
Jasmine dan Queena tengah bergelut dengan komputer mereka hari ini. Tidak da percakapan, hanya terdengar suara keyboard yang dimainkan.
Padahal ini akhir pekan, namun mereka hanya diam diri dikamar Queen, tentu dibaluti beberapa camilan ringan disana dan juga minuman.
"Queen..."
Yang dipanggil menghentikan aktifitasnya dan menoleh kearah samping dirinya duduk.
"Ya?"
"Apa kau...pernah menyukai seseorang?" tanya jasmine.
Queen menautkan kedua alisnya berpikir, sebelum akhirnya menjawab. "Aku tidak tau ini disebut suka atau bukan. Yang jelas, aku pernah mengagumi seseorang."
Sepertinya jasmine tertarik untuk mengetahui siapa orang itu, terbukti saat ini dia meletakkan labtopnya di atas meja didepan mereka, lalu memutar menghadap penuh pada sosok Queen.
"Katakan siapa orang itu?" tanyanya dengan mendesak.
"Aku lupa orangnya." jawab Queen.
Jasmine menyerngit bingung, lalu berkata. "Masa kau tidak ingat?"
"Memangnya seperti apa dia?" tanyanya lagi.
"Dia itu seperti dewa yunani, tampan. Namun, sangat berbahaya haha" jawab Queen seraya tertawa.
Plakk
"Aku serius Queen" kesal Jasmine.
Entahlah. Mengingat ucapan Queen, dia seketika teringat Ricko. Dia akui kakak laki-laki sahabatnya itu memang tampan, tapi berbahaya. Percis seperti apa yang dikatakan Queen. Lihatlah tadi, betapa lancangnya lelaki itu menggodanya tadi.
Sudah cukup Jasmine, mengapa kau malah ingat lelaki brengsek itu! teriaknya dalam hati hingga bergidik ngeri.
Sedangkan Queen yang sedari tadi memperhatikan pun, menatap aneh gadis itu.
"Kau kenapa? Kerasukan?" tanya Queen.
Jasmine tersadar, dia lupa kalau disampingnya ada Queen.
"Tidak ada" jawabnya.
Queen mengedikkan kedua bahunya acuh.
"Oh iya, setelah ini aku ingin ke perpustakaan. Apa kau mau ikut?" tanya Jasmine, setelah dia melanjutkan kembali aktifitasnya.
Queen menggeleng kepala. "Aku sedang malas keluar rumah."
"Memang kau suka malas, kan? Haha" kelakar Jasmine.
"Aku lebih malas hari ini, ingin tidur seharian"
"Dasar pemalas" cetus jasmine.
Akhirnya mereka tertawa bersama mendengar omong kosong masing-masing.
***
Sedangkan diluar sana, tepatnya dilantai bawah. Dimana berdiri seorang laki-laki didapur, tengah mengambil minuman soda dari lemari pendingin pun mengehentikan aktifitasnya, mendengar suara gelak tawa dilantai atas.
"Apa itu?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Tidak mungkin dirumah ini ada hantunya."
Semakin didengar suara itu semakin jelas di telinganya, membuat bulu kuduk lelaki itu berdiri.
"Apa itu hantu?"
Karena penasaran, akhirnya dia meletakkan botol minumannya di atas meja, lalu bergegas ke arah suara itu berasal.
Dengan percaya dirinya dia berjalan kesana, tapi di iringi seluruh tubuhnya merinding.
Haahahaha...
"Suaranya berasal dari ruang belajar Queen" serunya.
"Apa yang dia lakukan dengan gadis itu?"
Tidak tahan dengan jiwa kekepoannya, akhirnya dia masuk kedalam dan...brukk.
Suara pintu terbuka kasar, mengagetkan dua gadis didalam sana.
"Apa-apaan kakak?" teriak Queen kesal, pasalnya lelaki itu mendorong keras pintu nya hingga nyaris terlepas.
Yang bersangkutan hanya cengengesan tidak berdosa. "Kakak tadi mendengar suara hantu tertawa, ternyata kalian. Hehehe..."
Queen memotar bola mata jengah. "Kakak hantunya"
Tapi detik kemudian, dia menyadari pikirannya. Tidak mungkin, apa-apaan ini? Sial. Umpatnya dalam hati.
Buru-buru gadis itu meralat pikirannya. "Astaga." gumamnya pelan.
Ricko masuk dan mendekati kedua gadis itu, lalu duduk disamping Jasmine.
"Apa yang kalian lakukan, hingga suara tawa kalian menggema dibawah sana?" tanyanya, sambil mencomot satu camilan yang tergeletak di atas meja.
"Sedang mengerjakan tugas." jawab Queen.
"Kenapa tadi kalian tertawa seperti hantu seperti itu?"
"Berarti ada yang lucu kakak" jawab Queen.
"Memangnya apa yang lucu?" tanya Ricko lagi.
Sungguh, jiwa kekepoan lelaki itu meningkat sekarang. Tentang apa saja yang dibahas adiknya itu.
"Kakak terlalu banyak tanya!" ketus Queen, sedangkan Ricko hanya terkekeh saja. Asik sekali baginya menjahili adik kesayangannya ini, pikirnya.
Jasmine diam mendengarkan, sambil tangannya lanjut mengetik sesuatu di ponselnya.
Ricko sedikit melirik ke arahnya, berniat mengintip apa yang dilakukan gadis itu. "Hei, kenapa diam?" tanyanya tanpa mengalihkan sedikitpun tatapannya dari Jasmine.
Jasmine menitikkan ekor pandangnya pada siluit tampan disampingnya ini, lalu berkata. "Apa urusanmu?"
"kau mengabaikanku disini, sayang" jawab Ricko, dan itu membuat Queen seketika menatap mereka dengan ekspresi sulit diartikan.
Apa aku melewatkan sesuatu? Tanya dirinya dalam hari.
Jasmine menyadari tatapan dari Queen pun, segera menurunkan ponselnya dan berdehem.
"Queen, kau jangan salah paham. Kakakmu ini hanya mengada-ngada ucapannya." jelasnya.
"Mengada-ngada apa sayang?" goda Ricko saat melihat gadis pujaannya salah tingkah dengan wajah memerah bak tomat.
Sungguh cantik sekali. Gumamnya.
"kau mau aku robek mulutmu?" kesal Jasmine.
"Jangan dirobek, dicium saja."
Sungguh, ingin sekali Jasmine memukul lalu merobek mulut lelaki ini yang bertampang wajah tidak berdosa. Sedangkan Queen saja menatapnya dengan tatapan intimidasi begitu, ini akan membuat gadis itu berpikir yang tidak-tidak mulai sekarang. Eh ralat, dari kemarin.
Akhirnya dengan kesal Jasmine mengemasi barang-barangnya kedalam tas, lebih baik pergi dari sini pikirnya dari pada harus berada dalam suasana mencekam karna ulah dua adik kakak ini.
"Kau mau kemana?" tanya Queen akhirnya bersuara setelah tadi diam saja.
"Iya, kau mau kemana? Bukankah tadi kalian bilang mengerjakan tugas?" sambung Ricko juga.
Jasmine sejenak menghentikan gerakannya dan menjawab. "A...aku kan tadi bilang mau ke perpustakaan. Ya, aku mau ke perpustakaan sekarang."
Queen mengernyitkan alisnya. "Sekarang? Bukankah kita masih belum selesai?" tanyanya.
"Tapi yang ku lihat kau sedang ingin menghindar saat ini? Apa yang terjadi sebenarnya dengan kalian? Apa aku melewatkan satu informasi dari kalian?" sarkasnya dengan tenang, namun tajam itulah sosok asli seorang Queen.
Jasmine merasa tenggorokannya tercekat, namun berusaha tenang ditengah kepanikan. Baiklah, dia tidak perlu gugup bukan? Dia tidak melakukan kesalahan, jadi tidak perlu takut.
Gadis itu menghembuskan nafas pelan, dia menatap Queen lembut sebelum akhirnya menjawab. "Apa yang perlu aku jelaskan Queen? Kami memang tidak punya hubungan apa-apa."
"Kau percaya aku kan?" sambungnya.
Queen melirik kakaknya sekilas. "Apa buktinya?"
"Buktinya kakakmu tidak pernah menyatakan persaannya padaku."
"Bukankah begitu kak?" tanyanya pada Ricko.
Yang ditanya malah senyam senyum tidak jelas. "Oh... Kau mau aku menyatakan perasaan padamu?"
Mendengar ucapan lelaki itu, Jasmine mendelik. "Siapa yang bilang begitu?"
"Itu tadi kau bilang aku tidak menyatakan perasaan padamu kan?" goda Ricko dengan senyum termanisnya, buaya satu ini memang luar biasa berbahaya.
Jasmine menggelengkan kepalanya cepat "Tidak, bukan itu maksudku..."
"Yang seperti apa maksudmu?"
"Apakah yang begini?" lelaki itu mengambil kedua tangan Jasmine lalu menggenggamnya dan berkata. "Maukah kau menjadi kekasihku? Atau kalau kau siap, kita langsung menikah saja?"
Queen sebenarnya melihat ada ketertarikan dimata kakaknya itu, karna sebelumnya dia tidak pernah melihat kakaknya bisa melihatkan tatapan berbeda seperti itu pada perempuan yang pernah mendekatinya. Memang terdengar bercanda, tapi ada arti lain dari kata-katanya, contohnya lewat tatapan mata Ricko.
Selama ini yang dia tau kakaknya itu sibuk bekerja hingga lupa waktu dan tidak sempat memikirkan wanita. Memang dia banyak dikejar para wanita diluar sana, tapi tidak ada yang mampu memikat hatinya. Baru kali pertama dia melihat kakaknya tertarik dengan wanita dan itu pada sahabatnya sendiri. Entah dia harus senang karna akhirnya ada wanita pujaan hati kakaknya, atau dia sedih karena sahabatnya itu belum tentu menerima kakaknya.
Satu hal yang dia takuti, dia tidak ingin kakaknya merasa patah hati sebelum memulai, maka dari itu dia harus memastikannya sendiri nanti secara diam-diam.