Love Storm

Love Storm
Mengikutinya



Keesokan paginya, Queen terbangun karena cahaya mentari pagi menelusup lewat jendela kamarnya.


Tidak biasanya tidurnya senyenyak ini dan badannya pun terasa segar, meskipun bangun lebih awal dari jam biasa dia bangun.


"Ah, sudah pagi ternyata." ucap Queen setelah melihat jam di ponselnya.


Lalu kembali berkata, "Rasanya aku tadi malam mimpi indah, tapi aku lupa apa itu."


Queen berusaha mengingat-ngingat kembali apa yang dia alami dialam mimpi.


Mustahil jika kita bisa mengingat hal indah didalam mimpi yang disebut sebagai bunga tidur, sesuatu yang hanya melintas menghiasi tidur seseorang dan tidak akan terulangi.


Queen turun dari tempat tidurnya, lalu segera mandi setelah sebelumnya membuka jendela kamarnya.


Tidak lama setelahnya Queen keluar dengan wajah segar dan tubuh yang sangat wangi. Masuk kedalam walk in closet untuk berpakaian dan berpenampilan seperti biasanya jika pergi ke kampus.


Saat sedang memakai sepatu, terdengar suara pintu kamar diketuk dari luar. Queen memasang sepatu yang sebelahnya, lalu beranjak membuka pintu.


Ternyata salah satu pelayan di Mansionnya. "Ada apa bi?" tanya Queen.


"Maaf, menggangu Nona muda. Tuan dan Nyonya menyuruh Nona untuk segera turun kebawah, karena Tuan dan Nyonya akan segera berangkat sebentar lagi." jawab Pelayannya.


"Baiklah, katakan kepada Mommy aku akan segera turun kebawah." ujar Queen dan dibalas anggukan dari pelayan tersebut.


"Permisi Nona Muda"


Setelah pelayan itu pergi Queen berbalik mengambil Tas dan Ponsel, lalu melangkah keluar dari kamarnya.


Sedangkan dibawah sana, tepat diruang makan. Kedua orang tua beserta kakaknya, sudah berkumpul menunggu dirinya turun.


Semua berpakaian rapi untuk menyambut aktivitas melelahkan hari ini, dimana Mommy Stella dan Daddy Ken akan berangkat keluar kota dan Ricko akan berangkat kekantornya.


Queen menghampiri mereka dan bergabung duduk disana. Mommy Stella terlihat senang melihat putrinya yang sederhana, namun tidak menutupi kecantikannya.


Hanya mereka yang beranggapan tinggi hati yang tidak menyadari kecantikan yang tertutupi itu.


"Selamat pagi Mom, Dad!" sapa Queen setelah duduk disamping Ricko.


Mommy Stella tersenyum lembut, "Pagi sayang!" balas Mommynya, begitu juga dengan Daddy Ken.


"Ehemm... Sepertinya ada yang sudah lupa jika ada aku disini ya." kata Ricko bemaksud menyindir adiknya.


Queen terkekeh pelan, rupanya dia sengaja mengerjai kakaknya.


"Aku kira tidak ada orang disini." kata Queen meledek Ricko.


Ricko pura-pura marah, langsung mencubit hidung mancung adiknya.


Dia berkata, "Kau sengaja ya?"


Queen meringis memegang hidungnya, sambil mencurutkan bibirnya kedepan.


"Hanya bercanda saja kakak" ucapnya.


Orang tua mereka hanya menggeleng kepala dengan tingkah dua anaknya, sudah jadi kebiasaan mereka jika bertemu selalu saja bertikai.


Suasana rumah yang redup akan bersinar jika ada mereka berdua.


"Cepatlah sarapan, sayang." titah Mommy Stella.


Queen mengangguk dan menyantap sarapan yang ada didepannya, begitu juga yang lainnya.


Mereka makan dengan khidmat, tidak ada yang bersuara. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring.


Setelah selesai sarapan mereka pun bersiap untuk berangkat ketempat aktivitas masing-masing.


Mommy Stella dan Daddy Ken akan berangkat terlebih dahulu, tapi sebelum itu mereka berbicara kepada anak-anaknya.


Mommy berkata, "Sayang, Mommy dan Daddy keluar kota mungkin agak lama. Jadi kau harus baik-baik ya disini, jangan sering keluar malam selain dengan kakakmu." Sambil mengelus rambut Queen.


"Kapan Mommy akan kembali?" tanya Queen.


"Mungkin sebulan kedepan. Karena banyak yang harus kami tangani disana" jawab Mommy Stella.


Queen memeluk Mommynya dengan erat, seolah enggan berpisah dari sang ibu. Memang sedari kecil hingga sekarang dia sering ditinggal pergi perjalanan bisnis oleh orang tuanya, tapi untunglah masih ada Ricko yang menemani walaupun tidak seharian penuh bersamanya.


Mommy Stella tersenyum lalu berkata, "Iya sayang, Mommy janji padamu."


Melihat penamandangan haru itu, Daddy Ken mendekati Istri dan Putrinya.


"Setelah selesai urusan disana, kami akan segera kembali. Kau harus bersikap baik disini bersama kakakmu, jangan bertengkar" kata Daddy Ken.


"Kau jaga adikmu, Boy!" sambung Daddy Ken sambil menoleh kepada Ricko.


Ricko ikut maju, lalu berkata, "Daddy dan Mommy tenang saja, aku akan menjaganya dengan baik tampa cela sedikit pun."


Daddy mengangguk, "Baiklah, kalian jaga kesehatan. Kami berangkat dulu" ucapnya sambil menggandeng tangan istrinya menuju Mobil yang sudah disiapkan didepan Mansion.


"Jaga adikmu!" pesan Mommy Stella kepada Ricko saat Mobil mereka akan melaju meninggalkan pekalangan Mansion.


Setelah kedua orang tua mereka berangkat, barulah Ricko mengantar adiknya pergi kekampus.


Ricko sengaja mengantar adiknya, agar dia bisa leluasa melihat seseorang disana. Lain hal dengan Queen yang sedang memikirkan sesuatu dikepalanya.


Ricko tidak sengaja melirik adiknya yang melamun, lalu berkata. "Kau kenapa Sweety?" tanyanya sambil fokus mengemudi.


Queen tidak mendengarkan pertanyaan kakaknya, dia masih berada dalam lamunan.


Ricko mengernyitkan keningnya, dia berpikir adik satu-satunya itu sedih karena ditinggal pergi lagi oleh orang tua mereka barusan.


"Sayang!" panggil Ricko sekali lagi.


Queen tersadar dan menoleh kearah kakaknya.


"Ada apa kak?" tanyanya.


"Kau kenapa? Sedih karena Mommy dan Daddy pergi lagi?" ucap Ricko balik bertanya.


Queen mengela nafas pelan dan berkata, "Bukan, kak" jawabnya.


"Lalu apa?" tanya Ricko.


Queen berpikir sebaiknya dia tidak mengatakan tentang kecemasannya kepada kakaknya.


Mobil yang mereka naiki sudah tiba di gerbang depan Imperial College London.


Lalu Queen mengalihkan pembicaraan sebelum kakaknya banyak bertanya lagi.


Queen berkata, "Ah ya, kita sudah sampai kak. Queen masuk kelas dulu."


Seakan lupa dengan rasa penasarannya, Ricko menganggukkan kepala tanda iya.


Queen turun dari Mobil dan melambaikan tangannya kepada Ricko, setelah kakaknya itu melaju menjauh darinya.


Lagi-lagi Queen berpaspasan dengan sesorang, saat dia akan memutar tubuhnya menuju kedalam kawasan kampusnya.


Astaga, dia lagi!. Gumam Queen dalam hati.


Orang itu mendekati Queen, dan menyapanya. "Selamat pagi!" ucapnya sambil tersenyum.


Queen memutar matanya jengah, lalu melangkah masuk tanpa memperdulikan sapaan orang itu. Hingga dia merasa kesal dan mengikuti langkah Queen dari belakang.


Karena jika dia menarik tangan wanita itu, maka rencana yang akan dia mulai akan gagal.


Ck. Kenapa si Monster ini malah mengikutiku?. Gerutu Queen.


Mereka sampai di tangga menuju kelas masing-masing, tapi lelaki itu tetap mengikutinya.


Hingga dengan kesal Queen berhenti dan segera berbalik, niat ingin memaki lelaki yang mengikutinya sejak tadi.


"Hei, si Monster apa maumu? Kenapa sejak tadi mengikutiku?" gerutu Queen sambil mempertajam matanya.


"Apa? Aku hanya mencari seseorang disini, kenapa kau berpikir aku mengikutimu?" tanya orang itu yanf tak lain adalah Vanno si penggengsi tinggi.


"Kau pikir aku percaya?" Queen melangkah maju mendekati Vanno dan menatap mata lelaki itu dalam namun sangat tajam, hingga seperti menusuk dijantung Vanno.


Oh shit! Dia ingin membunuhku, ya?. Gumam Vanno dalam hati.


Perasaan aneh dia rasakan, berdebar dan salah tingkah cukup sudah. Vanno tak kuasa dengan tatapan itu, lalu tanpa dia sadari sebelah tangannya mengusap wajah Queen dengan telapak tangan.