Love Storm

Love Storm
Daniel Putra Mahesa 5



Mommy Stella melihat putrinya kembali, dia ikut berdiri melambai anaknya.


"Sini sayang!" Panggil Mommy Stella pada putrinya.


Queen mengangguk dan berjalan menghampiri meja orang tuanya, namun tatapanya tidak sengaja melirik kearah lelaki seusianya, yang tak lain dan tak bukan ialah Vanno.


"Ada apa Mom?" tanya Queen saat mengakhiri tatapannya pada Vanno yang tengah menatapnya juga.


Queen sudah berdiri di antara Daddy Men dan Mommy Stella.


"Kenapa agak lama nak?" tanya Mommy.


"Tadi gaun Queen tidak sengaja tersangkut handle pintu jadi agak lama melepaskannya" ucap Queen.


"Oh ya sudah! Ini perkenalkan dua Pria tampan ini adalah anak-anaknya tante Dania!" Mommy menunjuk dua Pria itu secara bergantian.


"Oh iya, perkenalkan saya Queen Vebiola Baranta" Queen mengulurkan tangannya untuk bersalaman pada Daniel terlebih dahulu.


Daniel pun menyambut tangan mungil itu sambil tersenyum ramah.


"Daniel Putra Mahesa dan ini adiknya kakak! kalian pernah bertemu sebelumnya" tunjuk Daniel pada Vanno sambil menyuruh memperkenalkan diri.


Queen menyerngitkan keningnya sebelum kemudian mengulurkan tangannya pada Vanno, dan disambut Vanno dengan wajah dingin.


"Vanno Putra Mahesa!" Jawab Vanno.


Sebenarnya mereka pernah bertemu sebelumnya, tapi tidak berkenalan karena mereka bertemu hanya sekilas.


"Mana pacarmu nak?" tanya Daddy Ken pada Daniel.


"Sepertinya tidak datang Om, karena ada urusan keluarga katanya!" jawab Daniel.


"Sayang sekali dia tidak bisa datang dipesta mu ini" sahut Papi Rangga.


"Keluarga lebih penting pi, karena mereka sangat jarang bertemu!"


"Memang orang tuanya kenapa? Apa ada masalah?" tanya Daddy Ken yang mulai mode kepo.


"Orang tuanya jarang kembali kerumah! Mereka selalu melakukan perjalanan bisnis keluar kota, bahkan keluar negeri!" jelas Daniel.


"Hati-hati dalam menjaga pacarmu, dia hidup kesepian dirumah pasti akan sulit mengatasi semuanya sendirian. Jadi kau harus pandai-pandai menjaga kehormatannya untuk keluarga!" Daddy Ken memberi nasihat pada Daniel dan didengarkan langsung oleh Daniel.


"Terima kasih nasihatnya Om, Daniel pasti menjaganya demi keluarga!"


"Itu bagus untukmu son!" ucap Daddy ken sambil menepuk pundak Daniel pelan.


"Kalau begitu mari kita kesana, Pestanya akan kita mulai sebentar lagi!" ajak Mami Dania menunjuk kearah meja yang terdapat Cake Birthday yang lumayan besar terpajang disana.


Semua orang mengikuti ajakan Mami Dania dan mereka semua berkumpul untuk bersiap memulai.


"Sayang sini!" panggil Mami Dania kepada Daniel agar lebih mendekat kepadanya.


"Sekarang pesta akan di mulai, apalagi yang kau tunggu nak?" tanya Papi Rangga menimpali.


"Ah tidak, Papi silahkan kita mulai sekarang saja!" Daniel menyalakan lilin yang terletak rapi diatas Cake Birthday.


"Iya nak! Perhatian semua, kita akan memulai pesta ini!" ajak Papi Rangga.


Mereka semua memulai Birthday party dengan menyanyikan lagu Happy Birthday untuk sang pemeran utama malam ini.


Dan lagu telah selesai, tibalah untuk pemotongan kue pertama dan diberikan pada orang istimewa bagi Daniel.


"Silahkan kue ini berikan pada orang yang paling istimewa disini Daniel!" perintah Papi Rangga pada putranya.


Daniel pun mengambil potongan kue itu dan tanpa aba-aba langsung memberikannya pada sang mami.


"Untuk mami tercinta yang telah melahirkan aku dan merawatku dengan sabar hingga saat ini!" ucap Daniel sambil menyuapi Mami Dania.


"Dan ini untuk papi tersayang yang rela bekerja keras demi kami dan selalu meluangkan waktu untuk keluarga terutama waktu romantis untuk mami" goda Daniel menyuapi Papi Rangga sambil terkekeh.


Lalu selanjutnya Daniel menyuapi sang adik.


"Dan ini untukmu adikku! Semoga kau akan segera mendapatkan cinta dari kekasih pujaanmu hahaha... " Vanno menatap tajam kearah kakaknya yang sedang gencar menggodanya.


"Terima kasih kakak, tapi aku tidak membutuhkan do'a tidak bergunamu itu!" ucapan Vanno ternyata mengundangku gelak tawa orang-orang disana.


Tingkah lucu mereka saat adu mulut itulah yang dirindukan orang tua mereka.


"Sudah-sudah, kalian ini seperti anak kecil saja tingkah lakunya!" lerai Mami Dania.


"Kakak yang memulai dulu mi" rengek Vanno pura-pura mengadu dan bergelayut dilengan maminya.


"Enak saja kau!" elak Daniel.


Vanno ingin melanjutkan ucapannya, tapi malah terhenti saat matanya tidak sengaja menangkap senyum manis gadis didepannya itu.


Matanya menatap senyum indah yang diterbitkan Queen saat melihat tingkah laku mereka.


Seketika Vanno melepas gelayutan tangannya dari lengan sang mami, karena salah tingkah pada Queen.


Semua orang melihat itu dan memilih diam saja memperhatikan wajah merona Vanno. Tapi tiba-tiba saja mereka dikejutkan dengan kedatangan seorang Pria dan wanita yang terlihat seperti pasangan dan semua orang pun berpikiran begitu jika melihatnya.


Terutama untuk Daniel, dia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya sekarang ini. Bukankah kekasihnya kemarin bilang tidak bisa datang karena pertemuan keluarga? Lalu apa yang dilihatnya saat ini? Kekasihnya datang pada pesta ulang tahunnya, tapi bukan sendiri melainkan bersama Pria lain.


Begitu juga dengan Gebie, dia sangat terkejut bisa bertemu dengan Daniel disini. Apa ini yang dimaksud Steven bertemu klien pentingnya tadi? Gebie sungguh bingung harus berbuat apa saat ini. Dia ingin lari tapi semua sudah terlanjur dan ini pasti menyakitkan untuk Daniel.


Tapi Daniel berusaha untuk tetap berpikir positif pada Gebie, mungkin Pria ini adalah keluarganya yang dimaksudkannya lama tidak bertemu. Ya, mungkin seperti itu, pikir Daniel.


"Sayang kau datang? Apa ini keluarga yang kau bilang kemarin lama tidak bertemu?" tanya Daniel dengan tersenyum ramah, walau ada rasa curiga karena melihat Pria itu berani merangkul pinggang kekasihnya.


Gebie tersenyum kaku, dia bingung harus menjawab apa. Karena jika dia salah bicara, pasti Steven akan marah besar padanya dan bisa membahayakan nyawa seseorang.


Tapi jika ia tidak membenarkan pertanyaan Daniel, maka tidak hanya Daniel yang tersakiti tapi juga keluarganya.


Sementara Steven, Pria itu tengah tersenyum licik menantikan jawaban apa yang akan diberikan Gebie.


"Em... Di... Dia adalah... Itu... Em... Ke.... " belum sempat Gebie melanjutkan ucapannya, Steven terlebih dahulu memotongnya.


"Perkenalkan nama saya Steven Yonathan Joseph. Dan ini adalah calon istriku!" ucap Steven tersenyum miring sambil menoleh kearah Gebie dan semakin mengeratkan rangkulannya di pinggang Gebie, mengisyaratkan agar Gebie mengiyakan ucapannya.


Daniel dan keluarganya semakin terkejut begitu pula Gebie, wanita itu diam seribu bahasa. Tak terkecuali Vanno, dia tidak menyangka semua yang dirahasiakannya selama ini akan semudah ini terungkap.


"Gebie!! Apa benar yang aku dengar ini? Kau dan dia...kalian bukan keluarga?" tanya Daniel mencoba meyakinkan dirinya bahwa yang dia dengar adalah salah.


"I... Iya... Dia adalah calon suamiku, bukan keluargaku. Kami akan segera menikah sebentar lagi! Maafkan aku!" jawab Gebie dengan gugup sambil menundukkan wajahnya karena tidak kuasa untuk menatap wajah Daniel.


Bagai disambar petir, sungguh Daniel tak kuasa mendengar semua pengakuan ini. Tapi bukan Daniel namanya jika mempercayai hal tanpa bukti.


"Apa yang kamu katakan sayang? Bukankah kita sudah lama bersama, lalu kenapa kau mengatakan akan menikah dengan dia? Katakan ini tidak benar!"


Gebie diam air matanya sudah jatuh membasahi wajah cantiknya, kini ia hanya berharap semoga Daniel kuat melepaskannya. Mungkin inilah saatnya dia pergi dari kehidupan Daniel.


"Yang aku katakan benar Daniel! Aku akan menikah dengannya" Gebie menangis dengan tersedu-sedu, hingga membuat kepalanya pusing.


Steven yang melihat Gebie memegang kepalanya pun mendapat kesempatan untuk membuktikannya pada Daniel.


"Sayang, Ingat kandunganmu! Kasihan anak kita melihat ibunya menangis" seru Steven sambil mengelus perut Gebie yang sedikit kelihatan buncit.


Semua orang disana terkejut mendengar ucapan Steven, ada yang berbisik-bisik buruk tentang Daniel ada juga yang berbisik tentang Gebie.


.