
Selesai makan malam, Queen membersihkan piring dan gelas kotor yang sudah mereka pakai. Vanno membiarkan gadis itu berbuat semaunya, karena percuma saja dia melarang, gadis itu tetap keras kepala.
Setelah semuanya kembali rapi dan bersih, Queen merasa mengantuk karena terkena efek samping dari obatnya. Dia ingin kebali kekamar dan langsung mengistirahatkan tubuhnya.
Vanno yang melihat gadis itu akan masuk ke kamar, dengan cepat dia menariknya.
"Tunggu sebentar!". Halau Vanno.
Quee menoleh ke arah Vanno.
"Ada apa?". Tanyanya.
Vanno manarik Queen kedalam kamar, lalu duduk diatas ranjang. Hal itu membuat Queen panik sekaligus bingung.
"Kenapa kau ikut kemari?". Tanya Queen sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Duduklah!". Titah Vanno menepuk Kasur agar duduk disebelahnya.
"Kau mau apa?". Tanya Queen.
"Duduk!". Titahnya sekali lagi.
Dengan penuh kewaspadaan, Queen duduk disebelahnya, namun sedikit menjauh.
Apa yang akan dilakukan monster ini?
Vanno menunduk dengan kedua tangan menopang badannya diatas paha.
"Bukankah kau ingin tahu, kenapa dirumah ini tidak ada siapa-siapa selain aku?". Ucap Vanno.
Queen belum mengerti kemana arah pembicaraan lelaki itu, dia hanya bisa memasang telinga untuk mendengarkan apapun yang akan dikatakan Vanno.
"Lalu?". Tanya Queen singkat.
Vanno menghela nafas pelan sebelum kemudian memulai pembicaraan.
"Dulu rumah ini masih ada seseorang!"
Vanno diam sesaat, lalu.
"Dia orang yang sangat aku sayangi dikehidupan ini, setelah kedua orang tuaku!". Sambung Vanno.
Queen mengira yang dimaksud Vanno adalah kekasihnya.
"Apa dia begitu berarti dalam hidupmu?". Tanya Queen.
"Dia bukan hanya berarti, tapi sangat berarti. Hingga aku ingin menyusulnya kemanapun dia pergi, jika aku bisa!". Jawab Vanno.
Ternyata dia begitu mencintai orang itu, sampai akan melakukan apapun supaya bisa bersamanya!. Gumam Queen.
Queen merasa iba dan tanpa sadar dia mengusap sebelah bahu Vanno, berniat menenangkannya.
"Tenanglah! Kau pasti akan segera bertemu dengannya!". Ucap Queen.
Vanno menegadahkan kepalanya dan menoleh ke arah Queen yang sedang menatapnya dengan tatapan sulit diartikan.
"Apa kau berpikir, sesuatu yang telah pergi tidak akan pernah kembali?". Tanyanya.
"Apa maksudmu?". Queen berbalik tanya.
Vanno menatap lekat netra mata indah Queen.
"Dia telah pergi. Dan itu untuk selamamya!". Ucap Vanno.
Queen terkejut, dia tidak menyangka orang yang sangat berarti dalam hidup lelaki itu ternyata telah meninggal.
"Maafkan aku! Aku benar-benar tidak tau!". Ucapnya dengan nada menyesal.
Vanno hanya mengannguk, lalu berkata lagi. "Dia adalah kakak lelakiku satu-satunya! Kepergiannya membuatku merasa kesepian!"
Aww! Aku merasa kasihan padanya!. Gumam Queen.
"Apartement ini adalah miliknya, dia dan aku dulu tinggal bersama. Lalu setelah dia pergi, aku tidak lagi tinggal disini! Aku kembali tinggal bersama orang tuaku!". Jelas Vanno.
"Apa kau punya saudara lain lagi?". Tanya Queen.
Vanno menggeleng kepalanya.
"Tetapi rumah ini sangat bersih dan rapi! Apa kau yang selalu membersihkannya?". Tanya Queen.
"Bukan aku, tapi petugas kebersihan dan penjaga Apartement ini yang selalu merawatnya!". Jawab Vanno.
Pantasan semuanya tidak terlihat berantakan, apalagi berdebu!
"Pasti berat ya dengan keadaan seperti ini? Aku bisa merasakannya, kau tidak perlu khawatir! Kau masih ada banyak orang-orang selalu ada disampingmu, jika kau mau aku bisa menjadi temanmu!". Ucap Queen dengan tulus.
Vanno tidak percaya jika seorang gadis seperti ini mau berteman dengannya, meskipun dia selalu dingin gadis itu.
"Terima kasih!". Ucap Vanno.
"Sama-sama! Kalau begitu bolehkah aku istirahat sekarang? Aku sangat mengantuk!". Ucap Queen yang sedari tadi menguap.
Vanno melirik sebentar ke arah Queen, lalu dia bangkit dari duduknya.
"Kau mau kemana?". Tanya Queen sambil memegang tangan Vanno.
"Kau bilang ingin tidur, kan? Tentu saja aku harus keluar dari kamar ini!". Jawab Vanno.
Entah mengapa Queen tidak rela jika Vanno keluar. Awalnya dia memang sedikit khawatir jika mereka berdua satu kamar, tapi setelah dia mendengar kalau kakak Vanno sudah meninggal. Dia jadi takut ditinggal sendiri disini.
"Bisa temani aku disini sampai aku benar-benar tertidur? Aku tidak terbiasa tidur sendiri dirumah yang begitu... Asing!". Ucap Queen dengan menunduk malu dan memelankan kata terakhirnya.
Vanno merasa lucu dengan sikap Queen yang menggemaskan, hingga ia menipiskan sanyum yang nyaris tidak terlihat.
"Istirahatlah! Aku akan menunggumu disini!". Seru Vanno sambil melepas pelan genggaman tangan Queen, lalu duduk disofa sambil main Game diponselnya.
Queen pun mulai merebahkan tubuhnya dan mulai tertidur, karena memang dia sangat mengantuk.
°°°°°
Setengah jam kemudian, Vanno mengakhiri permainan Gamenya lalu melihat jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
Dia bangkit dari duduknya dan melangkahkan kaki menuju kamar mandi, untuk membersihkan dirinya.
Beberapa menit kemudian lelaki itu keluar menggunakan jubah mandi, dan masuk kedalam Walk in Closet untuk berganti pakaian.
Setelah selesai mengganti pakaian tidur, Vanno bingung harus tidur dimana. Karena dia tidak bisa tidur disofa apalagi dilantai, maka itu membuat tubuhnya sakit.
"Dimana aku harus tidur?". Tanya Vanno pada dirinya sendiri.
Dia melihat Queen yang sudah tidur dengan nyenyak, bahkan tanpa melepas kaca matanya. Rambut yang masih di kepang sangat imut, namun Vanno tidak mau mengakuinya.
Tidurnya nyenyak sekali!. Gumam Vanno pelan sambil terus memperhatikan wajah tenang Queen saat tidur.
Dia melirik tempat yang kosong disebelah gadis itu, lalu berjalan kesana.
"Tidak masalahkan, jika aku tidur disini? Lagi pula dia jelek siapa yang akan tertarik padanya!". Ujar Vanno pelan.
Tanpa pikir panjang Vanno merebahkan tubuhnya disamping Queen. Namun karena ranjangnya berukuran king size, jadi posisi Vanno bisa menjauh sedikit dari gadis itu.
Ini kali pertama dia tidur satu ranjang dengan seorang gadis. Apalagi gadis itu bukan istrinya, jadi ada rasa canggung dan gejolak dihatinya.
Tenang Van, tenang! Kau pasti bisa melewati ujian ini. Anggap saja dia tidak ada!
Vanno berpikir ini hanya sementara, ketika dia membuka mata besok, semua telah terlewati tanpa suatu masalah.
Tapi nyatanya sudah hampir 30 menit, tapi dia tidak bisa memejamkan mata. Gelisah yang kini dirasakan oleh Vanno, karena rasa tidak terbiasanya.
Berkali-kali dia mengumpat dalam hati akan dirinya yang tidak bisa tidur, meskipun sebenarnya rasa ngantuk datang tapi tetap saja tidak terpengaruh.
Hei mata, tidurlah! Aku sangat lelah!
Vanno memiringkan tubuhnya menghadap Queen yang dari awal tidur dengan posisi menghadap dirinya. Terlihat jelas dari dekat pantulan wajah Queen didalam remang-remang cahaya lampu tidur, membuat jantung Vanno berdetak kencang tidak seperti biasanya.
Deg...
Ck. Ada apa ini? Apa aku terkena sindrom jantung? Rasanya dia ingin melompat keluar!
Secara refleks Vanno memegang dadanya, dan mencoba menetralisir rasa detakan itu.
Tubuh yang semula menghadap Queen kini beralih membelakangi gadis itu, mencoba lagi memejamkan mata hingga ia pun menyusul Queen menuju alam mimpi masing-masing.