Love Storm

Love Storm
Anggap masa percobaan



Malam hari sesuai janji mereka tadi siang, Vanno dan kedua sahabatnya telah berkumpul di sebuah kedai kopi yang bernama TimberYard.


Disana sudah menjadi tempat favorite tiga lelaki itu, karena selain pelayanan ramah tamah disana juga salah satu sudut santai yang romantis.


Meskipun begitu, mereka tidak perduli dengan hal yang berbau romantis. Bagi mereka kebersamaan tidak selalu bersama kekasih.


"Ada apa kau mengajak ku kemari?". Tanya Vanno kepada Nathan.


"Iya, ada apa Nath?. Jimmy ikut menimpali.


Nathan diam, lalu memandang Vanno dan Jimmy secara bergantian.


"Semalam kau kemana Van? Jino sangat marah padamu, dia mengira kau tidak datang karena tidak sanggup membawa gadis itu kesana!". Ucap Nathan penuh selidik.


Vanno terpengarah, dia bingung harus menjelaskannya bagaimana. Karena semalam dia tidak mengatakan alasannya tidak ikut ke pesta Ulang Tahun Jino.


"Ehem... Aku semaalm mengikuti orang tuaku pergi makan malam bersama dengan teman Papi!". Jawab Vanno.


Satu-satunya cara meyakinkan mereka adalah dengan mengatakan itu, karena dia tau sahabatnya itu tidak mudah untuk dibohongi.


"Kau tidak berbohong?". Sarkas Nathan.


"Tentu saja tidak, kau ingat aku kemana semalam sampai tidakn hadir disana!"


"Baiklah jika begitu, tapi kau harus ingat satu hal Van. Kau harus segera menjalankan misimu ini sebelum si iblis itu semakin menekanmu!". Titah Nathan yang diangguki oleh Vanno dan dibenarkan Jimmy.


"Nathan benar. Lebih cepat lebih baik, dari pada kau menunggu lama!". Timpal Jimmy.


Vanno menghela nafas pelan, sebelum kemudian.


"Baiklah. Aku akan melakukannya, agar semua cepat selesai!"


Nathan dan Jimmy senang mendengarnya, mereka akan membantu Vanno untuk manjalankan misinya nanti. Mereka berharap semua cepat berlalu, hingga tidak ada lagi ancaman untuk Vanno sebagai Mahasiswa terpopuler se Imperial College London atau singkatan dari ICL.


"Jadi, apa rencana kalian setelah kita lulus dari ICL?". Tanya Nathan kepada kedua sahabatnya.


"Aku berencana ingin melanjutkan study S2 ku, tapi Daddy ingin aku membantunya mengurus perusahaan. Padahal aku juga harus mengurus perusahaan milikku!". Jawab Vanno kesal.


"Tapi hanya kau penerus satu-satunya di keluarga Mahesa Van. Jadi tentu saja semuanya di tanggung olehmu, tidak mungkin diberikan kepada orang lain!"


"Kecuali jika kau menikah dan punya anak sendiri, maka sebagian yang menjadi tanggung jawabmu akan ada anakmu yang membantu mengurusnya!". Sambung Nathan mencoba memberi pencerahan untuk Vanno.


Mendengar kata nikah, membuat Jimmy tertawa kecil.


"Kau ini kenapa?". Tanya Vanno kepada Jimmy.


"Aku hanya merasa lucu saat mendengar kata MENIKAH!". Jimmy menekan kata terakhirnya.


"Kapan itu akan terjadi jika kekasih saja tidak punya!". Sambung Jimmy sambil tertawa, membuat Vanno menjadi kesal padanya.


"Terus saja kau tertawa bahagia seperti itu dan lihat bagaimana aku mencabik mulutmu dengan kuku beruang!". Sarkas Vanno dingin.


Jimmy seketika menghentikan tawanya, lalu dia bungkam.


"Aku ingin bertanya! Apa kau tidak ada merasa yang aneh dengan perasaanmu pada gadis itu? Atau semacamnya?". Tanya Nathan.


"Semacam apa?". Vanno balik bertanya.


"Ya... Semacam suka atau tertarik?". Ucap Nathan dengan hati-hati.


"Tidak pernah dan tidak akan terjadi!". Seru Vanno sambil memalingkan wajahnya ke arah luar kedai Kopi.


Nathan mengangkat sebelah alisnya, sedang Jimmy menatap Vanno penuh selidik.


Apa benar yang kau ucapkan itu Van?. Gumam Jimmy dalam hati.


Aku merasa kau berbohong padaku Van!. Nathan berucap dalam hatinya sambil menatap Vanno sendu.


Vanno kembali menyeruput kopinya dan matanya menangkap kedua sahabatnya yang tengah menatapnya dengan tatapan sulit diartikan.


Dia memegang dagu beserta pipinya.


"Ada apa dengan wajahku? Kenapa kalian memandangku seperti itu?". Tanyanya kemudian.


"Apa aku tampan?". Sambung Vanno.


"Apa yang kalian tertawakan?". Tanya Vanno.


Jimmy memegang perutnya, sebelum menjawab. Sedang Nathan masih menetralkan tawanya.


"Kau sangat tampan, tapi sayang terlalu bodoh sampai menolak semua wanita yang mendekatimu!". Jawab Jimmy.


Vanno diam, lalu kembali menerawang jauh ke arah jalanan.


"Bukan aku yang bodoh. Tapi mereka yang bodoh karena mendekati orang yang salah! Aku bukanlah lelaki yang pantas mereka harapkan, karena aku dingin dan tidak memiliki perasaan!". Vanno menjawab dengan nada sarkastik, sambil tersenyum kecut.


Jimmy menepuk pelan pundak Vanno, lalu berkata.


"Kau bukan orang yang salah, apalagi tidak berperasaan! Tapi kau hanya tidak ingin membiarkan wanita manapun masuk dalam dasar hatimu ini. Kau takut akan mengecewakan mereka jika mereka memberi hatinya sepenuhnya padamu!". Jelas Jimmy.


"Aku benar, kan?". Tanya Jimmy.


Vanno


Nathan dan Jimmy tau apa yang lelaki itu pikirkan, bukan tanpa alasan Vanno menolak semua wanita yang ingin menjadi kekasihnya. Tapi itu semua karena dia Tidak ingin menjalin hubungan atas dasar pengkhianatan.


Bahkan Nathan dan Jimmy juga mengetahui kisah Asmara pilu yang dialami kakak Vanno dulu. Sehingga bukan hal mutlak bagi mereka untuk memaklumi sahabatnya itu.


"Kurasa kau anggap saja pertaruhanmu dengan menjadikan gadis culun itu sebagai kekasih pura-pura, menjadi awal mula kau membuka hatimu pada seorang wanita! Bagaimana menurutmu?". Tiba-tiba Jimmy mendapat ide gila itu melintas dikepalanya.


"Kau ini bagaimana? Tidak mungkin terjadi!". Sangkal Vanno.


"Tapi itu satu-satunya jalan keluar dari permasalahanmu selama ini Van!". Seru Jimmy.


"Iya, Jimmy benar. Kau anggap saja ini masa percobaan untuk dirimu!". Nathan membenarkan perkataan Jimmy.


Vanno melihat wajah-wajah sahabatnya yang banyak bicara dari tadi dengan tatapan tajam.


"Kalian terlalu banyak bicara!". Seru Vanno, kemudian menghela nafas berat.


"Aku tau apa yang harus aku lakukan, jadi berhentilah memberi ide gila kalian!". Sambungnya.


Vanno merasa terpojoki dengan kedua sahabatnya, antara kesal dan berterima kasih karena memberinya sedikit masukan.


Nathan tersenyum mendengar perkataan Vanno. "Baguslah jika kau sudah tau!". Ucapnya.


Mereka bertiga saling merangkul dan memberi kehangatan sahabat, seolah menjadi penyemangat satu sama lain.


"Bagaimana jika minggu depan kita adakan pertemuan untuk Vanno dan gadis itu?". Tanya Nathan setelah melepas rangkulan mereka.


"Iya, siapa namanya?". Timpal Jimmy pura-pura tidak tau.


Nathan juga pura-pura mengingat, yang sebenarnya mereka sudah mengetahui lebih dulu dari pada Vanno. Mereka berniat hanya memancing ucapan Vanno saja.


Vanno merasa kesal mereka tidak mengingat nama itu, akhirnya dengan terpaksa menjawab.


"Queen!". Ucap Vanno singkat dan datar.


Nathan dan Jimmy membelalakkan matanya karena sahabatnya itu yang biasa tidak peduli apalagi mengingat nama wanita, sekarang mengingatnya.


"Wah Van! Kau ingat namanya?". Tanya Jimmy heboh.


Nathan menggeleng kepala sembari menepuk jidatnya, akan tingkah laku Jimmy.


"Dasar Jimmy!". Gumamnya pelan.


"Kau kira aku sudah tua, yang mudah melupakan segalanya?". Tanya Vanno balik dan pura-pura kesal.


Jimmy terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Maafkan aku!". Ucapnya sambil mengatupkan kedua telapak tangan kedepan wajahnya.


Vanno memang tidak bisa marah meihat tingkah laku Jimmy.


"Tidak ku maafkan!". Ucap Vanno sambil mengacak rambut cepak Jimmy.


Mereka tertawa bersama melihat Jimmy cemberut, karena rambutnya yang menurutnya keren menjadi rusak gara-gara Vanno.