Love Storm

Love Storm
Menginap



Mobil yang dikendarai oleh Vanno telah sampai di Gedung Apartement mewah. Vanno menuntun Queen untuk mengikutinya berjalan menuju Apartment milik dirinya.


Queen merasa tidak nyaman diperlakukan seperti itu, jadi dia mencoba menjauh sedikit.


"Ada apa?". Tanya Vanno yang merasa Queen menghindarinya.


"A... Aku bisa sendiri! Lepaskan aku!". Ucap Queen dengan hati-hati.


"Kau kan masih lemah! Biar aku menuntunmu, bisa merepotkan jika kau jatuh ke lantai!". Tegas Vanno.


Oh shit! Monster ini kenapa menjadi begini? Kebaikan apa yang aku lakukan diwaktu dulu?. Queen tidak habis pikir dengan kelakuan Vanno akhir-akhir ini.


Tidak mendapat respon, Vanno kembali berjalan sambil menuntun Queen. Hingga tiba didepan pintu Apartementnya, barulah lelaki itu melepaskannya karena ingin membukakan pintu untuk mereka.


Cklek... Suara pintu terbuka.


"Masuklah!". Seru Vanno.


Queen sedikit enggan untuk masuk kedalam sana, karena memang sebelumnya dia tidak pernah masuk kerumah orang asing apalagi berdua dengan laki-laki selain Daddy dan kakaknya.


Vanno memperhatikan gadis itu hanya diam saja, dia berinisiatif menarik tangan Queen untuk segera masuk.


"Hei, hei! Kenapa kau menarik tanganku? Aku bisa sendiri!". Protes Queen.


Vanno menariknya hingga didepan pintu kamarnya. Kamar yang dahulu dia tempati bersama mendiang kakaknya, karena kamar yang satunya lagi dijadikan gudang penyimpanan barang-barang antik.


"Apa yang kau lakukan?". Tanya Queen yang melihat Vanno mulai membuka pintu kamar itu.


"Apa? Apa yang akan aku lakukan pada gadis jelek seperti dirimu? Kau kira aku lelaki macam apa, yang berani berbuat macam-macam pada seorang gadis!". Ucap Vanno dengan tegas.


"Ya... Kau langsung menarikku begitu saja! Aku kan jadi terkejut!". Sarkas Queen.


Vanno menghela nafas pelan, lalu melangkah menuju dapur.


"Kau istirahatlah disini. Aku akan menyiapkan makanan untukmu, lalu baru kau bisa minum obat mu!". Seru Vanno berhenti sebentar, sebelum kemudian kembali melangkah.


"Baiklah!". Ucap Queen.


Queen masuk kedalam dan langsung membersihkan diri sebentar, dan keluar lagi masih menggunakan handuk untuk menutupi setengah badannya. Tapi dia lupa jika pakaiannya sudah kotor dan tidak mungkin untuk dirinya tidur menggunakan Dress yang tadi sudah dipakai.


Queen sangat suka menjaga kebersihan, dia akan memastikan tubuhnya sebersih mungkin sebelum tidur, agar istirahat menjadi nyaman dan tenang.


"Ah Queen. Kau ceroboh sekali! Disini kan bukan rumahmu, bisa-bisanya kau lupa!". Ucap Queen merutuki dirinya sendiri.


"Bagaimana kalau dia melihatku dengan seperti ini? Pasti sangat memalukan! Aduh aku harus mencari cara agar mendapatkan pakaian untuk tidur!"


Queen melangkah menuju Walk in Closet untuk mencari baju yang bisa dia pakai. Benar-benar milik lelaki, disana dia tidak menemukan barang milik wanita. Mungkin itu semua barang sehari Vanno, Pikir Queen.


Saat Queen membuka salah satu lemari pakaian, ternyata didalamnya pakaian kemeja laki-laki yang ukurannya rata-rata besar semua.


Wow! Ini semua milik monster itu? Tapi mengapa sangat berbeda dengan ukuran tubuhnya! Kemeja-kemeja ini ukuran dua kali lipat dari tubuhku!


Gadis itu ingin mengambil satu Kemeja putih polos, tapi karena dia menggunakan handuk pendek. Jadi sulit baginya untuk menggapainya dengan sebelah tangan saja, sedang satunya lagi memegang handuk agar tidak lepas dari tubuhnya.


"Ini sangat sulit!". Ucap Queen dan tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara Vanno yang ada dibelakangnya.


"Apa yang kau lakukan?". Tanya Vanno.


Entah sejak kapan lelaki itu berdiri disana, hingga membuat Queen seketika refleks memutar tubuhnya. Tapi na'as, tubuhnya tidak seimbang hingga dia hampir jatuh kebelakang.


Dengan sigap Vanno mengangkapnya dan itu membuat tubuh Queen ambruk didadanya.


Brugghh...


Mereka masih dalam posisi yang sama seakan lupa sesuatu, hingga Queen tersadar dan mendorong tubuh Vanno.


"Kau! Kenapa kau kemari?". Tanya Queen dengan kesal.


"Seharusnya aku yang tanya, kenapa kau ada disini?". Tanya Vanno balik, tapi matanya tidak sengaja memandang tubuh putih mulus Queen yang tidak tertutup handuk.


Menyadari itu membuat wajah Queen memerah, entah karena malu atau karena marah.


"Bisakah kau keluar?". Tanya Queen tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Vanno tadi.


"Ini kamarku kenapa aku harus keluar? Lagi pula kenapa kau membuka lemari ini?". Tanya Vanno penuh selidik.


"A... Aku... Aku lupa kalau aku tidak punya baju ganti, jadi aku pikir bisa meminjam bajumu untuk malam ini! Karena aku tidak terbiasa tidur tanpa ganti baju yang bersih!". Jawab Queen sambil menundukkan kepalanya dan meremas kuat handuk didadanya, karena takut Vanno marah.


"Menyingkir!". Ucap Vanno maju untuk mengambil salah satu baju.


Vanno memberikan baju itu kepada Queen, lalu dia berkata.


"Pakai lah! Itu adalah baju mendiang kakak ku! Dan kau adalah wanita pertama yang datang kemari selain ibuku!". Seru Vanno dengan datar.


Queen menyaut baju itu meski dalam hatinya bertanya-tanya dengan ucapan Vanno barusan yang terasa aneh, apalagi dengan raut wajah sedih seperti itu.


Vanno keluar dari ruangan itu tanpa bicara lagi, dengan cepat Queen memakai baju itu dan keluar menuju Cermin besar untuk melihat penampilannya.


"Ya tuhan! Aku seperti badut jika memakai baju ini! Hi hi...!". Queen terkekeh karena merasa dirinya jadi lucu.


Gadis itu berputar-putar menghadap Cermin seolah menjadi penari saja, sampai tidak menyadari jika Vanno memperhatikan dirinya dari pintu sambil bersedekap.


Gadis ini sungguh tidak mengetat kewaspadaan sama sekali! Tapi dia sungguh menggemaskan!.


Vanno memperhatikan gadis itu dari atas sampai kebawah, sama sekali tidak ada cacat cela. Tapi kenapa dia mau berpenampilan culun seperti itu? Pikir Vanno.


"Kau sama sekali tidak menarik, jadi jangan buang-buang waktumu dengan bergaya seperti itu?". Ucap Vanno dengan santai.


Queen terperanjat, dia tidak menyangka lelaki itu melihat dia seperti itu.


Sejak kapan dia disana?. Gumam Queen dalam hati.


"Apa yang kau pikirkan? Cepat keluar dan makan!". Titah Vanno berlalu meninggalkan Queen.


"Iya... Iya!". Queen mengikuti langkah Vanno yang menuju ruang makan.


Queen sedikit takjub dengan ruangan Apartement itu, setelah dia masuk kedapur ternyata ruangannya sangat besar dan luas. Juga terdapat Mini Bar yang unik, sangat bersih dan terawat.


Bagaimana tidak, setiap seminggu sekali petugas penjaga Apartement Vanno merawat dan membersihkan seluruh isi didalamnya, tentu saja siapa pun tidak menemukan debu bercelah disana.


"Tempat sebesar ini, hanya kau sendirian yang tinggal disini?". Tanya Queen sambil menarik kursi meja makan untuk ia duduk.


Vanno yang sudah duduk bersebrangan dengannya hanya diam dan nampak seperti orang sedih.


Apa aku salah bicara?. Gumam Queen dalam hati, sambil menatap lekat wajah Vanno.


"Maaf! Aku sudah lancang bertanya!". Ucap Queen menyesal.


Melihat Vanno masih diam, Queen memulai makan makanannya yang sudah disiapkan Vanno.


Dia hanya diam setelah aku bertanya tadi. Apakah ada masalah padanya? Oh atau dia dulu tinggal bersama kekasihnya, lalu ia ditinggal pergi?. Gumam Queen bertanya-tanya dalam hatinya.


Bisa-bisanya gadis itu berpikiran sejauh itu, mungkin jika dia tau yang sebenarnya pasti akan terkejut.