Love Storm

Love Storm
Dunia benar-benar sempit



Pagi ini disebuah gedung besar bertuliskn Imperial College London atau singkatan dari ICL. Para mahasiswa kembali menjalankan aktivitas sehari-hari mereka disana, namun hari ini dikarenakan dosen bimbingan banyak yang tidak hadir, jadi mereka ada yang masuk kelas, ada yang hanya sekedar Absen masuk dan ada yang cuma mengantar tugas.


Sama halnya dengan ketiga gadis cantik ini, mereka datang sebentar saja karena dosen pembimbing mereka tidak hadir.


Jadi dia dan teman-temannya hanya datang mengantar tugas mereka kemarin, lalu berencana untuk pergi berbelanja di Mall dan masih banyak aktivitas lain yang ingin mereka lakukan.


"Kita akan kemana lagi setelah dari sini Queen?". Tanya Jessie saat mereka masuk kedalam area parkir Mall.


Queen nampak berfikir sejenak, lalu ia berkata.


"Bagaimana jika setelah ini kita pergi ke Toko perhiasan milik Mommyku? Sudah lama aku tidak kesana!". Queen memberi usul.


"Wah... Aku sangat ingin kesana, boleh kah?". Tanya Jessie antusias.


"Tentu saja boleh. Jika tidak, aku tidak mungkin mengajakmu!". Seru Queen terkekeh kecil.


Jessie menyengir kuda menanggapinya.


"Kau mau ikut, kan kakak ipar?". Tanya Queen sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Hahh... Aku hanya bisa pasrah mengikuti kemana kalian akan pergi!". Jawab Jasmine menghela nafas pelan.


"Baiklah, itu akan sangat menyenangkan bila kita selalu bersama-sama seperti ini!". Seru Queen antusias, sambil menggandeng kedua sahabatnya dengan tangan kanan menggandeng Jasmine dan sebelah kiri menggandeng Jessie. .


"Ayo kita masuk!". Ajak Queen menarik tangan kedua sahabatnya.


Jessie dan Jasmine hanya bisa pasrah dengan keadaan, yang terpenting bagi mereka adalah melihat selalu kebahagiaan diwajahmaksu.


Queen membawa kedua sahabatnya kedalam sebuah pusat belanja pakaian Wanita dan Pria.


"Kenapa kita datang kesini, Queen?". Tanya Jessie saat mereka berada di barisan pakaian Pria.


Queen melepaskan genggaman tangannya dari tangan Jessie dan Jasmine, lalu dia berjalan ke arah kemeja-kemeja Pria.


"Tentu saja kita berbelanja, memangnya apalagi?". Tanya Queen balik.


Jessie menatap bingung kepada Queen.


"Kita kan wanita Queen, kenapa malah datang ke area pakaian Pria?". Jessie benar-benar tidak paham.


Queen melirik kearah Jasmine yang sibuk melihat-lihat pakaian Pria dan Jessie mengikuti arah ekor mata Queen.


Sepertinya aku paham sekarang!. Gumam Jessie dalam hati sambil tersenyum.


"Jadi maksudmu?". Tanya Jessie menunjuk Jasmine.


"Iya, itu yang aku maksud kan!". Ucap Queen.


Jessie hanya berohria, sambil manggut-manggut.


"Ayo, kau bantu aku pilih beberapa helai. Setelah itu kita serahkan padanya!". Ajak Queen.


"Baiklah!". Seru Jessie.


Mereka berdua mulai memilih beberapa kemeja Pria. Sedangkan Jasmine masih sibuk melihat-lihat tanpa berniat memilihnya.


Setelah dapat apa yang dia inginkan tadi, Queen mengajak Jessie menghampiri Jasmine.


"Hei!". Panggil Queen sambil menepuk pundak Jasmine.


"Astaga!". Tepukan Queen ternyata membuat Jasmine terkejut, hingga gadis itu refleks mengelus dadanya.


"Sudah dapat apa yang ingin kau cari?". Tanya Queen menggoda Jasmine.


"Haa? Cari apa?". Jasmine mengerutkan dahinya tanda bingung.


Queen melirik Jessie sekejap, memberi kode dengan kedipan mata. Jessie paham dengan kode itu langsung saja menunjukkan Kemeja yang ada ditangannya.


"Kau cari ini, kan?". Tanya Jessie kepada Jasmine.


Jasmine memperhatikan Kemeja yang ditunjukkan oleh Jessie, lalu memandang penuh tanya kepada kedua sahabatnya.


"Apa ini Queen?". Tanya Jasmine.


Queen merangkul pundak Jasmine, lalu berkata.


"Ini adalah Kemeja Pria Jasmine, masa kau tidak mengenalnya?". Ucap Queen.


"Iya sayang, aku tau ini Kemeja Pria! Tapi untuk apa kau memberikannya padaku? Aku bukan seorang Pria!". Jasimine menatap tajam kedua sahabatnya, yang dia anggap begitu konyol.


"Ini bukan untukmu, tapi untuk calon suamimu?". Ucapan Queen membuat Jasmine terkejut.


Queen menutup mulutnya menahan tawa.


"Apa kau masih tidak mengerti Jasmine? Kak Ricko lah calon suamimu!". Ucapnya kemudian.


Jasmine membulatkan matanya lebar, hingga bola mata itu seakan ingin melompat keluar.


"Apa yang kau bicarakan Queen?". Ucap Jasmine.


"Sudahlah! Kau sebaiknya pilih salah satu kemeja ini untuk kakakku!". Titah Queen sambil menunjuk kemeja-kemeja itu.


"Iya Jasmine, cepatlah!". Timpal Jessie.


Jasmine menghela nafas berat dan hanya bisa pasrah dengan keadaan


"Baiklah!". Ucapnya.


Queen dan Jessie bertosria sambil terkekeh, rencana mereka berhasil.


Jasmine memilih kemeja mana yang cocok untuk Ricko dan semuanya hampir pas untuk lelaki itu. Tapi tidak mungkin dia memilih semuanya dan akhirnya pilihan yang tepat jatuh pada dua Kemeja panjang polos berwarna Navy dan satu lagi warna Maroon.


"Aku pilih yang ini!". Jasmine memperlihatkan dua Kemeja yang dipilihnya barusan kepada kedua sahabatnya.


"Aku tidak tau seleranya seperti apa, tapi menurutku ini lebih cocok untuk dirinya!". Sambung Jasmine.


Queen dan Jessie memperhatikannya, lalu mengangguk pasti.


"Kau memang pandai! Itu warna kesukaan kakak ku!". Seru Queen antusias.


"Benarkah?". Tanya Jasmine tak percaya.


"Iya benar! Sekarang ayo kita pilih pakaian untuk kita sendrii!". Ajak Queen sambil berjalan ke arah toserba Wanita.


Setelah sibuk memilih mana yang cocok untuk dirinya, tiba-tiba Queen ingin pergi ke toilet.


"Jasmine, Jessie!". Panggil Queen kepada kedua sahabatnya yang tengah mengepaskan baju dibadannya dan mereka berdua menoleh ke arah Queen.


"Ada apa Queen?". Tanya Jasmine.


"Aku ingin ke Toilet sebentar. Kalian tunggu aku disini!". Ujar Queen.


"Baiklah, cepat kembali ya!". Ucap Jasmine.


"Perlu aku temani?". Tanya Jessie menimpali.


"Tidak usah, aku tidak lama!". Jawab Queen lalu meninggalkan mereka berdua dan menuju ke arah Toilet wanita.


Setelah Queen menemukannya, dia segera masuk dan keluar setelah selesai. Lalu menghadap cermin besar yang ada di dalam sana untuk merapikan penampilannya.


"Aku merasa aman saat keluar dengan berpakaian seperti ini!". Ucap Queen pelan.


Queen merasa dia lebih santai berpenampilan sederhana, karena apabila dia menampakkan identitas aslinya dimuka umum. Maka semua orang melihatnya dengan tatapan lapar, apalagi Pria hidung belang diluar sana.


"Ternyata ada untungnya aku seperti ini!"


Queen keluar dari sana dengan tergesa-gesa, takut jika kedua sahabatnya menunggu terlalu lama. Namun, saat dia akan belok ke arah jalan menuju Toko pakaian.


Dia tidak sengaja berpapasan dengan Vanno dan juga teman-temannya. Mereka tidak menyangka akan bertemu lagi, dunia benar-benar sempit setelah kemarin menghabiskan waktu bersama.


"Hei gadis culun!". Sapa Jimmy kepada Queen dengan senyum mengejek.


Queen tidak menanggapinya, dia malah kembali melanjutkan langkah kakinya dengan rasa kesal.


Siapa yang kau bilang culun, pria brengsek?


Vanno dan Nathan terkekeh melihat Jimmy diabaikan oleh gadis seperti Queen.


"Rasakan itu!". Ejek Nathan.


Jimmy menoleh ke arah kedua temannya yang sedang menertawainya.


"Kalian sungguh jahat!". Ucap Jimmy dengan nada dibuat-dibuat, hingga kembali meledakkan tawa Vanno dan Nathan.


"Dia sama seperti teman-temannya itu, selalu dingin kepada siapapun!". Sarkas Nathan kembali mengingat saat dia ingin mendekati Jasmine, namun gadis itu mengabaikannya.


"Tapi apa yang dia lakukan disini?". Tanya Jimmy dengan rasa penasarannya.


"Tentu saja ingin berbelanja. Kau kira sekolah?". Tanya Vanno.