Love Storm

Love Storm
Gadis Sosialita



Jimmy menoleh ke arah kedua temannya yang sedang menertawainya.


"Kalian sungguh jahat!". Ucap Jimmy dengan nada dibuat-dibuat, hingga kembali meledakkan tawa Vanno dan Nathan.


"Dia sama seperti teman-temannya itu, selalu dingin kepada siapapun!". Sarkas Nathan kembali mengingat saat dia ingin mendekati Jasmine, namun gadis itu mengabaikannya.


"Tapi apa yang dia lakukan disini?". Tanya Jimmy dengan rasa penasarannya.


"Tentu saja ingin berbelanja. Kau kira sekolah?". Tanya Vanno.


"Tapi bukankah dia...". Belum sempat Jimmy melanjurkan kalimatnya, Vanno terlebih dahulu memotong.


"Sudahlah! Biarkan saja dia!". Ucap Vanno.


Vanno berjalan mendahului kedua sahabatnya entah kemana itu. Dia mengelilingi setiap sudut Mall sampai pada akhirnya langkah kaki Vanno terhenti di Toko sepatu.


Pelayan toko menyambutnya dengan senyuman hangat serta membungkuk sopan. Karena Vanno juga salah satu pemegang saham terbesar di Mall itu, jadi semua karyawan akan tunduk hormat akan perintahnya.


Namun, Vanno bukanlah tipe orang yang mempunyai sifat angkuh pada bawahan, dia menghargai kerja keras mereka demi perkembangan usahanya. Vanno akan bersikap biasa saja jika orang lain menghormatinya, tapi akan bersikap sebaliknya bila ada orang yang berani menginjak harga diri keluarganya.


"Selamat siang, Tuan!". Sapa Manager yang bernamtag Adistira di Toko tersebut, sambil menunduk hormat.


Vanno mengangguk tanda balas.


"Apa ada masalah?". Tanyanya.


"Sejauh ini, tidak ada masalah Tuan!". Jawab Adistira.


"Baguslah! Jika ada sesuatu yang kurang atau dalam masalah, segera beri tau aku!". Tegas Vanno.


"Baik Tuan! Kalau begitu boleh saya lanjut bekerja?". Tanya Adistira dengan hati-hati.


"Silahkan!". Seru Vanno.


Nathan dan Jimmy menghampiri Vanno yang sedang sibuk melihat data pemasukan di Toko tersebut dengan salah satu pelayan yang membantu.


"Sedang apa?". Tanya Jimmy merangkul pundak Vanno dari samping


"Kau lihat?". Vanno menunjukkan dokumen yang dia pegang.


Jimmy memperhatikan dengan seksama dokumen itu.


"Kau pemilik Toko ini?". Tanya Jimmy menatap penuh tanya.


"Iya, aku juga mempunyai saham disini!". Jawab Vanno.


Jimmy dan Nathan benar-benar takjub kepada Vanno, lelaki yang dingin seperti ini bisa mempunyai banyak properti.


Ternyata selain memiliki perusahaan kosmetik, Vanno juga mempunyai saham di salah satu Mall terbesar dikotanya. Memang lelaki Milyarder, pikir Jimmy.


"Sejak kapan Van?". Tanya Nathan.


"Sejak aku masih Sekolah menengah!". Jawab Vanno.


"Berarti kau sudah sukses dari remaja? Aku tidak menduga!". Seru Nathan.


"Tidak heran Vanno bisa mendapatkan Saham disini, dia mempunyai segudang wawasan dalam hal bisnis!". Jimmy ikut menimpali.


Vanno menutup dokumen yang sudah dia periksa, lalu memberikannya kepada pelayang tadi setelah sebelumnya memberi masukan sedikit.


"Apa kalian tidak ingin berbelanja disini?". Tanya Vanno yang mengahadap ke arah temannya.


"Jika kau memberi diskon kepada kami, itu akan lebih baik!". Seru Jimmy sambil menaik turunkan sebelah alisnya.


Nathan mengacak rambut Jimmy, membuat lelaki itu memajukan bibirnya.


"Kau kaya tapi berjiwa miskin!". Sarkas Nathan.


"Itu kan salah satu transaksi nego-nego Nath!". Ucap Jimmy dengan santai.


Vanno hanya menggeleng kepala akan tingkah laku Jimmy.


"Baik, kalian pilihlah salah satu apapun disini!". Titah Vanno.


Seketika Jimmy mengembangkan senyumnya, lalu tanpa sungkan dia memilih sepatu disana.


°°°°°


Masih dilokasi Mall. Queen, Jasmine beserta Jessie keluar dari Toko pakaian dengan masing-masing menenteng beberapa Bag Paper ditangan mereka.


"Selanjutnya kemana?". Tanya Jessie.


Queen nampak berpikir sejenak sambil matanya mencari-cari sesuatu, setelah kemudian menemukan sebuah tempat tak asing baginya.


"Bagaimana jika kita masuk kesana?". Tanya Queen seraya jarinya menunjuk pada sebuah Toko Sepatu.


Jessie dan Jasmine mengikuti arah jari telunjuk Queen mengarah.


"Sepatu?". Tanya mereka bersamaan.


"Ayo!". Ujar Jessie antusias.


Queen dan kedua sahabatnya melangkah menuju Toko tersebut, dan disana mereka disambut tak kalah ramah dari para pelayan.


"Selamat datang Nona-nona!". Sapa pelayan itu dengan ramah.


Queen dan kedua sahabatnya mengangguk pelan.


"Apa ada sepatu yang cocok untuk kami?". Tanya Queen.


"Ada Nona, mari saya antar kedalan!". Ajak pelayan itu menunjukkan arah yang dituju.


Queen, Jessie dan Jasmine mengikuti kemana pelayan itu pergi dan sampailah pada jajaran sepatu yang sesuai untuk mereka.


"Silahkan Nona!". Pelayan tersebut memperlihatkan satu persatu mana yang cocok untuk pelanggannya itu.


Hingga mereka tidak sadar jika ada yang memperhatikan mereka dari sebelah sana.


"Bukankah itu gadis culun bersama teman-temannya?". Tanya Nathan.


"Iya itu mereka!". Jimmy menimpali.


"Aku baru tau sisi lain dari mereka!". Ucap Jimmy yang melihat Queen beserta temannya sibuk mencoba sepatu dan Jimmy melihat sisi lain dari ketiga gadis itu.


"Mereka ternyata seorang gadis sosialita, selain dijuluki kutu buku!". Timpal Nathan.


Vanno diam-diam mengamati Queen yang terlihat cocok mengenakan Sepatu Sport White model terbaru. Sesuai dengan style sehari-harinya dikampus.


Dia ini sebenarnya siapa? Kenapa semua yang dipakainya sangat cocok dengan dirinya dan lagi, disini semua harga diatas nilai rata-rata.


Vanno semakin yakin jika Queen bukanlah gadis biasa, namun dia gadis yang memiliki latar belakang tidak biasa.


"Jika kau takjub, sebaiknya hampiri saja dia!". Goda Jimmy kepada Vanno.


Lamunan Vanno tersadar dan dia segera mengalihkan pandangannya dari gadis itu.


"Jika sudah, ayo kita keluar dari sini!". Vanno mendahuli mereka dan berjalan menuju tempat disebelahnya, namun lagi-lagi matanya menangkap sosok Queen.


Queen merasa seperti ada yang memperhatikan dirinya, tidak sengaja menoleh. Dan Deg... Tiba-tiba jantung mereka berdegup kencang saat kedua pasang mata itu bertemu pandang.


Kenapa selalu saja bertemu dia lagi? Astaga, dunia begitu sempit!


Queen belum pernah merasakan perasaan aneh seperti ini sebelumnya, dia berusaha untuk menguasai dirinya dari situasi canggung ini.


Ada apa ini? Rasanya jantungku ingin keluar dari tempat nya, apakah aku sedang sakit?


Queen mengalihkan pandangannya dari tatapan Vanno segera mungkin agar rasa canggung itu hilang. Wajahnya kian memerah dan terasa panasdan itu diketahui oleh Jessie.


"Kau kenapa Queen? Wajahmu memerah, apa kau sakit lagi?". Tanya Jessie dengan panik.


Queen meraba wajahnya. "Mungkin karena panas!". Jawabnya dengan asal.


Jessie memicingkan matanya. "Panas? Disini tidak ada panas sama sekali Queen!". Seru Jessie.


Queen gelagapan. "Benarkah?". Tanyanya pura-pura tidak tau.


Jessie terkekeh. "Kau ini ada-ada saja!"


Jasmine memperlihatkan apa yang sudah dia cari.


"Aku sudah mendapatkan yang cocok untukku. Apa kalian sudah mendapatkannya?". Tanya Jasmine.


"Sudah!". Jawab Jessie dan Queen bersamaan.


Jasmine tersenyum melihat kekompakan itu.


"Ayo kita bayar!". Ajak Jasmine berjalan menuju kasir.


Queen dan Jessie mengikuti langkah kaki Jasmine, hingga lagi-lagi dia berpapasan dengan ketiga lelaki yang ingin dia hindari tadi.


Huhh... Menyebalkan!


Queen memasang wajah datar dan tidak ingin melihat ke arah tiga lelaki itu. Vanno menatapnya dengan tatapan tajam, karena merasa terabaikan.


"Kita bertemu lagi Nona!". Ujar Jimmy kepada Jessie.


Karena posisi mereka sama-sama sedang mengantri dikasir, jadi tidak diherankan lagi jika Jimmy si playboy sekampus itu leluasa menggoda gadis pujaannya.


Jessie merasa kesal karena dia bertemu lagi dengan Jimmy.


Ck. Dia lagi!


Sementara Jasmine sibuk mencari-cari sesuatu didalam tasnya.


Kemana? Bukankah tadi aku simpan disini?