itu membuat Vanno mengangkat sedikit sudut bibirnya. Gadisnya memang luar biasa. Vanno pun juga melahap makanannya dan mereka kembali berada dalam keheningan.
°°°°°
Ya, hari ini Rickodan Queen janjian ingin makan siang bersama setelah adiknya itu pulang dari kampus. Tapi sedari tadi dia menelpon adiknya, tapi tidak sedektik pun diangkat. Dimana adiknya itu? Tidak biasanya telponnya tidak diangkat. Apa yang terjadi?
Beribu pertanyaan dan lontaran kata-kata mengerikan keluar begitu saja dari pikiran Pria tampan itu. Rasa khawatir dan cemasnya bercampur padu menjadi satu.
"Ya tuhan. Jika terjadi sesuatu pada adik kesayanganku itu, maka aku tidak akan memaafkan diriku sendiri dan pasti Mommy dan Daddy akan marah padaku karena aku lalai dalam menjaga putri mereka."
Ricko mengusap frustasi wajahnya, dia ingin mencari adiknya kemanapun pergi. Tapi pekerjaan didepan matanya sangat banyak dan terlebih lagi sebengar lagi dia akan meeting penting.
Akhirnya dengan menghela nafas pelan dia mengambil lagi ponsel yang sempat dia letakkan, lalu menghubungi orang kepercayaannya untuk melacak keberadaan adiknya itu.
"Cari dimana keberadaan adikku, sekarang!"
Segera orang kepercayaannya menjalankan tugas yang diberikannya. Tidak berselang lama hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk dia mendapatkan posisi lokasi Queen saat ini.
Ting... sebuah pesan masuk kedalam ponsel genggam Ricko.
Frans orang kepercayaannya kaki tangan yang selalu setia pada Ricko selama limabelas tahun ini. Memberikan pesan singkat padanya.
~Frans~
Nona muda sedang berada di Perusahaan Tuan Mahessa, yang sekarang dipimpin oleh Putranya.
Ricko mengerutkan keningnya bertanya-tanya, apa yang dilakukan adiknya itu disana? Bukankah urusan kerja sama dengan perusahaan itu sudah dia atasi bulan lalu? Lalu untuk apa? Begitu banyak pertanyaan di wajah tampan itu yang terlontar.
~Ricko~
Baiklah. Kau tetap pantau terus keberadaan adikku.
~Frans~
Laksanakan.
Ricko mencoba kembali menelpon adiknya, rasa penasaran akan adiknya itu membuat jiwa tegasnya tidak luntur.
"Astaga! Dimana bocah itu. Apa yang sedang dia lakukan disana?" Ricko menggeram kesal kepada adiknya yang sulit dihubungi. Dia menyandarkan punggungnya dikursi kuasanya, sambil memijat keningnya yang tiba-tiba terasa pening.
•••••
Sementara ditempat lain, Queen baru saja selesai makan bersama Vanno. Gadis itu sama sekali tidak membuka ponselnya yang ia simpan didalam tas.
"Kau istirahat la dulu disini. Aku mau bertemu klienku dulu diruang rapat."
Vanno melangkahkan kakinya menuju Ruang rapat bersama Asisten Kevin. Lelaki itu terlihat berwibawa saat menggunakan setelan pakaian formal, setelah sebelumnya berganti pakaian.
Pintu ruangan terbuka menampakkan wajah-wajah tegang dari Klien-kliennya yang sedari tadi menunggu. Mereka sadar akan Kuasa dari seorang Vanno Mahessa, meskipun lelaki itu masih sangat muda. Tapi kemampuan dan kecerdasannya melebihi para petinggi lainnya.
Vanno duduk dikursi utama sang CEO dan meminta mereka memulai rapatnya segera, karena dia tidak ingin membuat gadis itu menungginya sangat lama.
Asisten Kevin memulai rapat dengan serius dan teliti dalam setiap detail rincian tentang kerja sama antar perusahaan yang akan menguntungkan jika kesepakatan ini dilanjutkan.
Produk yang akan dikeluarkan oleh perusahaan VM Group memerlukan dukungan dari semua klien, sehingga produknya akan dikenal banyak konsumen apabila disebar luaskan dari toko-toko mereka.
Para petinggi itu mengangguk setuju atas penjelasan dan kesepakatan yang diberikan oleh Asisten Kevin hari ini.
Mereka pun bersiap-siap kembali ke perusahaan mereka. Dan kini tinggalah Vanno dan Asisten Kevin didalam ruangan itu.
"Kevin!". Pria yang hampir menginjak 30 itu menoleh saat namanya dipanggil oleh atasannya itu.
"Ya, Tuan Muda?". Tanyanya sambil memegang berkas yang semula sudah dia rapikan.
Vanno mamangku dagunya diatas meja dengan kedua telapak tangannya. Dia berfikir sejenak sebelum akhirnya mengutarakan apa yang ada didalam fikirannya saat ini.