Love Storm

Love Storm
Memikirkan gadis itu



Vanno yang tidak sengaja lewat depan kamar mendengar percakapan Queen yang sedang menelpon seseorang. Queen yang hendak keluar kamar sangat terkejut karena Vanno berdiri tidak jauh dari pintu.


"Astaga!". Queen mengusap-usap dadanya.


"Sejak kapan kau disini?". Tanya Queen.


Vanno mengerutkan dahinya, sambil bersedekap tangan diatas perutnya.


"Kau terkejut?". Tanya Vanno tanpa menjawab pertanyaan Queen.


"Tentu saja! Kau berdiri disitu dengan tubuh besarmu itu, siapa yang tidak akan terkejut melihatnya?". Sarkas Queen.


"Kau bicara dengan siapa?". Tanya Vanno.


"Dengan siapapun itu bukan urusanmu!". Jawab Queen datar.


"Aku bertanya dengan siapa kau berbicara?". Kali ini Vanno menajamkan kata-katanya.


Queen merasa aneh dengan kelakuan Vanno hari ini, seolah mengimtidasi dirinya saja.


"De... ". Belum sempat Queen berbicara terdengar suara Bel pintu.


Ting tong...


Pasti itu petugas Apartement!. Gumam Queen dalam hati.


"Siapa yang bertamu pagi-pagi?". Tanya Vanno pelan dan hampir ingin membuka pintu.


"Biar aku saja!". Cegah Queen menahan tangan Vanno.


"Eh...?". Vanno memperhatikan Queen yang tengah membuka pintu itu, dan nampaklah seorang petugas seperti memberi sebuah Bag paper.


Queen tersenyum manis kepada orang itu lalu menutup pintu lagi.


"Ada apa dia kemari?". Tanya Vanno, saat gadis itu ingin masuk kekamarnya.


Queen menghentikan langkahnya.


"Dia hanya mengantar pakaianku saja!". Jawab Queen.


"Pakaian?". Tanya Vanno lagi.


"Iya, kalau begitu aku ganti pakaian dulu!". Queen tersenyum lalu masuk ke dalam kamar, tidak lupa menutup pintunya.


"Hem!". Vanno berjalan menjauh dari kamar dan duduk diruang TV.


Queen telah selesai mengganti pakaiannya, serta mengemasi pakaian yang dia pakai semalam.


"Memang kakak paling mengerti diriku!". Seru Queen sambil melihat penampilannya yang sesuai dengan keinginannya.


Ricko tau bahwa adiknya semalam menginap dirumah teman sekampusnya, itulah mengapa dia membelikan pakaian sederhana yang biasa dipakai adiknya ketika berada di kampus.


Queen keluar dari kamar dan menghampiri Vanno yang tengah menonton TV.


"Em itu... Vanno!". Panggil Queen agar lelaki itu mengalihkan pandangannya dari layar TV.


"Kau sudah selesai?". Tanya Vanno tanpa menoleh ke arah Queen.


"Sudah, aku sangat berhutang budi padamu. Jika tidak ada dirimu aku tidak tau harus kemana lagi!"


"Aku harus segera kembali kerumahku, terima kasih atas bantuanmu semalam! Lain kali jika ada waktu, aku akan mentraktirmu makan malam!". Ucap Queen tulus.


Vanno diam saja tanpa menbalas ucapan Queen, dan itu membuat Queen merasa di abaikan.


"Maaf, jika selama sakit dan disini aku merepotkanmu, permisi!". Queen melangkah pergi dengan menenteng Bag Paper ditangannya.


Saat akan memegang handle pintu, Vanno bersuara.


"Aku antar!". Ucapnya sambil berdiri.


"Tidak perlu, aku sudah dijemput!". Cegah Queen.


"Sekali lagi terima kasih banyak!". Sambung Queen dan berlalu meninggalkan Vanno yang berdiri menatap kepergiannya.


Ada rasa lain dihati Vanno, saat gadis itu keluar dari Apartementnya. Entah apa dan bagaimana dia merasa mulai nyaman berada didekat gadis itu, meski Queen selalu bersikap biasa saja dan dingin padanya.


Vanno akui mungkin itu hanya sekedar mengagumi, bukan karena hal lainnya. Selama ini dia rasa itu tidak pernah dia dapatkan dari gadis manapun yang ingin mendekatinya, tapi kali ini berbeda dengan saat dia berasam Queen.


Badai Cinta sebelum berperang Asmara, sudah mengelabui hati dan ketenangan jiwa Vanno. Pasti suatu saat Badai lain akan melandanya saat hujan turun dan menutupi pelangi.


Vanno kembali duduk disofa, setelah beberapa menit melamunkan sesuatu.


"Huhh! Ada apa denganku? Tempat ini kembali sepi saat dia pergi, bahkan hanya semalam dia disini. Tapi dapat mempengaruhi diriku!". Keluh Vanno pada dirinya sendiri.


Vanno memijat pelipisnya yang terasa pening, dan memutuskan untuk menutup mata sebentar agar rasa peningnya hilang.


Ck sial. Ini merisaukan!. Gerutu Vanno dalam hati.


°°°°°


Queen melihat kakaknya sedang menunggu dirinya didalam Mobil Sport hitamnya, sambil memainkan ponsel.


Queen menghampiri Ricko dengan wajah cerianya.


"Kak!". Panggil Queen tiba-tiba hingga mengejutkan Ricko.


"Kau ini, senang sekali mengejutkan kakak ya!". Ucap Ricko sambil menyimpan ponselnya.


Queen terkekeh, lalu masuk ke dalam Mobil.


"Kau sudah sarapan, sayang?". Tanya Ricko sebelum menyalakan mesin Mobilnya.


"Sudah!". Jawab Queen datar.


"Di Apartement temanku!"


Ricko manggut-manggut paham, lalu bertanya lagi.


"Dia laki-laki atau perempuan?"


Queen merasa kesal dengan Pria disebelahnya ini, banyak bertanya.


"Kakak bertanya atau mau mewawancaraiku? Banyak sekali!". Gerutu Queen.


Ricko terkekeh melihat kekesalan adiknya, lalu mulai menjalankan Mobil untuk kembali ke Mansion mereka.


Selama perjalanan Queen melamun, ada sesuatu yang menggangu pikirannya sejak keluar dari Apartement Vanno.


Ricko menyadari ada kejanggalan dengan adiknya hari ini, pun bertanya.


"My Sweety, ada apa denganmu?"


Queen diam, masih dalam lamunan kecilnya tidak mendengarkan pertanyaan dari Ricko.


"Queen?". Panggil Ricko lagi.


Tapi Queen tetap diam, hingga Ricko pun mencubit pipi Queen agak kuat.


"Iss... Kakak! Sakit pipi Queen!". Ucap Queen kesal.


Ricko terkekeh. "Kau kenapa? Dari tadi diam saja tidak menghiraukan kakak?"


"Tidak ada! Aku lapar, kapan kita akan sampai dirumah?". Tanya Queen.


"Kau bilang sudah sarapan tadi, kenapa masih lapar?". Ricko mengernyitkan dahinya.


"Tadi hanya makan sedikit!". Jawab Queen datar.


"Yang benar saja? Apa kau ingin menggemukkan badanmu?"


"Apa yang kakak bicarakan? Ini tidak ada hubungannya dengan gemuk atau tidaknya!". Sarkas Queen sambil menatap tajam kakaknya.


"Lalu apa saja?". Tanya Ricko memicingkan matanya.


"Sudah Queen bilang tidak ada apa-apa! Kakak ini kenapa?". Kesal Queen.


"Kakak hanya merasa heran saja, kau biasanya selalu mengajak bicara saat bersama kakak! Jika ada masalah, beritahulah!". Seru Ricko.


"Hem!". Sahut Queen singkat, lalu mengalihkan pandangannya ke arah jalanan.


°°°°°


Setelah Queen kembali kerumahnya, Vanno memutuskan untuk kembali kerumahnya juga.


Ditengah perjalanan, tiba-tiba ponsel Vanno berdering.


Kringg...


Vanno menyambar ponselnya yang ada di jok Mobilnya dan tertera nama Nathan disana.


Nathan?. Gumam Queen sambil mengerutkan dahinya, Vanno menepikan Mobilnya ditepi jalan raya untuk mengangkat telpon.


Setelah menekan tombol ikon Hijau, dia mendekatkan benda pipih itu ditelingannya.


"Ada apa?"


"Kau dimana?"


"Aku diperjalanan menuju kerumahku, ada masalah apa?"


"Kerumah? Memangnya kau habis dari mana?"


"Dari Apartement! Cepat katakan ada apa?"


"Oh ya, aku ingin mengajakmu bertemu ditempat biasanya!"


"Baiklah. Kita bertemu nanti malam saja!"


"Oke, aku akan mengajak Jimmy juga setelah ini!


"Iya!"


Vanno menutup sambungan telpon, dan kembali melajukan Mobilnya menuju rumah.


Sesampai disana lelaki itu segera masuk kedalam rumah, tapi sebelum itu mencari Mami dan Papinya.


"Dimana Mami dan Papi?". Tanya Vanno saat melihat kepala pelayan tengah berjalan dari arah samping rumah.


"Nyonya dan Tuan besar belum kembali dari jalan pagi!". Jawab Paman Haris.


"Oh, baiklah paman. Vanno ke kamar dulu!". Ucap Vanno.


"Iya tuan!". Balas Paman Haris sambil menunduk.


Vanno berjalan menapaki anak tangga menuju kamarnya untuk beristirahat sebentar.


Saat telah masuk kedalam kamarnya, Vanno merebahkan tubuhnya di atas Ranjang dengan posisi telentang sambil menerawang langit-langit kamar.


Vanno terbayang saat dimana semalam dia tidur bersama Queen, gadis yang baru saja memasuki hatinya. Namun Vanno tidak mau mengakui itu dan malah menganggap hanya sebuah rasa sekilas.


"Ck sial!". Umpat Vanno sambil mengusap kasar wajahnya, merasa frustasi.


"Dia hanya gadis biasa yang sangat culun! Untuk apa aku mengingatnya?". Kesal Vanno pada dirinya sendiri.


Vanno beranjak dari tidurnya menuju kamar mandi, untuk mandi lagi supaya pikirannya jernih kembali.