
Queen melangkah perlahan masuk kedalam ruang kerja Ricko, berniat untuk mengejutkannya.
Kakak benar-benar tidak menyadari kedatanganku**!.
Queen cekikikan sampai ia menutup mulutnya, agar tidak didengar oleh kakaknya.
Dan....
"Kebakaran!!!". Teriak Queen di samping kakannya, hingga refleks Ricko berdiri mencari-cari dimanakah kebakaran itu.
"Kebakaran!! Dimana kebakaran!!! Queen, cepat selamatkan dirimu!". Ricko berusaha menarik tangan Queen untuk keluar dari ruangan itu, tapi tawa keras Queen menghentikannya.
"Hahahahaha....!". Buliran bening keluar dari sudut mata Queen.
Ricko menoleh kearah adiknya dengan sedikit bertanya-tanya.
"Apanya yang lucu? Kau ingin mati disini?". Ricko berusaha menarik tangan Queen lagi agar ikut dengannya, namun ditahan oleh adiknya.
"Kakak mau kemana?". Tanya Queen sambil menahan senyum.
Ricko mengernyit kan keningnya. "Mau keluar mencari bantuan, kau bilang ada kebakaran!".
"Mana ada kakak! Aku hanya bercanda!"
"Kenapa kau menganggap hal ini sebuah lelucon?". Ricko menatap tajam adiknya dan sedikit meninggikan suaranya, membuat Queen diam.
"Tadi kakak tersenyum sendiri didepan layar ponsel itu! Sampai tidak menghiraukan aku yang berdiri sejak tadi disini!" Queen memasang wajah memelas agar kakaknya tidak memarahinya.
Melihat itu Ricko pun merasa bersalah pada adiknya, hingga akhirnya dia menarik Queen dalam pelukannya.
"Maafkan kakak ya sayang! Kakak tidak menyadari hal itu dan malah memarahimu!"
Queen tersenyum dan membalas pelukan Ricko.
"Seharusnya Queen yang minta maaf pada kakak, karena sudah membuat kakak marah!". Ucap Queen.
"Sudah! Kakak tidak pernah bisa marah pada adik kesayangan ini!". Ricko mengurai pelukan mereka dan menuntun adiknya untuk duduk disofa.
"Memangnya apa yang sedang kakak lihat, hingga sesenang itu?". Tanya Queen sambil menyenderkan kepalanya dipundak Ricko.
Ricko mengelus lembut rambut adiknya.
"Tidak ada! Hanya iklan lucu saja!". Kilahnya berbohong.
"Benarkah hanya itu saja?". Queen mendongak sedikit wajahnya agar bisa melihat raut kejujuran dimata kakaknya, namun tidak ia temukan.
"Tentu saja sayang! Kau kira ada apa lagi?". Ricko merendahkan pandangannya kearah Queen.
"Tapi aku merasa jika kakak sedang berbohong padaku!"
Kenapa dia bisa tahu?. Gumam Ricko dalam hati.
"Tidak sayang! Dasar kau ini nenek cerewet!". Ricko mencubit pipi adiknya dengan gemas.
Queen mencurutkan bibirnya kedepan, berniat ingin menjauhkan kepalanya dari pundak Ricko. Namun, ditahan oleh Ricko yang segera mendekap adiknya dari samping.
"Kau marah pada kakak sayang?". Tanya Ricko.
"Tidak!". Jawab Queen datar.
"Jadi?"
"Jadi apa?". Tanya Queen dengan kesal, dia sangat ingin tahu apa yang terjadi pada kakaknya tadi. Tapi Ricko tidak jujur padanya.
"Kalau tidak marah! Kenapa kau menjawab dengan datar seperti itu?"
Queen menghela nafas kasar. "Mana ada!". Kilah Queen.
"Ya sudah! Apa kau sudah makan sayang?". Tanya Ricko.
Dengan cepat Queen menggeleng kepala.
"Belum kak!". Queen memegang perutnya yang sudah harus diisi, karena dia tadi siang tidak makan.
Dan ketika ingin makan selepas jam usai kuliah, Queen disibukkan lagi dengan tugas-tugasnya yang harus diselesaikan dengan cepat. Dengan terpaksa dia makan saat kembali ke Mansion, itupun masih banyak drama dari sang pangeran didalam ruang kerjanya.
"Ayo kita makan!". Ajak Ricko yang terlebih dahulu berdiri sambil mengulurkan sebelah tangannya.
Queen bukan membalas uluran tangan kakaknya, tapi malah menepis halus tangan Ricko.
"Gendong!". Rengek Queen yang sudah mengulurkan kedua tangannya.
"Cih. Kau ini sungguh menyebalkan sekali!"
Mulut Ricko bersungut tidak henti, tapi tetap mau menggendongnya menuju ruang makan.
°°°°°
Ricko mendudukkan adiknya dikursi, lalu mengambil minum karena dia kehausan harus menggendong adiknya dari lantai 3.
Para pelayan sudah biasa menikmati pemandangan itu tidak terkecuali Paman Thomas, yang sudah merawat mereka sedari kecil. Sudah seperti orang tua bagi Queen dan Ricko, apalagi sering ditinggal berbisni oleh Daddy Ken dan Mommy Stella.
"Kalian berdua ini sangat manis sekali ya!". Ucap Paman Thomas tersenyum sambil menggeleng kepala.
"Paman tidak ikut makan bersama kami?". Tanya Queen.
"Tidak nak, Paman makan setelah pekerjaan paman selesai! Kalau begitu kami permisi!". Queen memang sering mengajak Paman Thomas makan bersama mereka, tapi tidak pernah diterima untuk ikut bergabung.
"Kakak harus makan yang banyak agar tenaga yang terkuras terisi lagi!". Ucap Queen meletakkan steak daging di atas piring Ricko.
"Kau kecil tapi makanmu banyak, pantas saja berat seperti batu!"
"Kakak! Queen tidak berat, tapi kakak yang terlalu kurus! Jadi harus makan yang banyak!"
"Terserah katamu! Cepat habiskan makananmu!". Titah Ricko.
°°°°°
Sementara ditempat lain, seorang gadis cantik yang selalu dirindukan Ricko disetiap saat tengah duduk santai didalam coffe shop.
Nampak hanya dia yang duduk disalah satu meja, tidak ada yang menemaninya. Gadis itu sangat menikmati kesendiriannya tanpa berniat mencari pasangan ataupun lawan bicara saat dia ingin keluar rumah.
Dia tidak perduli pada sekitarnya yang bermesraan dengan kekasih mereka, yang terpenting baginya bahagia dan nikmati kehidpan diri sendiri selagi itu tidak mengusik orang lain.
Sampai suara dering ponsel miliknya berbunyi.
Kringgg....
Jasmine mencari benda pipih itu didalam tas kecil miliknya, lalu menggeser ikon hijau setelah melihat sipenelpon.
"Hallo Jas**!"
"Iya hallo, ada apa?"
"Apa kau tengah sibuk**?"
"Tidak! Aku sedang bersantai saja di Coffe Shop ku!". Jawab Jasmine.
"Apa aku boleh kesana**?
"Tentu saja boleh Queen!"
"Baiklah! Kau tunggu aku ya, aku akan menyusulmu**!"
"Oke! Berhati-hatilah!".
Jasmine menutup telponnya dan memandangi orang-orang yang berlalu lalang diluar.
°°°°°
Queen telah selesai bersiap-siap, dia selalu tampil cantik jika diluar waktu kuliah, meskipun tanpa hiasan diwajahnya. Hanya bedak Baby dan Lip Balm yang dia gunakan, namun tidak mengurangi pesona alaminya dan gaya elegan.
"Begini sudah cukup!". Tutur Queen yang melihat pantulan dirinya didepan cermin, lalu tangannya menyaut mantel tebal berbulu halus dilehernya itu dan memakainya.
Queen turun kebawah dan menghampiri kakaknya yang masih enteng menunggu dirinya sejak tadi, sambil main ponsel.
"Kak!". Panggil Queen saat sudah didekat kakaknya.
Ricko menoleh kearah sumber suara.
"Sudah siap My Sweety?". Tanyanya.
Queen mengangguk antusias. "Sudah, ayo kita berangkat sekarang kak!"
Ricko bangun dari duduknya. "Ayo!"
Mereka berdua pun pergi ketempat yang sudah dijanjikan tadi, disana sudah ada seseorang yang menunggu dengan sabar.
Setelah sampai disana Queen mencari-cari dimana orang yang menunggunya tadi, tanpa memperdulikan tatapan lapar orang lain pada dirinya.
Semua orang disana terpesona dengan penampilan dan kecantikan alami yang terpancar pada dirinya, tidak sedikit orang-orang memuji dan mengagumi Queen.
"Dimana dia sayang?". Tanya Ricko yang mengekori adiknya.
"Queen tengah mencarinya kak!". Ucap Queen.
Seketika dia menangkap sosok yang dia cari tengah menatap luar jendela yang bertepatan ditepi sungai dan menghampirinya, diikuti oleh Ricko dibelakangnya.
"Hei! maaf membuatmu lama menunggu!". Sapa Queen dan duduk diseberang gadis itu.
Merasa ada orang yang duduk didekatnya dia menoleh dan tersenyum menanggapi.
"Tidak masalah! Kau bersama siapa pergi kemari?". Jasmine tidak menoleh kebelakangnya yang berdiri seorang pria tampan dan menawan.
"Aku bersama seseorang disini!". Jawab Queen santai.
Jasmine menyipitkan matanya menangkap ucapan yang diberikan Queen.
"Seseorang? Apa kau bersama kekasihmu?". Tanya jasmine.
Queen melirik kearah Ricko berdiri dan Jasmine mengkerutkan keningnya sambil mengikuti arah mata Queen.
"Astaga!!". Pekik Jasmine setelah sadar Ricko dibelakangnya, membuat orang-orang disekitarnya menoleh padanya.
"Kecilkan suaramu itu Jasmine!". Tukas Queen.