Love Storm

Love Storm
Mencurigai



Saat mobil Vanno keluar gerbang. Tidak jauh dari mereka, Queen berjalan kaki menuju Halte Bus. Tapi bukan untuk menaiki angkutan umum, melainkan memasuki sebuah mobil mewah berwarna hitam dan diikuti mobil berwarna yang sama dibelakangnya.


"Apa kalian melihatnya?" tanya Jimmy dengan heran.


"Kenapa dia memasuki mobil itu? Dan lagi ada mobil lainnya dibelakang! Apa jangan-jangan dia diculik?" sambung Jimmy sambil bergidik ngeri.


Nathan yang berada disebelahnya, menepuk kuat bahu kiri Jimmy.


"Jangan asal bicara! Mana ada orang diculik dengan cara seperti itu!" celetuk Nathan.


Jimmy cengengesan, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tapi sangat aneh, kenapa dia santai sekali masuk kedalam Mobil itu?" Jimmy sedang dalam mode penasarannya kembali bertanya.


Vanno yang sedari tadi diam, pun memperhatikan Mobil yang sudah menjauh itu.


"Jika penasaran, lebih baik kita ikuti saja dia!" ucap Vanno, dan itu membuat kedua sahabatnya dari tadi bicara jadi melongo melihat Vanno.


"Apa yang kalian lihat? Cepat kejar mobil itu!" titah Vanno.


Tak banyak bicara Nathan segera melajukan Mobil mereka, mengejar dua Mobil yang menurut mereka sangat mencurigakan.


Sepanjang perjalanan, Queen merasa aneh dengan hatinya. Dia merasa ada sesuatu yang aneh dan jantungnya berdegup kencang.


"Ada apa denganku?" tanya Queen pada dirinya sendiri sambil memegang dadanya.


Supir didepan memperhatikan kegelisahan Queen dari kaca spion, pun bertanya pada nona mudanya.


"Maaf jika saya lancang Nona muda! Saya tidak sengaja memperhatikan, Nona kelihatan gelisah! Ada apa Nona?" tanya Kevin, supir pribadi Queen dan paling muda diantara supir yang lain dalam keluarga Baranta.


Queen mencoba tenang dan tersenyum mengangguk.


"Tidak apa-apa Vin! Aku hanya sedikit aneh dengan perjalanan kita hari ini. Mungkin perasaanku saja!"


Kevin mengangguk paham.


"Tenang saja Nona muda! Saya pastikan Nona sampai di Mansion dengan selamat dan aman hari ini dan seterusnya!"


Ada rasa sedikit lega dihati Queen mendengar ucapan dari Kevin.


"Terima kasih kau bersedia menjagaku Kevin!" ucap Queen tersenyum manis membuat hati Kevin bergetar setiap kali melihatnya.


Kevin memang mempunyai perasaan terhadap Queen, tapi ia tahu siapa dirinya bagi keluarga Baranta. Meskipun mereka tidak pandang kasta, tapi dia juga tidak berhak untuk mendekati Queen dalam melibatkan perasaan.


"Tidak perlu berterima kasih Nona! Ini adalah kewajiban saya sebagai bawahan dari Tuan besar!" balas Kevin dengan senyum tidak kalah manis dari Queen.


Queen mengangguk dan kembali diam, hingga ia tidak menyadari Vanno mengikuti dirinya sampai depan gerbang Mansion.


°°°°°


"Coba kalian lihat! Mobil itu membawanya masuk kedalam gerbang yang sangat besar!" sarkas Jimmy dengan gaya hebohnya.


Vanno menautkan kedua alisnya kedalam dengan heran.


Apa ini perasaanku saja atau memang kenyataan? Jantungku kembali berdebar kencang seperti ada sesuatu aneh dalam diriku! Ada apa ini?


Dia melihat Mobil yang membawa Queen tadi terparkir rapi didepan sebuah Mansion mewah, tidak kalah mewah dari rumah orang tuanya.


"Hei Van!" sergap Jimmy.


"Kenapa kau diam saja? Cepat kita lakukan sesuatu, gadis itu akan dibawa kedalam Mansion!" sambung Jimmy mendesak Vanno.


Vanno berdecak kesal.


Ck. Lalu kau ingin aku seperti apa?"


"Kita susul dia, sebelum mereka bertindak keras padanya! Bagaimanapun dia seorang gadis seperti gadis lainnya!" timpal Nathan yang ingin membuka pintu Mobil.


Namun saat mereka akan keluar, Queen pun keluar dari Mobil tadi. Dia disambut dengan sangat hormat oleh para pelayan, tak terkecuali Kevin yang juga ikut menunduk hormat setelah membukakan pintu Mobil untuk Queen.


Gadis itu dengan santai masuk kedalam Mansion, dia sudah terbiasa mendapat perlakuan seperti seorang putri. Meskipun dia tidak suka disegani setiap pelayan.


Dia mengingat dengan jelas Mansion mewah itu, dimana terasa tidak asing baginya.


Sepertinya aku pernah kesana!


Tapi dengan cepat dia menepis rasa curiganya, yang terpenting adalah menjawab rasa penasaran Nathan dan Jimmy.


"Dia pasti putri dari pemilik Mansion itu!" sarkas Vanno.


Nathan dan Jimmy menoleh ke arah Vanno.


"Bagaimana mungkin? Dia kelihatan seperti gadis dari kalangan biasa!" celetuk Jimmy.


"Iya Van, Jimmy benar! Pasti ada sesuatu yang terjadi padanya!" timpal Nathan.


Vanno mengedikkan kedua bahunya acuh.


"Sudah lah, itu bukan urusan kita! Sebaiknya kita kembali kerumah masing-masing, aku sangat lelah!" titah Vanno.


Nathan dan Jimmy hanya bisa pasrah, sebenarnya mereka masih ingin mencari tau tentang Queen. Tapi jika sang raja bertitah, mereka bisa apa?.


Akhirnya mereka pun kembali kerumah mereka masing-masing.


°°°°°


"Apa kakak sudah pulang paman?" tanya Queen kepada kepala pelayan.


Pak Thomas mengangguk hormat.


"Sudah Nona muda! Tuan muda ada diruang kerja!"


"Terima kasih paman!" Queen tersenyum ramah dan berlalu pergi menghampiri kakaknya.


Sebelum menemui kakaknya, Queen membersihkan diri terlebih dahulu. Tapi tiba-tiba dia terfikirkan oleh kejadian tadi pagi, dimana Vanno spontan memeluknya.


"Ck. Sial! Kenapa aku terus mengingatnya? Aku akan berendam lebih lama jika begini, agar hawa dia hilang!'


Queen melangkah menuju kamar mandi, untuk menuntaskan niatnya menghilangkan hawa bekas pelukan Vanno.


Sementara diruang kerja, Ricko tengah tersenyum sendiri membayangkan sesuatu yang membuat hatinya senang.


Dia mengabaikan beberapa E-mail yang masuk di komputernya, hanya demi hal yang entah apa itu.


Ricko tengah bersandar dikursi kerjanya, sambil memutar mutar pulpen.


"Ah Aku sangat merindukannya!" Ricko mengambil ponsel disamping komputernya, lalu mulai menyalakan dan mencari-cari sesuatu disana.


Setelah ketemu, dia menatap lekat layar ponselnya dan tersenyum lagi.


"Auranya yang acuh dan dingin, menambah kesan pada kecantikannya! Dia berbeda dari gadis lainnya!" seru Ricko pada dirinya sendiri.


"Apa aku sudah mulai jatuh cinta pada dia? Tapi tidak mungkin secepat ini!" gumam Ricko pelan, namun dapat didengar sesorang yang sedang berdiri dipintu sana.


Queen terkekeh geli melihat kakaknya yang berbicara sendiri! Dan apa katanya, Cinta? Apa Queen tidak salah dengar!


Sebaiknya aku dengarkan dulu ucapan kakak selanjutnya!. gumam Queen sambil menahan tawanya.


Queen sengaja berdiri disana, saat dia akan masuk kedalam dia dikejutkan dengan kakannya yang tersenyum sendiri sambil menatap layar ponsel. Untungnya dia tidak melihat dari awal tingkah laku Ricko, jika tidak! Hilang ketampanan Ricko karena malu.


Jadi Queen memilih untuk diam, sambil memperhatikan kakaknya.


Kakak sungguh lucu jika seperti itu!.


Ada rasa bahagia di hati Queen melihat kakaknya bahagia. Selama ini dia sering melihat Ricko bahagia, tapi tidak dalam urusan asmara.


Ricko memang sedikit seperti pria brengsek yang sering mempermainkan hati wanita bila ia bosan, tapi itu semua dia lakukan supaya bisa menghibur dirinya sendiri.


Namun siapa sangka, dia malah makin tidak bahagia. Dan sangat kehilangan arah tujuan hatinya untuk berlabuh.


Bergonta ganti wanita juga termasuk cara dia menemukan cinta sejati kelak, hingga kini tujuan itu baru ia temukan.